Mengevaluasi Pandangan tentang Relasi Manusia-Alam-Ruang lewat Uneven Development

Spread the love

Judul: Uneven Development: Nature, Capital, and the Production of Space

Penulis:  Neil Smith dan David Harvey

Penerbit: The University of Georgia Press

Kota Terbit: Athens

Tahun Terbit: 2008 (cetakan ketiga)

Tebal Buku: 344 halaman

Ketika masih diamanahi jabatan Menteri Lingkungan Hidup (LH) Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Negeri Semarang (Unnes) 2021, saya kerap mendapati kerusakan sosio-ekologis.

Mulai dari sekitaran kampus, lingkup Jawa Tengah, sampai kancah nasional. Di semua skala spasial itu, kerusakan lingkungan seperti krisis air, banjir, pencemaran udara, emisi gas rumah kaca yang besar, dan banjir rob membuncah.

Tak ayal, kami, para pegiat Kementerian LH BEM KM Unnes 2021, pun berupaya merekam kerusakan-kerusakan tersebut lewat sebuah buklet bertajuk Senarai Ngilu. Buklet yang berisi 12 tulisan tersebut kami rilis bertepatan pada Hari Bumi, 22 April 2021. Sengaja, buklet itu kami harap menjadi kado—meskipun memerihkan—bagi Bumi, dan tak lupa, memberikan perspektif kepada pembaca bahwa Bumi sedang tidak baik-baik saja.

Namun, pengetahuan yang kami tuangkan itu masih belum bisa menjawab secara komprehensif: mengapa lingkungan kerap tak bisa lari dari pengrusakan? Mengapa pula manusia (dengan beraneka ragam kontribusinya) senantiasa menumbalkan non-manusia sekelilingnya?

Setelah seperiode di BEM usai, saya coba mengulik jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut lewat tiga bab awal buku Uneven Development: Nature, Capital, and the Production of Space karya Neil Smith dan David Harvey. Untuk komplitnya, simak ulasan ini, ya, Gez, ya!

Senukil tentang Relasi “Alam” dengan Manusia

Sebelum mengupas alasan pengrusakan “alam” oleh manusia, pada bab pembuka, penulis mengungkapkan konsep dasar tentang “alam” lebih dulu. Penulis menyatakan konsep tentang alam sangatlah kompleks dan kerap kontradiktif. Baginya, alam adalah sesuatu yang material sekaligus spiritual, terberi dan diciptakan, didominasi dan mendominasi; ia adalah totalitas dan serangkaian bagian, perempuan dan objek, organisme dan mesin.

Pun, alam adalah hadiah Tuhan sekaligus produk dari evolusinya sendiri; ia adalah sebuah semesta di luar sejarah dan juga produk dari sejarah, insidental dan dirancang, gurun dan taman. Dalam jangkauan kita, konsepsi alam yang rumit dan dualistik inilah yang bertahan hingga hari ini.

Perlakuan ekologis oleh masyarakat menempatkan spesies manusia sebagai satu unsur di antara banyak ihwal dalam totalitas alam. Sementara konsep alam eksternal memisahkan alam dari non-manusia, konsep semesta memasukkan manusia dan non-manusia di dalam alam.

Penulis mengungkapkan, konsepsi alam eksternal secara eksplisit dibegawani oleh Francis Bacon, pelopor “pengendalian/kontrol terhadap alam” yang hidup sekitar awal abad ke-17. Bacon menganggap alam adalah sebuah objek di luar masyarakat manusia yang perlu dikendalikan dan dimanipulasi. Bacon membayangkan relasi dengan alam itu lebih mekanik dibanding organik.

Namun, penulis menyebut anggapan yang memisahkan alam dari manusia telah dibantah Karl Marx. Sebab, “alam” yang ada sebelum manusia sudah tidak eksis lagi sekarang, sejak kemunculan sejarah umat manusia. Spesifiknya, Marx melihat bahwa proses akumulasi primitif merupakan motif/dalih yang mendorong interaksi metabolis manusia dengan non-manusia.

