Politisi Kita Telanjur Jancuk, Maka Baca Buku Saja, Terbitkan Jika Punya, Tetap Bekerja untuk Hidup, dan Jadikan Orde Buku Mitramu

Spread the love

Oleh Eko Santoso

Apa yang lebih menyakitkan dan menyebalkan dari sebuah kebisuan yang kita dapatkan atas harapan yang tertanam pada perasaan hati seseorang? Bagi saya, meyaksikan media yang memuji dan mengagung-agungkan para politisi—yang diklaim sebagai negarawan pula—atas kebijakan-kebijakannya yang jancuk, jauh lebih sakit dari premis dalam pertanyaan di atas. Bahkan acapkali membuat banyak orang, terutama saya pribadi, tak kuasa menahan mulut untuk mengucap umpatan-umpatan yang katanya tak layak didengar oleh anak kecil dan dianggap kasar.

Sebenarnya, umpatan-umpatan yang terlontar itu bukanlah tanpa alasan. Lebih dari 250 juta orang, diantaranya kita sendiri, rela menyisakan uang dari penghasilan atas jerih payah keringat kita untuk membayar pajak, mulai dari pajak bumi, bangunan, penghasilan, dan tetek bengek lainnya yang masuk dalam kantong negara. Tak hanya itu, kita bahkan telah menyepakati dan merelakan kepada segelintir orang untuk berkuasa atas diri kita dalam membuat kebijakan yang mengatur apapun dalam kehidupan berbangsa ini. Pertanyaanya, apa yang kita dapat setelah semua itu kita lakukan?

Atas kebijakan para politisi jancuk, sumber daya (alam, manusia, dan buatan) apapun yang ada di negeri ini telah diprivatisasi dan jatuh dalam dominasi genggaman korporasi yang seharusnya dikuasai negara dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan masyarakat. Belum selesai. Deregulasi telah membuat para investor dan pemodal (asing maupun dalam negeri) berselancar bebas dan mengeruk keuntungan besar-besaran tanpa lagi takut dituduh sebagai maling yang akan diusir oleh penghuni rumah, apalagi digebuki warga—sekedar membayangkan saja mustahil, apalagi terjadi.

Hal-hal yang wajib pun, bahkan tak lagi dipenuhi. Pencabutan subsidi sedikit demi sedikit menjamah berbagai bidang penting dalam kehidupan bermasyarakat, adalah bukti bagaimana negara—melalui politisi jancuk-nya, telah menyingsingkan tanggungjawab. Pemakluman—bila terlalu kasar menyebutnya pelegalan, terhadap bobroknya moral dan jancuknya politisi, yang menjadi agenda besar pada setiap cerminan televisi, corong media, dan mimbar dialog di hotel, dipenetrasikan dalam ruang kesadaran kita dengan menegasikan segala narasi yang berbeda, dan kita dipaksa menerima begitu saja.

Sedikit perwujudan dari jancuk-nya para politisi itu adalah, bermasalahnya Undang-Undang KPK, RUU KUHP, RUU Perkoperasian, RUU Minerba, RUU PKS, RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan, RUU Minerba, RUU Pengawasan Obat dan Makanan, Kenaikan BPJS, dan lain sebagainya. Belum berakhir sampai disini, mereka tanpa punya malu dengan hasrat libido yang membara, menerapkan standar langit untuk membayar kerja-kerja jancuk mereka. Sementara di lain kesempatan, mereka mendaku sebagai dewa, tatkala telah menetapkan upah minimum bagi tuannya, yang jumlahnya bahkan kurang dari 10 persen dari gaji yang mereka terima—yang sebenarnya semua itu berasal dari keran yang sama: pajak yang dihasilkan atas dan dari keringat rakyat.

Bak pengembala yang baik, mereka yang duduk di senayan, menempatkan dirinya sebagai penggembala dari kapital yang harus dibuatkan jalannya agar lancar dan disediakan lahan rumput seluas-luasnya untuk dimakan secara langsung ataupun disiangi dan akhirnya tertuju pada muara yang sama, yakni keuntungan bagi para pemilik kapital. Orientasi para politisi ini pun tak jauh dari angan-angan bahwa, membuat apa yang digembalakan itu menjadi gemuk demi mendapat pujian dari pemiliknya adalah kebahagian yang hakiki. Tak jarang juga mereka merangkap sebagai pemilik dan penggembala dari apa yang disebut kapital, agar tidak ketinggalan dalam melampiaskan hasratnya untuk turut serta mengangkangi hak-hak rakyat. Akibatnya, apapun itu yang ada dan bisa disebut sebagai sumber daya, harus dikomodifikasikan demi berkibarnya bendera kapitalisme dan neoliberalisme di atas setiap kepala kita, yang hari ini termanifestasikan dalam kebijakan-kebijakan di atas.

