Mengenang Islam dan Komunisme: Pertalian Antara SI dan PKI

Spread the love

Oleh Eko Santoso

Keberadaan Islam di Indonesia

Masuknya Islam di Indonesia menjadi warna tersendiri ditengah kentalnya budaya Hindu-Budha yang menyatu dengan budaya setempat. Ditandai dengan kedatangan para pedagang dari Arab maupun Gujarat di permulaan abad kesebelas dan mulai berbondong-bondong di abad ke empat belas, menjadi awal dari sebuah imperium yang kelak menjadi identitas serta keyakinan yang dianut hampir 80 persen dari total penduduk Indonesia saat ini. Islam yang saat itu datang, seakan menjadi sebuah tawaran penting untuk diperjual-belikan oleh para saudagar Arab—selain kain sutra yang dibawa—untuk dijadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari. Adanya sekat didalam tatanan masyarakat yang menyatu dengan budaya Hindu-Budha, dimana terdapat kelas-kelas yang tak dapat dicapai oleh beberapa golongan, menjadikan masyarakat menoleh dan melirik Islam yang hadir dengan nilai-nilai, aturan dan tatanan masyarakat yang lebih mudah diterapkan dalam keseharian.

Hingga pada akhirnya, terjadilah proses Islamisasi yang turut pula melibatkan penguasa-penguasa penting di daerah, hingga lahirlah julukan sultan-sultan sebagai pengganti kata raja, yang semula dianggap sebagai pemimpin atas suatu kedaulatan sebuah wilayah tertentu di Nusantara. Tak heran bila hal ini menjadi salah satu faktor penyebab runtuhnya imperium besar seperti Majapahit, yang pada akhirnya tersisih oleh kerajaan-kerajaan Islam, terutama Demak. Diterimanya Islam tak lepas pula dari peran penting para Walisongo yang kala itu secara getol namun moderat dan toleran mencoba mensyiarkan Islam di Indonesia, terkhusus di Jawa, demi menuju tatanan masyarakat yang beriman dan beradab.

Namun, seiring menancapnya kaki-kaki kolonialisme dan imperialisme yang dibawa bangsa barat, menjadikan kerajaan-kerajaan Islam kehilangan eksistensi. Sehingga, Nusantara atau Indonesia masuk pada periode kelam dibawah penindasan dan kesengsaraan bangsa barat dalam masa penjajahan. Barulah Pada awal abad ke-20, Islam kembali hadir dengan model baru, sebagai dasar sebuah gerakan sosial dan politik. Dilatarbelakangi oleh perkembangan gerakan Pan Islamisme di Timur Tengah dengan digawangi kebangkitan Turki Ottoman dan disokong kuatnya afiliasi politik dengan Jerman, menyebabkan gerakan Islam yang dipelopori oleh Turki ini semakin meluas dan merambah sampai Indonesia.[1] Pan Islamisme disini diartikan sebagai sebuah paham, dimana seluruh umat muslim masuk kedalam satu entitas yang membawa rasa persaudaraan antar umat Islam.

Atas dasar ini, dan didukung oleh semakin meningkatnya para jamaah haji disekitar tahun 1900-1914 dari Indonesia yang mencapai 28.427 orang,[2] menjadi faktor penting berdirinya pesantren-pesantren yang dipelopori oleh mereka yang pulang dari berhaji dengan maksud menyebarkan ilmu kepada masyarakat setempat. Bentuk pengajaran di pesantren umumnya mempelajari cara baca tulis huruf arab dan menghafalkan beberapa bagian atau seluruh Al-qur’an. Selain itu pendidikan penting lainnya adalah Syariat, Ketauhidan, Fiqih, Aqidah Akhlak, Nahwu Syaraf. Tidak ketinggalan, berbagai amalan sufi atau tarikat menjadi kajian yang tidak terlupakan di dalam pesantren.

