Penulisan Sejarah dan Perempuan

Spread the love

Oleh Ide Yogiansyah

Sejarah biasa diartikan sebagai suatu peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu. Sejarah terus menerus ditulis dan diproduksi setiap waktu. Oleh karena itu, penulisan sejarah (Historiografi) memiliki peran yang sangat penting. Seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, historiografi Indonesia selalu mendapatkan tantangan secara terus menerus. Salah satunya adalah ktidakadilan penulisan sejarah berbasiskan gender.

Dalam penulisan sejarah Indonesia, hampir keseluruhan peristiwa yang diungkapkan sangat didominasi oleh laki-laki sebagai aktor utamanya. Meskipun kadang-kadang perempuan juga ditampilkan dalam sejarah, namun tidak lebih hanya sebagai pelengkap saja. Tentu saja, ini diakibatkan oleh konstruksi dalam budaya patriaki yang selalu memihak laki-laki. Sebagai contoh, ambil saja periodesasi sejarah revolusi dalam sejarah Indonesia. Di sana, perempuan paling sering diungkapkan keterlibatan perannya di dalam dapur umum dan medis. Sementara laki-laki digambarkan sebagai tokoh utama dalam sejarah perjuangan mengangkat senjata untuk menjaga kemerdekaan Indonesia.

Selain dari tokoh sejarahnya, dalam penulisan sejarah pun (sejarah Indonesia) sebagian besar hanya ditulis oleh laki-laki. Seperti misal Nugroho Notosusanto, Kuntowijoyo, dan Sartono Kartodirdjo, semuanya adalah laki-laki. Baik pelaku Sejarah maupun penulisnya adalah laki-laki. Hal ini cukup menerangkan mengapa Sejarah bisa sangat bersifat Maskulin.

Sejarah Perempuan, berbeda dengan perempuan dalam sejarah. Sebab, sejarah perempuan masuk dalam kajian Sejarah Sosial yang menggambarkan sebuah struktur serta peran seorang perempuan sebagai suatu golongan tersendiri, terutama untuk memperjuangkan haknya. Sebagai contoh R.A. Kartini. Ia merupakan seorang tokoh perempuan yang dikenal memperjuangkan hak-hak perempuan pribumi. Singkatnya, Kartini adalah pelaku emansipasi perempuan pada masa kolonial. Pemikirannya cukup berdampak pada perubahan pola pikir masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi. Begitu pula dengan tulisan-tulisannya. Kartini menjadi inspirasi bagi para tokoh-tokoh Indonesia kala itu seperti W.R Soepratman misalnya. Tak heran, Soepratman pula yang kemudian menbuat lagu berjudul “Ibu Kita Kartini”.

Namun demikian, dalam tulisan Desma Yulia berjudul Perspektif Gender Dalam Historiografi Indonesia, dia menyebutkan bahwa sejak tahun 1997, lebih dari 1.700 buku sejarah Indonesia telah terbit ke pasaran. Namun hanya 2 persen saja yang membahas dan menyinggung tentang perempuan. Kia pun mengetahui bahwa hampir di seluruh kabupaten atau kota di Indonesia, selalu ada satu buku sejarah yang menceritakan perjuangan pada masa revolusi atau masa perjuangan kemerdekaan. Hampir seluruh buku-buku tersebut, tidak lebih dari 1 persen yang menempatkan perempuan dalam proses sejarah perjuangan revolusi. Data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa telah terjadi ketimpangan yang signifikan dalam penulisan sejarah Indonesia. Hal ini semakin menunjukkan bahwa historiografi Indonesia sangat bersifat Androcentris, yaitu penulisan sejarah yang masih berpusat kepada kepentingan laki-laki. Ada beberapa hal yang membuat peran perempuan dalam sejarah jarang disinggung atau bahkan dituliskan. Beberapa di antaranya adalah sulitnya menemukan sumber-sumber tentang masa lampau yang berhubungan dengan perempuan sebagai aktor sejarah. Di sisi lain, penulisan sejarah di Indonesia masih banyak terperangkap pada peristiwa-peristiwa politik dalam skala besar.

