Mengulas Film Push (2019)

Spread the love

Dua dasawarsa terakhir, beberapa sineas dari berbagai belahan dunia telah menyampaikan kekalutan mereka lewat film-film dokumenter. Mereka mengangkat banyak isu penting. Seperti, misalnya, David Guggenheim soal perubahan iklim melalui An Inconvenient Truth atau Dandhy Dwi Laksono soal perusakan alam oleh pertambangan dalam Sexy Killers

Diskusi yang coba didorong melalui film-film itu memang penting. Namun seakan tidak mengancam secara langsung. Lain hal dengan isu yang disampaikan oleh Frederik Gerrten dalam film Push. Film ini dibawakan oleh salah seorang punggawa PBB, Leilani Farha. Push mengajak kita menyelami satu problema besar di tengah masyarakat perkotaan: hak untuk memiliki tempat tinggal.

Melalui sinematografi yang lincah dan energetik, kita diajak untuk berkelana ke kota-kota artistik penuh romansa. Misalnya London dan Barcelona. Atau wilayah dengan atmosfir ceria seperti Notting Hill. Di sana, kita pun akan menemukan buah kecemerlangan para jenius seperti Gaudi lewat lekuk-lekuk bangunan yang menawan. Atau wajah senang para turis yang duduk di al fresco kota. Namun dibalik itu semua ada banyak tragedi memilukan. Salah satu yang paling utama adalah bahwa para penduduk kota mulai terusir dari kota itu sendiri.

Tragedi ini rupanya tidak hanya terjadi di banyak kota. Bahkan mungkin terjadi merata di seluruh dunia. Harga properti di perkotaan terus menerus naik. Sementara daya beli masyarakat stagnan. Karena harga sewa yang menjulang tinggi, maka para penghuni rumah sewa pun terusir dari rumahnya. Ruang publik yang seharusnya penuh dengan siulan pemuda dan interaksi warga malah menjadi tempat tak berpenghuni.

Pertanyaannya adalah, mengapa?

Dengan sangat dinamis dan penuh gaya, Gerrten membawa kita ke satu kesimpulan: masalah ini terjadi bukan karena gentrifikasi atau masalah serupa lainnya. Tapi karena ada monster besar yang sedang merenggut hak asasi manusia untuk hidup dan berhuni; sebuah keniscayaan akhir dari kapitalisme yang tak terkendali.

Dengan subtil dan perlahan-lahan, Gerrten juga menggiring kita pada suatu kesimpulan pahit: kita bisa menjadi korban praktik perampasan hak asasi manusia ini. Prosesnya sangat sistematis dan didukung oleh pemerintah. 

Secara teknis, film ini disampaikan dengan cukup baik. Tone yang digunakan di sini berfokus pada spektrum yang lebih gelap. Meskipun masih mempertahankan sekelumit rona yang nyaman. Dialog yang hadir cukup menggelitik. Seperti melalui pernyataan-pernyataan cerdas si guru Bahasa Prancis. Atau melalui kisah Lewis Hamilton II yang hangus dalam kobaran api ketamakan.

Figur utama film dokumenter ini, Leilani Farha, memang tidak memiliki pesona dan kharisma. Ia tidak seperti para Al Gore dalam An Inconvenient Truth atau David Attenborough. Namun, kita dapat melihat banyak kecemasan melalui getaran di raut wajah persona-persona yang diwawancarai. Mereka lelah, marah, frustrasi, kecewa, kalut, bahkan tak berdaya.

Bentuk emosi paling dominan dalam film memang rasa sesak. Namun dengan penuh semangat, Gerrten membawa kita pada sebuah harapan. Terlepas dari bias pemerintah yang mendukung kemiskinan dan pengusiran struktural, ternyata masih ada orang-orang yang mau bertarung. Masih ada harapan bagi mereka yang mau mengobarkan semangat perlawanan. Dan harapan ini akan makin menguat, apabila semakin banyak orang yang sadar akan keberadaan ‘monster’ terselubung ini.

Push memang tidak mendapat perhatian sebesar film dokumenter lainnya. Namun film ini menyampaikan satu isu penting yang harus kita cermati bersama. Hanya melalui kesadaran dan diskusi secara masif, persoalan dalam film ini bisa dihentikan. Jika tidak, manusia akan terus kehilangan esensinya sebagai manusia, karena terus digerogoti ketamakan struktural. (bagas)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.