Prahara Ohara dan Sejarah yang Dihilangkan

Spread the love

Oleh Albertus Arga Yuda P.

Pernahkah anda membayangkan adanya satu kekosongan dalam sejarah manusia? Tentu hal itu menjadi tanda tanya besar bagi banyak orang dan mungkin beberapa sejarawan dan/atau arkeolog berusaha mengungkapkannya. Kedua profesi tersebut, bagaimanapun juga, memiliki dedikasi dalam mencari hal-hal yang tersembunyi pada masa lalu. Penemuan-penemuan kebendaan dan kisah-kisah yang berhasil diungkapkan pada abad-abad yang lampau, yang bahkan ribuan tahun sebelum masehi, memberi kita jawaban akan keberadaan kita pada masa lalu: siapa kita, dari mana kita berasal, kapan hal-hal tertentu terjadi dan seperti apa dampaknya terhadap manusia, dan jawaban lainnya.

Namun, bayangkan jika penguasa politik dalam suatu wilayah melarang para penduduknya untuk mengetahui kekosongan sejarah itu dengan beragam dalih. Lantas, mereka yang nekat mencari tahu, meski hanya sekadar “mengintip”, akan menghadapi perburuan. Sementara mereka yang sudah tahu, akan menghadapi hukuman mati. Profesi sejarawan dan arkeologi bakal menjadi profesi yang paling ditakuti penguasa dan mungkin saja mereka yang mula-mula dihabisi.

Hal demikian terjadi dalam dunia manga dan anime One Piece, sebuah serial tentang dunia yang dipenuhi oleh bajak laut. World Government menjadi institusi yang menguasai seluruh penjuru dunia dengan Marine sebagai angkatan bersenjatanya, berupaya memberantas para bajak laut. Mereka nampaknya menjadi penguasa yang baik, namun, sungguhkah demikian? Dalam cerita, hampir semua permasalahan di dunia “One Piece” melibatkan, baik langsung maupun tidak langsung, World Government dan Marine. Misalnya saja upaya pembunuhan oleh agen rahasia seperti dalam Water Seven dan Enies Lobby arc, perdagangan manusia dan perbudakan dalam Sabaody Island dan Amazon Lily arc, penggulingan kekuasaan yang penuh rekayasa dalam Alabasta dan Dressrosa arc, dan lain-lain.

Selain itu, World Government melarang semua penduduk dunia mencari tahu apa yang terjadi sepanjang periode 800-900 tahun yang lalu. Rentang waktu 100 tahun tersebut sering disebut sebagai blank century atau abad kekosongan. Orang-orang hanya mengetahui apa yang terjadi pada masa sebelum atau sesudahnya. Yang pasti, sebelum abad kekosongan berlangsung peperangan besar antara dua kelompok. Kelompok pertama adalah 20 kerajaan yang berkoalisi melawan sesuatu yang sampai sekarang belum terkuak apa dan siapa mereka. Setelah abad kekosongan, tiba-tiba berdiri World Government yang anggotanya adalah ke-20 kerajaan tersebut. Mereka lantas mengangkat diri mereka sendiri sebagai dewa dan berpindah ke wilayah Red Line, sebuah benua yang tinggi, besar, dan memanjang membelah dunia menjadi dua sisi samudera.

Informasi mengenai abad kekosongan itu terdapat dalam poneglyph. Poneglyph adalah prasasti yang terukir di batu laut dengan menggunakan aksara khusus. Poneglyph juga menyimpan informasi tentang senjata pemusnah massal kuno dan petunjuk untuk menuju Pulau Raftell, pulau yang “hilang” dan menyimpan harta karun One Piece. Cara untuk bisa mengetahui informasi dalam poneglyph adalah dengan mempelajari aksaranya dan dengan bakat untuk “mendengarkan semua suara” yang hanya dimiliki beberapa orang saja. Karena menyimpan informasi yang berbahaya dan sejarah abad kekosongan, World Government melarang siapa saja untuk mempelajari poneglyph.

Namun, benarkah tidak ada upaya membongkar rahasia dunia dan mencari tahu kebenaran abad kekosongan? Dalam dunia One Piece, terdapat sebuah pulau yang terkenal karena para arkeolog dan sejarawannya yang berdedikasi tinggi. Pulau itu bernama Ohara. Kisah ini terungkap dalam Enies Lobby arc. Meski dilarang, para arkeolog Ohara mempelajari poneglyph secara diam-diam. World Government yang telah mengendus mereka lantas menjalankan strategi buster call, yaitu strategi pemusnahan massal atas sebuah pulau dan penduduknya dengan mengirim armada dalam jumlah besar yang langsung dipimpin oleh para admiral. Satu-satunya penduduk Ohara yang selamat dari buster call hanyalah Nico Robin, yang (kini) menjadi anggota bajak laut Topi Jerami.

