Percakapan Dengan Sang Anak Matahari

Spread the love

Oleh Kelvin Yanto

Cahaya matahari pada sore itu menyilaukan mataku, membuat aku langsung bangun dari tidur. Kepala serasa pusing karena bangun dari tidur yang melelahkan. Aku tidak ingat kapan dan mengapa aku bisa tertidur di sebuah teras depan rumah yang bergaya arsitektur Belanda tahun 60-an. Di depan teras itu terdapat taman yang penuh dengan tanaman-tanaman hias seperti anggrek, mawar, dan berbagai tanaman berwarna-warni yang menyatu dalam harmoni semakin memperindah taman itu. Udara di sekitar juga terasa sejuk tanpa asap kendaraan seperti di kota hingga dapat membuat hidung bersin apabila menghirup udara dingin yang menusuk hidung itu. Rumah itu terletak di kaki gunung yang tidak kutahu nama gunungnya.

            Sambil menikmati pemandangan yang menenangkan hati itu. Tiba-tiba saja dari balik pintu masuk rumah datanglah seorang dengan tinggi yang kurang lebih 170 cm, perawakannya sederhana namun menyiratkan betapa orang itu memiliki wibawa yang besar. “Anda sudah bangun ya Bung kecil?” sahutnya kepada ku. “Sore-sore seperti ini paling enak menikmati pemandangan gunung dan hutan sambil menikmati segelas kopi dan rokok!” sambungnya sambil membawa dua cangkir kopi hitam panas yang wangi di kedua tangannya. Ditawarinya aku secangkir kopi itu dan keharuman kopi khas Toraja Arabicanya membuatku sulit untuk menolaknya. “Alangkah indahnya apabila dunia ini dapat menjadi setenang dan seindah pemandangan yang ada di hadapan kita” sambil duduk lalu ia mulai menyalakan api dari korek kayu untuk membakar rokok yang telah ia taruh di bibirnya. Asap rokok mengepul dari lubang hidung dan mulutnya, membuat matanya perih hingga ia harus menutup matanya sesaat sebelum menarik kembali aroma rokok yang ada dibibirnya.

            Kami berdua melamun sesaat menikmati angin semilir dari hutan-hutan di sekitar dan seruputan kopi hitam panas membuat suasana semakin syahdu. Bermain dengan imajinasi yang seakan-akan membawa aku melayang di udara sambil menghirup sedalam-dalamnya udara segar yang dihasilkan oleh pohon-pohon di sekitar kaki gunung itu. Dalam lamunan itu aku berharap bahwa keadaan seperti dapat aku nikmati dalam kehidupan di kota yang sempit dan sesak karena polusi. “Kamu pasti berpikir mungkinkah aku dapat menikmati suasana ini setiap saat kan?” katanya tiba-tiba membuat aku terkejut. “Aku sudah menyadari bahwa lingkungan tempat tinggal mu yang sebenarnya telah menjadi sebuah kota megapolitan yang menyesakkan dada karena polusi dan debu. Selain itu, jumlah kendaraan yang tidak terbendung membuat keadaan di kota semakin parah yang sadar tidak sadar juga dapat mempengaruhi keasrian lingkungan di sekitar rumah ini bahkan lingkungan di seluruh dunia” lanjutnya. Sambil mengambil cangkir kopi ku yang masih panas aku memerhatikan ia. “Tetapi aku sadar bahwa ketika aku marah dengan keadaan itu aku kembali berpikir bahwa selama aku masih menjadi pelakunya maka aku tidak memiliki hak untuk memprotes atas keadaan yang terjadi” kata ku sambil meminum perlahan kopiku lalu meletakkannya di meja yang letaknya di tengah memisahkan kursi tempat ku dan tempatnya duduk. “Bagaimanakah aku dapat mengubah keadaan yang seperti itu di kala manusia pada zaman sekarang hanya mengenal istilah “konsumsi” tetapi minus makna “konservasi?”, lanjutku. Dia hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan ku yang penuh kontradiksi. “Hidup itu sangat kompleks, ia merupakan rangkaian peristiwa, momen, keputusan dan sebagainya yang menyatu dan saling terkait satu sama lain. Pertanyaan semacam itu tidak akan membawa kita ke mana-mana. Yang penting adalah bagaimana kamu konsekuen dengan pilihan kamu”.