Berikutnya, dominasi terhadap alam menjelma tema yang dibahas oleh Frankfurt School (yang eksis pada 1960-an) secara rutin. Dengan kemampuan teknologi, argumen bahwa manusia telah terus-menerus memperluas dominasi terhadap alam eksternal muncul. Pun beriringan dengan peningkatan dominasi alam internal (manusia itu sendiri), eksistensi manusia juga kian merapuh.

Penulis menandaskan, alih-alih membahas dominasi terhadap alam, kini, kita harus melihat proses produksi alam yang lebih kompleks. Sebab, gagasan produksi alam telah menandakan masa depan yang ditentukan oleh kejadian dan dorongan politik. Lebih jauh, kejadian dan dorongan politik itulah yang menentukan struktur dan karakter produksi oleh kapitalis.

Riwayat Produksi Alam

Sebelum kelewat dalam, penulis tidak menampik bahwa frasa “produksi alam” sejatinya sungguh kontradiktif. Sebab, alam memang terberi oleh Tuhan begitu saja. Namun, kembali lagi, hal itu disangkal Karl Marx karena alam telah bertransformasi dan tidak sebagaimana sedia kala sejak sejarah manusia dimulai. Eh, tapi apa sih produksi itu? Bukankah tak bijak jika kita tetiba menghakimi bahwa alam tak dapat diproduksi?

Pendeknya, produksi digambarkan seperti ini: dalam sebuah industri, produsen mengubah bentuk daripada material yang telah disediakan alam, dengan tujuan menjadikannya berguna bagi produsen sendiri. Dalam proses tertentu, kerumitan muncul karena tak hanya berupa perubahan kecil dari bentuk, tapi juga memproduksi efek bersamaan kepada pekerja.

Proses itu disebut Labour. Bagi penulis, labour merupakan proses yang mengikutsertakan manusia dan alam. Di situ, manusia memulai, mengatur, dan mengendalikan reaksi material antara dirinya dan alam.  Manusia menempatkan diri di posisi berlawanan dengan alam, mengatur tubuhnya sendiri untuk mengapropriasi produksi alam jadi bentuk yang pas dengan keinginannya.

Kemudian, proses seconding nature, yang kurang lebih berarti, bagaimana alam baru bisa hadir keluar dari tangan kita. Nah, sejak aspek material second nature diproduksi jadi komoditas, alam pun telah diproduksi menjadi komponen nilai tukar. Keuntungan (surplus value) dari proses itu, utamanya, berupa komoditas agraris, ekonomis, dan kekuatan politik yang berikat dengan kepemilikan lahan.

Produksi second nature pun segera menggeser masyarakat dari first nature dan mempertajam kontradiksi, yang sepenuhnya di dalam second nature, antara kelas penguasa yang secara langsung terikat dengan second nature yang primitif bersama tanah agrarisnya. Dan di sisi lain, produksi itu menumbuhkan para borjuis, si pemilik basis politis, yang bergantung pada kontrol terhadap pasar dan kota.

Kini, kapitalisme memiliki relasi struktur ekonomis yang unik dan menandakan hubungan sama sekali berbeda dengan alam. Alam kini berperan sebagai objek produksi, alam manusia, proses reproduksi, dan kesadaran manusia. Namun, dalam hubungan dengan alam yang telah dimediasi secara sosial, kapitalisme tak berbeda dari model produksi sebelumnya.

Perlakuan terhadap Ruang sebagai Komoditas Kapitalisme

Penulis mengatakan, seberapapun kritik terhadap konsep ruang (space), kita akan sulit lepas dari pengertian dasar bahwa ruang adalah sebuah bidang, wadah/kontainer, atau pula kehampaan. Namun kini, ruang geografis yang kita perhatikan adalah ruang bagi aktivitas manusia, dari ruang arsitektural (pada skala lebih rendah) sampai skala seluruh permukaan bumi.

