Menyoal Gundik: Nyai Ontosoroh dan Penggambaran Reggie Bay

Spread the love

Oleh Eko Santoso

Berbicara soal gundik, maka sering kali bayangan kita tertuju langsung kepada pekerja seks komersil (PSK) atau sebutan lain untuk menggambarkan hal tersebut. Kebanyakan orang Eropa yang menetap di Hindia Belanda, hidup ditemani oleh Gundik—karena sang istri tak boleh dibawa dan menetap di Hindia Belanda atas kebijakan pemerintah kolonial. Sehingga mereka, memperlakukan gundik seolah memperlakukannya sebagai istri, meski tak ada legal-formal.  Ada yang setia dengan satu dan ada yang memiliki lebih dari itu, karena kadang mereka pun berdinas diberagam tempat, maka hampir disetiap daerah ketika tak membawa gundiknya, para tuan Eropa mengambil gundik lagi dari wanita pribumi.

Sedangkan terkait dengan pernikahan di dalam Islam, kita juga mengenal poligami, dimana ada kelonggaran untuk seorang suami dapat mempersunting lebih dari satu wanita. Meskipun terkesan seolah melecehkan posisi perempuan dan membiarkan tersalurkannya ego suami, namun nyatanya memang hal ini dibenarkan oleh syariat. Hal yang sebenarnya perlu dipahami agar tidak menjadi sebuah polemik adalah; mengetahui bagaimana konteks dan kondisi ketika itu. Maka,  kiranya penting mengingat bahwa sebagai suatu agama, Islam tidak terlepas dari konteks zamannya. Sehingga tidak boleh lepas dari masa lalu dan masa kini. Dengan demikian, maka tindakan yang ditiru dan dibenarkan saat ini, karena mengacu pada syariat yang sudah lahir kala itu, tetaplah harus memiliki dasar dan mencukupi ketentuan agar tidak terkesan serampangan dalam meniru. Hanya melihat pada tataran permukaan dengan mengindahkan nurani di dalamnya, tentulah bukan mencerminkan Islam secara kaffah.

Meskipun tak ada sangkut pautnya antara gundik dan poligami, namun sering kali menyangkut permasalahan perempuan, yang dalam hal ini adalah derajat dan posisinya, yang terangkum dalam kesetaraan gender—yang menjadikannya dua isu antara tatanan kehidupan sosial masa kolonial, dimana gundik menjadi bagian yang tak terpisahkan, serta tatanan kehidupan dalam masyarakat Islam, dimana poligami adalah salah satu tindakan yang dilakukan Rasul. Dengan itu, perlu kirannya kita melihat sebuah hal dari konteks zaman itu sendiri (poligami) dan perlu pula kiranya, kita memberi pembatas diantara status-status yang disandang perempuan sebagaimana diatas, menjadi hal yang berbeda dan memang memiliki batas yang jelas, agar tidak terjadi pengkaburan persepsi. Dengan demikian, maka tulisan ini, akan berawal dari posisi dan status gundik dalam konteks saat itu.

Permasalahan sosial yang tak pernah berevolusi sejak masa kolonialisasi semakin memperdalam perih hati rakyat negeri. Kata atau sebuah konsep dengan nama ‘kemiskinan’ yang entah diciptakan oleh siapa dan berbentuk apa, serta entah sejak kapan dikenal, dituding sebagai biang keladi munculnya berbagai macam penyakit sosial. Pelacuran atau yang lebih dihalus bahasakan dengan sebutan PSK, menjadi satu dari sekian penyakit lainnya. Meskipun berkaitan dengan nafsu dan birahi, namun pada praktiknya, faktor yang satu ini ternyata bukan merupakan jantung permasalahan. Ini hanya menjadi usus—mungkin juga jari tangan, layaknya sekrup-sekrup yang menempel pada sepeda onta. Sehingga sebutan awal untuk kasus yang satu ini,  dimana orang-orang yang terjun dan memerankan peran sebagai kupu-kupu malam, dinobatkan sebagai wanita tuna susila, dan dianggapnya sebagai sosok yang sejajar dengan mereka yang kurang beruntung dalam pendengaran maupun penglihatan. Bila dicermati, tidak bijak dan adil rasanya sebutan demikian, mengingat, mereka melakukannya bukan atas dasar kebutuhan pelampiasan birahi semata. Bahkan dalam beberapa kasus, mereka pun memiliki suami yang siap memenuhi hasrat seksual.

