Menghadapi “Ancaman” Posmodernisme: Eksplorasi Interdisipliner Sejarah dan Psikologi Sosial

Spread the love

Oleh Ardhiatama Purnama Aji

Gema posmodernisme belakangan ini kerap mengisi ruang karya-karya ilmiah dan kebudayaan di tengah-tengah kita. Kehadiran posmodernisme tersebut disinyalir bisa memperkeruh suasana di antara ilmu-ilmu modern, dan tak terkecuali, ilmu sejarah. Apakah benar demikian? Posmodernisme itu apa sih? Kok bisa-bisanya memperkeruh suasana di ilmu sejarah? Jika benar, apa sebentuk cara yang bisa kita lakukan? Untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, mari simak tulisan ini.

Seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, posmodernisme muncul sebagai jawaban atas modernisme, yang gagal dalam meningkatkan martabat manusia dan menghilangkan kekerasan dari kehidupan. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai posmodernisme, simak penjelasan Johan Setiawan dan Ajat Sudrajat dalam artikelnya berikut ini. Menurut mereka, posmodernisme lahir dari gagasan Jean-Francois Lyotard pada 1970-an, dengan bukunya yang berjudul The Postmodern Condition: A Report on Knowledge. Ia memaknai posmodernisme sebagai kritik terhadap pengetahuan universal, tradisi metafisik, fondasionalisme, dan modernisme. Sedang menurut Louis Leahy, posmodernisme adalah sebuah pergerakan ide yang hendak mengganti ide-ide zaman modern. Lalu ada Emanuel, yang mengartikan posmodernisme sebagai keseluruhan upaya untuk merevisi paradigma modern. Selanjutnya, Ghazali dan Effendi juga urun pendapat mengenai posmodernisme, bahwa posmodernisme mengoreksi tak terkendalinya modernisme yang sudah lebih dulu ada.[1] Jadi dapat dikonklusikan bahwa, posmodernisme hadir untuk mengkritik, mengoreksi, mengubah, dan bisa jadi mengganti pemikiran modernisme. Kemudian timbul pertanyaan, bagaimana cara posmodernis meresistensi ide-ide modernisme?

Salah satu jalan kaum posmodernis meresistensi atau melawan gagasan modernisme adalah di bidang ilmu pengetahuan. Jalan yang mereka tempuh itu tidak lain disebabkan oleh kegagalan modernisme meningkatkan martabat manusia. Untuk memperdalam pemahaman kita terkait hal tersebut, kita perlu menyimak ikhtisar Jonathan Culler berikut ini: “Kaum modernis memandang ilmu sebagai awal dan akhir, serta puncaknya modernitas. Sedangkan kaum posmodernis menganggap ilmu sebagaimana laiknya informasi-informasi lain.”[2] Menurut Novi Triana Habsari—dosen Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Madiun, posmodernisme menekankan relativitas budaya sebagai perlawanannya terhadap pengetahuan universal, dan hal tersebut mengancam kebenaran ilmu sebagai wacana yang menampilkan kenyataan secara absah. Dan salah satu ilmu yang terkena imbasnya adalah sejarah.

Guna mempertahankan posisi sejarah atas perlawanan posmodernisme, Bu Novi menyodorkan pendapat McCullagh. McCullagh menanggapi keraguan para posmodernis terhadap sejarah dengan metodologi penelitian sejarah, dan memakai pendekatan narativisme. McCullagh menyatakan bahwa pengelolaan sumber sejarah (dokumen, arsip, dan kesaksian lisan) dengan metode-metode tertentu dapat membuktikan kebenaran penelitian sejarah. Narasi historiografis yang dibuat pun, menurut McCullagh, terjamin objektivitasnya, karena para sejarawan mempunyai kompetensi akademis dan mampu menyelamatkan narasi sejarah dari relativitas budaya.[3] Meskipun begitu, kaum posmodernis kurang lebih akan berkata: “Padha wae alias sama saja.” Sebab mereka (posmodernis) memandang bukti tak bisa menjelaskan masa lalu, dan bukti hanyalah interpretasi lain daripada masa lalu.[4] Bukti itu diibaratkan seperti foto yang telah diedit dengan efek-efek tertentu, sehingga sesuai dengan keinginan fotografer. Kalau begitu, pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimana sejarah menghadapi “ancaman” posmodernisme ini dengan “baik”?