            “Dulu pada zamanku aku selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan yang bisa dikatakan hampir tidak memiliki penyelesaian. Banyak yang harus dipertimbangkan. Sampai akhirnya akan selalu ada kubu yang tidak sepakat dengan pilihan yang saya ambil. Kita pun tidak bisa menyalahkan mereka yang tidak sepakat dengan kita karena pendapat mereka dapat membuat terang segala kekurangan kita. Hanya dengan kebijaksanaan kita dapat melihat suatu permasalahan secara luas”. Sembari bercerita, ia mengebulkan asap rokok dari mulutnya dengan tarikan napas yang dalam seakan-akan ia mengecap rahasia kenikmatan rokoknya. Kopi yang masih mengebulkan asap itu segera diambilnya dan diseruput dengan perlahan menandakan bahwa panasnya masih terjaga.

            Aku pun juga mengambil cangkir kopi untuk membasahi tenggorokanku yang kering dengan kopi. Entah kenapa namun kopi itu terasa begitu nikmat dengan aroma khas coklat dan rasa jeruk pada bagian akhir kopi tersebut. Meminum kopi yang senikmat itu aku rasa kurang tanpa ada rasa tembakau. Aku langsung mencari rokokku di kantong namun aku heran karena rokokku sudah tidak ada di kantongku lagi. Tiba-tiba ia menawarkan rokoknya. “Bagaimana kalau rokokku saja? Baru saja saya beli dari pasar pagi tadi,” sambil disodorkannya sebuah kotak yang berisi tembakau kering, cengkeh, dan kertas rokok.

“Tetapi aku tidak bisa melinting rokok.”

“Sudah tidak apa-apa, sini saya ajari caranya, mudah kok!”, tambahnya.

Akhirnya aku diberi kursus singkat melinting rokok oleh dia. Melinting rokok yang diperagakan olehnya ternyata tidak terlalu sulit. Pertama-tama ia mengambil selembar kertas rokok yang akan digunakan lalu diambilnya beberapa cubitan tembakau secukupnya kemudian diletakkan di atas kertas rokok itu. Dipadatkannya tembakau itu di atas kertas rokok menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, kemudian secara perlahan kertasnya dilinting bersama tembakau itu menggunakan telapak tangannya secara searah dan berulang-ulang. Aku pun langsung mempraktikkannya dengan beberapa kali percobaan dan akhirnya berhasil membuat rokok lintingan pertama ku. Rokok itu terasa berat karena kandungan nikotinnya yang tidak diatur seperti rokok pabrikan, namun entah bagaimana rokok itu terasa sangat nikmat, entah karena didukung suasana ataupun rasa puas karena membuatnya.

            “Melihat kamu merokok seperti itu mengingatkan saya kepada beberapa teman dari negara lain yang sering saya ajak merokok bareng di sela-sela isitrahat pada saat adanya kunjungan kenegaraan. Kami bertukar pikiran, bertukar pandangan, dan bahkan membicarakan hal-hal remeh temeh sehingga membuat hubungan kami makin dekat, apalagi kami memiliki kesamaan ideologi yang kami percayai dapat membawa perubahan kepada dunia pada waktu itu. Visi kami disatukan oleh visi membentuk tatanan dunia tanpa penindasan. Namun, takdir selalu bersabda lain. Beberapa teman-teman ku yang dari negara-negara sahabat itu harus menemui nasib naas. Dikejar-kejar oleh intelijen negara lawan hingga beberapa kali mendapat ancaman pembunuhan. Oh! Betapa indahnya kenangan itu ketika kita bisa bertukar rokok dan cerutu dari masing-masing negara sambil belajar bagamaina menciptakan kebijakan publik tanpa ketimpangan sosial”.

