Panjang-Pendek

Spread the love

Saya orang Jawa Barat dan kuliah di Jawa Tengah, sehingga medio tahun 2014-2019 saya cukup sering naik bus. Paling tidak sebanyak empat kali (pulang-pergi) dalam satu tahun. Sesekali memang menggunakan kereta api atau sepeda motor. Namun paling sering tetap menggunakan bus. Alasannya dua, yakni lebih dekat dengan tujuan dan irit tenaga. Stasiun jauh dari kampus dan rumah. Sementara motor membutuhkan energi lebih. Begitulah.

Ada banyak PO (Perusahaan Otobus) bus dengan trayek Kota B ke Kota S. Harganya pun variatif. Namun ada satu PO bus yang menarik, yakni BE. Ia paling murah dan paling lambat. Sebagian besar PO bus berangkat pukul 19.00 WIB dan tiba sekitar pukul 04.00 WIB. Sementara BE nyaris selalu tiba pukul 06.00 WIB. Meski berangkat pada jam yang sama dengan PO bus lainnya. Maka rata-rata waktu tempuh dari Kota B ke Kota S (begitu pula sebaliknya) ialah 10 jam. Dan itu sudah termasuk waktu istirahat di Kabupaten M. 

Perjalanan malam membuat waktu tempuh 10 jam tidak begitu terasa. Rentang waktu tersebut biasanya saya isi dengan mendengarkan lagu atau tidur. Meski begitu, di daerah tertentu biasanya saya akan fokus menatap jalan dari balik jendela bus. Seperti saat roda bus melintas Cadas Pangeran, jalanan berkelok di Nyalindung, atau saat bus tersendat ketika melintasi jalanan penuh cerita mistis di Alas Roban. Rute dari Kota B ke Kota S merupakan rute “Jalan Pos Jalan Daendels”. Jalan ini dibangun pada era kolonialisme. Dan ketiga lokasi tersebut memiliki keterikatan khusus dengan masa kelam saat pembuatannya.

Tujuan utama saya memang Kota S. Namun lokasi tujuan saya lebih mudah dijangkau dari Kabupaten S. Maka saya acap turun di daerah U–Ibukota Kabupaten S. Suasana jalan dari daerah U ke lokasi tujuan, kontrakan, termasuk sepi. Moda transportasi umum baru ada pagi hari. Karena itu saya lebih sering memilih PO bus BE. Bus ini sampai di daerah U saat orang-orang sudah ramai berlalu-lalang dan angkutan umum (Angkot) pun telah beroperasi. 

PO bus BE memang memakan waktu lebih “panjang”. Namun itu tetap pilihan terbaik. Pasalnya, kawan kontrakan akan sulit dimintai tolong untuk menjemput pada jam-jam PO bus selain BE sampai di lokasi. Sekitar pukul 03.00- 04.00 adalah waktu kawan-kawan kontrakan memulai mimpi. Baru pada siang hari mereka memulai kenyataan. Lagi pula, dengan sampai di daerah U pukul 06.00, saya justru mendapat banyak keuntungan. Misalnya, saya jadi bisa sarapan di angkringan andalan sembari menghirup udara segar pegunungan. Bukankah itu cara jitu “memperpanjang” kehidupan, setelah jarak hidup dan mati begitu “pendek” di sepanjang perjalanan?    

**

Pada 2015, jalan tol terpanjang di Indonesia, Cipali (Cikopo-Palimanan), mulai diresmikan Presiden Jokowi. Dengan begitu, dari Pelabuhan Merak sampai Cirebon sudah terkoneksi dengan tol. Lalu menyusul Cirebon sampai Brebes. Kemudian Brebes sampai Semarang dan terus berlanjut hingga Surabaya (via Ungaran, Surakarta, Kediri). Dengan begitu, Jakarta-Surabaya resmi terkoneksi oleh jalan tol.

Sebelumnya rute Jakarta-Bandung juga telah terkoneksi. Namun seakan tidak puas, rencananya Jakarta-Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung juga akan dijahit menggunakan tol. Lalu akan dilanjutkan lagi dengan rute Bandung-Majalengka-Cirebon dan rute Bandung-Garut-Pangandaran-Cilacap. Begitu pula di Jawa Tengah. Pemerintah sudah mulai membangun tol rute Semarang-Yogyakarta dan Semarang-Demak. Hal serupa terjadi juga di luar Pulau Jawa, misalnya di Sumatera. Pemerintah juga membangun jalan tol Trans-Sumatera. Membentang dari Lampung sampai Banda Aceh. Dan proyek ini masih berjalan.

Jalan tol memang dapat “memperpendek” waktu tempuh. Meski sebenarnya jarak antar kota menjadi makin “panjang”. Misalnya pada kasus dari Kota B ke Kota S. Tanpa jalan tol, jarak yang perlu ditempuh versi Google Maps ialah 363 km. Sedangkan jika menggunakan jalan tol ialah 375 km. Rata-rata waktu tempuh tanpa tol adalah 10 jam. Sementara jika menggunakan tol adalah 7 jam. Itung-itungan ini sangat kasar. Karena tidak mempertimbangkan kemacetan atau kerusakan jalan. Maka sangat mungkin meleset. Begitulah.

