Pendidikan Kooperatistik: Sebuah Telaah Awal

Spread the love

Oleh Saiful Anwar

Suatu kali di Technische Hoogeschool te Bandoeng, Hindia Belanda

 “ssstt, Karno, buatkan bagan untukku ya?” Aku bertukar kertas dengannya, lalu dengan terburu-buru membuat gambar yang kedua, dan dengan cepat kuserahkan kembali kepadanya.

Kawan-kawanku membalasnya dalam pelajaran Kleinste Vierkanten ketika Profesor menuliskan tiga pertanyaan di papan tulis dan hanya memberi kami waktu 45 menit untuk mengerjakannya. Mereka meletakkan kertas ulangan di sudut bangku, sehingga aku dengan mudah menyalin jawabannya.

Tentu saja aku menyontek dari mahasiswa yang jago dalam matematika. Ini bukan disebut menyontek dalam arti yang sebenarnya. Di Indonesia, ini bisa dimasukkan dalam apa yang kami sebut kerja sama yang erat. Gotong Royong.”

Paragraf di atas adalah sebagian dari isi biografi Sukarno yang ditulis Cindy Adams berjudul Sukarno: Penyambung Lidah Rakyat Indoensia. Sukarno mengatakan bahwa yang dia lakukan saat kuliah itu bukanlah menyontek, tapi kerjasama. Ia menamai Gotong Royong, sebuah budaya kerjasama di masyarakat Indonesia. Melalui kata ‘Gotong Royong’ Sukarno ingin menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki dasar sosialisme yang kuat sehingga siap menerima dan mengembangkan paham-paham sosialisme. Dalam perkembangannya, keyakinan itulah yang kemudian melahirkan Pancasila, Marhaenisme, dan sederet pemikiran-pemikiran Sukarno lain.

Di Indonesia, terutama di perdesaan, budaya gotong royong memang masih kuat. Jika hendak membuat gorong-gorong jalan, misalnya, sering kali masyarakat desa bahu-membahu mengerjakan bersama. Tiap-tiap anggota masyarakat membantu dalam berbagai bentuk tanpa memperhitungkan untung-rugi. Ada yang memberi bantuan tenaga, adapula yang memberi bantuan konsumsi. Saling membantu tanpa mempertimbangkan untung rugi adalah ciri masyarakat Indonesia.

Lain Sukarno lain pula Mohammad Hatta. Ia menyebut budaya kerjasama dalam masyarakat Indonesia dengan istilah: kooperasi. Kooperasi berasal dari dua kata, “co” artinya bersama-sama dan “operasi” yang berarti menjalankan sesuatu atau sesuatu yang dijalankan. Kooperasi secara sederhana berarti sesuatu yang dijalankan bersama-sama. Bagi saya tidak ada perbedaan substansial antara Gotong Royong dan Kooperasi. Keduanya memiliki makna yang sama.

Individualisme dalam Dunia Pendidikan Indonesia

Individualisme adalah sifat yang mementingkan diri sendiri. Seorang individualis percaya untuk melakukan semua pekerjaan secara mandiri. Sependek penglihatan saya, biasanya seorang individualis akan membantu pekerjaan orang lain ketika bantuan itu dia anggap menguntungkan. Tentu ini masih perlu dikaji lebih dalam.

Di dalam dunia pendidikan Indonesia, sifat individualis sudah ditanamkan sejak kecil. Di sekolah, kita diajari bahwa menyalin pekerjaan teman adalah hal yang hina. Pekerjaan rumah (PR) atau ulangan harus dikerjakan sendiri. Kerjasama dalam bentuk apapun tidak diperbolehkan jika itu bukan tugas kelompok. Melalui peraturan semacam itu secara tidak langsung kita dididik menjadi seorang individualis. Seorang yang mendukung peraturan tersebut akan mengatakan bahwa: peraturan itu bertujuan untuk mengajari seseorang bertanggung jawab.

Dalam dunia pendidikan kita akan dianggap pintar jika menguasai segalanya, mulai dari matematika, sejarah, bahasa inggris, olahraga, hingga kesenian. Si A mungkin pintar dalam matematika tapi ia lemah di kesenian, si B mungkin pintar di sejarah tapi ia lemah di olahraga. Setiap orang memiliki bakat dan minat masing-masing. Jika mereka disatukan dan diberi sebuah tugas yang di dalamnya setiap kemampuan dan bakat bisa disalurkan, bukankah itu sesuatu yang menarik? Menyadari setiap orang memiliki minat dan bakat yang berbeda adalah pintu gerbang mengembangkan pendidikan yang kooperatistik. Sayang, pendidikan Indonesia belum memiliki kesadaran itu.

Pendidikan kooperatistik adalah pendidikan yang mengajarkan sifat kerjasama tanpa mempertimbangkan untung-rugi. Dalam bahasa sederhana: sifat yang tidak materialistik. Hal semacam itu mirip dengan pola interaksi kerjasama di masyarakat perdesaan. Menurut saya, pendidikan kooperatistik harus ditanamkan sejak dini, sebelum anak masuk sekolah (pendidikan orang tua), taman kanak-kanak (TK), hingga sekolah dasar (SD). Pada jenjang itu anak harus ditanamkan nilai-nilai kooperatif, anak harus paham bahwa manusia diciptakan dengan kemampuan berbeda-beda dan hanya dengan bekerjasamalah tujuan dan cita-cita bisa tercapai. Tentu argumen ini sangat lemah karena tidak disertai bukti memadai. Namun jika melihat bahwa sifat kooperasi sudah ada di dalam kehidupan masyarakat kita, rasanya model semacam itu bukanlah sesuatu yang utopis.

Masih menjadi perdebatan, apa pesan yang hendak Sukarno sampaikan ketika yang dia lakukan semasa kuliah di Bandung bukanlah menyontek, melainkan gotong royong. Sebagian meyakini hal itu adalah praktik gotong royong di dunia pendidikan. Sebagian lain mengatakan, itu hanyalah dalih Sukarno karena tidak mampu mengerjakan ujian. Namun poin yang bisa kita ambil, menurut saya, bahwa setiap manusia itu unik dan hanya dengan bekerjasamalah semua tujuan bisa tercapai.

Saiful Anwar, alumnus Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

Ilustrasi: indonesia.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.