            Bernostalgia memang menjadi obat dikala nasib telah mengutuk kita untuk ditinggalkan oleh orang-orang berharga di sekitar kita. Di sisi lain, nostalgia jua lah yang membuat luka itu terlihat semakin jelas. Kami pun terdiam sesaat. Angin semilir sekali lagi seakan-akan berbisik di sekitar kita keheranan dengan keheningan yang kita ciptakan. Ditemani dengan suara daun kering yang berjatuhan, ia hanya membiarkan daun-daun yang terbawa angin itu berjatuhan di depan teras rumahnya. Sesekali kami juga mendengarkan suara warga yang tinggal di desa dekat kaki gunung itu saling bertegur sapa di jalan raya yang terletak agak jauh dari rumahnya.

            “Hari berganti hari”, ia melanjutkan, “saya menghabiskan hari-hari ku di rumah ini tidak terasa lagi seperti siksaan batin seperti dulu, tetapi menjadi hari-hari paling mengkhawatirkan. Segala tindakan, segala keputusan, dan segala kebijakan yang dulu pernah saya ambil sekarang dapat saya dengar kabarnya meskipun saya tidak meninggalkan rumah. Rumah ini seakan-akan menjadi pengadilan terakhir atas segala hal yang saya lakukan ketika saya didaku menjadi pemimpin negeri ini”

            “Dadaku terasa sesak. Air mata tidak dapat mengalir meskipun mata ini memaksa. Rasanya ingin kembali ke masa itu dan ingin aku memberitahukan kepada semua orang tentang hal-hal buruk yang menanti. Oh Gusti! Sampai kapankah aku akan berada di pengadilan ini menyaksikan apa yang telah saya tinggalkan berubah menjadi sebuah malapetaka! Mungkin ini lah mimpi buruk abadi ku”.

            Dengan menggertakkan gigi menahan rasa kecewa dan duka yang mendalam. Segala perasaan kecewanya itu semakin membuat kharismanya terpancar sekalipun dalam keadaan terpuruk. Ia meluapkan segala isi pikirannya kepadaku yang baru saja dikenal menandakan bahwa ia telah sangat lama tidak bertemu dengan orang lain.

            “Saya sudah berada di rumah ini sudah sejak lama ketika segala kekuasaan ku tiba-tiba lenyap yang diawali dengan tragedi terbunuhnyapara jenderal. Lalu dilanjutkan dengan saya yang dipaksa untuk menandatangani sebuah surat sakti yang menandakan sebuah “pembersihan” besar-besaran terhadap loyalis ku dan terhadap rakyat yang dituduh sebagai simpatisan dari partai yang pada zaman mu sudah menjadi hantu. Negeri ini dibangun di atas darah, air mata, dan ketakutan masa lalu yang tidak pernah dibuka tabirnya”.

            Sore pun semakin tenggelam menjadi malam. Serangga-serangga di sekitar hutan pun berdatangan dan berbunyi menandakan hari semakin gelap. Kami masih tetap duduk berdua tanpa menghiraukan keadaan.

            “Mengapa pada saat itu anda tidak segera menggunakan kekuasaan anda untuk menghentikan pergunjingan politik itu?”

            “Seandainya saya menyadari dampak yang ditimbulkan lebih merusak maka saya tidak akan ragu untuk menumpas skenario penghianatan itu! Saya hanya berpikir ketika saya menandatangani surat sakti tersebut saya telah menghindari pertumpahan darah bangsa sendiri, akan tetapi langit berkata lain, penandatanganan itu berdampak lebih buruk, bangsa ini akhirnya saling memakan satu sama lain! Dan aku yang nun jauh di sini diberi hukuman oleh langit untuk menyaksikannya.”

            “Mengapa anda tidak langsung saja kembali dan memperbaiki keadaan? Aku merasa bahwa saat ini bangsa ini sedang membutuhkan pemimpin seperti anda”.

            Entah kenapa tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari lidah ku seakan-akan aku sudah mengenalnya namun namanya tetap tidak bisa kusebut. Figurnya seperti seorang pemimpin yang aku kenal di masa lalu melalui buku sejarah dan cerita orang-orang tua, namun tetap saja namanya tidak dapat kuingat. Yang kuingat adalah kharismanya yang dulu sering kubicarakan bersama dengan teman-teman di bawah tenda berpayung mengenai orang ini, mengenai bagaimana di mata dunia pemikirannya dipuji dan keberaniannya menentang ketidakadilan sosial membangkitkan semangat negara-negara berkembang dan negara dunia ketiga.

