Menjelma Manusia

Spread the love

Oleh Dheani Fauziah

Perihal ambisi, siapa yang tak memiliki? Namun, apa kabar dengan kontrol diri? Bagaimana dengan menahan sedikit ego agar impianmu tak menghancurkan orang lain? Bagaimana dengan membelokkan sedikit saja, jalur yang sudah kaubuat agar tak menabrak sanak saudara? Sederhana, hanya agar masing-masing dari kita hidup berdampingan dalam suka.

Mengerti waktu yang tepat, saya rasa, juga butuh waktu yang tidak sebentar. Kapan harus memulai? Kapan harus bergerak cepat karena jalanan sedang lengang? Atau kapan harus menarik tuas rem saat laju begitu kencang untuk berhenti?

Suatu ketika, Winston yang sedang berlajar di bagian utara Bumi menolong seseorang yang hampir tenggelam. Frankenstein, lelaki tersebut, kemudian menceritakan bagaimana ia bisa terdampar di antah berantah. Ia merupakan salah satu ilmuan yang sedang meneliti tentang entitas penyusun makhluk. Obsesinya untuk memberikan kehidupan untuk makhluk baru secara gamblang ia perlihatkan. Betapa ulet ia sampai menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengerjakan proyek tersebut. Frankenstein pun menceritakan tentang makhluk yang ia bangkitkan. The Monster. Rahasia yang ia pendam rapat-rapat.

Mary Shelly memberi saya banyak pelajaran tentang hakikat manusia lewat buku yang ia tulis pada tahun 1818, Frankenstein. Ternyata bukan sosok sesederhana tinggi, besar, menakutkan, mengganggu kehidupan manusia, dan berjalan hanya untuk mencari mangsa. Apa yang Mary tulis jauh melampaui apa yang publik citrakan tentang monster yang dihidupkan dari petir tersebut.

Dengan mengambil tiga sudut pandang, Winston, Frankenstein, dan The Monster, Mary secara apik menempatkan kita sebagai pembaca untuk benar-benar mengerti bagaimana perasaan dari masing-masing tokoh tersebut. Bahwa tidak sepenuhnya Frankenstein salah untuk meninggalkan The Monster pada detik ia membuka mata di dunia hanya untuk lari. Bersembunyi di ranjangnya yang menyimpan kehangatan dan berpikir bahwa apa yang barusan ia lihat adalah mimpi buruk lainnya. Bahwa tidak sepenuhnya The Monster salah untuk kemudian membalas dendam kepada seseorang yang memberikan ia nyawa namun malah meninggalkannya. Bahwa tidak salah jika Winston kemudian mengikhlaskan suatu hal dan mengingkari janjinya.

Memang menjadi kelemahan saya, untuk kemudian jatuh pada cerita yang berjalan berdampingan. Bahwa hitam pun juga memiliki putih, sebagaimana yin dan yang. Apakah kita, sebagaimana manusia memiliki secuil hak untuk menghakimi apa yang Frankenstein lakukan? Mengorbankan kawan, keluarga, untuk obsesinya membangkitkan makhluk hidup baru. Ia tidak melakukan ini semata-mata untuk marwah ilmu pengetahuan. Ia hanya menyiram kebun ego yang sedari awal ia dibuat. Tentu saya sebagai Dheany, penulis dan pembaca, tentu mengatakan salah. Dan, akan selalu salah bagi saya untuk kemudian berlaku egois. Tapi, apa yang saya ketahui tentang Frankenstein? Sebagaimana manusia, ia pun mengakui kesalahannya. Dan jika saya marah atas apa yang ia perbuat, bukankan saya harus memaafkan?

Siapa pula yang tidak naik pitam ketika setiap hari membantu meringankan beban sebuah keluarga, namun ketika mereka tidak sengaja melihat wujud si penolong, segera kabur. The Monster tiap hari membantu keluarga tersebut mencari kayu bakar secara diam-diam. Hanya karena The Monster memiliki rupa yang seburuk-buruknya rupa, mereka lari. Ketakukan. Tapi, siapa yang tidak?

Ini bukan cerita monster Halloween yang datang untuk memakan darah dagingmu. Bukan sosok tinggi dan besar dengan atribut perban bertebaran disekujur tubuh dengan mata yang hanya menggantung dari rongga. Bahkan Frankenstein-pun bukan monster, dalam artian yang sebenarnya. Ia adalah pencipta monster tersebut. Horor yang disajikan di sini ialah horor humanis. Hal-hal menakutkan yang tanpa sadar kita lakukan setiap hari sebagai manusia.

Hingga saat ini, dua abad telah berlalu, buku ini masih relevan sebagai alat refleksi. Terlebih, di era Kecerdasan Buatan digadang sebagai “masa depan”. Saya tidak menampik bagaimana teknologi benar-benar membantu percepatan hampir tiap lini kehidupan. Mari kita tengok dunia medis. Luka irisan di kulit kini sudah bisa pulih tanpa cacat dalam hitungan menit hanya dengan kita menempel alat semacam handsaplast. Kita sudah bisa mencari hama, penyakit, dan obat untuk tumbuhan hanya dengan mengunggah citra tersebut di software. Kita bisa pergi dengan rasa aman dari rumah hanya dengan satu tombol. Segala kemudahan di bidang otomotif, katakana saja, dan besok sudah ada.

Namun sebagaimana Frankenstein, bagaimana jika kita tidak bisa mengontrol apa yang kita ciptakan?

Kita menjadi was-was, karena kita tahu, saat kita sedang duduk santai sembari menjilat es krim, ada satelit yang sedang merekam suhu es krim kita kemudian data tersebut dijual. Kita menjadi acuh terhadap sekitar, karena sudah ada robot yang melakukan dan kita tinggal berleha. Kita kemudian menjadi korban penggusuran atas segelintir yang ingin membangun start up nir fungsi baru berdalih percepatan teknologi maupun investasi di atas tanah yang darinya kita hidup.

Oh, ternyata kita menjelma Frankenstein atas diri kita masing-masing.

Identitas Buku

Judul                    : Frankenstein

Penulis                  : Mary Shelley

Penerbit                : Qanita

Tebal                    : 316 halaman

Edisi                     : Pertama, Oktober 2015

ISBN                    : 978-602-1637-94-4

 

Ilustasi foto: 123rf.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.