Perkara Air Memang Mbulet bin Ribet

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

Kemarau lalu, air sumur saya nyaris habis. Begitu pula banyak sumur lain di kampung saya, Gebyog, Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Bahkan sekarang, setelah berkali-kali hujan, air sumur kami tidak bertambah secara signifikan. Saya jadi teringat penjelasan Bosman Batubara, geolog yang sekarang studi doktoral di Delf, Belanda, bahwa jenis batuan di kampung saya tak memungkinkan air hujan dan air dari atas tanah gampang meresap menjadi air tanah dalam. Butuh waktu bertahun-tahun air hujan bisa masuk, bersatu dengan lapisan tanah di kedalaman sana, menjadi akuiver, menjadi cadangan air tanah dalam.

Bosman menyatakan hal itu, Senin, 2 September 2019, ketika saya menyelenggarakan sarasehan “Menabung Air demi Anak-Cucu” di pekarangan kedai. Pembicara atau narasumber saat itu adalah Lurah Patemon Dwi Wororuharyati, S.H., Ketua RT 03 RW 03 Patemon Drs. Djoned Koesoemadi, guru pegiat lingkungan Supiyanto, SPd., dan Bosman. Sarasehan itu merupakan tanggapan terhadap ancaman krisis air, yang kini juga mengancam kawasan Gunungpati yang sebenarnya merupakan kawasan lindung atau kawasan resapan air bagi Kota Semarang.

Pada sarasehan itu, Lurah Patemon menyatakan mendukung sepenuhnya upaya Ketua RT 03 RW 03 Patemon dan seluruh warga yang berkehendak melakukan langkah-langkah untuk mengantisipasi kemungkinan menghadapi krisis air lebih parah pada masa datang. Dukungan itu berwujud kesediaan Lurah “menaikkan” proposal permohonan bantuan dana pembuatan sumur resapan di wilayah RT 03 RW 03 Patemon ke Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kota Semarang. Dukungan juga akan berupa bantuan pinjaman peralatan dan pemberian material untuk pembuatan lubang resapan biopori.

Sumur resapan dan lubang resapan biopori adalah dua cara, dari banyak cara, untuk memperbanyak kandungan air tanah. Langkah lain, misalnya, memperbanyak penanaman pohon-pohon keras yang berkemampuan menyimpan banyak air. Lurah akan meminjamkan peralatan pengeboran untuk membuat lubang resapan biopori serta memberikan bantuan berupa roster penutup lubang resapan biopori.

Pembuatan sumur resapan, lubang resapan biopori, dan penanaman pohon menjadi penting, menurut Supiyanto, lantaran sekarang Kampung Gebyog “dikepung” berbagai perumahan dari berbagai penjuru. Pembangunan perumahan itu tentu telah mengubah ruang terbuka hijau, yang memiliki pohon-pohon penyimpan air, menjadi hunian. Pohon berkurang, kandungan air dalam tanah pun berkurang. Apalagi bisa dipastikan perumahan-perumahan itu menyandarkan pemenuhan kebutuhan akan air pada sumur bor-sumur bor. Pembuatan sumur bor atau sumur artesis – terutama jika tidak sesuai dengan ketentuan teknis yang diputuskan dalam peraturan daerah, apalagi jika jarak antarsumur terlalu dekat – bakal memunculkan masalah tersendiri. Misalnya, membuat sumur konvensional atau sumur gali yang tradisional kehabisan air. Tak pelak, krisis air pun bukan lagi melanda kawasan bawah Semarang. Namun, kini, bahkan di kawasan kita pun air menjadi makin sulit kita peroleh.

Pendapat Supiyanto itu dikuatkan oleh pandangan Bosman Batubara, yang telah meneliti tata kelola air di Jakarta dan Semarang. Bosman menyatakan tata kelola air yang ngawur, termasuk penebangan pohon secara sembarangan tanpa menanam pohon pengganti, bisa membuat cadangan air tanah menghilang. Hilangnya cadangan air tanah di kawasan Cekungan Air Ungaran – yang meliputi Gunungpati – bisa berakibat penurunan muka tanah, misalnya tanah ambles.

Oleh karena itulah, menurut Bosman, sudah sangat mendesak bagi kita sekarang untuk mengantisipasi ancaman krisis air dengan, antara lain, menabung air. Menabung air bisa ditempuh dengan antara lain menanam makin banyak pohon, membuat sumur resapan, serta lubang resapan biopori. Dan, yang tak kalah penting pula, menurut Supiyanto, adalah pengelolaan sampah yang sangat memperhitungkan aspek kelestarian alam. Sebab, penanganan sampah yang sembarangan menyebabkan air di dalam tanah bisa tercemar. Akibatnya, mutu atau  kualitas air (yang kita gunakan untuk minum, memasak, dan berbagai kebutuhan lain) pun bakal menurun. Penurunan mutu air mengakibatkan penurunan kualitas kesehatan.

Berdasarkan pandangan kritis itu, Djoned mengusulkan pembentukan Dewan Air di wilayah RT 03 RW 03. Dewan Air itulah yang akan bertanggung jawab mengelola air di kawasan hunian secara cermat dan hati-hati. Dewan Air juga bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan air warga, misalnya dengan kemungkinan mengajukan permohonan pembangunan sumur resapan, lubang resapan biopori, penanaman pohon, dan pengelolaan sampah yang sesuai dengan kaidah pelestarian alam.