Era “Jalan Pos Jalan Daendels” seolah berakhir. Lalu digantikan era “Jalan Tol Jalan Jokowi”. Pada era ini, pilihan menggunakan PO bus BE menjadi tidak lagi relevan. Pasalnya, karena kini bus wajib masuk tol, maka bus BE sampai di daerah U pada pukul 03.00 WIB. Dan ini menyusahkan saya: teman kontrakan baru saja tidur, angkutan umum belum tersedia, dan biaya ojek online terlampau mahal. Akhirnya opsi jatuh pada PO bus selain BE. Konsekuensinya saya harus merogoh kocek lebih dalam. Jika sebelumnya 100-120 ribu rupiah (harga di luar hari libur nasional), kini menjadi 150-180 ribu rupiah. 

Setelah adanya tol, sebagian besar PO bus selain BE sampai di daerah U pada pukul 01.00 WIB. Karena yakin kawan kontrakan pasti masih terjaga, biasanya saya akan meminta jemput. Beberapa (mungkin) mau menjemput dengan sukarela. Beberapa kawan lain (mungkin) dengan terpaksa. Tapi itu wajar. Apalagi jika mengingat suasana dari kontrakan ke daerah U yang begitu sepi. Bahkan harus melewati pemakaman di sisi jalan, jalanan gelap nan mencekam, hingga ancaman pembegalan. Karena itu, jalan tol memang “memperpendek” waktu tempuh perjalanan dan sekaligus “memperpanjang” tali perkawanan. Tapi itu berbarengan dengan makin “pendek”-nya jarak antara selamat dan celaka bagi beberapa kawan. Dan mungkin ini waktu yang tepat untuk mengucap “maaf dan terima kasih, kawan-kawan”.

***

Saya orang Jawa Barat dan kini hidup sementara di DKI Jakarta. Setidaknya sejak pertengahan tahun 2020. Di Jakarta perbedaan antara jalan umum dan jalan tol sangat tipis. Di banyak titik, keduanya bahkan bersandingan. Bedanya jalan tol berbayar dan acap lebih diutamakan. Sementara jalan biasa gratis dan kerap dipinggirkan. Misalnya dalam hal kualitas (aspal) jalan. 

Jalan tol di Jakarta terbagi dua, yakni lingkar dalam dan lingkar luar. Keduanya menghubungkan Jakarta (dan wilayah sekitarnya) di semua penjuru mata angin. Beberapa ruasnya dibuat melayang. Tidak sedikit pula yang menapak dan bersebelahan dengan jalan biasa. 

Saya jarang bepergian jauh. Paling sesekali untuk menemui beberapa kawan. Biasanya menggunakan sepeda motor. Jauh sebelum ke Jakarta, saya acap mendengar pepatah, “Jangan salah jalan di Jakarta. Karena nanti putar baliknya jauh”. Belakangan saya baru merasakan dan mengerti mengapa jauh. Dan saya punya pengalaman soal ini.

Pada akhir pekan saya acap mengunjungi kontrakan kawan SMA. Biasanya dengan menggunakan jasa ojek online. Namun suatu kali saya memutuskan ke sana dengan mengendarai motor pinjaman. Tidak lupa, sebelum berangkat saya menengok fitur google maps terlebih dahulu. Namun nahas. Motor belum lama melaju, saya sudah kebingungan. Terutama saat melintasi jalan besar macam jalan GS yang begitu kompleks: banyak persimpangan, ada jalan layang, ada jalur khusus bus trans, dan ada jalan tol. 

Kompleksitas jalan membuat saya tersesat. Karena itu, saya pun kembali menyalakan ponsel dan membuka google maps. Tak lama, rasa dongkol pun bersemayam kuat. Pasalnya, hanya karena salah sedikit, saya terpaksa harus putar balik cukup jauh. Mungkin sekitar 2 km. Tentu saja ini menyebalkan. 

Tempat putar balik ada di kolong jembatan. Di atasnya melayang jalan tol dalam kota. Dari sini saya sadar. Bagi sebagian orang Jakarta, tol dalam kota jelas “memperpendek” waktu tempuh. Tapi bagi sebagian warga lain, keberadaan jalan tol justru dapat “memperpanjang” jarak. Karena dengan adanya tol, walau tujuannya ada di seberang jalan, seseorang jadi terpaksa memutar jauh. Persis di sini saya percaya pepatah dari masa lalu. 

Saya menduga, kondisi serupa banyak terjadi di era “Jalan Tol Jalan Jokowi”. Bisa jadi, ada banyak petani yang terpaksa berjalan memutar karena akses telah diblok jalan tol. Atau, seperti kasus di Pemalang, ada banyak warga yang justru dirugikan. Sebab, jalanan desa rusak akibat setiap hari dilintasi truk pembangunan tol. Kerusakan jalan jelas “memperpanjang” waktu warga bermobilitas.

****

Hidup hari ini begitu cepat dan “pendek”. Ruang dan waktu dibuat sedemikian padat. Zaman serba cepat ini “memperpendek” dan sekaligus “memperpanjang” banyak hal. Misalnya, rantai pasok baju “diperpanjang” sampai kawasan kumuh di negara Selatan. Tapi sialnya, rantai distribusi keuntungan tetap saja “pendek”. 

Kabarnya, agenda otomasi pun dapat “memperpendek” waktu kerja. Namun cerita kawan sebaya tentang waktu kerjanya yang “panjang” makin santer terdengar. Bahkan di dunia kerja yang sehari-hari bergelut dengan moodboard, layer, dan tools

Jalan tol memang menyadarkan saya tentang satu hal. Di balik logika dan praktik “memperpendek”, selalu ada derita hidup seseorang yang makin “panjang”. Begitu pula sebaliknya. Hadeh ~ (Nanang)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.