Dalam perkembangannya, stigma yang tidak adil ini mendapatkan kritik dari beberapa pihak dengan argumen yang dikuatkan dari penelitian-penelitian para ahli, bahwa; pendorong utama wanita pemuas lelaki hidung belang, yang biasa mangkal di jalan-jalan, cafe, maupun tempat legal dan ilegal lainnya, adalah kebutuhan ekonomi. Kesulitan mencari pekerjaan, yang belakangan ini mensyaratkan pula modal keterampilan dan selembar ijazah, adalah salah satu pemicunya. Alasan lainnya, hal ini dipilih karena tak terlalu memerlukan tenaga banyak. Meskipun demikian, mereka terkadang menghasilkan uang dengan jumlah yang lebih banyak, dan bahkan, melalui usaha semacam ini, mereka turut menyumbang pendapatan daerah dan negara melalui pajak. Disamping itu, usaha semacam ini merupakan agen distrubutor dan konsumen langsung minuman beralkohol, dan menjadikannya sebagai sumber ekonomi yang menggiurkan untuk beberapa pihak yang disebut dan terlibat dalam kegiatan diatas. Maka, dengan demikian stigma tuna susila tidak layak rasanya bila disematkan begitu saja—yang dalam beberapa waktu terakhir, menimbulkan pula beberapa pro dan kontra.

Kemudian di dalam agama, terkhusus Islam, kita mengenal bagaimana adanya kelonggaran bagi seorang suami untuk beristri lebih dari satu dan dibatasi jumlahnya empat. Pada kasus keagamaan semacam ini, tidaklah muncul secara tiba-tiba dan semata-mata terpaku pada doktrin kitab suci. Karena memang sesuai dengan kondisi pada awalnya, dimana saat awal terbentuk komunitas Islam di Arab dengan kondisi peperangan kaum Islam dan kafir menimbulkan kematian yang tak terhitung diantara kedua belah pihak. Terkhusus bagi pihak muslim, mereka hanya melegalkan seorang laki-laki dewasa yang terjun dalam arena pertempuran. Karena memang selayaknya demikian pada umumnya. Sebelum pada akhirnya, salah satu Istri Rasulullah maju menentang kekhalifahan Ali dan gema kesetaraan gender melayang bak isu yang buta sehingga tak pernah mengenal bejat, keras dan kejinya medan arena peperangan. Entahlah, setidaknya kesetaraan yang dimaksud pun harus ada pembatasan. Karena memang mereka (laki-laki dan perempuan), tidak ditakdirkan sama dalam semua hal. Ada beberapa koridor yang tetap tidak layak dimasuki—kecuali dengan asumsi mereka para pegiat gender siap menanggung resiko-resiko yang ditimbulkan. Dalam situasi perang, korban yang berjatuhan merupakan para prajurit lelaki dewasa.  Sehingga dapat dipastikan bahwa akan terjadi perbandingan mencolok, dimana jumlah janda akan terus meningkat, sedangkan laki-laki dewasa akan terus menyusut seiring dengan intensnya perjuangan dalam perang. Inilah yang menjadi penyebab mengapa kemudian Rasulullah menikahi para janda demi memenuhi kebutuhan hidup mereka dan anak-anaknya—dengan mendapatkan persetujuan dari pihak istri pertama, kedua, dan ketiga. Dengan demikian, maka pada dasarnya tindakan Rasul bukanlah berdasarkan birahi sebagai penampang terbesarnya, melainkan sebuah tanggung jawab sosial terhadap kaumnya. Tentu dengan jaminan mampu membagi kue secara merata, dan adil dalam menyentuh satu sama lain serta menyayangi semuanya dengan seksama. Inilah kemudian esensi poligami yang sedari awal yang coba ditawarkan oleh Islam sebagai salah satu solusi masalah sosial. Namun sekarang, jalurnya jauh melebar sampai sungai-sungai yang seharusnya haram, akhirnya diterjang juga. Nafsu birahi saat ini menjadi tuntutan berpoligami, bermodal materi yang tak seberapa bila dibandingkan dengan Nabi Sulaiman—namun mereka merasa congak dengan menggandeng istri yang jauh jarak usianya dan merasa dunia adalah saat kenikmatan dilampiaskan.