Beberapa faktor lain yang menyebabkan hilangnya perempuan dalam penulisan sejarah ialah: Pertama, paradigma yang keliru tentang sejarah perempuan. Banyak pendapat yang beranggapan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah perempuan adalah persoalan-persoalan domestik. Sementara urusan keilmuan dianggap berhubungan dengan dunia publik yang identik dengan dunia laki-laki. Dominannya perspektif patriaki ini menyebabkan perkembangan sejarah perempuan tertatih-tatih di Indonesia. Kedua, metodologi dan perspektif yang keliru tentang dunia perempuan sangat berpengaruh kepada faktor lainnya. Di antaranya adalah persoalan metodologi dan sumber, karena perempuan dianggap berurusan dengan persoalan-persoalan privat, sementara sebagian besar dokumen berurusan dengan persoalan-persoalan publik, yang oleh karena itu didominasi oleh dunia laki-laki, maka tidak menutup kemungkinan, perempuan memang luput dan terabaikan dari catatan sejarah.

Dalam esai yang ditulis oleh Asvi Warman Adam, Ia menuturkan bahwa sampai pada 1997, Indonesia hanya mempunyai tiga orang doktor perempuan di bidang sejarah. Kenyataan ini menunjukkan terlambatnya perempuan dibanding laki-laki dalam menggeluti bidang sejarah di Indonesia. Oleh karena itu, dengan adanya beberapa permasalahan di atas, perlu dibentuk sebuah paradigma baru (New history) yang membangun dan memberikan gambaran mengenai peran perempuan dalam sejarah. Jika sebuah paradigma baru telah terbangun, tidak sulit untuk menulis sejarah yang berkeadilan antara laki-laki dan perempuan. Pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam historiografi dan metodologi penulisan sejarah Indonesia masih sangat penting dipergunakan sebagai pendekatan yang bersifat umum. Namun di sisi lain, pendekatan spesifik dapat ditarik dari teori-teori feminis dan gender.

Berangkat dari beberapa pendekatan baru yang ditawarkan, banyak sekali tema-tema yang bisa diangkat dalam penulisan sejarah perempuan. Dalam hal ini terdapat tiga tema besar yang bisa masuk ke dalam kategori ini. Pertama, perempuan dalam berbagai struktur kelembagaan dan organisasi. Misalnya, organisasi-organisasi perempuan pada masa perang kemerdekaan, pada masa perjuangan seperti Gerwani, yang akhir-akhir ini sangat banyak diminati dan didekonstruksi lagi. Tulisan yang menarik dan fundamental tentang organisasi ini sebenarnya sudah ditulis oleh Saskia, misalnya dalam tulisan bertajuk “Kuntil Anak Wangi: Organisasi Perempuan Setelah tahun 50-an”. Kedua, perempuan dalam berbagai tertentu di dalam proses historis. Misalnya, mata-mata dan kurir perempuan pada masa revolusi, bentuk-bentuk gerakan perempuan dalam masing-masing periode tertentu, dan seterusnya. Ketiga, life history perempuan. Dalam bentuk life history, mengkaji pengalaman perempuan dalam berbagai bentuk, bisa saja dalam bentuk biografi dan pospografi perempuan, atau pengalaman-pengalaman lain yang dilakukan perempuan.

Sejalan dengan tema-tema yang dikategorikan di atas, Gerda Lerner pun melihat tiga tahapan dalam penulisan sejarah perempuan. Pertama, compensatory history, yakni mempertanyakan apa dan bagaimana peran perempuan dalam sejarah. Kedua, contribution history, yaitu apa yang disumbangkan perempuan dalam peristiwa tertentu. Ketiga adalah movement history, atau bangkitnya kesadaran perempuan dalam berbagai macam bentuk gerakan. Dengan begitu mungkin dalam historiografi Indonesia ketidakadilan dalam gender dapat di atasi, meskipun ada beberapa keraguan dari beberapa ahli sejarah dan masyarakat.

Namun demikian. Apa yang telah ditulis di atas mungkin belumlah final dan tentu saja, masih bisa kita diskusikan lagi lebih jauh.

Daftar Bacaan

Bambang Purwanto. 2006. Gagalnya Historiografi Indonesiasentris. Yogyakarta: Ombak.

Desma Yulia. 2016. “Perspektif Gender Dalam Historiografi Indonesia”. Journal Unirika.

Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Ruth Indiah Rahayu. TT. “Konstruksi Historiografi Feminisme dari Tutur Perempuan”. (academia.edu, diakses pada 19 November 2019).

Wasisto Raharjo Jati. 2014. “Historitas Politik Perempuan Indonesia”. Paramita Vol 24, No 2.

Editor: Bagas Yusuf Kausan

Gambar Ilustrasi: IDNTIMES

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.