Phobia Itu Masih Ada: Ideologi Kiri Dewasa Ini

Spread the love

Oleh Saiful Anwar

Ketika menyebut kata kiri apa yang ada dalam pikiran kita? Kiri selalu diartikan sebagai komunis. Setidaknya jawaban itu yang kita dapatkan ketika kita membahas komunisme dengan orang awam. Saya pikir hal ini bukan karena kesalahan kita. Makna kiri yang diartikan seperti yang diatas memang sudah ada dalam sanubari pikiran dan hati rakyat Indonesia selama puluhan tahun silam.

TAP MPRS  Nomor 25 Th.1966 menyebutkan bahwa semua hal yang berhubungan dengan Marxisme dilarang di Indonesia, apapun bentuknya. Hal  ini merupakan tindak lanjut dari pembersihan hegemoni kiri menyusul tragedi G 30 S yang disebut-sebut sebagai perbuatan PKI yang kejam. Orde baru melakukan segala tindak represif terhadap siapapun yang dianggap komunis atau yang pernah berhubungan dengan komunisme. Mulai dari partai, gerakan wanita, sampai bidang seni budaya semuanya dibersihkan. Sehingga memang bukan salah kita jika masyarakat Indonesia mengartikan komunisme dengan segala sumpah serapahnya.  Kebenaran itu menjadi kebenaran sejarah Indonesia pada masa orde baru. Pemerintah orde baru telah menggunakan “hantu” komunisme untuk melanggengkan kekuasaannya, paling tidak untuk tiga dekade. Kebencian terhadap paham kiri diwujudkan melalui pembangunan monumen-monumen, seperti monumen Pancasila Sakti yang didalamnya menggambarkan perjalanan Indonesia yang anti komunis[i]. Selain melalui pembangunan monumen, kebencian terhadap kaum komunis juga diwujudkan dalam bentuk upacara-uppacara peringatan, seperti peringatan hari kesaktian Pancasila. Sejalan dengan hal itu sejarawan sekaligus budayawan Indonesia, Anhar Gonggong pada suatu kesempatan di acara dialog yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun televisi swasta Indonesia mengatakan bahwa sebetulnya kata “sakti” pada kata “kesaktian pancasila” memiliki arti Indonesia tidak akan seperti  sekarang ini tanpa adanya pancasila, dia pun mengatakan bahwa selama ini tidak ada pemimpin di negeri ini yang bisa mengamalkan Pancasila[ii]. Tetapi pada masa orde baru  makna ini digeserkan, pancasila dijadikan sebagai ideologi  yang  anti komunis, padahal Bung Karno mengatakan dalam bukunya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia:

“Orang Kiri adalah mereka jang menghendaki perobahan kekuasaan kapitalis, imperialis jang ada sekarang. Kehendak untuk menjebarkan keadilan sosial adalah kiri. Ia tidak perlu Komunis. Orang kiri bahkan dapat bertjektjok dengan orang Komunis. Kiriphobi, penjakit takut akan tjita-tjita kiri, adalah penjakit jang kutentang habis-habisan seperti Islamophobi. Nasionalisme tanpa keadilan sosial mendjadi nihilism.[iii]

Soekarno juga menambahkan dalam suatu kesempatan:Mana bisa Pancasila dikatakan anti Komunis? Maka dari itu aku tegaskan saudara-saudara, barang siapa yang mengaku diri sebagai anak Bung Karno, saya tidak mau punya anak yang tidak kiri!”[iv]

Ketika orang lain tahu kita dari jurusan sejarah, hal  yang pertama ditanyakan adalah; “benarkah G 30 S pelakunya adalah PKI?”, hal itu membuat saya menyimpulkan bahwa kebenaran akan tragedi ini sangatlah penting, hal itu bisa jadi membuat bangsa ini sadar tentang masa lalu gerakan kiri dan bisa menata kembali negara dengan lebih baik, namun disisi lain kecemasan juga muncul karena kuatnya pengaruh anti-komunis yang diterapkan oleh orde baru membuat banyak pihak khawatir akan kebangkitan komunisme di Indonesia. Jika kita melihat pada masa orde baru pancasila dijadikan ideologi bangsa yang bersifat anti komunis. Padahal jika kita melihat realita yang ada sekarang, nilai-nilai pancasila sudah dilupakan, sudah luntur, dan tidak dijalankan secara konsekuen oleh bangsa Indonesia sendiri. Disisi lain pembelajaran tentang marxisme meningkat, terlebih di perguruan tinggi. Mengapa demikian? Hal ini perlu disadari karena Pancasila yang menjadi ideologi bangsa kita sekarang ini tidak dijadikan sebagai ilmu layaknya marxisme. Pancasila hanya dijadikan slogan dan alat politik kaum elit birokrat demi kepentingannya sendiri. Berbeda dengan marxisme, walaupun hegemoni ini sudah mengalami penekanan oleh penguasa dan pengikutnya sudah dihabisi tetapi kekuatannya sebagai ilmu pengetahuan tetap hidup.

