Mulut Bocor, Otak Kotor

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

Sesiang tadi saya sedang mengetik tulisan untuk mengisi kolom ini, ketika tiba-tiba Kluprut masuk ruang kerja tanpa permisi. Sambil marah-marah lagi. Sialan, buyar sudah konsentrasi saya.

Diancuk! Manusia-manusia bermulut bocor, tanda otak mereka kotor!” ujar dia sembari melotot.

Saya beranjak, lalu masuk ke dalam: bikin kopi pahit kesukaan dia. Beberapa menit kemudian, saya kembali ke ruang tamu. Dia sudah duduk di kursi butut sambil ngemudel tak keruan juntrungan. Saya letakkan dua cangkir kopi, panas mengepul di atas meja.

Tanpa saya persilakan, Kluprut mengangkat cangkir kopi di depannya dan menyeruput. Tanpa minta izin pula dia melolos sebatang rokok dari sebungkus rokok saya yang tergeletak di meja.

“Kelakuanmu tak pernah berubah. Marah-marah tanpa sebab, omong tak keruan juntrungan, ambil milik orang lain tanpa permisi,” ujar saya.

“Siapa bilang aku marah tanpa sebab? Siapa bilang aku omong tak keruan juntrungan? Siapa bilang aku ambil milik orang lain tanpa permisi?”

“Aku!”

“Kamu ngawur. Benar aku marah. Dan, aku marah pasti ada penyebab. Aku selalu omong sepenuh juntrungan. Tak pernah ngawur. Aku juga tak pernah ambil milik orang lain tanpa permisi.”

“Ambil rokok, menyulut, dan mengisap tanpa bilang-bilang, apa namanya kalau bukan mencuri?”

“Mencuri di depan matamu? Yang benar saja. Kau tahu, dalam setiap milikmu, yang kauperoleh dari penghasilanmu, ada sebagian hak orang lain. Nah, aku cuma ambil sebatang dari 16 batang rokokmu. Cuma seperenam belas! Itu hakku. Kaubilang aku omong tanpa juntrungan, padahal omongan itu cermin dari kemarahanku dan kemarahan itu bukan tanpa sebab. Jadi, sekali lagi, jangan ngawur: menuduh orang secara sembarangan, melabeli orang secara serampangan.”

“Oke, oke. Sekarang, ceritakan kenapa datang-datang main maki dan bilang orang-orang bermulut bocor, berpikiran kotor? Jangan sembarangan, jangan serampangan. Biar aku paham,” sergah saya seraya mengambil rokok sebungkus dan mengantongi – agar Kluprut tak melolos berbatang-batang tanpa permisi lagi.

“Mulut mereka bocor dan itu cermin dari pikiran mereka yang kotor.”

“Tak perlu kauulang. Katakan saja apa pangkal persoalan yang bikin kau geram.”

***

Dalam perjalanan ke rumahmu ini, aku melihat spanduk terpajang melintang di atas jalan. Tulisan yang terpampang: tuku pandan nang pasar legi…/jare numpak becak tibake’e jalan kaki//Gak usah tuku mobil cak,./lek gak duwe garasi..//mending rabi maneh/podo-podo isok di tumpak’i…. Kau tahu artinya kan, meski ejaan bahasa Jawa yang digunakan salah? Beli pandan di Pasar Legi/katanya naik becak ternyata jalan kaki//Tak usah beli mobil, Kawan/jika tak punya garasi//lebih baik menikah lagi/sama-sama bisa ditumpangi.

Bocor dan kotor kan! Coba, bayangkan, orang yang menulis dan memasang spanduk itu jelas tak menghargai ibu, istri, saudara perempuan, dan anak gadis mereka masing-masing. Mereka menyamakan perempuan dengan mobil! Mok ditumpaki, cuma untuk dinaiki.