Ya, kita bisa menebak, bahwa pada ujungnya, politisi jancuk itu mengamputasi diri mereka sendiri dari imajinasi dan kreasi tentang visi negara yang sesuai dengan apa yang menjadi dasar negara ini. Jurus impunitas pun mereka lakukan untuk memaksa kita mengamini segala persoalan: sosial, hukum, ekonomi, dan setumpuk persoalan lainnya; yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara ini—yang tak mampu mereka sentuh, sebagai sebuah keniscayaan. Imagi soal bangsa yang bebas dari oligarki, cengkraman dan ketergantungan akan kapital, korupsi dan jancuk-nya politisi, ketimpangan sosial-ekonomi, dikampanyekan sebagai sesuatu yang utopis.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Sementara salah satu tindak kewarasan yang mencoba membawa misi kesadaran saja, bahkan dianggap makar. Dan upaya penyampaian pendapat yang sejalan dengan hak kita, dihajar oleh aparat. Kita bisa berbuat apa?

Pertanyaan ini mungkin sangat menyebalkan dan menjengkelkan, sekaligus menyimpan misi penghakiman bagi kita bersama atas segala bentuk kepasrahan. Tanpa mengesampingkan kerja-kerja sosial di berbagai daerah yang dilakukan dengan tulus oleh pihak-pihak yang tersadarkan, realitas hari ini toh hanya memberi ruang bagi kita untuk menyimpan imaji alternatif atas segala bentuk kebobrokan ini. Tentu kita berharap, entah dengan cara bagaimanapun, semakin banyak rakyat kita yang sadar dengan kondisi ini. Dan tentu saja, terdorong membawa misi perubahan yang lebih baik.

Sambil berpikir jalur-jalur yang bisa ditempuh untuk menyingkirkan semua politisi jancuk itu, kita harus tetap berupaya bekerja untuk bertahan hidup dengan segala upaya dan kondisi demi lestarinya gerakan. Subyek-subyek perubahan itu harus hidup dengan menemukan caranya sendiri, karena negara memang tak mengakomodir itu. Sedangkan saat kita sampai pada titik jenuh atau ada waktu istirahat, minimal kita bisa mengisi waktu luang itu dengan bersantai sambil memandangi dan mengeja setiap huruf yang tersusun. Ya, benar sekali, kita bisa membaca. Sebuah aktivitas yang paling bebas untuk dilakukan dimanapun dan kapanpun hingga dengan cara apapun.

Kita bisa menemukan catatan apapun dalam aktivitas itu, sejarah misalnya, politik, cerita romantis dalam novel maupun cerpen, sastra, soal harapan hidup yang lebih baik dan masih banyak lagi. Membaca adalah mandat utama yang diturunkan kepada Nabi Mumammad SAW melalui perintah dalam kata berbunyi “Iqro”. Dari situlah kita kenal seorang sosok revolusioner yang telah menentang perbudakan, menyerukan keadilan, menentang monopoli dan kecurangan dalam perdagangan yang dilakukan masyarakat arab dan masih banyak lagi. Kita juga dipertontonkan oleh Soekarno, Tan Malaka, Moh. Hatta, Gus Dur, dan masih banyak lagi tokoh teladan bangsa lainnya, yang menghabiskan umur hidupnya sambil menyelipkan kegiatan membaca sebagai satu dari sekian aktivitas yang cukup dominan.

Ya, itulah mungkin sedikit fakta tentang bagaimana membaca menjadi bagian aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang hebat dengan jiwa revolusioner yang telah berhasil menentang penjajahan, ketidakadilan, penindasan, hingga pengisapan. Selain membaca, mereka juga menulis buku.

Nah terakhir, yang ingin saya sampaikan, jika kalian ingin membaca sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang saya sebut di atas, kalian bisa terlebih dahulu untuk membeli buku. Tak hanya membeli buku, bahkan kalian juga bisa menerbitkan buku. Dimanakah itu? Jangan khawatir, kami siap menjadi mitra baik anda. Anda cukup menghubungi kami melalui akun instagram Orde Buku, atau juga dapat menghubungi melalui Whatsapp di nomor 085877603912. Untuk mendapatkan info lebih lanjut, kunjungi dan ikuti (follow) akun instagram Orde Buku di @orde.buku. So, buktikan bahwa membaca, terlebih menulis dan bergerak—jika bisa, akan menjadi hal penting yang memengaruhi hidup kita dan hidup orang lain.

Gambar: @orde.buku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.