Orang Biasa

Spread the love

Cerpen Danang Cahya Firmansah

Bapak selalu bilang berkali-kali supaya aku jadi orang biasa. Sering kali saat aku mencium tangannya sebelum berangkat sekolah, Bapak sering mengucapkan kata-kata itu. Aneh memang kenapa Bapak ingin anaknya seperti itu?

Sesampai di sekolah aku acap kali mengobrol dengan kawan-kawanku soal cita-cita. Kawan-kawan yang lain bilang, aku ingin jadi pilot, aku ingin jadi presiden, aku ingin jadi bupati. Semua yang kawan-kawanku cita-citakan sepertinya menarik. Sebenarnya aku tertarik jadi guru. Bagiku guru itu mulia. Dokter, pilot, presiden, gubernur, semua itu murid dari seorang guru.

Aku tersenyum jika memikirkan kemuliaan guru. Namun mengapa Bapak menginginkanku jadi orang biasa? Kawan-kawanku pun punya mimpi tinggi-tinggi. Namun ucapan Bapak telah menancap dalam benakku. Bahkan mungkin sampai alam bawah sadarku.

Pernah aku bermimpi menjadi guru yang kaya raya. Namun dalam mimpi itu Bapak datang menemuiku, mengusap kepalaku sambil tersenyum. Setelah senyuman meneduhkan itu, Bapak menegurku, “Jadilah orang biasa!”

***

Di kelas anak-anak ramai, berisik. Memang saat guru meninggalkan ruangan, kelas menjadi berisik seperti pasar. Aku sebenarnya tak suka keramaian. Meski aku juga tak suka kesepian, tanpa teman. Aku mendengarkan kawan-kawanku sedang mengobrol soal cita-cita.

Saat itu aku nimbrung. Salah seorang di antara kawanku bertanya, “Besok kamu mau jadi apa?”

Aku pun dengan semangat menjawab, “Jadi orang biasa.”

Spontan mereka ketawa. Waktu itu aku tak paham maksud mereka apa. Apa salah jadi orang biasa? Jika salah, kenapa Bapak ingin anaknya jadi orang biasa? Apa mungkin seorang bapak ingin anaknya menempuh jalan yang salah?

Guruku juga pernah menanyaiku. Pertanyaan yang sama seperti kawan-kawanku. Ya, sebelum guruku menanyaiku, dia bertanya kepada kawan-kawanku satu per satu.

Begitulah saat SD, cita-cita selalu dipersoalkan.

Atas pertanyaan guruku itu, kawan-kawanku menjawab: jadi dokter, guru, dosen, presiden, bupati. Ada kawanku yang menjadi bahan tertawaan kawan-kawan lain. Dia menjawab: ingin jadi penyanyi dangdut. Kenapa mereka tertawa? Apa yang salah dari penyanyi dangdut?

Guruku juga bertanya, apa alasan memilih cita-cita? Setelah alasan-alasan itu dijawab, guruku memberikan motivasi. Guruku bilang, “Semua yang kalian cita-citakan akan terlaksana bila kalian benar-benar kerja keras untuk mewujudkan. Ibu yakin kalian pasti mampu. Kerja keras itu macam-macam. Dan belajar, belajar, dan terus belajar itu yang utama, agar kalian mampu meraih cita-cita.”

Begitulah guruku bilang berapi-api. Setelah itu tibalah giliranku ditanya. Guruku penuh semangat bertanya, “Sutrun, apa cita-citamu?”

Aku gugup tak keruan. Anak-anak lain memandangiku. Semua perhatian seperti tertuju padaku. Aku takut menjadi bahan tertawaan orang lain. Aku malu. Guruku mendekat, karena aku malah menunduk. Suara langkah kakinya menggetarkan hatiku. Aku juga mendengar suara cekikikan tertahan dari kawan-kawan di belakangku.

“Sutrun, kok diam, Nak? Ayo, Sutrun memilih menjadi apa nanti?”