Lantas bagaimana dengan gundik? Bila kita membaca novel karya Pramodya Ananta Toer dalam tetralogi Pulau Buru-nya yang pertama, dengan judul Bumi Manusia, maka kita akan mendapatkan beberapa gambaran mengenai gundik pada masa Hindia Belanda. Novel ini mengisahkan tokoh utamanya yang bernama Minke, seorang anak bupati di wilayah Jawa Tengah yang sekaligus siswa sekolah HBS (Hogere Burger school). HBS sendiri merupakan jenjang pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi. Selain sebagai siswa HBS, Minke kerap membuat cerita-cerita pendek yang dimuat di koran dengan nama samaran Max Tollenar. Pertemanannya dengan Robert Shurhoof yang mengantarkan Minke mengenal seorang gadis bernama Annelies dan kakaknya bernama Robert Melema, sebagai buah hati seorang Belanda bernama Mellema dan gundiknya, Nyai Ontosoroh. Nyai Ontosoroh sendiri semula bernama Sanikem. Dikarenakan dipercayakan mengelola Boerderij Buitenzorg di Wonokromo dan masyarakat pribumi Jawa tidak bisa mengeja dengan baik nama perusahaan tersebut, jadilah nama Ontosoroh untuk menamai Sang Nyai tersebut.

Kisah asmara Minke dan Annelies penuh dengan lika-liku canda, suka dan duka. Bukan hanya dikarenakan perbedaan status sosial diantara keduanya yang terbentang lebar, namun juga status Annelies sendiri yang tidak memiliki kejelasan secara yuridis, apakah sebagai anak seorang Pribumi atau anak seorang Eropa. Keterbelahan status dan masa depan Annelies menggambarkan kondisi kejiwaan dan status hukum anak-anak Indo-Eropa di masa kolonialisme. Novel ini bukan hanya menceritakan kisah asmara yang pelik diantara dua sejoli yang berbeda status sosial dan ras, namun juga mengisahkan ketegaran dan keberanian serta kecerdasan seorang Nyai bernama Ontosoroh, yang telah melewati masa-masa sulit dalam kehidupan masa mudanya—hingga dia memiliki seorang anak bernama Annelies dan Robert Surhof.  Di dalam Novel ini, Nyai Ontosoroh digambarkan bak Gundik yang cakap dalam segala hal. Hidup dengan gaya dan kehormatan ala Eropa pula. Pertama, Nyai Ontosoroh sebagai Gundik Tuan Mellema digambarkan begitu pandai dalam mengelola perusahaan perkebunan sehingga tanggung jawab yang besar ini sepenuhnya diampu oleh Nyai sendiri. Kedua, kemampuan berbahasa Belandanya dan juga kepandaiannya dalam mempelajari situasi sehingga dia seolah-olah adalah aktor intelektual yang mengatur jalannya perilaku tokoh-tokoh lain, sekalipun itu adalah Tuan Mellema. Lebih dari itu,  dia adalah sosok yang rajin belajar secara otodidak dalam berbagai hal dan tentunya rajin membaca bundel-bundel majalah wanita dan majalah umum dari Hindia, Netherland dan Jerman. Ketiga, Nyai berani menentang sistem hukum kolonial yang diskriminatif. Dalam sebuah persidangan yang mencekam dan mendebarkan perihal status Annelies yang akan dibawa ke Belanda, yang kelak akan memisahkan hubungan Nyai Ontosoroh dan Annelies, dengan tegas dan berani Nyai Ontosoroh melakukan perlawanan di sidang pengadilan. Keempat, kemampuannya yang melingkupi segala aspek ini diceritakan oleh penulis bahwa; Nyai Ontosoroh sedari awal sering mendapat bimbingan dari Tuan Melema, yang dengan sabar mengajari gundiknya untuk membaca, menulis, berbahasa, mengatur perusahaan, berperilaku ala Eropa dan lainnya.

