Puisi Abi Fathe (2)

Spread the love

Demi Ibu

Demi ibuku — perempuan pertama yang aku cintai; yang tak rela aku disakiti dan menyakiti perempuan lain — aku sungguh, memintamu untuk mengajari anak lelaki kita cara memperlakukan perempuan dengan baik, dan anak gadis kita cara menjadi sebaik-baiknya perempuan. Bersediakah kau?

Semarang, 7 Mei 2019

 

 

Aku Ingin Kau Utuh

Hidup yang bersikukuh menggantungkan harapan pada pupil mata seseorang mau atau tidak harus siap berhadapan dengan semoga yang terus terkumpul dan hilang. timbul-tenggelam

Sebab manusia masih sebegini naif untuk mulai bertemu dan menyelenggarakan kehilangan dengan semegah-megahnya
Kita sedianya begitu dan masih gemar-gemarnya mengulang

Kita mulai lagi yang sudah lama tidak kita sambangi
Kepatahan dan rencana meringkuk memeluk lutut membuahkan percaya kepada yang sama sekali tidak ada
Bukanlah nama yang patut kita genggam demikian erat
Sebab tak ada rantai yang kehilangan mata
Atau anak kunci yang tak punya orang tua

Sebelum awan memudar menghindari garis tangan yang kebingungan
ada baiknya kita mengerti satu atau dua hal
soal kedatangan yang tiba-tiba dan sesuatu yang pamit dengan mengejutkan

umur kita nanti setelah menyimpul janji-janji
terus bertambah dan tak bisa berhenti meski lelah
di sebrang mata milik ayah-ayah kita
dan di langit wadah doa berkirim-terima
kita berusaha pulih dari hal yang mestinya ada dan sela yang dibiarkan tak terisi apa-apa

kita bisa saja mengalir di sana-sini lalu merembes menjadi pikiran-pikiran baik yang kita yakini benar
tapi tak bisa kita berhenti mencari dan bergembira atas segala yang lahir dari keberuntungan semata
atau rasa syukur dari kejadian tanpa rencana

barangmungkin setelah ini kita akan makin akrab
seperti kematian milik Subagio Sastrowardoyo
yang dengannya aku menegaskan bahwa
bersamamu selalu sama menyenangkannya
seperti langit yang tak menolak dipotret diam-diam oleh mereka yang sedang merindukan entah apa

Tentu kita boleh saja menjadi hujan di lebat hutan, atau terik pada tiap-tiap siang petani, atau bir yang sedia menemani orang-orang patah hati atau metafora lainnya
tapi aku ingin kau menjadi apa yang kutulis sebagai bahagia, sebagai senyum ibu yang melihat anaknya tumbuh

Aku ingin kau begini adanya. menjadi kau yang utuh

Wonogiri, 16 Januari 2020

 

 

Abi Fathe, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Gambar: kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.