Aku masih saja diam. Keringat membasahi badan. Guru Surti kemudian berbicara panjang mengenai cita-cita. Aku ingat benar waktu itu apa yang Guru Surti bicarakan. Ia dengan wajah penuh senyum bilang, “Dulu Ibu juga bingung seperti kamu, Sutrun. Ibu tak tahu apa yang Ibu cita-citakan. Semua pekerjaan Ibu rasa sangat membosankan, berat, penuh keringat. Tak ada pekerjaan yang mudah. Dunia orang dewasa itu menakutkan, melelahkan, dan membosankan. Namun Ibu tak selamanya menjadi bocah. Ibu kelak juga akan dewasa. Ibu pun akhirnya memutuskan menjadi guru, kelak. Ya, Ibu harus bekerja. Dan setiap orang yang masih berharap hidup harus bekerja. Guru jadi pilihan Ibu. Dan bertemu kalian ini.…”

Guru Surti masih saja berbicara panjang-lebar. Namun aku tak menghiraukan. Ibu Guru kira aku bingung memilih cita-cita. Aku tidak bingung sama sekali. Ibu Guru tidak tahu apa yang aku pikirkan. Tebakan dia salah. Aku hanya bingung mengungkapkan.

Namun saat Ibu Guru bicara untuk memberiku motivasi itu, aku teringat Bapak. Berkali-kali pula Bapak bilang, jadi orang biasa itu tanpa beban. Iya, kenapa aku terbebani untuk menjawab cita-citaku?

“Sekarang Sutrun jawab ya. Kira-kita kelak Sutrun mau jadi apa?”

Aku pun dengan mata melotot menjawab, “Aku ingin jadi orang biasa!”

Spontan tawa sekelas menyusuli jawabanku itu. Ibu Guru Surti seperti heran atas jawabanku. Dahinya mengernyit, lalu mendekatiku lagi.

“Mengapa kamu ingin jadi orang biasa?” tanya Ibu Guru Surti sambil mengelus pundakku. Tampak kacamatanya dekat sekali dengan mataku.

“Seperti yang Bapak inginkan, Bu,” kataku sambil menunduk.

“Bapakmu sekarang bekerja sebagai apa?”

Aku tersenyum mengingat Bapak. Seorang lelaki yang tak pernah mengeluh, yang selalu terlihat berwibawa dan meneduhkan itu. Aku teringat Bapak yang pagi-pagi benar sudah mengasah sabit, mengasah cangkul. Pulang sore hari membawa rumput. Rumput yang sudah ditunggu oleh kambing-kambing sambil mengembik. Ya, itu bapakku.

“Sutrun jangan melamun. Bapak Sutrun bekerja apa?” Ibu Guru Surti kini menepuk pundakku.

Aku gelagapan. Kawan-kawan lain masih tertawa, meski lirih.

“Bapak bekerja sebagai petani.”

Ibu Guru Surti memutar tubuh dan berjalan menuju ke depan kelas. Sambil berjalan dia berkata, “Bapak Sutrun bukan orang biasa. Petani itu luar biasa. Semua yang anak-anak tadi sebutkan, dari guru, dosen, pilot, dokter, masinis, penyanyi ,dangdut hingga presiden makan apa?” tanya Ibu Guru pada anak-anak.

“Nasi!”

“Nasi, tahu, tempe.”

“Nasi, ayam, sayur.”

Begitulah jawaban-jawaban bersahut-sahutan dari anak-anak.

“Nah, yang pokok itu nasi kan? Itu kan dari petani. Dari bapak Sutrun. Semua orang yang selain petani juga makan nasi. Mereka tak akan hidup tanpa….”

Ibu Guru Surti masih berbicara panjang-lebar. Aku kaget ketika mengerti jawaban bahwa petani itu luar biasa. Atas jawaban itu pula aku malah marah pada Bapak. Marah karena Bapak orang yang luar biasa. Kenapa Bapak ingin anaknya jadi orang biasa?

“Sutrun, saya ulangi lagi. Sutrun kelak mau jadi apa?”

Aku diam. Masih geram pada Bapak. Ibu Guru Surti mendekatiku dan bertanya kembali. Aku pun langsung menjawab, “Buat PR saja, Bu Guru. Sutrun belum bisa menjawab sekarang. Sutrun harus bicara dulu dengan Bapak.”

Spontan anak-anak lain tertawa. Ibu Guru Surti tersenyum sambil mengangguk. Aku masih menyimpan marah. Marah pada Bapak. Bapak yang ingin anaknya jadi orang biasa.