Pada prosesnya, wacana pergerakan Islam ini semakin bersentuhan dalam ranah politik, sebagai upaya untuk memperjuangkan rakyat bumiputera yang tertindas oleh bentuk kolonialisme Belanda. Pada tahap inilah, sejatinya semangat keagamaan terutama Islam, telah melebur dalam semangat perjuangan pembebasan melalui berbagai bentuk seperti pemberontakan, pergerakan melalui organisasi modern, dan lain-lain. Meskipun bila kita toleh kebelakang, serangkain perjuangan melawan Belanda yang dianggap sebagai salah satu bentuk pemberontakan kala itu—seperti contohlah di Banten—juga berdasarkan semangat keagamaan, sebagaimana gambaran yang diberikan oleh Sartono Kartidirjo dalam buku Pemberontakan Petani Banten 1888. Namun menjadi pembeda dan hal menarik adalah pada periode ini, gerakan Islam kemudian terwadahi dalam suatu institusi resmi, yakni Sarekat Islam (SI) yang berdiri pada 1912, dimana didalamnya dipelopori dan disokong oleh tokoh-tokoh Islam kala itu seperti; H.O.S. Tjokroaminoto, H. Samanhudi, H. Agus Salim.  Hal ini juga didukung oleh para tokoh lain seperti H. Achmad Dahlan, K.H. Wahab Hasbullah dan K.H. Hasyim Asy’ari yang kemudian menjadi pendiri Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama (NU). Yang menarik untuk dicatat pula adalah mereka yang tergabung dalam SI, 10 % dari total keanggotaan yang ada merupakan seorang haji.[3] Dengan demikian, para haji yang tergabung dalam SI sebagai organ terbesar bumiputera saat itu, menjadi bukti yang tidak terbantahkan bahwa mereka memiliki peranan penting dalam proses kebangkitan dan pergerakan Nasional dan Agama awal abad ke-20 dalam melawan penjajah Belanda, yang terutama kali untuk terbebas dari keterbelakangan, penindasan, dan ketidakadilan, yang jelas-jelas tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Kehadiran Sosialisme

Semenjak bergulirnya revolusi Industri di eropa pada abad ke-18 sampai 19 dengan ditandai oleh perkembangan teknologi yang menunjang pekerjaan manusia hingga berdirinya pabrik-pabrik adalah titik awal lahirnya perbedaan kelas dan melahirkan kelompok golongan kapitalis dan borjuis yang hidup makmur, sedangkan disisi lain mereka dengan congaknya hanya mengupah buruh yang rendah, hingga membuat para buruh hidup sekarat dan dieksploitasi untuk kepentingan para kelas ekonomi atas selaku pemilik modal.[4] Seiringan dengan revolusi industri ternyata ada masalah lain, dimana mereka yang menjalankan pabrik-pabrik memerlukan bahan baku dan juga energi baru untuk bereproduksi, sehingga hal ini kemudian menjadi salah satu faktor munculnya imperialisme yang terus berlanjut hingga kolonialisme, yang pada akhirnya sampai ke negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

Sebagai sebuah antitesa dari sistem kapitalisme ini, maka beberapa tokoh seperti Engels dan Marx mengkritik praktek-praktek kapitalisme dan mencetuskan gagasan, dimana tidak boleh ada seorang pribadi yang menumpu kekayaan yang besar, menghindari sifat-sifat individualistik dan hidup dengan mengedepankan persamaan (sama rata sama rasa) atau terangkum dalam sebuah kata bernama “Sosialisme”. Hal ini kemudian dipraktekkan dalam pemerintahan Rusia dibawah pimpinan Lenin menjadi komunisme.

