Mungkinkah Merintis Kooperasi Air di Desa Surokonto Wetan?

Spread the love

Oleh Dwi Cipta

Paguyuban Petani Surokonto Wetan (PPSW) secara khusus dan warga desa Surokonto Wetan, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal adalah kelompok masyarakat yang selama tiga tahun terakhir ini mengalami pengombang-ambingan nasib akibat kebijakan negara yang tak mempertimbangkan kondisi masyarakat lokal. Alih-alih menjadi masyarakat yang disejahterakan oleh berbagai macam kebijakan negara, mereka justru menjadi korban kebijakan negara, mulai dari tingkatan kebijakan desa sampai kebijakan nasional. Dalam kasus tukar-guling lahan antara PT Semen Indonesia dan KPH Kendal, misalnya, mereka dipaksa negara dengan sangat represif agar mengakui proses tukar-guling yang tidak pernah melibatkan mereka sebagai petani penggarap lahan selama puluhan atau bahkan ratusan tahun. Akibatnya, kebijakan tukar-guling lahan yang sarat intervensi dari pusat ini menyebabkan ketidakpastian hidup bagi 450 KK petani penggarap di Desa Surokonto Wetan. Para petani penggarap yang sejak puluhan tahun menggarap lahan seluas 77 hektar di lahan negara terancam tidak bisa menggarap lagi lahan. Hal itu karena kewenangannya akan dikembalikan ke KPH Kendal. Pihak KPH Kendal semula berencana untuk menghutankan kembali lahan yang menjadi gantungan hidup sehari-hari bagi para petani. Apabila lahan itu benar-benar tak bisa dikelola warga, maka sendi perekonomian warga desa akan hancur. Dampak sosial-politik dari kehancuran sendi ekonomi mereka bukan hanya mengganggu para petani dan warga Surokonto Wetan tetapi juga daerah sekitarnya.

Sementara itu, dalam hal akses warga atas air bersih, program PAMSIMAS yang semula digembar-gemborkan pemerintah desa bisa mengatasi persoalan akses air bersih bagi warga Surokonto Wetan terbukti gagal. Empat atau lima tahun lalu, ketika pemerintah desa meluncurkan program PAMSIMAS, instalasi penyaluran air ke rumah-rumah warga memang dibangun oleh pemerintah desa. Namun program ini terbukti dikerjakan tanpa keseriusan dari pihak pemerintah desa. Kualitas air yang disalurkan ke rumah-rumah warga sangat buruk karena diambil begitu saja dari sungai dan tidak memperhatikan kebersihan dan standar kepatutan pemanfaatan air untuk kebutuhan rumah tangga. Yang menyedihkan, tidak semua warga Desa Surokonto memeroleh fasilitas PAMSIMAS. Dua tahun lalu, program PAMSIMAS di Surokonto Wetan betul-betul macet karena debit air sungai yang disalurkan ke rumah warga turun drastis.

Tidak terpenuhinya asas keadilan dalam akses air bersih ini membuat warga Surokonto sampai hari ini mengonsumsi air PAMSIMAS yang tidak memenuhi standar kesehatan. Ketika kali pertama datang ke Kendal, saya kaget dengan kualitas air PAMSIMAS di Desa Surokonto Wetan yang sangat tidak layak konsumsi. Dan memang warga Surokonto Wetan tidak menggunakan air PAMSIMAS untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk kebutuhan buat konsumsi, mereka tetap membeli air di luar PAMSIMAS.

Selain ancaman hilangnya akses lahan yang sejak dulu mereka kelola dan akses air konsumsi bersih yang tidak layak serta tidak terdistribusi secara merata, warga desa Surokonto Wetan juga menghadapi persoalan maksimalisasi hasil pertanian karena  pasokan air di lahan garapan yang kurang. Keterbatasan terhadap air ini berdampak pula pada minimnya usaha-usaha untuk mengembangkan produk dan hasil pertanian mereka. Selama ini para petani penggarap hanya bisa menanam jagung sebagai produk andalan mereka. Penanaman padi hanya bisa dilakukan selama musim hujan. Produk-produk pertanian selain jagung dan padi, terutama yang membutuhkan air dalam jumlah besar tidak bisa dikerjakan karena kendala pasokan air di lahan garapan.

