Mohammad Hatta Versus Dipa Nusantara Aidit: Perdebatan tentang Kooperasi

Spread the love

Oleh Saiful Anwar

Berbicara masalah kooperasi bukanlah perkara mudah. Di Indonesia wacana perkooperasian tidak berkembang–untuk tidak mengatakan macet. Kemacetan itu terjadi akibat kajian kooperasi yang minim sejak masa Orde Baru hingga hari ini. Hal tersebut sangat disayangkan sebab, pada masa sebelum Orde Baru, wacana perkooperasian sempat menjadi topik perdebatan. Tulisan ini membahas dan membandingkan wacana kooperasi Mohamad Hatta yang terdapat di buku Meninjau Masalah Kooperasi dengan wacana kooperasi DN. Aidit yang terdapat di buku Peranan Kooperasi Dewasa Ini.

Kooperasi tidak hanya gerakan ekonomi yang bertujuan untuk menyejahterakan anggotanya, tetapi juga gerakan politik. Dalam kooperasi terdapat dua nilai politik yang dipegang teguh yakni demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Demokrasi politik mengandung arti setiap anggota memiliki hak bersuara untuk menentukan arah gerak gerakan, sedangkan demokrasi ekonomi mengandung arti setiap anggota berhak mendapat keadilan ekonomi. Berdasarkan beberapa hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kooperasi bukanlah gerakan yang kapitalistik, justru ia adalah gerakan yang bisa digunakan untuk melawan sistem kapitalisme.

Mohammad Hatta dikenal luas sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia bersama Soekarno. Sosoknya lekat sebagai wakil presiden pertama Indonesia. Selain sebagai tokoh politik Hatta juga dikenal sebagai tokoh pemikir ekonomi terutama ekonomi kooperasi, ia bahkan diberi gelar bapak kooperasi Indoneisa, walaupun yang terakhir itu jarang diketahui orang. Hatta banyak menulis buku tentang kooperasi, salahsatunya  buku berjudul Meninjau Masalah Kooperasi. Buku tersebut berisi dasar-dasar perkooperasian di Indonesia.

Kooperasi berasal dari kata “co” yang berarti bersama-sama dan “operasi” yang artinya bekerja. Maka kooperasi berarti sesuatu yang dikerjakan secara bersama-sama. Hatta membagi kooperasi menjadi dua jenis, yakni kooperasi sosial dan kooperasi ekonomi. Kooperasi sosial adalah kerjasama antarrakyat dalam mengerjakan sesuatu. Ini adalah sifat yang sudah ada dalam kebudayaan masyarakat Indonesia. Kooperasi ekonomi adalah organisasi ekonomi yang dikerjakan bersama demi mencapai kesejahteraan bersama. Meninjau Masalah Kooperasi  adalah fondasi untuk memahami kooperasi Indonesia.

Hatta adalah seorang moderat, itu terlihat dari tulisan-tuliisannya. Pandangannya tentang kooperasi pun demikian. Misalnya dalam hal keanggotaan kooperasi. Bagi Hatta, kooperasi adalah wadah bagi semua golongan, tidak hanya kaum yang lemah secara ekonomi tetapi juga yang kuat ekonominya. Kooperasi yang dibayangkan Hatta adalah wadah untuk semua orang baik proletar maupun borjuis. Hatta juga tidak menolak modal asing, ia tidak menolak jika kaum miskin Indonesia bekerja sebagai buruh di pabrik-pabrik. Baginya membangun kooperasi adalah perjuangan panjang. Dan bekerja sebagai buruh adalah bagian dari usaha merawat nafas perjuangan tersebut. Hatta adalah seorang yang realistis, ia tidak sekeras Soekarno maupun PKI dalam menyikapi pengaruh asing terutama yang dari Barat. Tentang wacana kooperasi pun hatta nampak moderat dan realistis, ia tidak mengharuskan kooperasi sebagai alat perjuangan kaum proletar. Sikap yang moderat dan realistis membuat Hatta menjadi tokoh yang paling rajin mengkritik sistem Demokrasi Terpimpin. Bagaimana dengan Aidit?

Aidit adalah tokoh utama Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia adalah politisi ulung yang berhasil membawa PKI menjadi salah satu partai terbesar di Indonesia. Hal tersebut merupakan prestasi besar mengingat PKI sempat hancur pascatragedi Madiun 1948. Selama bergelut di bidang politik, Aidit telah melahirkan banyak tulisan, terutama yang terkait sikap politik PKI. Dari tulisan-tulisan tersebut kita bisa membaca pemikiran Aidit.