Dengan memproduksi ruang, tindakan manusia dan ruang menyatu dalam ruang itu sendiri. Ruang geografis pun merupakan sebuah produk sosial. Ruang diproduksi dari proses, aktivitas, bentuk-bentuk, sosial atau yang lain secara alamiah.

Namun, penulis menyebut ada dua pengertian dominan mengenai ruang: absolut dan relatif. Dalam pengertian absolut, ruang merupakan entitas independen yang terpisah dari ihwal-ihwal lainnya. Sementara itu, konsepsi relatifnya, ruang adalah sesuatu yang tak terpisah dari ihwal lain. Relasi spasial, dalam konsepsi ini, menjadi bagian-bagian spesifik di antara ihwal tersebut. Mereka secara murni relatif pada gerakan, perilaku, dan komposisi ihwal dan kejadian material.

Meloncat dari situ, penulis menyadur Karl Marx, secara eksplisit, melihat properti spasial sebagai hal yang integral dengan nilai guna. Perihal transportasi orang atau komoditas, Marx mengungkap bahwa sebuah perubahan material sangat terdampak dalam objek proses labour—sebuah perubahan spasial, perubahan tempat … eksistensi spasial itu turut berubah, sepanjang hal ini berjalan dalam nilai guna tersebut, sejak lokasi nilai guna diubah. Nilai tukarnya pun meningkat dalam ukuran yang sama dengan perubahan dalam kebutuhan nilai guna terhadap labour.

Warisan kapitalisme menjelma sebuah kondisi ketika pembangunan pasar bagi komoditasnya terorganisasi pada skala global. Tetapi, jika ia mewariskan model sirkulasi yang beroperasi pada skala global, kapitalisme harus berupaya untuk membuat mode produksi universal setara mungkin.

Demi akumulasi dan kebutuhan permanen ekspansi ekonomi, ruang pun bergeser sebagaimana ekspansi sosial daripada cakupan tenaga kerja upahan. Proses eksplorasi yang mendorong bagian-bagian pasar dunia, secara meningkat, dibayangi oleh proses kolonialisme yang tak hanya menggeser masyarakat pra-kapitalis menuju pasar dunia dan secara langsung mengawali relasi pekerja upahan dalam masyarakat tersebut.

Pembangunan lebih besar di bidang transportasi dan komunikasi, membuat makin besar pula ruang geografis yang dibentuk untuk produksi pada domain ekonomi. Meski begitu, fungsi ruang sebagai sebuah upaya produksi, dalam hal-hal yang lebih general, merupakan produksi industrial secara keseluruhan.

Kasarnya, tanah menjadi sebuah upaya produksi hanya dalam pertanian (lebih lebar, pekerja pertanian tetap menanam di lahannya) dan dalam aktivitas ekstraksi mineral. Sementara di industri lain, secara sederhana, tanah adalah sebuah kondisi yang melatari proses produksi.

Penandas

Pertanyaan-pertanyaan yang sedang saya cari tahu pun sedikit-sedikit menemu jawabannya. Dalam riwayat hubungan manusia-alam-ruang, alam sengaja diciptakan untuk menghasilkan nilai tukar, pun dalam era capitalocene (kapital atau modal sebagai unsur dominan/hegemonik) seperti sekarang, alam (unsur non-manusia) diproduksi dalam kerangka ekonomi-politik yang mendorong adanya produksi tersebut.

Pun, hal ini diperparah dalam produksi ruang yang menaungi alam (non-manusia) dan relasi sosial antarmanusia. Sebab, ruang kapitalistik harus berekspansi hingga skala global demi akumulasi yang lebih besar. Pun begitu, dengan pembangunan transportasi dan komunikasi pesat untuk memperlancar arus penggandaan kapital.

Tak terelakkan, makin luas alam yang diapropriasi dan ruang yang diproduksi, makin banyak pula krisis sosial-ekologis di muka bumi.

-Ilustrasi: https://koran-jakarta.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.