Sejauh ini, para pembaca manga atau penonton anime One Piece hanya bisa berteori dan mengira-ngira apa yang terjadi pada abad kekosongan dari secuil informasi yang terkadang dihadirkan dalam beberapa jalan cerita. Namun, kita bisa menyandingkan apa yang ada dalam serial One Piece ke dalam kehidupan nyata kita. Sungguhkan ada sejarah yang dihilangkan, disembunyikan, dan dilarang? Lalu, bagaimana para sejarawan dan/atau arkeologi berupaya mencari tahu keberadaan masa lalu itu?

Komunitas politik seperti negara sering kali menutupi beberapa sejarah. Hal ini semakin parah jika komunitas politi itu berwatak otoriter. Mereka dapat menerapkan pembatasan informasi dan melarang mempelajari satu atau beberapa peristiwa sejarah. Tidak perlu menunjuk negara yang terlalu jauh, karena di suatu teritori negara yang terletak di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, di antara Benua Asia dan Benua Australia, berada di lintang khatulistiwa, dan wilayahnya terdiri dari ribuan pulau, punya pengalaman yang mirip. Ya, di Indonesia.

Ada satu tema dan satu babakan sejarah Indonesia yang dilarang oleh pemerintah. Pelarangan sejarah ini terjadi terutama saat rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto berkuasa. Hal ini, dalam batas-batas tertentu, bahkan masih terjadi meski Soeharto sudah lengser. Satu tema yang dilarang itu adalah tema-tema seputar sejarah yang berkaitan dengan komunisme dan satu babakan sejarah yang dilarang adalah periode sejarah antara 1965-1969. Selain itu, ada tema-tema lain yang ditutup-tutupi pemerintah, yaitu tema-tema yang menyangkut praktik-praktik jahat yang melibatkan negara dan pemerintahan sebagai pelakunya.

Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang mencoba mencari tahu tentang sejarah Indonesia yang dibungkam itu? Kita bisa bercermin dari beberapa peneliti yang dilarang masuk ke Indonesia karena meneliti salah satu sejarah yang terjadi pada tahun 1965. Ketika Poncke Princen mencoba mengungkapkan tentang pembantaian sekelompok orang di Purwodadi pada periode 1965-1968, langkahnya pun dihalang-halangi. Sepanjang masa Orde Baru, nampak tidak ada sejarawan yang mencoba mencari tahu. Selain itu, pemerintah Orde Baru menggunakan keabsahan ilmu sejarah untuk membingkai sejarah yang sesuai dengan kepentingan rezim, misalnya dengan menggaet sejarawan militer untuk membuat narasi tentang sejarah nasional.

Hal demikian sangat mungkin terjadi di komunitas politik lain. Meski “One Piece” hanyalah cerita fiksi, namun dari situ kita bisa mengenal dunia yang kita hidupi ini. Di dalamnya tercermin apa yang secara nyata terjadi di dunia. Upaya penghilangan sejarah selalu berkaitan pada fakta adanya kejahatan politik dengan skala besar yang dilakukan oleh rezim penguasa dan/atau informasi yang memungkinkan munculnya “bahaya” bagi keberadaan rezim tersebut.

Seperti kisah One Piece yang tidak akan seru seandainya abad kekosogan tidak diungkapkan, atau Nico Robin sebagai arkeolog dengan dedikasi tinggi gagal mengatahuinya, membiarkan para penikmat One Piece dalam ketidaktahuan dan sibuk menduga-duga, begitu juga dengan sejarah-sejarah yang masih kosong dan dilarang untuk diketahui akan membuat lubang dalam kehidupan manusia. Sebagian memilih untuk menghindari lubang itu, sebagian memilih mengintipnya. Mencari-cari tahu apa yang ada di balik bilik sejarah “terlarang” itu akan menjadi petualangan tersendiri, seperti para bajak laut yang memburu harta karun One Piece.

Albertus Arga Yuda P., Pengangguran paruh waktu dan calon sarjana sejarah, sesekali menjadi sukarelawan di beberapa lembaga swadaya masyarakat

-Ilustrasi: https://22portgas.blogspot.com/2016/09/tragedi-di-pulau-ohara-tanah-suci.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.