Tapi benarkah demikian adanya? Bila kita membaca literatur lain terkait dengan pergundikan yang terjadi pada masa penjajahan, seperti karya Reggie Bay yang berjudul Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, maka kita akan melihat perbandingan yang jomplang diantara kedua karya ini. Buku karya Reggie Bay dengan menyertakan tak kurang dari 200 referensi setidaknya menjadi sebuah karya yang patut dijadikan rujukan. Gundik dalam benak Regie bay adalah sebuah eksploitasi masal tak berprikemanusiaan. Sejak kedatangan VOC di Nusantara, maka sejak itu pula ‘Gundik’ bak manusia yang tak merdeka, dan senantiasa diposisikan sebagai budak. Hal ini mengacu pada situasi saat itu, dimana sistem perbudakan begitu langgengnya dan diamini pula oleh pihak penjajah. Pemenuhan kebutuhan biologis serta berbagai kebutuhan lainnya, terutama terkait pekerjaan rumah tangga dan lain-lain, pada akhirnya membuat para orang-orang berkulit putih ini, memanfaatkan tenaga pribumi untuk dijadikan budak mereka dan bisa dimanfaatkan untuk apa saja sesuai kebutuhan . Hal ini dapat dimaklumi karana para pegawai VOC yang dikirim di Nusantara kebanyakan adalah orang-orang lajang—dengan pertimbangan mereka mampu bekerja optimal dan tidak mengurangi beban pengeluaran yang biasanya dikeluarkan oleh sang istri.

Disisi lain, kebijakan pemerintah Hindia Belanda juga turut mempengaruhi perkembangan pergundikan. Munculnya Pergundikan juga sempat mendapatkan reaksi keras dari petinggi VOC, salah satunya Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-4 Jan Pieterszoon Coen. Sehingga, Ia meminta kepada Heren van De Compagnie (Tuan Tujuh Belas) agar mengirimkan perempuan Eropa ke Hindia Belanda sebagai gantinya. Namun ternyata kebijakan ini menimbulkan masalah dimana para perempuan Eropa,  justru melakukan pemborosan anggaran. Mereka yang dikirim, hidup dengan foya-foya, bermabukan dan lain sebagainya. Disisi lain, ternyata mereka memang sengaja di kirim ke Hindia Belanda dengan maksud untuk melakukan pemerasan terhadap  pegawai-pegawai, demi pemenuhan kebutuhan materi, sehingga korupsi terjadi besar-besaran di pihak para pegawai. Maka dari itu, muncullah kebijakan dari Gubernur Jenderal Carel Reyniersz dan Joan Maetsuyker antara1650-1653, yang menghapus kebijakan Coen dan mereka mendukung pergundikan di Hindia Belanda dengan modus penghematan.

Kemudian pada pemerintahan Inggris di Hindia Belanda 1811-1816, mereka menentang pergundikan dengan dasar bahwa secara agama (Kristen), mereka tidak diperkenankan menikah atau menjalin hubungan badan dengan orang kafir atau Islam—dalam pandangan kitab suci mereka. Mereka juga menganggap bahwa orang-orang pribumi tak lebih dari manusia-manusia setengah purba yang memiliki kepribadian bejat dan menganggap diri mereka (kolonis) lebih bermartabat. Sehingga haram kiranya mereka sampai berhubungan badan atau bahkan menikah dengan orang pribumi. Meskipun pada kenyataannya, tak dapat dipungkiri pula bahwa pergundikan di kalangan kolonis sendiri juga meluas dan tak bisa ditolerir. Dengan demikian, wacana untuk menghapus pergundikan di Hindia Belanda tak pernah tercapai. Peningkatan hubungan pergundikan di Hindia Belanda kembali intens pada periode 1860-1870. Pada tahun 1860, merujuk pada keputusan penghapusan perbudakkan di Hindia Belanda akibat perkembangan dunia Internasional—yang dengan tegas melarang perbudakan, maka hal ini berdampak pula di Hindia Belanda. Dengan ketentuan ini, maka mereka para tuan-tuan berkulit putih kemudian  mendapatkan status pergundikan secara legal, dan mereka pun lebih bebas mencari perempuan di Nusantara dengan seolah-olah mempekerjakannya sebagai pekerja urusan rumah tangga, meskipun dengan upah yang sangat minim. Hal ini ternyata justru memancing para perempuan pribumi untuk menjajakkan dirinya dengan alasan ekonomi, sehingga secara tidak langsung pergundikan mengalami perkembangan dalam jumlahnya.