Ikhtiar Memanfaatkan Sumber Air di Desa Surokonto Wetan

Yang menarik dari kasus petani Desa Surokonto Wetan yang tergabung dalam Paguyuban Petani Surokonto Wetan ini adalah fakta bahwa berbagai persoalan tersebut tak menyurutkan inisiatif para petani dan warga untuk memajukan kehidupan ekonomi dan sosial. Dengan bermacam keterbatasan, Paguyuban Petani Surokonto Wetan (PPSW) melakukan berbagai terobosan agar persoalan akses air bersih dan air untuk pertanian bisa terpenuhi. Di bawah kepemimpinan Kiai Nur Aziz, mereka terus berikhtiar agar para petani dan warga bisa mengakses air bersih dan air untuk dunia pertanian yang menjadi kebutuhan vital mereka. Kiai Nur Aziz, misalnya, pernah mengundang ahli air dari ITB untuk mencarikan sumber air yang bisa memenuhi kebutuhan warga.

PPSW telah menggalang dana dan dukungan di antara anggota dan warga desa Surokonto Wetan lain untuk mengatasi persoalan ini. Mereka telah menghabiskan dana sekitar 100 juta untuk berkonsultasi dengan ahli air, membuat uji coba pengeboran air tanah berkualitas bagus, menyiapkan tandon air yang kelak akan didistribusikan ke rumah-rumah warga,  menyiapkan sarana yang nantinya akan memperlancar program pengadaan air  dan berbagai keperluan lain. Sampai sekarang, warga Desa Surokonto Wetan masih membutuhkan dana tambahan sebesar 75-100 juta rupiah untuk menyelesaikan program pengadaan air untuk pertanian dan konsumsi warga Desa Surokonto Wetan, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal.

Sayangnya, di tengah perjalanan ikhtiar mereka memenuhi kebutuhan air bersih dan air untuk usaha pertanian tersebut, muncul cobaan berupa kriminalisasi Kiai Nur Aziz bersama dua petani Surokonto Wetan dalam kasus tukar-guling lahan Surokonto Wetan. Selama proses kriminalisasi tiga petani Surokonto Wetan ini, pembicaraan tentang tindak-lanjut pemanfaatan air di Surokonto berhenti. Baru setelah Kiai Nur Aziz dan Mbah Rusmin bebas, warga mulai membicarakan rencana pemanfaatan air di Desa Surokonto yang tertunda sekian lama.

 

Kooperasi Air dan Tantangan Bencana Ekologi

Mengingat watak umum yang masih menonjol di antara warga Surokonto Wetan adalah keguyuban mereka.Tentu hal ini akan sangat menarik jika pemanfaatan dan pengelolaan air secara mandiri oleh warga Surokonto Wetan ini juga disesuaikan dengan watak guyub masyarakatnya. Akan menarik apabila rasionalisasi model ekonomi yang sesuai terkait dengan pemanfaatan dan pengelolaan air di Surokonto Wetan ini adalah kooperasi.

Ada berkah tersendiri dari geger tukar-guling lahan antara PT. SI dan KPH Kendal yang melibatkan para petani Desa Surokonto yang menggarap lahan untuk dijadikan bahan tukar-guling. Perlawanan warga terhadap proses tukar-guling lahan yang tidak terbuka dan bersilang kepentingan dengan para petani penggarap itu membuat mereka memperkuat diri secara organisasional, dengan mendirikan Paguyuban Petani Surokonto Wetan. Lewat Paguyuban inilah mereka mengkonsolidasikan sumberdaya yang dimiliki para petani maupun warga yang tergabung dalam organisasi.