Salah satu tulisan Aidit tentang kooperasi dapat kita temui di buku Peranan Kooperasi  Dewasa Ini. Buku tersebut memuat banyak informasi, mulai dari susunan ekonomi Indonesia yang hendak di bangun di era Demokrasi Terpimpin, peranan, lapangan, dan kegiatan kooperasi Indonesia, hingga pentingnya peranan pemerintah terhadap perkembangan kooperasi Indonesia. Sesungguhnya buku tersebut merupakan pidato Aidit pada tanggal 28 Februari 1963 dan 13 November 1962. Namun tidaklah penting apakah itu pidato atau buku tulen, tulisan tetaplah merupakan buah pikiran manusia.

Lain Hatta, lain pula Aidit. Sebagai seorang penganut Marxisme, Aidit selalu membagi manusia menjadi dua golongan: borjuis dan proletar. Borjuis adalah orang yang memiliki modal harta, sedangkan proletar adalah orang yang tidak memiliki modal harta dan hanya bisa menjual tenaganya kepada kaum borjuis untuk bertahan hidup. Di manakah letak kooperasi? Bagi Aidit kooperasi adalah alat kaum proletar untuk melawan dominasi kaum borjuis. Kooperasi haruslah beranggotakan kaum proletar saja, tidak boleh ada kaum borjuis di dalamnnya, sebab jika hal yang demikian terjadi maka kooperasi hanya akan dimanfaatkan kaum borjuis untuk memperkaya diri sendiri. Dari situ teranglah bahwa pemikiran Aidit berbeda dari pemikiran Hatta. Hatta menghendaki kooperasi sebagai wadah untuk semua orang, sedangkan Aidit membatasinya hanya untuk kaum proletar. Aidit juga menganjurkan untuk menjadikan kooperasi sebagai alat memenangkan Revolusi Indonesia di bawah tuntunan Pemimpin Revolusi Indonesia Bung Karno.

Aidit adalah tokoh yang tak sejalan dengan Hatta. Ia tampaknya tidak suka dengan sikap Hatta yang terlalu “lembek” dalam menghadapi neo-kolonialisme. Di buku Peranan Kooperasi Dewasa Ini Aidit banyak mengkritik pendapat-pendapat Hatta. Pada halaman 13 di buku itu misalnya, ia menulis:

            Di waktu yang lampau rakyat kita dijejali oleh demagogi tentang kooperasi yang dilakukan oleh kaum reaksioner. Kita harus menentang propaganda yang menyesatkan dari Dr. M. Hatta yang menyatakan bahwa kooperasi adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kemakmuran bagi bangsa kita yang masih lemah ekonominya.Jika dituruni keterangan ini, maka maksud Hatta akan berhasil  memindahkan perhatian agar perjuangan rakyat tidak ditujukan kepada melikwidasi kekuasaan kapitalis monopoli  imperialis dan sisa-sia feodalisme di Indonesia.

Penolakan Aidit terhadap gagasan-gagasan Hatta juga muncul di bagian-bagian berikutnya. Sikap tersebut menujukkan dua hal: Pertama konsistensi Aidit terhadap ajaran Marxisme yang menolak kapitalisme, baik kapitalisme modern Barat maupun kapitalisme kuno yang berbentuk feodalisme. Kedua adalah wujud dukungan Aidit terhadap  Soekarno mengingat bahwa Hatta adalah orang yang paling getol mengkritik Demokrasi Terpimpin. Sikap penolakan terhadap gagasan-gagasan Hatta adalah sikap idealis dan sikap politik sekaligus.

Hatta dan Aidit adalah pemikir ekonomi kooperasi. Perdebatan merupakan hal yang lumrah dalam dunia ilmu pengetahuan. Justru perdebatan (apalagi melalui tulisan) dapat menambah wawasan kepada banyak orang. Hari ini kita miskin wacana kooperasi, tidak ada perdebatan kooperasi layaknya Hatta dan Aidit. Adalah suatu ironi ketika satu negara (yang katanya) menganut demokrasi tetapi miskin wacana kooperasi.

Saiful Anwar, alumnus Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang

Gambar: http://www.senandungwaktu.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.