Sementara pada tahun 1870, merujuk pada penetapan Undang-Undang Agraria De Waal tanggal 9 April 1870, yang dikeluarkan menteri penjajahan yang bernama Engelbertus de Waal, menyebabkan peningkatan migrasi orang-orang Eropa ke Hindia Belanda, dan menambah deras pula praktik pergundikan kala itu. Sehingga tidak heran bila disetiap lapisan sosial, dapat ditemukan pegawai rendah, juru tulis, pegawai perkebunan, pemilik toko, residen, bahkan hakim dan anggota Raad van Indie yang hidup dengan nyai gundiknya.

Hindia Belanda adalah dunia yang terdiri dua jenis manusia, yaitu kulit putih dan kulit coklat, serta antara penguasa dan pelayannya. Di dalam dunia dengan superioritas kulit putih atas kulit coklat, yang seolah-olah dianggap wajar dalam praktik pergundikannya—sehingga ketika itu, pergundikan merupakan gejala yang umum dan dapat diterima oleh banyak orang. Pergundikan jelas bukan sebuah gejala (kaum) marjinal. Bagi kebanyakan gundik, bisa dikatakan bahwa hidup dalam pergundikan adalah cara bertahan hidup. Dalam beberapa kasus sering kali juga para gundik harus hidup sendiri dengan mengurus anak-anaknya, setelah dicampakan oleh tuannya atau ditinggal meninggal dalam perang, usia yang uzur, dan sebagainya.   Sehingga dengan posisi demikian, tidak jarang mereka menjadi gundik kembali untuk tuan yang lain demi mempertahankan hidup. Menurut perkiraan, terdapat lebih dari setengah dari jumlah keseluruhan laki-laki Eropa di negeri koloninya yang hidup bersama seorang gundik pribumi dalam 25 tahun terakhir, pada abad ke-19. Jika toh tidak terjalin hubungan pergundikan (lagi), maka hal itu telah disebabkan oleh sifat lain atau situasi keuangan laki-laki yang bersangkutan yang buruk. Bukti ini tentu menunjukan bahwa betapa nyatanya keberadaan gundik kala masa kolonial Belanda di Nusantara, sebagai bagian dari pranata sosial kala itu.

Kehidupan bersama seorang nyai hampir meliputi seluruh kelas dalam masyarakat kolonial Eropa. Jika boleh mempercayai kesusastraan indies, ternyata menjelang akhir abad ke-19 sudah sangat biasa jika seorang laki-laki Eropa mengambil seorang  nyai, begitu juga dari sudut pandang penduduk pribumi. Terdapat banyak keuntungan hidup bersama seorang gundik. Bagaimanapun juga, begitulah menurut para pendukungnya. Pergundikan menjamin keadaan yang tidak mengikat diri dan dirasa menyenangkan bagi para laki-laki Eropa, karena mereka bisa melepaskan para gundik mereka semaunya tanpa memberikan waris, karena mereka memang tidak memiliki status pernikahan yang sah dan jelas menurut kacamta hukum koloni. Mereka menikmati keuntungannya, namun tidak mau menanggung kerugiannya. Dan celakanya, ketika sang gundik harus mengurus anak-anak mereka sendiri—yang dalam beberapa kasus lain, sang gundik justru tidak memiliki hak asuh dan harus rela anaknya diambil pihak suami. Keuntungan lainnya adalah bahwa kehidupan bersama seorang gundik pribumi memberi dampak keteraturan terhadap perilaku hidup sang laki-laki. Pergundikan menahan  mereka dari minuman keras, menjauhkan dari para pelacur dan menjaga pola pengeluaran agar dalam berada batasnya.