***

Sesampai di rumah aku mencari Bapak. Aku bertanya pada Ibu yang sedang menggosok pakaian. Ibu menunjuk ke arah selatan.  Aku segera menuju ke selatan. Bapak sedang memberi makan kambing-kambingnya.

“Pak, kenapa Bapak ingin aku jadi orang biasa?”

Bapak malah tertawa. Baru kali ini aku melihat Bapak tertawa hingga langit-langit mulutnya terlihat. Melihat tawa Bapak, aku makin marah. Geram.

“Kenapa Bapak tertawa?”

Bapak masih sibuk memberikan rumput pada kambing. Kambing-kambing itu seperti kelaparan. Rumput-rumput itu segera mereka lahap. Perut Bapak masih berguncang-guncang, tertawa. Apa yang lucu? Aku tak tahu.

Apa sebenarnya Bapak benci padaku? Tidak ingin aku kelak bahagia? Bapak menoleh padaku. Dia berjongkok di depanku. Dua tangannya yang kekar memegang pundakku. Mata Bapak tajam mengarah ke mataku. Aku takut. Apa Bapak marah? Bukankah barusan Bapak tertawa? Oh, dunia orang dewasa memang tidak jelas.

“Kamu harus jadi orang biasa,” kata Bapak yang masih memandangiku tajam. Tangannya menepuk-nepuk pundakku. Pundakku terasa berat menopang tangan yang kekar itu.

“Bapak kan orang luar biasa? Kenapa Bapak malah ingin aku jadi orang biasa?”

“Kata siapa Bapak luar biasa?”

“Kata Ibu Guru.”

“Kenapa Ibu Guru berkata seperti itu?”

“Karena Bapak petani. Kata Ibu Guru, petani itu luar biasa.”

Bapak tertawa kembali. “Tidak. Jadi petani itu biasa saja. Simbahmu petani, mbah buyutmu petani, pakdemu, paklikmu, semua petani. Petani itu biasa saja.”

Aku membalik tubuh dan berjalan menjauhi Bapak. Aku tak puas oleh jawaban Bapak. Aku pun ganti baju dan pergi, bermain bersama kawan-kawan.

***

“Aku tak melarangmu bermain-main. Tapi terus-menerus bermain itu tidak baik, Nak,” ujar Bapak sambil minum teh. Ia melanjutkan, “Belajarlah. Banyak membaca. Sering-sering main ke perpustakaan sekolah. Atau perpustakaan desa ini juga ada.”

Aku heran dengan Bapak. Katanya, aku nanti jadi orang biasa. Kenapa dia nyuruh aku belajar?

“Buat apa? Nanti kan aku jadi orang biasa. Untuk apa belajar?”

“Orang belajar itu biasa. Kamu kan masih sekolah. Belajar itu biasa. Bermain juga biasa.” Bapak memandangku, lalu mengalihkan perhatian. Dia berdiri dan meninggalkanku.

Aku heran mengapa Bapak bisa punya sifat aneh seperti itu? Aku cerna omongannya. Aku pikir dalam-dalam. Tetap saja aku tak mengerti maksudnya. Atau jangan-jangan dia tidak bermaksud apa-apa saat berkata begitu?

Memang bapakku aneh. Cuma Guru Surti yang bilang Bapak luar biasa, karena dia petani. Dan suatu hari, saat aku mengurung diri di kamar sambil belajar, Bapak datang menghampiri, “Kamu mbok ya belajar,” kata Bapak tiba-tiba sehingga mengagetkan aku.

“Lo, ini sedang belajar aku,” kataku geram.

“Apa belajar itu melulu membaca?”

Bapak lalu membuka jendela, menyingkap gorden. Seketika kamarku jadi silau. Lampu kamar segera Bapak matikan. Hari Minggu itu dia kembali menunjukkan sikap aneh.

“Lihat itu, sana! Matahari sudah terik. Dunia menyambutmu!”

Aku pergi. Aku tak pulang ke rumah hingga esok hari. Aku menginap di rumah teman. Aku marah atas sikap aneh Bapak.

