Menyoal Adegan Brutal dalam Film “Joker”

Spread the love

Oleh Ardhiatama Purnama Aji

Pada 2 Oktober 2019, film yang disutradarai Todd Philips dan dibintangi Joaquin Phoenix bertajuk “Joker” pertama rilis di bioskop-bioskop Indonesia. Sejak tayang di bioskop, film ini mengundang bejibun respon dari warganet karena membawakan cerita sendu di balik kejahatan Joker selama ini (dalam film-film Batman).

 Arthur Fleck (nama asli Joker) merupakan seorang komedian yang gagal mengarungi karirnya. Dia menerima beraneka rupa hinaan dan cemoohan: dari kegagalan berkomedi tunggal, perundungan di jalanan ketika bekerja sebagai badut, sampai diolok-olok di siaran televisi nasional. Lengkap sudah penderitaan Arthur Fleck.[1]

Selain membawakan cerita sendu, film “Joker” mengumbar pula adegan kekerasan. Setelah dipecat sang bos, dia menghabisi tiga pegawai Wallstreet di jalur kereta api bawah tanah. Berikutnya di rumah sakit, ia mematikan ibunya dengan bantal.[2] Tak ayal, adegan-adegan yang disajikan membuat film ini dianggap kontroversial. Dilansir dari www.dailymail.co.uk, sejumlah penonton di seluruh dunia walk out alias meninggalkan bioskop lebih awal karena adegan mengerikan dalam film tersebut.

Sebelumnya peringatan akan betapa berbahayanya adegan film “Joker” telah didengungkan. Mengutip tirto.id, jaringan sinema Amerika, Alamo Drafthouse mengeluarkan sebuah pernyataan berbunyi:

“PERINGATAN PARENTAL (Ini bukan lelucon). Joker di-RATED R untuk alasan yang baik. Ada banyak bahasa yang sangat, sangat kasar, kekerasan brutal, dan keseluruhan getaran buruk. Terdapat penggambaran yang kasar, gelap, nyata dan sarat hal-hal kegilaan. Film ini bukan untuk anak-anak. Mereka tidak akan menyukainya. (Tidak ada Batman di film ini.)”

Ya, film memiliki dampak psikologis terhadap anak-anak, tak terkecuali yang memuat adegan kekerasan. Menurut Cantor dalam salah satu feature WebMD, film berbau kekerasan meninggalkan “jejak negatif” pada anak. Beberapa penonton berusia di bawah 14 tahun mengalami gangguan tidur dan sejumlah esai yang dikumpulkan dari para pelajar, menunjukkan adanya ketakutan terhadap air atau badut. Dampak lebih jauhnya, anak yang telah menonton film beradegan brutal, memiliki tendensi untuk melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya, menakutkan, dan tidak simpatik.[3]

Berangkat dari permasalahan yang ditimbulkan di atas, akan menjadi lebih “baik” apabila kita melakukan upaya untuk mengatasinya—tentu saja jika kita sadar terhadap permasalahan tersebut. Upaya yang dimaksud adalah pencegahan yang bersifat preventif. Berikut ini penjelasannya secara lebih rinci:

  1. Mengenali dan memahami jenis rating film yang dapat ditonton oleh anak-anak.
  2. Tidak memfasilitasi anak berupa televisi di dalam kamarnya.
  3. Menonton film bergenre drama bersama anak dan mendiskusikannya.
  4. Mengajak anak untuk bersosialisasi lebih intensif dengan lingkungan sekitar.[4]

Dalam konteks film “Joker” yang masih tayang di bioskop, selain upaya-upaya di atas, tentunya diperlukan pengawasan ketat oleh pihak operator bioskop, agar anak-anak tidak diperkenankan menonton.

Dari keseluruhan paragraf di atas, dapat dikonklusikan bahwa film berbau kekerasan seperti “Joker” memiliki dampak negatif terhadap kondisi psikologis anak-anak. Di samping konten film tersebut menarik, yaitu kisah di balik kejahatan “Joker” yang sarat akan kesedihan, orang tua memiliki tanggung jawab lebih untuk kondisi psikologis sang anak. Upaya preventif semacam pendampingan dan pengawasan akan sangat diperlukan, sejalan dengan meminimalisir dampak film beradegan brutal terhadap sisi psikologis anak. Terima kasih sudah membaca, sekian.

 

Catatan Akhir

[1] https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20191001111403-220-435620/sinopsis-joker-kisah-pilu-di-balik-kebengisan-musuh-batman (diakses pada 13 Oktober 2019)

[2] https://tirto.id/joker-atau-kisah-menjadi-dewasa-dengan-membunuh-ejeY (diakses pada 14 Oktober 2019)

[3] https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/anak-nonton-film-kekerasan-psikopat/ (diakses pada 14 Oktober 2019)

[4] https://lifestyle.kompas.com/read/2017/09/06/181152820/sering-nonton-film-sadis-tumbuhkan-sifat-psikopatik-pada-anak?page=all (diakses pada 14 Oktober 2019)

Gambar: scdn.slashgear.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.