Regie Baay juga menelisik bahwa terdapat adanya berbagai upaya diskriminasi terhadap anak-anak Indo Eropa yang dianggap lebih rendah dari Eropa asli, yang  dipempengaruhi oleh pencitraan kulit putih, yang dianggap lebih unggul dibanding Indo Eropa. Gagasan pada waktu itu adalah bahwa; anak-anak berdarah campuran menyatukan sifat-sifat jelek kedua ras dan itu menjadi alasan utama mengapa selalu terjadi sesuatu dengan orang Indo Eropa, dimana mereka dianggap berbeda dan patut untuk diasingkan dalam status maupun kehidupan sosialnya, sehingga tak memiliki kesempatan untuk mendapatkan akses-akses pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya.

Perbedaan tujuan, koridor dan perspektif dari kedua penulis mungkin adalah alasan keduanya menampilkan perbedaan. Tapi melihat apa yang disodorkan oleh Regie Baay, dirasa lebih relevan dengan kondisi kala itu. Penindasan, eksploitasi manusia atas manusia, eksploitasi bangsa atas bangsa, terangkum dalam satu kata yakni; perbudakan, yang merupakan bagian dari kehidupan masa kolonial di Hindia Belanda—meskipun juga terjadi jauh sebelum itu, seperti layaknya periode awal di Arab, dimana Rasul ketika itu, mencoba untuk menghapusnya. Penjajah tak hanya menjilati aneka sumber daya alam, namun mereka juga merambah pada manusianya, tenaganya, dan bahkan seksualitasnya. Gundik adalah cerminan nyata penderitaan kala itu. Gundik dijadikan semacam inventaris yang siap diperjualbelikan, dikeruk untuk mengerjakan segala hal yang dibutuhkan oleh majikan—mulai dari pekerjaan rumah,  kamar, serta merawat anak-anak buah pergundikannya dengan para kulit putih berhidung gonter—terkadang bahkan dibuang dengan beban anak-anak Indo Eropa ditangan, tanpa tanggung jawab para majikannya. Kalau toh ada gundik yang bernasib layaknya Nyai Ontosoroh, tidaklah lebih dari 1 %. Atau mungkin juga, Pramodya Ananta Toer sengaja mengangkatnya dari segi positifnya semata dari sebuah pergundikan, karena bising dan tak rela mengungkap kebejatan para pria dewasa hidung gonter, alias kompeni.

Sebuah sindiran sebagai bentuk kebenciannya terhadap para tuan-tuan Eropa, bisa juga menjadi alasan Pram. Maka itu adalah hak Pram sebagai penulis, untuk melihat dari sudut mana, namun yang pasti, Regie Baay memberikan gambaran yang lebih mudah dan relevan meski tak mudah dibayangkan layaknya novel Pram. Namun dengan itu, tak pantas dan tak lazim pula membedakan sebuah buku dengan modal berbagai penelitian dengan sebuah karya non-fiksi dan imajinatif semacam novel, karena keduanya berangkat dari sisi yang memang berbeda. Tapi melihat substansi yang dibawakan, yang sama-sama membahas perihal pergundikan, maka kiranya kita mendapatkan refrensi menarik dari kedua karya besar ini. Dari sana, kita bisa membandingkan dan membayangkan bagaimana penderitaan luar biasa yang dialami hampir seluruh gundik pada masa itu. Sebelum pada akhirnya, dihapus lah pergundikan ala kolonial, saat memasuki masa penjajahan Jepang—dimana terjadi pencatatan sipil yang ketat, sehingga menuntut para nyai (Gundik) dengan keturunannya untuk memutuskan apakah akan menjadi seorang Pribumi, atau menjadi warga negara Eropa, mengikuti suaminya yang terusir ke negerinya semula. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.