Mengenang “Duabelas Tahun” Cak Munir

Spread the love

Oleh Taufik Silvan W dan Bagas Yusuf K

Munir Said Thalib adalah seorang aktivis HAM (Hak Asasi Manusia) yang berani dan konsisten. Munir, biasa ia dipanggil, senantiasa ingin menegakkan keadilan dan membela rakyat yang ditindas oleh para penguasa. Keberaniannya dalam melawan ketidakadilan dan penindasan membuat Munir menjadi sosok yang dianggap berbahaya, terutama dikalangan militer yang banyak melakukan praktik-praktik penjegalan kemanusiaan. Atas keberanian dan kevokalannya, berbagai ancaman ditujukan kepadanya, bahkan hingga stigma-stigma yang tidak beralasan pun lumrah ditujukan kepada Munir. Tidak hanya itu, Kontras yang juga merupakan rumah perjuangan Munir, tak lepas dari serangan ormas reaksioner-fasis. Hingga akhirnya pada tahun 2004, Munir mengakhiri hidupnya secara paksa oleh racun arsenik. Sampai saat ini, belum diketahui  pasti siapa dalang dan otak dari pembunuhan Munir. Kasus pembunuhan tersebut, hanya mengisahkan tentang Pollycarpus Budihari Priyanto (seorang pilot Garuda yang ditugaskan menjadi extra crew dalam penerbangan ke Belanda) yang ditetapkan sebagai tersangka, tanpa pengusutan lebih jauh perihal siapa tersangka yang sebenarnya—yang berkemungkinan berasal dari dalam payung aparatur negara.

Kematian Munir menjadi suatu kesedihan yang mendalam bagi keluarga, kerabat, aktivis dan elemen masyarakat yang selalu berjuang melawan segala macam bentuk penindasan dan ketidakadilan. Namun disisi lainya, kematian Munir adalah suatu euforia yang harus dirayakan secara besar-besaran oleh pihak-pihak yang gusar dengan keberanian seorang Munir. Hal ini dapat dilihat dari sikap pemerintah yang acuh dan tak kunjung berani mengusut kasus Munir secara tuntas, yang dengan itu masih menimbulkan pertanyaan bahwa siapa dalang dan otak dibalik pembunuhan Munir.

Dalam hal ini, pemerintah seharusnya menindak lanjuti kasus yang telah melanggar UUD 1945 pasal 28 A tentang Hak Asasi Manusia. Namun pada kenyataannya, itu tidak dilakukan oleh pemerintah. Sangat dimungkinkan bahwa orang yang menjadi dalang dan otak dibalik pembunuhan Munir, sekarang bebas berkeliaran dan cengengesan dilayar televisi, dan tersenyum lebar kegirangan karena kasus tersebut tidak pernah diusut tuntas dan tak pernah pula menyeret dirinya ke pengadilan. Pemerintah sebagai penegak keadilan, seakan menutup-nutupi kasus nya dan tak berdaya dihadapan begawan senjata.

Kini Munir telah pergi. Duabelas tahun berlalu dan selama itulah kasus pembunuhan Munir tidak diusut sampai tuntas. Jasad Munir telah tiada, namun perjuangan, keberanian dan konsistensi seorang Munir tak boleh kita lupakan. Untuk itu, LBH Semarang dan beberapa jejaring organisasi lainya menginisiasi pekan peringatan Munir yang dilaksanakan secara marathon di berbagai kampus di Semarang. Sebagai pembuka, Unnes mendapat giliran pertama serangkaian acara tersebut, dan terlaksana dengan cukup meriah di Kedai Kopi Abg, Gunungpati, Semarang.

2//

Hari Senin, 5 September 2016, bertempat di Kedai Kopi Abg, perhelatan rangkaian acara peringatan Munir terselenggara. Acara yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB, diselenggarakan oleh berbagai organisasi (Permahi, RBSS,dll). Selain diisi dengan acara nonton bareng film besutan Ratrikala Bhre Aditya yang berjudul “Bunga Dibakar”, acara ini pun diisi dengan diskusi dan hiburan dari bermacam kalangan yang hadir. Sekitar 25-30 orang berdesakan, berjejal, dan berhimpit untuk sama-sama menyaksikan film yang bercerita tentang kehidupan Munir dan pandangan orang-orang disekitarnya.

Acara malam itu, dipandu oleh Hanendya (UNNES) dan Anis (UIN Walisongo) sebagai MC. Selepas MC membuka acara, Asep maju untuk memimpin do’a bersama untuk Munir. Setelah itu secara bergantian Takim dan Bachri membacakan puisi, dan Ken menyanyi beberapa tembang lagu yang kian membuat malam peringatan Munir kali ini, begitu menarik. Kemudian, acara dilanjutkan dengan pemutaran film “Bunga Dibakar” yang sukses membawa penonton terenyuh, dan larut dalam keheningan peringatan kepergian Munir.

Seusai pemutaran film, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi. Diskusi kali ini diisi oleh Atma dari LBH Semarang sebagai pemantik diskusi dan Afid sebagai moderator. “Munir merupakan sosok yang berani dan konsisten” kata Atma tentang Munir. Disamping Munir melakukan advokasi-advokasi yang bersinggungan dengan militer, Munir pun kerap membongkar kasus-kasus yang pada saat itu, dirasa mustahil untuk diungkap. Bahkan, advokasi yang dilakukan Munir, pernah menuai keberhasilan dengan mencopot tiga perwira petinggi militer.

Atas segala tindakan advokasi dan keberanian Munir mengungkap kejahatan, Ia kerap distempel tuduhan-tuduhan semacam PKI, pemecah-belah bangsa, dan tuduhan lainya. Selain mendapat tuduhan, tindakan Munir yang sangat berani, berakibat pula pada teror dan ancaman yang kerap Ia dan keluarga terima. Puncaknya, segala resiko yang menyelimuti keberanian seorang Munir, berakhir pada pembunuhan pada tahun 2004, yang sampai detik ini tak pernah tuntas diselesaikan. Atma menambahkan bahwa apa yang menimpa Munir, tidak menutup kemungkinan akan menimpa pula para aktivis dan pejuang kemanusiaan-keadilan yang lain, terutama apabila harus berhadapan dengan aparat negara. Atma pun memberi contoh pada kasus kriminalisasi petani di Surokonto, Kendal. “Harus ada munir-munir selanjutnya yang terus melawan adanya penindasan pada hak-hak rakyat. Dan sudah seharusnya para mahasiswa untuk berbaur dengan masyarakat” demikian kata Atma sebelum ia mengakhiri pembicaraannya tentang Munir.

Acara malam itu, ditutup dengan menyalakan lilin dan pembacaan puisi yang semakin menjatuhkan keheningan dan kekhidmatan peringatan Munir. Tentu, acara ini bukan sebuah akhir. Jalan panjang tentang kemanusiaan, akan senantiasa berbenturan dengan kepentingan penguasa. Dan ikhtiar menolak lupa semacam ini—harus terus ada dan berlipat ganda.

Semoga!

Gambar:Kalamkopi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.