            “Hahaha… Masa ku sudah berakhir. Saya dulu menginginkan berkuasa hingga akhir hayat. Toh pada akhirnya saya tumbang dan ini lah harga yang harus saya bayar! Meskipun saya masih diberi kesempatan oleh langit untuk menghirup udara di dunia, saya hanya akan menjadi idola semu semata, tidak lain dan tidak bukan hanya menjadi semacam berhala. Hanya sosokku yang dipajang dan pemikiran ku dijadikan jualan politik”. Ia mengatakan itu sambil menunjukkan senyum getir. Mungkin itu lah senyum terbaik sembari menahan kepahitan hidup sebagai pemimpin besar.

            Matahari yang tadinya menyinari dengan cahayanya yang berwarna orange kemerahan itu akhirnya tenggelam diufuk barat. Dia pun segera menyalakan lampu di teras sebagai penerangan kami satu-satunya. Gelap gulita di malam itu tidak terasa menakutkan karena taman sekitar dan di lingkungan kaki gunung itu bermandikan cahaya rembulan. Serangga-serangga pun membunyikan sayapnya melantunkan sebuah melodi alam yang harmonis. Di saat yang bersamaan, cangkir kopi kami telah kosong tinggal ampas kopi yang mengendap di dasar cangkir.

            “Anak muda”, begitu ia memanggil ku. “Mungkin permintaan ku ini cukup egois kedengarannya namun sekarang adalah masa kalian generasi berikutnya untuk melanjutkan perjuangan yang pernah terputus. Untuk melanjutkan pemikiran generasi terdahulu dan generasi yang pernah terputus oleh karena pembunuhan massal yang dilakukan oleh penggantiku. Rajutlah kembali benang yang terputus itu dan luruskanlah kekusutannya! Hidupkanlah kembali perjuanganku! Dan satu nasihat terakhir yang selalu aku ingatkan kepada rakyat ku tanpa henti-hentinya: Janganlah sekali-kali melupakan sejarah!”

            Begitu kalimat terakhir itu dia ucapkan, kepalaku seakan-akan terbangun dari ketidaktahuan. Kalimatnya yang terakhir itu mengingatkanku kepada sesosok bapak bangsa yang dulu pernah melahirkan banyak pemikiran yang brillian untuk bangsa ini. Dan juga dari kejatuhannya lah tragedi kemanusiaan terburuk di negeri ini dimulai. Dari kejatuhannya juga lah kita bisa menyaksikan bahwa darah, air mata, dan memori yang menyeramkan korban yang tidak berdosa telah menjadi fondasi pembangunan negeri ini. Segala perjuangan dan segala pemikiran brilliannya sirna tergantikan oleh kepandiran yang telah tertanam sejak zaman orde yang mengklaim telah membuka lembaran baru bagi bangsa ini, hasilnya tertuai hingga saat ini dimana rakyat kecil harus selalu menanggung segala kedunguan pemimpin bangsa ini.

            Ketika aku akan menyebutkan namanya, tiba-tiba kepala ku sakit dan aku merasa dunia di sekitar ku terasa berputar-putar. Samar-samar terlihat pandanganku dia lalu tersenyum kepada ku sambil mengenakan peci hitam yang sering dipakainya beserta tongkat yang sering dibawanya. Pada saat itu juga aku langsung terbangun dalam kamar ku yang sederhana dengan bermandikan keringat. Aku tidak ingin mimpi itu hilang begitu saja dari memoriku, aku ingin terus mengingat mimpi itu. Dengan tidak menunggu lama, aku langsung mengambil bolpoin dan buku catatan ku lalu mulai menuliskan pertemuanku dengannya.

Ya, aku telah bertemu dengan Putra Sang Fajar*

Kelvin Yanto, Seorang yang belajar menjadi seniman.


-Ilustrasi: https://cdn.akurat.co/images/uploads/images/akurat_20190715032955_b6487T.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.