PESAN DARI AKU (SEJARAH)

Spread the love

PESAN DARI AKU (SEJARAH)

Aku membuat dunia berwarna, aku menciptakan jutaan peristiwa, tokoh, tempat, dan kaum yang mencintaiku. Aku selalu diperdebatkan, ditulis, dan kadang diputar balikan, aku pulalah yang membersihkan nama tokoh-tokoh dunia yang luar biasa sekaligus mengotorinya. Lebih kental dari hamparan molekul-molekul kimia, lebih rumit dari rumus fisika, dan lebih memusingkan dari kumpulan-kumpulan rumus nalar, siapakah itu? Aku, ya aku seperti itu !

Aku sangat senang dengan generasi yang memperhatikanku (mahasiswa sejarah)

diriku sangat senang dengan mereka yang mencoba memperkenalkan ku pada dunianya (sejarawan). Tapi kemudian, aku merenung ketika ku sadari cerita-cerita tentang ku tak benar, dipropagandakan, akupun bingung saat kaum kalian berkata “Sejarah milik penguasa !” Aku tak pernah diwariskan, tak pernah dibeli dan yang terpenting tak pernah dijual, lalu bagaimana diriku bisa dimiliki oleh segelintir orang?

Aku merenung lagi, ketika ada pihak yang berniat meluruskan benang kusut itu mereka malah dihalangi diberangus karena dianggap tak etis, “pemberontak” Tak etis katanya, aku tertawa pahit lebih tak etis mana mengaburkan kebenaran, membunuh suatu karakter atau menulis ku seenak hati mereka dengan setiap tinta jahanam itu, racun generasi baru itu, berharga lembaran-lembaran uang? Diriku sakit, ya sakit sobat. Saat ku tahu generasi sesudahku terjadi ataupun generasi mu kini tak selera mendengarkan dahsatnya diriku, terkantuk-kantuk, bosan bahkan memandang remeh diriku . Oh…Oh…Oh kejinya tangan-tangan dan pikiran-pikiran “racun” itu, serendah itu kah sampai generasi kini menampik lahirnya diri mereka, menampik kemerdekaan negerinya, membunuh jiwa yang haus akan rasa ingin tahu, tersesat diantara jati dirinya sendiri dan meludah di wajah sendiri dengan memalingkan muka dari ku. Namun, aku masih bersyukur ada kalian pemerhatiku pembelaku dan generasi yang semangat mengurai benang kusut pada diriku. Tapi, kembali aku merenung, kalian mempelajariku bersama-sama kalian punya pikiran sendiri atas ku. Ada yang memandangkku serius, sedang bahkan biasa, tapi yang paling ku bingung saat kalian saling mengolok-olok suatu ideologi, tokoh ataupun peristiwa yang ada pada diriku. Kenapa?. Jika memang dan harus ayolah kawanku benarkan aku, luruskan ceritaku, putihkan hitamku, tempatkan aku dimana semestinya aku berada agar tak ada lagi generasi-generasi “anti” terhadap ku…

Aku bukanlah udara yang ada dimana-mana, aku bukanlah tinta yang dapat diganti kapanpun, akupun bukan badai pasir yang dapat diprediksi datangnya, aku bukan produk yang dapat diciptakan dan diganti sesuai zaman. Aku ada karena kalian ada, aku hilang karena kalian menghilang.

Tanyaku, akan seperti apa ceritaku dimasa depan, seprti apa generasi berikutnya memandangku,masih kusutkah diriku atau sebaliknya? Itu ada ditangan kalian baik yang belajar dari ku ataupun yang tidak.

Melintasi batas peradaban mencatat perjalanan menawarkan cara pandang (SEJARAH)

 

Ditulis : Rengganis Rilisia Dirgantari (Semarang, 29 Oktober 2015)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.