Persimpangan Jalan antara Hero dan Antihero

Spread the love

Oleh Dana Asajiwanda

Alasan saya memilih tema ini adalah karena teringat oleh momentum yang diberikan kepada saya dan mahasiswa sejarah lain pada semester yang lalu. Pada saat itu, mahasiswa mata kuliah filsafat sejarah diberikan kesempatan untuk menulis uraian yang di antaranya mengenai etika dan kebenaran. Saya menggunakan kesempatan itu untuk mengkritik sistem etika pincang yang kita adopsi saat ini. Selain itu, saya mengadopsi versi figur penyambung lidah suatu ide kebenaran, yaitu hero dan antihero.

Etika adalah salah satu hal yang dijunjung tinggi dalam sistem masyarakat kita. Segala perilaku dalam kehidupan sehari-hari seolah “wajib” untuk menjunjung nilai-nilai etika. Tentu, tidak ada yang perlu diragukan lagi mengenai sisi positif dari ini. Tetapi, ada hal yang perlu diperhatikan ketika etika bertemu dengan intuisi–yang berbeda untuk mencapai kata sepakat yaitu kebenaran–pada setiap individu. Kadang, mereka susah sekali untuk berkompromi dan sering kali bertolak belakang antara unsur satu dengan yang lain.

Dalam beberapa momen yang menyangkut suatu kebenaran, mungkin saja kita perlu sedikit mengesampingkan etika, walaupun itu sangat sulit. Mendengarkan kata hati dari alam bawah sadar sedikit lebih bijak, walaupun mungkin terlihat tidak intelektual dan irasional. Lalu, apakah kita tidak akan memercayai suatu kebenaran dari hati yang disampaikan oleh “the biggest asshole”? Saya rasa kita akan merugi.

Menyinggung mengenai persoalan hero dan antihero yang telah disebutkan di atas, mungkin pembaca tidak menyadari bahwa istilah ini memang benar adanya. Dalam persepsi saya, hero adalah representasi dari figur yang kalem, bijak, dan sangat menjunjung tinggi nilai etika. Sebaliknya, antihero adalah antitesis dari figur maha sempurna seperti hero.

Reaksi dan dampak yang diberikan masyarakat kepada dua figur ini saat menyampaikan suatu kebenaran sangatlah berbeda. Berbagai hinaan dan stigma buruk agak sulit dilepaskan dari figur antihero. Masyatakat beranggapan bahwa figur seperti ini pantas diperlakukan demikian, karena dianggap jauh dari nilai-nilai etika yang dianggap lumrah. Sebaliknya, hero sudah pasti akan mendapatkan panen pujian dan kepercayaan bertubi-tubi dari masyarakat karena sikapnya yang dinilai “humanis”.

Tanpa bermaksud menjatuhkan satu di antara keduanya, sejauh yang saya amati justru antiherolah sosok figur yang lebih “murni” ketimbang hero. Murni yang saya maksudkan di sini adalah bahwa figur tersebut tidak mengharapkan apresiasi dari suatu ide kebenaran yang mereka sampaikan. Bagaimana ingin berharap lebih jika masyarakat sudah terlebih dahulu antipati terhadap citra mereka? Berbeda dengan antitesisnya, figur hero biasanya memiliki agenda terselubung di balik topeng kesempurnaannya, entah untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya.

Saat pembaca dihadapkan pada persimpangan di antara keduanya, apakah kalian bersedia untuk menentukan pilihan ke depan? Sedikit pesan dari saya adalah bahwa tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak dan berlaku secara universal untuk setiap individu. Sebab, itu semua tergantung dari sudut pandang mana kita melihat dan menerima setiap kebenaran itu sendiri. Tidak ada yang salah memilih menjadi hero maupun antihero, atau justru berada pada spektrum di antara keduanya. Bagi saya, etika belum tentu mengandung unsur-unsur kebenaran, tetapi suatu kebenaran sudah pasti mengandung maksud untuk “beretika” di dalamnya.

 

Dana Asajiwanda, Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang 2018

 

-Ilustrasi: www.sabigaju.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.