Sesungguhnya, penulis lebih sepakat dengan pandangan posmodernis terkait narasi sejarah yang dihasilkan. Narasi daripada penulisan sejarah juga akan selalu subjektif. Sebagai contoh, dari pemilihan topik penelitian sejarah saja agak terkesan subjektif, apalagi ditambah contoh narasi sejarah Nugroho Notosusanto pada era Orde Baru.[5] Narasi tersebut bisa dikatakan melegitimasi peran militer dalam sejarah Indonesia serta menye-arahkan pandangan tentang G30S. Ada pula contoh lain, Bu Nina Witasari—dosen Jurusan Sejarah UNNES—dalam kuliah Historiografi Indonesia, pernah menyampaikan kisah Menak Jingga dari Blambangan (pemberontak Kerajaan Majapahit) yang selalu dicitrakan negatif oleh pujangga Majapahit. Slamet Subekti juga menyatakan, bahwa penulisan sejarah (historiografi) senantiasa mempunyai sisi-sisi posmodernis. Oleh karenanya, salah sebentuk cara menghadapi keraguan posmodernisme terhadap penulisan sejarah adalah mencoba untuk menggunakan sisi-sisi posmodernisme itu sendiri.

Perlu ditelaah pula bahwa, perhatian utama posmodernis tidak pada penelitian ilmiah atau cara masyarakat menerima hasil penelitian itu, tapi secara spesifik pada fungsi ilmu dan informasi ilmiah. Nah, fungsi atau kegunaan sejarah posmodernis adalah ketika penulisan sejarah mulai diterima pembacanya (bukan peristiwa atau pelaku sejarah). Di sanalah kita mulai memasuki wilayah historisisme baru atau posmodern, dengan tokoh legend-nya, Stephen Greenbald. Historisisme baru menekankan pada paradigma posmodern yang multiperspektif/pluralis, dan eksplanasi-nya humanistik. Ditambah lagi, pendekatan posmodernisme diperkenalkan oleh Prof. Bambang Purwanto, untuk memperluas cakrawala tema dan metode kajian sejarah kritis menuju historiografi Indonesia-sentris yang humanis.[6]

Berdasarkan paragraf-paragraf di atas, tujuan historiografi maupun historisisme posmodern menjadi kian jelas. Tujuannya adalah melakukan penulisan sejarah yang multiperspektif dan humanis, pendekatan psikologi sosial dalam penulisan sejarah, ditawarkan sebagai eksplorasi interdisipliner, sehingga dapat menjawab “tugas” dari Prof. Bambang Purwanto itu. Lalu, bagaimana cara melakukan penelitian sejarah dengan pendekatan psikologi sosial, sebagai sebuah eksplorasi interdisipliner?

Menurut Ivana Markova dalam tulisannya, “Questioning Interdisciplinary: History, Social Psychology and the Theory of Social Representations”, setidaknya ada dua alasan memadukan psikologi sosial dan sejarah adalah eksplorasi interdisipliner, yakni:

First, social psychology and history could be interdisciplinary in the sense that they might combine knowledge from both disciplines about a spesific subject matter … Second, social psychology and history can be understood as interdisciplinary … in the sense that they are underlain by a common epistemology to the extent that social psychological knowledge is historical and historical knowledge is social psychological.[7]

Berdasarkan faktor-faktor di atas, salah satu teori psikologi sosial, yaitu teori Fundamental Interpersonal Relations Orientation (FIRO)—ditemukan oleh psikolog Amerika, William Schutz pada 1950-an—menjadi sebuah opsi untuk diaplikasikan dalam penelitian sejarah kelak. Kurang lebih, teori ini berisi penjelasan terkait pola hubungan dan perilaku-perilaku antarpribadi, yang pada umumnya mengenai tiga kebutuhan antarpribadi: inklusi (keikutsertaan), kontrol, dan afeksi (kasih). Teori ini juga memuat beberapa postulat dan teorema tentang identifikasi, integrasi, perkembangan, serta kompatibilitas kebutuhan antarpribadi di dalam suatu kelompok.[8] Akan tetapi, mengapa teori ini bisa digunakan dalam penelitian sejarah?

Barangkali, banyak dari kita tahu bahwa embrio bangsa Indonesia, berasal dari kelompok-kelompok pemuda pada masa pergerakan, seperti Boedi Oetomo, Indische Partij, Sarekat Prijaji, dan lain sebagainya. Berikutnya, hasil daripada pendekatan teori FIRO dalam penelitian sejarah terkait kelompok-kelompok tersebut, bisa direkontekstualisasikan pada masa sekarang, meskipun setiap angkatan pemuda Indonesia memiliki tantangan yang berbeda pada masing-masing zamannya. Diharapkan tahap-tahap inklusi, kontrol, dan afeksi pada kelompok-kelompok pemuda masa pergerakan bisa dijadikan referensi untuk menghadapi persoalan yang dihadapi pemuda jaman now. Misalnya pembentukan kelompok diskusi antarmahasiswa di kampus, yang berguna untuk menambah wawasan, bertukar gagasan, dan merencanakan tindakan konkret sebagai agent of change.