***

Namun sejak aku SMA, Bapak tak pernah bicara lagi agar aku jadi orang biasa. Toh misal dia masih bicara seperti itu, aku tak akan mengggubris. Sejak SMA aku memang kecanduan kerja keras. Apa pun yang aku inginkan, aku akan berusaha mencapai. Arahku sejak SMA makin jelas. Aku kelak harus terjun ke dunia politik. Sejak SMA pula aku ikut berbagai organisasi. Aku melatih diri bicara di hadapan orang banyak. Aku belajar membangun relasi. Dan, aku rasa kerja kerasku, konsistensiku, akan menemui hasil.

Hingga kuliah aku makin menggiatkan diri dalam organisasi. Bapak sudah tidak pernah meleraiku macam-macam seperti dulu. Mungkin karena aku kini telah mandiri. Ya, uang kuliahku saja gratis karena beasiswa.

Ibu selalu membanggakan aku di hadapan para tetangga. Namun setahuku, Bapak tak pernah bangga. Tak pernah dia menunjukkan sikap bahagia di depanku atas keberhasilanku kuliah berprestasi. Bapak pun tahu aku menjadi ketua Badan Eksekutif Mahasiswa. Namun wajah Bapak tetap datar.

Apa yang Bapak inginkan agar aku jadi orang biasa, mungkin sudah tak berdaya di hadapanku sekarang. Ibuku yang gempar ketika aku pulang dan kuceritakan semua tentang dunia kampusku.

“Aku jadi presiden mahasiswa, Bu,” kataku selepas melepas jaket.

Ibuku diam saja. Kukira ia bersikap seperti Bapak. Hal itu kutahu pada malam hari ketika beberapa orang bertanya padaku.

“Kamu jadi presiden?” tanya Mbah Sarman, saudara jauhku.

Aku tertawa. Ternyata ibuku yang mengabarkan pada mereka. Begitu pula Mbah Sugiarto, Mbah Jamal, Kang Sulat, dan Lik Benu. Orang-orang itu meminta konfirmasi; mereka tak sepenuhnya percaya. Karena tahu, presiden sekarang orang Solo. Tentu media informasi, televisi, kini telah menjamah perdesaan. Jadi wajar jika mereka tak langsung percaya.

Aku pun menjawab, meluruskan informasi itu pada mereka. Bersama warga sudah menjadi kebiasaanku. Bercengkerama dengan mereka tentu tak kikuk. Aku pun kerap membersamai warga, terutama para petani yang sedang bermasalah dengan para kapitalis. Hal itu kulakukan karena teringat Bapak, teringat bagaimana Bapak mencangkul berpanas-panas atau berhujan-hujanan. Para pengusaha itu hendak merebut ruang hidup mereka dan menjadikannya lahan usaha. Ya, sejak mahasiswa aku bersama mereka. Menahan tindakan aparat keamanan yang semena-mena terhadap warga. Kami, para mahasiswa, bukan lagi jarang, melainkan sering mendapat tamparan, pukulan, dan kekerasan fisik lain.

Oleh karena itu aku dan beberapa kawan mahasiswa menjadi akrab dengan mereka. Siapa tak kenal aku? Oh, orang-orang itu kenal, bahkan ikatan kami sangat dekat. Sejak peristiwa itu, tak berselang lama, aku lulus. Selepas keluar dari kampus, aku membenamkan diri di organisasi kemasyarakatan, misalnya kelompok tani.

Orang-orang makin mengenalku. Itu menjadi modalku untuk melangkah ke depan. Atas usul beberapa tokoh, yang tentu tak perlu kusebut namanya, aku pun akhirnya maju ke pemilihan bupati di daerah yang sering kuakrabi sejak mahasiswa. Benar, aku optimistis benar akan kemenangan di depan mata. Pesaingku tentu hanya bisa berkampanye beberapa hari. Itu berbeda dariku. Boleh dibilang sejak mahasiswa aku sudah berkampanye. Ya, mengenalkan diri pada mereka.

Tak perlu kuceritakan panjang, hari bahagia itu jatuh pada diriku. Setelah bertahun-tahun bergelut dan bergulat di dunia politik, aku secara resmi terpilih menjadi bupati. Betapa bahagia hatiku. Apa yang kuimpikan terwujud. Apa yang kudambakan tercapai. Aku teringat Guru Surti dulu. Benar, siapa pun bisa mencapai apa keinginan, asal kerja keras, belajar, belajar, dan belajar.