Dengan melihat dari kaca sejarahnya, sebetulnya mereka yang disebut kiri pun menjadi bagian dari perjuangan bangsa Indonesia. Kita harus mengakui itu. Jika bangsa ini ingin lepas dari belenggu masa lalu yang kelam, kita harus sadar. Kita harus berani mengatakan hal yang benar, terutama masalah sejarah. Kita sadar bahwa hantu komunisme masih gentayangan di negeri ini.

Menarik ketika pada masa pemilu presiden tahun 2014 kemarin, pihak Prabowo-Hatta menuding pihak Jokowi komunis. hal itu didasarkan pada simbol dan slogan yang digunakan oleh tim sukses Jokowi-JK, seperti halnya slogan Revolusi mental. Menurut politisi partai Gerindra Fadli Zon, slogan itu adalah kata-kata yang sering digunakan oleh Karl Marx. Sedangkan pihak Jokowi-JK menuding pihak Prabowo-JK fasis, hal ini didasarkan pada track record Prabowo yang dahulunya merupakan prajurit militer. Sungguh mengherankan ketika para politisi menggunakan trauma ideologi demi mencapai sebuah kekuasaan. Yang menjadi korban adalah rakyat yang tidak tahu apa-apa, rakyat yang sangat ‘lugu’ itu meyakini saja apa yang ada di media, mereka termakan oleh opini publik yang dibangun melalui media. Zaman sekarang adalah era global, kita berada pada jaman dimana media memiliki peran yang sangat vital.

Jika kita bisa melihat dari sejarahnya, kata ‘kiri’ sebetulnya sudah ada sejak meletusnya Revolusi Perancis. Saat itu kaum borjuis dan proletar bekerja sama untuk menggulingkan kekuasaan raja Louis VI. Ketika kekuatan feodal sudah dihancurkan pemerintahan pun dijalankan secara demokrasi, dan rakyat memiliki andil bagian dalam penyelenggaraan pemerintahan. Borjuis yang punya modal pun mulai berkuasa secara politik. Pada suatu rapat mereka yang menolak cara-cara borjuis, mereka yang menolak kapitalisme, dan memperjuangkan hak-hak sosial berada disebelah kiri forum rapat. Sehingga istilah ‘kiri’  menjadi istilah politik sejak saat itu. Apakah makna ‘kiri’pada saat itu sama dengan sekarang? Anda bisa menilai nya sendiri.

Kini, negara semakin gencar mengupayakan adanya rekonsiliasi terhadap pelanggaran HAM di masa lalu. Yang menjadi sorotan adalah isu rekonsiliasi tragedi 1965 dan desakan negara untuk meminta maaf kepada para korban. Hal ini tentu menimbulkan pro dan kontra di banyak kalangan. Bagi saya yang belum mengetahui betul tentang tragedi 1965, tidak pantas jika saya mengecap salah satu pihak. Sejarah mengajarkan kita untuk bijaksana. Jika negara memang memiliki niat untuk membenahi kesalahan masa lalu, apa salahnya? Hanya saja harus dikaji ulang tentang peristiwa itu, apalagi perihal tragedi ini, harus ada kajian yang mendalam dan kalau bisa mengundang pula para sejarawan. Selama tidak ada rasa saling menerima diantara kedua belah pihak, maka tidak akan ada titik temunya. Negara ini sudah dewasa, mari kita bangun masa depan tanpa terbelenggu oleh luka masa lalu.

[i] John Rossa: Dalih Pembunuhan Massal

[ii] Berdasarkan wawancara dengan Anhar Gonggong pada acara 8 Eleven Show Metrotv tanggal 1 Oktober 2012.

[iii] Lihat Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia dalam Cindy Adams (1966:100)

[iv] Dalam pidato Soekarno Desember 1965

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.