Pengaplikasian teori FIRO dalam penelitian sejarah pun bisa dikatakan sebagai interdisipliner sebagaimana pernyataan Ivana Markova. Pertama, karena pengetahuan sejarah dan psikologi sosial bisa dipadukan dalam suatu subjek tertentu, contohnya pada studi tentang kelompok masa pergerakan di atas. Kedua, pengetahuan psikologi sosial adalah historis dan pengetahuan sejarah adalah psikologis sosial. Sebagai contoh, salah satu postulat Schutz dalam teori FIRO menyatakan bahwa perilaku yang dilakukan pada masa dewasa adalah kelanjutan dari relasi orang tua-anak pada masa kecil.[9] Hal itu mengungkapkan bahwa kajian peristiwa-peristiwa (relasi interpersonal) pada masa lalu diperlukan dalam aplikasi teori FIRO, dan peristiwa-peristiwa masa lalu tersebut memengaruhi perilaku interpersonal pada masa sekarang.

Eksplorasi interdisipliner antara sejarah dan psikologi sosial yang diajukan dalam tulisan ini, sekiranya dapat menjawab keraguan para posmodernis, yang mana memiliki fungsi ilmu sebagai referensi untuk merumuskan tindakan konkret, yang berguna bagi pemuda dalam menghadapi tantangan pada zamannya. Kemudian, eksplorasi interdisipliner yang multiperspektif antara sejarah dan psikologi sosial, juga dapat memperluas cakrawala tema dan metode kajian sejarah kritis, yang mana hal itu dapat merangsang munculnya pertanyaan-pertanyaan baru terkait peran pemuda era kini, dengan mengkaji perkembangan kelompok-kelompok pemuda masa pergerakan.

Akhirnya, eksplorasi interdisipliner antara sejarah dan psikologi sosial, menurut hemat penulis, akan memiliki prospek yang bagus dalam memenuhi “keinginan” para posmodernis sebagai informasi ilmiah dan memiliki kegunaan ilmu. Selain itu, kombinasi pengetahuan sejarah dan psikologi sosial bisa menjadi stimulus daripada penelitian-penelitian baru, sebagai salah satu solusi dalam mengatasi persoalan-persoalan berkaitan dengan perilaku manusia dengan sesamanya. Sebagai penutup, eksplorasi interdisipliner antara sejarah dan psikologi sosial diharapkan dapat lebih banyak dilakukan, serta menghasilkan manfaat bagi masyarakat pada masa mendatang. Sekian dan terima kasih.

 

Catatan Akhir

[1] Johan Setiawan dan Ajat Sudrajat, “Pemikiran Postmodernisme dan Pandangannya terhadap Ilmu Pengetahuan”, Jurnal Filsafat, Vol. 28 No. 1 (2018), hlm. 26-28

[2] Slamet Subekti, dalam artikelnya, “Bagaimana Menyikapi Overproduksi Historiografi dalam Era Postmodern”, hlm. 4

[3] Novi Habsari, “Arti Penting Historiografi dan Metodologi dalam Penelitian Sejarah”, Jurnal Agastya Vol. 6 No. 1 (Januari 2016), hlm. 61-62

[4] Slamet Subekti., op.cit

[5] Sebagai contoh, lihat opini Alumnus Ilmu Sejarah UNNES, Bagas Yusuf Kausan, “Nugroho Notosusanto: Dari Sejarawan Militer Hingga Aktor Intelektual Rezim Otoritarian Soeharto”.

[6] Slamet Subekti., Ibid.

[7] Cristian Tileaga dan Jovan Byford et al., Psychology and History: Interdisciplinary Explorations,  (Cambridge: Cambridge University Press, 2014), hlm. 109-110

[8] Sarlito Sarwono, Teori-Teori Psikologi Sosial, (Jakarta: Rajawali, 1984), hlm. 159-172

[9] Sarlito Sarwono., Ibid.

 

Keterangan: Esai ini dimuat dalam buku INKISH VOLUME 6.0 Kumpulan Karya Esai Terbaik 2019 (Malang: Kerjasama UKM Penulis UM dan Penerbit KUNCUP)

 

Gambar: www.psychologytoday.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.