Ibu menangis memelukku. Bagaimana dengan Bapak? Bapak memelukku dan menangis pula. Entah apa yang Bapak pikirkan. Baru kali itu aku melihat Bapak menangis. Apa Bapak menangis karena aku menjadi bupati? Perkara itu tidak seperti yang Bapak impikan? Aku tak tahu. Makin tua Bapak kian pendiam. Aku juga segan dan enggan bertanya soal keinginan Bapak dulu.

Orang-orang menaruh hormat padaku. Dulu, orang-orang yang berbicara menggunakan Jawa ngoko padaku, kini berubah. Mereka bicara menggunakan bahasa Jawa krama. Orang-orang yang tampak sinis pada keluarga kami, akhirnya tampak ramah. Orang-orang yang tidak pernah datang ke rumah kami, akhirnya berdatangan: menjadi sok akrab, sok kenal dekat. Banyak sekali yang berubah pada orang-orang di sekitarku. Kecuali Bapak. Hanya Bapak yang tetap seperti dulu dan malah lebih cuek.

Malah acap kali Bapak benar marah-marah padaku. Sejak jadi bupati, aku tidak pernah dimarahi orang. Kini aku kena getah dan Bapak yang marah.

Malam itu aku sedang tidak berada di rumah dinas. Aku sedang bercengkerama bersama istri dan anakku di rumahku. Malam itu, ada seseorang mengetuk pintu. Kulihat dari jendela, satpamku juga membersamai orang itu. Aku buka pintu. Bapak sudah berada di depanku. Bapak memakai pakaian compang-camping seperti hendak ke sawah. Di pundaknya ada cangkul, kepalanya memakai caping.

Aku heran mengapa Bapak seperti itu? Malam itu hujan, meski tidak terlalu lebat. Aku masih memandangi Bapak yang basah kuyub. Mata Bapak tampak memerah. Apa dia marah?

“Masuk, Pak. Kenapa Bapak memakai pakaian seperti ini?”

Bapak ngeloyor masuk, langsung duduk. Aku pun duduk. Pembantuku segera membuatkan minum.

“Kamu ingat aku siapa?”

“Bapak….” Aku menunduk. Aku masih menerka-nerka apa maksud Bapak. Bapak masih memanggul cangkul meski sudah duduk.

“Aku petani. Orang biasa,” ujar Bapak dengan nada meninggi. “Kamu lupa pada petani?”

“Maaf, Pak. Aku tidak lupa.…”

“Mengapa petani di Urugsewu kauusir? Rumah mereka kaugusur? Mengapa? Apa kau tidak ingat ini, bapakmu petani? Mereka juga petani?!”

Aku diam. Aku menghela napas. Ketika minuman jadi, aku mempersilakan Bapak minum. Namun dia tak menggubris.

“Kau ini orang biasa!” katanya, masih meninggi. Jari telunjuknya menuding mukaku.

“Aku kepala di kabupaten ini, Pak. Orang biasa nggak punya beban. Bebanku banyak.”

“Kata siapa bupati bukan orang biasa? Kau ngompol, merengek, berak di celana semasa kecil dulu, tak ingat? Tidak ada yang luar biasa di dunia ini. Semua orang biasa!”

“Bapak nggak setuju aku dengan jabatanku sekarang?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.

“Siapa bilang begitu?! Silakan kau jadi apa pun, asal kau menganggap dirimu bukan di atas orang lain.”

Aku mengangguk-angguk. Bapak berdiri dan keluar rumah. Namun dia membalikkan badan dan berucap, “Jadilah orang biasa!” Bapak pun berjalan kembali dan pergi.

Ingatan pada peristiwa itu membuatku berkaca-kaca. Meneteslah air mataku ke gundukan tanah kuburan Bapak. Hari itu, Bapak dikuburkan. Aku menangis sejadi-jadinya. Sebelum pergi, aku berbisik sambil memandang dan mengelus nisannya, “Bapak, kau luar biasa.”

 

Temanggung, 13 September 2019

 

Danang Cahya Firmansah, alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. Buku cerpennya, Honey Politics (2019)

 

 

  • Ilustrasi dari pinterest.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.