Sosialisme merambah sampai ke Indonesia dengan dibawa oleh para propagandis sosialis Belanda seperti: Sneevliet, Brigsma, Ir. Baars, Barandesteder dan Van Burink. Melihat kala itu SI adalah organisasi besar dan disegani, maka mereka para propagandis sosialis mengembangkan gerakan dengan melakukan infiltrasi dalam kelembagaan SI. Kemudian pada tahun 1914, mereka membentuk organ pergerakan Indische Sociaal Democratische Vereniging  (ISDV) di Semarang[5]. Untuk memperjuangkan kepentingan buruh, organ ini membentuk Vereneging Voor Spoor En Tramweg Personeel (VSTP), yang  juga berkedudukan di Semarang. Pergerakan kaum sosialis dan kaum buruh ini, ternyata sangat menarik simpati para anggota SI, sehingga beberapa anggota SI turut serta menjadi anggota ISDV dan VSTP. Masuknya para anggota SI dalam kedua organisasi ini, semakin memperkuat posisi pergerakan kaum sosialis serta organ pergerakan buruh. Sosialis menjadi wacana baru—selain Pan Islam – bagi para anggota SI dan lebih luas kepada seluruh rakyat yang turut terlibat dalam periode pergerakan ini. Dengan demikian, paham sosialis yang terwujudkan dalam dua organisasi ISDV dan VSTP, selain menarik simpati juga memiliki visi dan mampu memainkan peran yang cukup baik dalam proses pergerakan nasional melawan Pemerintah Hindia Belanda, yang dianggap sebagai penghisap atau kapitalis. Meskipun pada akhirnya, sosialisme berkembang kearah komunisme dengan berkaca pada revolusi Rusia yang diperjuangkan oleh kaum Bholsevik. Akhirnya pada 1920, ISDV resmi menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) guna mempertegas ideologi pergerakannya.[6] Dari sini kita dapat melihat bahwa Sosialisme telah menjadi jembatan menuju tercapainya gerakan Komunisme di Indonesia, sekaligus menjadi musuh bagi kaum Kapitalis Belanda.

Menemukan titik temu

Jelaslah bahwa pada medium pergerakan, terutama pada sepertiga awal abab 20, di Indonesia ada dua ideologi dan paham yang menjadi dasar dari sebuah organisasi pergerakan nasional, selain gerakan-gerakan dengan basis dan latarbelakang daerah seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon dan lain-lain. Islam yang diwujudkan secara institusional oleh SI dan Sosialis yang tergambar dalam ISDV adalah dua corong besar di Indonesia dalam melangsungkan kritik dan perlawanan menentang Belanda. Mereka yang menjadi anggota SI maupun ISDV, sempat menjalin hubungan harmonis ketika banyak anggota kedua organisasi ini yang memiliki status ganda. Terlepas dari kepentingan Sneevliet yang bertujuan mencari masa dengan jalur infiltrasi ke SI, namun keanggotaan ganda yang terjadi di tubuh SI dan ISDV adalah wujud adanya persamaan akan garis perjuangan. Pimpinan SI, H.O.S Tjokroaminoto menegaskan bahwa; Sosialisme itu memperbaiki nasibnya golongan manusia untuk memerangi sebab-sebab yang menimbulkan kemiskinan.[7] Bahkan kemudian Islam dan Sosialisme diramu sedemikian rupa, sehingga menjadi ideologi yang ’sempurna’ dan akrab disebut Sosialisme Islam. Dimana Islam ditetapkan sebagai sebuah dasar ideologi Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) dan Sosialisme ditetapkan sebagai dasar perjuangan untuk mencapai cita-cita persatuan dan kesejahteraan bagi seluruh umat Islam dan Bumiputera di Indonesia. Pandangan besar inilah yang kemudian menuntun arah perjuangan PSII dalam melawan kolonialisme Belanda, untuk mencapai Indonesia Merdeka.

Berbagai bentuk pengisapan dan ketimpangan  telah merajalela di Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah Hndia Belanda, maupun antara individu dengan individu lainnya yang dapat dilihat dalam bentuk kepemilikan tanah pada masing-masing orang, telah menjadi hal biasa kala itu dan mendapat sorotan penting. Para tokoh SI melihat bahwa hal semacam ini, telah menyimpang dan jauh keluar dari nilai-nilai Islam, sehingga patut kirannya untuk dihancurkan dan kembali kepada nilai-nilai dan ajaran Islam yang damai, tanpa penindasan dan saling menolong satu sama lainnya sebagai sesama saudara. Dari penjelasan ini, tentunya, dapat ditarik garis lurus antara Islam dan Sosialisme. Karena bila kita mengacu pada Sosialisme yang memiliki tujuan terciptanya suatu masyarakat yang adil tanpa penindasan satu oleh yang lainnya, serta terwujudnya sama rasa dan sama rata. Hal ini coba didorong untuk dapat diwujudkan dalam suatu sistem sosial, budaya, ekonomi, serta politik.