Apakah mereka lupa sembilan bulan hidup di dalam rahim sang ibu? Apakah mereka pura-pura tak tahu, sang ibu melahirkan dengan bertaruh nyawa? Apakah mereka lupa, istri mereka, saudara mereka, anak mereka adalah perempuan? Apakah mereka tak mengerti menyamakan perempuan dengan mobil sama saja telah menganggap, memperlakukan, pula ibu, istri, saudara perempuan, anak gadis mereka sekadar sebagai mobil – yang menjadi moda angkutan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain? Dan, oleh karena itulah, ketika mobil bobrok dan mereka punya duit lalu membeli mobil baru? Persis pada titik itulah, mereka bilang: ketimbang punya mobil tak punya garasi, lebih baik berpoligami lantaran perempuan “enak dan mengenakkan ketika dinaiki”. Apakah saat melontarkan “buah pikiran cemerlang”  itu – sekalipun mungkin berdasari hasrat bergurau atau main lucu-lucuan – mereka tak berpikir telah menyakiti hati perempuan – ibu, istri, saudara, dan anak gadis mereka? Apakah mereka tak sadar telah memperlakukan perempuan – ibu, istri, saudara, anak gadis mereka – tak lebih dari sekadar tumpakan?

Apa hendak kaubilang jika itu bukan mulut bocor, cermin dari otak kotor? Utek ngeres!

Nah, cara berpikir yang melandasi sikap dan tindakan, macam itulah yang memberikan andil, kontribusi, sumbangan besar dalam perusakan alam. Cara berpikir, bersikap, dan bertindak kaum mulut bocor, otak kotor, macam itulah yang telah membuat pemerkosaan terhadap ibu pertiwi, ibu bumi, rahim kehidupan menjadi keniscayaan. Ya, mulut bocor otak kotor pula yang telah merusak dan menghancurkan alam ini – lewat berbagai tindakan yang mencerminkan kekotoran otak mereka, yang bisa kita ringkas dengan istilah “perekonomian ekstraktif”. Itulah modus, itulah sistem, itulah ideologi “pembangunan” perekenomian yang berlandaskan hasrat penguasaan dan pengisapan terhadap alam dan seluruh penghuni alam. Itulah sistem perekonomian yang  membenarkan penghancuran alam, baik sebagai cara maupun akibat.

Dan, kau bilang aku marah tanpa penyebab, aku omong tak keruan juntrungan?

Kau baca tidak rekomendasi rembuk budaya pada haul ke-10 Gus Dur di Masjid Al-Munawwaroh Ciganjur, Jakarta, 28 Desember 2019? Dalam rembuk budaya bertema “Kebudayaan Melestarikan Kemanusiaan” itu, para peserta merekomendasikan pada pemerintahan Presiden Joko Widodo, antara lain – dan ini poin amat penting, “negara perlu meninggalkan model ekonomi ekstraktif yang mengorbankan keberlanjutan ekologi dan mulai menggali potensi ekonomi yang berbasis pengetahuan tradisional dan kearifan lokal”.

Kau paham nggak pembangunan yang bertumpu pada model ekonomi ekstraktif makin menjauhkan rakyat dari keadilan sosial? Dan, oleh karena itulah, aku yakin kenapa Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) pada “Refleksi dan Tausiah Kebangsaan NU Memasuki Tahun 2020” di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis, 2 Januari 2020, menyatakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia pada tahun 2019 saat masa kepresidenan Joko Widodo masih jauh dari kenyataan. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj bahkan menegaskan sila kelima Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, paling jauh panggang dari api, jauh dari kenyataan.

Itu semua, pembangunan berlandaskan perekonomian ekstraktif itu, bermula dari cara berpikir, bersikap, dan bertindak: yang menempatkan dan memperlakukan perempuan tak lebih dari sekadar tumpakan, kendaraan. Mereka alpa, mereka lahir dari rahim perempuan.

Nah, analog dengan perkara itu, mereka alpa manusia hanya bisa hidup dan terus hidup dalam rahim kehidupan. Dan, apakah rahim kehidupan? Itulah bumi, itulah alam! Merusak bumi, menghancurleburkan alam, adalah memerkosa rahim kehidupan. Paham? Mikir!

***

Aduh, sulit bagi saya mengikuti cara berpikir Kluprut. Sulit bagi saya memahami omongan yang bermula dari spanduk pelecehan terhadap perempuan, yang sepenuh-penuh dilandasi kesadaran, sikap, dan sistem patriarkis – lalu ditarik jauh, semulur-semungkret dia mau dan mampu, ke gambaran tak gamblang amat mengenai model pembangunan ekonomi ekstraktif.

Sungguh, saya gagal menulis esai untuk kolom ini sebagaimana sejak semula saya niatkan dan akhirnya menjadi korban kengawuran Kluprut dalam berpikir dan bicara. Sialan! N

 

 

Patemon, 15 Januari 2020: 16.40

 

  • Ilustrasi diambil dari akun Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.