Setelah tensi konflik lahan menurun, para petani ini bisa mengerjakan kembali agenda-agenda internal mereka sendiri, seperti mencoba berbagai ikhtiar untuk meningkatkan taraf hidup, meningkatkan produktivitas pertanian, dan mewujudkan impian perihal ketercukupan air bersih untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk menunjang produktivitas kerja mereka dalam bercocok-tanam. Dalam hal usaha mencukupi kebutuhan air untuk kebutuhan hidup sehari-hari maupun untuk dunia pertanian, badan ekonomi semacam kooperasi bisa dijadikan sarana untuk belajar menata ekonomi internal bersama-sama. Pengkondisian kerja-kerja bersama ini sudah dimulai di bidang sosial-budaya,melalui kerja bersama di dalam wadah Paguyuban mereka. Bila mereka tidak naik satu tahap ke dalam pengorganisasian ekonomi, maka organisasi tani semacam PPSW ini rawan menjadi makanan empuk LSM yang hanya peduli pada program, tanpa memikirkan efek keberlanjutan kerja mereka bersama organisasi tani tersebut.

Tentu saja modelnya bisa berbeda, misal, dengan kooperasi air Saguapac di Chocabamba Bolivia yang dikelola secara profesional. Namun kemajuan teknologi komunikasi dan informasi bisa menjadi faktor yang mengakselerasi kerja-kerja ekonomi warga terkait pemanfaatan dan pengelolaan air di Desa Surokonto Wetan. Faktor lain yang mendukung kelancaran kerja para petani dan warga Surokonto Wetan dalam menyediakan air untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk menunjang kerja-kerja bercocok tanam mereka adalah relasi mereka dengan organisasi seperti FNKSDA dan LBH Semarang yang sejak awal mengawal kasus kriminalisasi Kiai Nur Aziz dan dua petani lainnya.

Yang menjadi tantangan dari kerja-kerja rintisan seperti pendirian Kooperasi Air di Desa Surokonto Wetan, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal ini adalah perusakan alam secara sistematis baik oleh pemerintah maupun korporasi. Sudah menjadi pengetahuan umum kalau perbukitan di wilayah Kendal telah digempur sedemikian rupa, dimana material bukit-bukit itu dimanfaatkan sebagai urukan bagi berbagai proyek infrastruktur pemerintah dan pendirian pabrik-pabrik di sekitar Kendal. Akibat penggempuran bukit-bukit ini, semakin habisnya daerah tangkapan air. Dan habisnya daerah tangkapan air ini membuat cadangan air tanah di wilayah Kendal semakin surut.

Habisnya bukit-bukit di Kendal untuk memenuhi ambisi pembangunan infrastruktur fisik penunjang ekspansi kapital  ini begitu terasa dampaknya ketika musim hujan tiba. Misal, sekitar tiga tahun lalu wilayah dataran rendah Kendal di sekitar Kaliwungu harus menderita karena air dari perbukitan di atas Kaliwungu langsung turun ke bawah dan membanjiri  sekitar seminggu. Di musim hujan sekarang, ketika hujan deras selama lebih dari sehari, kemungkinan dampaknya bisa lebih hebat dari banjir tiga tahun lalu. Hal ini karena material dari Kendal bagian atas terus menerus dikeruk untuk keperluan pembangunan fisik.

Apabila para petani dan warga Surokonto Wetan tidak cermat mengelola air bawah tanah di sekitar desa mereka, dalam hitungan sepuluh atau dua puluh tahun air tanah tersebut akan habis. Ini memang masalah pelik yang bukan hanya dihadapi warga Surokonto Wetan, namun juga oleh masyarakat Jawa secara umum. Pemanfaatan dan pengelolaan kooperasi air ini bisa menjadi alat pertama mereka untuk bersiap dari ancaman kelangkaan atau bahkan perang perebutan air.

Dwi Cipta, anggota dewan pengawas Kooperasi Moeda Kerdja

 

Gambar Ilustrasi: Boganinews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.