Hal senada dipertegas pula dalam sebuah pidato Tjokroaminoto dalam kongres al-Islam. Ia menjelaskan bahwa bumiputera masih mendapati sebuah keadaan yang sengsara. Kesengsaraan sudah jelas disebabkan oleh pengisapan kapitalisme yang melebur di dalam praktek kolonialisme Belanda. Kolonialisme harus dilawan dan untuk melawan praktik Kolonialisme Belanda, bumiputera sebagai bagian umat Islam tentunya membutuhkan sebuah model gerakan yang tepat dan revolusioner. Model Gerakan yang dimaksud adalah Sosialisme. Kesesuaian Sosialisme dengan Islam adalah sama-sama memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan untuk keberlangsungan hidup didunia sebagai sesama makhluk sosial serta makhluk Allah.

Bila berkaca pada sejarah ketika peradaban besar Islam dimulai dari Timur Tengah, dimana keberadaan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah telah dengan jelas dan tegas menentang sistem perbudakan di abad ke-7. Hal ini tentu sudah jauh berabad-abad lamanya bila dibandingkan ketika perbudakan secara serentak dalam skala Internasional baru dihapus pada abad 19 dengan dipelopori oleh pemikir dan tokoh-tokoh barat. Bahkan dalam sistem pemerintahan sekalipun, beliau telah mencontohkan bagaimana pemerintahan dijalankan dengan sistem sosialisme, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian dan persamaan (dalam hal apapun) diantara sesama manusia tanpa terkecuali.

Dalam tataran prinsip, tujuan dan maksud, pergerakan kaum Islam dan Sosialisme menemukan kesamaan titik. Pertama, dalam pandangan keduanya, baik Islam maupun Sosialisme, sama-sama memperjuangkan pembebasan dari praktek-praktek penindasan dan penghisapan Kapitalis, yang kala itu tercermin dalam Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Sehingga kalau boleh dikata, kedua ideologi inilah yang pada akhirnya menjadi air terjun besar yang melahirkankan benih-benih dan cita-cita menuju kemerdekaan.  Kedua, dalam pemahaman di dua kutub ini, nilai-nilai persamaan (sama rasa sama rata), keadilan dan saling membantu, adalah hal dasar yang dijiwai dan menjadi asas dalam ideologi keduanya. Yang pada akhirnya melahirkan persatuan dan gerakan-gerakan dengan skala komunal dengan jumlah luar biasa, hingga kala itu mampu menghimpun ribuan buruh untuk melakukan aksi-aksi pemogokan dan penentangan terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Ketiga, meskipun Islam dan Sosialisme adalah sama-sama ideologi impor, namun keduanya dengan mudah diterima oleh pribumi dalam waktu singkat dan mendapat dukungan masyarakat yang melimpah. Hal ini dapat dimaklumi karena dengan meyakini salah satu dari kedua ideologi ini, mereka menemukan kenyataan bahwa; mereka sedang ditindas dan dibodohi.

Semaun yang semenjak tahun 1917, menjadi propagandis dan komisaris SI Semarang dengan pergerakannya yang menjanjikan, maka ia dipilih sebagai ketua menggantikan Mohammad Joesoef. Semaon sendiri pada dasarnya bukanlah orang baru di SI, Ia pada 1914 telah bergabung dengan SI Surabaya. Namun semenjak menjalin hubungan dengan Sneevliet di tahun 1915, Ia lantas menjadi propagandis VSTP pada 1916 dan keluar dari SI Surabaya.[8] Sebagai seorang propagandis buruh yang belajar Marxisme sekaligus cara mengorganisir serikat dan memimpin pemogokan buruh, maka Semaun dinilai sebagai orang yang memiliki kapasitas untuk membawa perubahan. Keberadaan Semaun yang dikenal dengan pergerakannya yang radikal pada akhirnya membuat Tjokroaminoto terpengaruh, hal ini diwujudkan dengan memasukan gerakan serikat buruh sebagai salah satu bidang dalam aktivitas utama CSI. Pada titik ini, kita akan menemui masa dimana gerakan buruh begitu terorganisir dibawah naungan SI dan ISDV dan menimbulkan kegelisahan luar biasa bagi Pemerintah Hindia Belanda, karena sewaktu-waktu dibawah mandat kedua organisasi ini, ribuan buruh akan siap melakukan pemogokan, kapanpun mereka mau, terutama ketika tuntutannya tidak dituruti.