Bosman menyambut gagasan cemerlang itu dan berjanji akan membantu mengupayakan gagasan itu bisa “naik” sampai ke tingkat Kota Semarang. Bosman juga berjanji mendampingi dan membantu warga RT 03 RW 03 Patemon untuk mengupayakan perbaikan kualitas tata kelola air – setidaknya sampai tahun 2021, batas akhir dia tinggal di Semarang setelah masa studi doktoralnya selesai.

Kini, apakah kita akan terus berdiam diri menghadapi krisis atau kesulitan air, terutama pada musim kemarau? Atau, berani memilih dan bersedia berbuat untuk menabung air demi anak-cucu?

“Ya, sudah, tak perlu banyak cakap lagi. Lakukan apa yang harus kaulakukan,” ujar Kluprut.

“Tak segampang kaubilang, Prut. Dalam pertemuan RT, aku bermaksud memutar film pendek tentang pembuatan sumur resapan di Desa Patemon, Kabupaten Semarang. Warga di desa itu sudah membuat 200 sumur resapan, dari target sang kepala desa yang 1.000 sumur resapan,” kata saya. “Dan, apa yang terjadi? Mereka tak bersedia masuk ke dalam rumah tempat televisi tuan rumah sudah siap menayangkan film itu. Mereka bersikukuh duduk di teras dan meminta pesawat televisi yang dikeluarkan. Saya menolak. Apalagi tuan rumah tempat pertemuan malam itu tak mempunya kabel rol yang panjang, sehingga bisa memindah pesawat televisi ke teras. Apalagi ruang tamu masih memungkinkan menampung mereka. Coba kaupikir, di ruang tamu yang diperuntukkan bagi pertemuan baru terisi lima orang. Masih mungkin menampung seluruh hadirin malam itu. Namun mereka malas beranjak.”

“Kan kau bisa meyakinkan mereka untuk masuk!”

“Gagal! Aku yakin mereka malas masuk lebih karena merasa persoalan air, persoalan bikin sumur resapan, bukan persoalan yang harus mereka pikirkan dan lakukan. Itulah pula yang saya ketahui setelah pertemuan berakhir dan tinggal beberapa orang yang bertahan untuk mengobrol.”

“Jadi pemutaran itu batal?”

“Kubatalkan! Tak elok, bagiku, mempersulit tuan rumah harus mencari atau meminjam kabel rol dan menggotong pesawat televisi ke teras. Jauh lebih gampang, semestinya, hadirin beranjak dan pindah, masuk ke ruang tamu yang diperuntukkan bagi pertemuan malam itu.”

“Kau kaku, gak luwes blas!”

Mbahmu! Langkahku mengajak mereka masuk dan menonton film bersama itu justru wujud keluwesan bukan? Eh, lagipula buat apa pula omong soal tak bermutu macam ini? Jauh lebih penting, bantulah aku bagaimana mengajak kawan-kawan sekampung berpikir bahwa air di dalam tanah bukan tak bisa habis. Apalagi jika air dari atas, baik air hujan maupun air buangan dari dapur dan kamar mandi, tidak terserap dan menjadi akuifer.”

“Persoalan kan sudah jelas: makin banyak pohon ditebang, makin luas lahan kebun dan ruang terbuka hijau beralih fungsi menjadi hunian, populasi bertambah dan bertambah pula tingkat konsumsi air, makin banyak orang bikin sumur artesis tanpa mengindahkan persoalan bersama di suatu kawasan, makin banyak permukaan tanah tertutup beton, makin ngawur orang buang sampah secara sembarangan…. Nah, percampur-bauran berbagai masalah itu, ya antara lain bisa diatasi dengan pembuatan sumur resapan dan lubang bipori, kaukombinasikan dengan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Sudah jelas kan? Ya, lakukan segera!”

“Bahkan sekadar mengajak kawan sekampung bersama-sama menyadari perkara ini, lalu berbuat pula bersama-sama untuk menabung air atau setidaknya mencegah penurunan kualitas lingkungan, tak segampang kaubilang: lakukan, lakukan saja! Bukankah gambaran awal yang kuceritakan tadi menunjukkan betapa tak gampang mengajak seseorang berpikir bukan hanya untuk diri sendiri?”

“Kau, apakah kau juga sudah menelisik pedalaman batinmu, bahwa apa yang telah, sedang, dan bakal kauperbuat bukan dinavigasi hasrat pemenuhan ego pribadimu?”

“Apa maksudmu? Kok jadi berbelit-belit gini sih, Prut?”

Wis, ngene…. Intinya, jangan gampang menyerah dan teruslah berusaha dengan berbagai cara yang memungkinkan bagimu untuk mengajak siapa pun menyadari persoalan krisis air ini. Lalu, dengan sabar pula berupaya mewujudkan kemungkinan untuk, antara lain, bikin sumur resapan bersama-sama. Bikin satu dulu, lalu menjadi dua, menjadi tiga…. Terus begitu, lama-lama setiap keluarga, di setiap rumah, punya sumur resapan. Nah, jika itu terwujud, bolehlah kau berbangga diri: sudah lumayan berbakti pada Ibu Pertiwi. Ha-ha-ha….”

Sialan! Kadang mudah memancing Kluprut bicara berbagai perkara. Namun, kali ini, kem-bulet-an pula yang saya peroleh. Apa pula yang mesti saya bagikan pada sampean jika cuma gambaran mbulet macam ini yang bisa saya tulis?

 

Kedai, Rabu, 11 Desember 2019: 15.51

 

Gambar: beritagar.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.