Perjuangan ekonomi dengan mengorganisir petani dan buruh serta menyerang kapitalisme dan pelindungnya, yaitu Pemerintah Hindia Belanda adalah satu-satunya upaya yang harus dilakukan guna memperbaiki nasib bumiputera adalah jiwa yang dikobarkan SI dan ISDV dalam menjaring masa. Disisi lain keberadaan Haji Misbach selaku aktivis di SI yang tertarik terhadap model gerakan radikal ISDV—penghimpun dan pengorganisir buruh dan petani, ikut pula menyeret anggota SI lain, menjadi pertanda kuatnya simpul diantara SI dan ISDV kala itu.

Setelah berhasil menghimpun masa dan basis kekuatan besar, baik Islam maupun Sosialisme menjadi ancaman berarti bagi Belanda kala itu, yang pada akhirnya berujung pada penangkapan tokoh-tokoh SI (Tjokroaminoto) dan juga tokoh Sosialis, dimana pada akhirnya Sneevliet dikirim kembali ke Belanda dan para pemimpin lain ISDV di kalangan militer Belanda dijatuhi hukuman penjara.  Hal ini adalah wujud reaksioner pemerintah Hindia Belanda yang geram dengan berbagai aksi pemogokan yang dilakukan oleh para buruh dan pribumi, yang jeals merugikan Pemerintah kolonial saat itu. Akibat penangkapan-penangkapan ini   suasana di SI dan ISDV agak goyah. Hingga pada akhirnya tahun 1920, guna kembali membangun dan menetapkan ideologi pergerakannya, ISDV yang telah ditinggalkan Sneevliet—dan dibawah pengarahan Semaun, mengubah nama organisasi ini menjadi Partai Komunis Hindia Belanda (PKH) dan kemudian berlanjut sampai PKI. Sedangkan disisi SI, kekecewaan setelah terjadi penangkapan pemimpin mereka, diwujudkan dengan aksi wacana penarikan diri dari keanggotaan volkstraad (dewan perwakilan rakyat pribumi dalam pemerintahan Hindia Belanda).

Dalam Lintas Perseberangan

Namun, dalam keberlanjutan praktik pergerakan, Islam dan Sosialisme pada akhirnya menemukan sentimennya masing-masing. Munculnya ego dikedua belah pihak, merupakan hal yang tak dapat dihindarkan. Dimulai dari kritik Semaun sejak 1918 terhadap  keberadaan CSI didalam tubuh Volksraad. Dia mengolok-olok bahwa Volksraad dianggap hanya sebagai sebuah “Komedi”. Hal ini bukanlah tanpa alasan, suara-suara CSI di Volksraad sebagai dewan rakyat pribumi tak memberikan perubahan berarti bagi rakyat pribumi. Pemerintah Hindia Belanda tidak pernah mengakomodasi setiap pendapat dan masukan SI, yang acapkali menyangkut hal-hal medasar bagi kesejahteraan pribumi, terutama terkait terbatasnya akses pendidikan dan rendahnya upah buruh dan tani. Meskipun hal ini sempat membuat Tjokroaminoto naik pitam, toh pada akhirnya apa yang disampaikan Semaun menjadi pembelajaran bagi SI. Semenjak kehadiran Semaun di SI Semarang, Tjokroaminoto yang semula dirasa bersikap moderat berubah menjadi radikal, dan berujung pada penangkapannya. Seluruh anggota SI pada akhirnya merasa tidak terima dan untuk menintervensi pemerintah Kolonial Belanda, mereka mencabut diri dari keanggotaan  Volksraad.

Beberapa buah dari pemogokan buruh menimbulkan efek berkepanjangan. Diciduknya para pemimpin SI maupun ISDV, sekaligus pemecatan terhadap buruh menjadi tekanan yang harus dihadapi oleh rakyat pribumi. Bersama Muhammadiyah sebagai satu-satunya basis organisasi, SI dibawah Agus Salim dan Fachrodin memilih mundur atas konfrontasinya terhadap pemerintah kolonial, dan diam-diam mereka meninggalkan serikat buruh. Karena merasa terkhianati oleh para pemimpinnya, kemudian merasa getir dan benci terhadap pemerintah, aktivis-aktivis serikat buruh berbondong-bondng hijrah ke PKI. Rencana rasionalisasi pemerintah yang diumumkan pada 1922, yang termasuk PHK buruh yang tidak diperlukan, pemotongan upah, pemotongan tunjangan pokok, pemotongan tunjangan lainnya, menuntut buruh untuk mendesak pemimpin serikat buruh bertindak mengadakan aksi [9]. Dan semakin mempertajam sentimen diantara SI dan PKI.

Sedangkan semenjak disiplin partai SI dilakukan pada 1921, menjadi puncak ketegangan antara orang-orang SI berlatar belakang Islam dan Sosialis.  Mereka orang-orang SI berlatar belakang Islam merasa, mereka yang berlatar belakang sosialis dan masuk dalam PKH atau PKI, dianggap tidak mempercayai adanya Tuhan dan bertentangan dengan Islam, yang menjadi  dasar pembentukan SI. Meskipun hal ini disanggah secara getol oleh Haji Misbach yang merasa tindakan ini tidak lebih adalah upaya orang-orang moderat di kubu SI yang mulai kehilangan kendali atas SI, sebagai akibat gerakan-gerakan revolusioner  orang-orang berlatar belakang sosialis yang tergabung dalam ISDV yang kemudian menjadi PKI. Misbach kala itu dikenal sebagai agen penting dalam proses penyebaran aksi mogok buruh diberbagai daerah pada 1923. Dalam kritiknya terhadap kebijakan disiplin partai SI adalah, Misbach merasa, orang-orang Islam terutama Tjokroaminoto, Agus salim, dan Abdoel Muis dirasa munafik, karena mengusir orang-orang PKI—yang sebenarnya diperlukan SI dalam pergerakannya dan telah terbukti menjadi mesin penggerak sarekat buruh dan tani yang semula tidak pernah bisa diorganisir oleh SI. Hal ini yang kemudian mendasari semakin kentalnya aroma perpecahan di tubuh SI, sehingga dikenal SI merah dan SI putih. Sampai pada akhirnya, SI dengan mantap menjadi PSII (?) dengan membersihkan aneksir-aneksir PKI. Sementara PKI sendiri terus melakukan gerakan-gerakan revolusioner hingga berbuah perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1926.

[1] Nasihin, Sarekat Islam Mencari Ideologi 1924-1945 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012),  hal.1.

[2] Ibid , hal. 45.

[3] Rosihan Anwar, Pergerakan Islam dan Kebangsaan Indonesia (Jakarta: Prenada Media, 2005),  hal. 31.

[4] Arif Rahman, Das kapital For Beginners  (Yogyakarta: Narasi, 2013), hal. 54

[5] Takashi Shiraisi, Zaman bergerak radikalisme rakyat di jawa 1912-1926  (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2005), hal.102.

[6] Nasihin, Sarekat Islam Mencari Ideologi 1924-1945 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012),  hal. 5

[7] H.O.S Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme (Jakarta: Bulan Bintang, 1954), hal 9-10.

[8] Takashi Shiraisi, Zaman bergerak radikalisme rakyat di jawa 1912-1926  (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2005), hal.134.

[9] Ibid, hal.324.

Gambar: Qureta.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.