Puisi Arwani

Spread the love

Suatu Sore di Sebuah Pompa Bensin,

Masih di Indonesia Juga

 

seorang pemuda penjaja minuman

kulitnya hitam

gosong dipanggang matahari seharian

seorang sopir bus

matanya sayu

capek mengukur jalan-jalan kehidupan

berdua bercanda tertawa keras-keras

menertawai nasib yang tak jemu mempermainkan

tapi tawa mereka harus terhenti

karena waktu tak mau kompromi

jalan-jalan kehidupan harus terus ditelusuri

memang, nasib mempertemukan mereka kembali

pada situasi yang sama:

pada mimpi-mimpi

 

Oktober 1992

 

 

Malam Sepanjang Jalan

 

bulan keringatan terjerat kabel listrik

sinarnya muram dikepung ribuan neon

yang berderet sepanjang jalan sepanjang malam

seorang pemuda memandang gelisah

bibirnya bergumam

“kita sama kesepian, mari lewati malam”

sebentar kemudian bulan tersuruk

di balik gedung-gedung yang menjulang sepi

pagi terasa begitu cepat datang

matahari akan segera menggusur garang

bulan terkapar kelelahan di tepi malam

seorang pemuda yang kesepian

berjalan malas untuk pulang

 

November 1992

 

 

Kalau Cuma

 

kalau cuma slogan-slogan

bisa kami temui sepanjang jalan

di negeri ini

kalau cuma iklan

bisa kami dapati di etalase toko dan plasa

yang menawarkan dunia penuh gebyar menyilaukan

kalau cuma mimpi-mimpi

sudah terlalu sering kami temui

kalau cuma lapar dan geram

sebenarnyalah kami sudah terlalu kenyang

kalau cuma digusur dan ditendang-tendang

sudah sering kami alami

ketika mencoba membela hak-hak kami

yang terasa kian sempit saja

kalau cuma omong kosong

sudah terlalu sering kami dengar

lewat pidatomu yang berbusa-busa

kalau cuma harapan-harapan

dengan gampang bisa kami dapatkan

lewat televisi dan koran-koran yang sering melambungkan ke awang-awang

tapi kenyataan pahit lebih sering membenturkan kami pada terjal karang

kalau cuma janji-janji

sungguh! kami sudah bosan

yang kami pinta

kembalikan hak-hak kami

pandanglah kami sebagai manusia

karena kami bukan boneka

yang bisa kau perlakukan seenak perutmu

kalau boleh nambah

tolong kembalilah menjadi manusia

yang ini tentu saja tak memaksa

kalau kau ikhlas saja…

 

10 Desember 1992

 

 

Mari

 

mari beramai-ramai membunuh demokrasi

mumpung demokrasi belum dihargai

di republik ini

 

mari beramai-ramai menginjak-injak hak asasi

mumpung penindasan masih dihalalkan

di negeri ini

 

mari beramai-ramai menindas rakyat, memperkosa hukum,

memutarbalikkan fakta, mengentuti demokrasi, mengencingi

hak asasi, menertawakan ajaran-ajaran mulia yang sudah tak berarti lagi

 

mari beramai-ramai menuntaskan

syahwat kebinatangan!

mumpung kita belum benar-benar menjadi manusia

 

24 Desember 1992

 

 

Ada Lagi Gelombang Datang

 

matahari garang memanggang ilalang

tiga ekor anak prenjak menggeliat kepanasan

lapar setiap saat menghadang

bilur kusam kehidupan kian memanjang

 

aku tulis puisi ini

ketika saudara-saudaraku, rakyat kecil Indonesia

yang berjuta-juta jumlahnya sedang didera resah

di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi

ternyata ongkos hidup setiap kali

membubung tak terkendali

memang, kemarin gaji pegawai negeri naik

tapi hari ini harga BBM segera saja melonjak

lalu tarif listrik dan angkutan

besok giliran harga beras dan ikan asin

lusa, entah apa lagi

sedangkan kebanyakan saudaraku cuma kuli

ketika biaya hidup menjadi begitu mahal

tenaga mereka masih saja tak ada harganya

padahal kita tahu, mereka mampu bertahan cuma dengan itu

hidup menjadi semakin sempit

perut mereka, juga anak-anak dan istri mereka

semakin sering melilit

dan kita tak tahu,

sampai kapan mereka mampu bertahan

ketika lapar kerap bertandang

jalan-jalan kehidupan menjadi kian tidak lempang

tapi, adakah pilihan?

maka salahkah jika terpaksa menjadi maling?!

kenaikan harga-harga bisa jadi dibarengi turunnya harga diri

tapi ke mana kesalahan harus dikembalikan?

 

kami tidak tahu

bagaimana kerja bapak-bapak terhormat itu

dalam mengatur denyut nadi kehidupan negeri ini

yang kami tahu, lewat televisi, koran,

radio, dan pidato-pidato

bapak-bapak itu sudah bekerja keras

semuanya demi kemakmuran bersama…

 

aku tulis puisi ini

sebenarnya bukan cuma mewakili mereka

karena aku juga rakyat jelata Indonesia

yang miskin, tentu saja

yang sering tergilas dan terombang-ambingkan

gelombang pasang peraturan

yang boleh kami tahu

semua itu demi kata keramat bernama pembangunan

dan kami wajib lega lila mendukungnya

perkara kami yang sering dipermainkan gelombang

itulah nasib buruk

 

tapi tenanglah…

kemiskinan sudah akrab dengan kami,

rakyat kecil negeri ini

cukup kami kibarkan angan

maka lapar sejenak hilang

 

aku tulis puisi ini

ketika kenyataan begitu buram

dan kesadaran belum mampu merangkai harapan

tapi hidup tak cukup dengan putus asa, bukan?

betapapun buram

harapan masih menyisakan kekuatan

 

aku tulis puisi ini

ketika resah kian membuncah

dan aku tak bisa berbuat apa-apa…

 

perlahan senja meredam garang matahari

induk prenjak pulang menggamit harapan

kebersamaan menindih lapar

 

Mei 1992

 

 

Sssst!

 

sandiwara besar sudah dimulai

penonton harap tenang!!!

 

Maret 1993

 

 

Seberang Masjid Suatu Siang

 

mendengarkan khotbah

di bawah rindang pepohonan

lamat-lamat suara yang mampu tertangkap telinga

ah, nurani yang dangkal

kapan sampai pada kedalaman?

bahkan belum juga kutemukan masjid itu

 

angin yang berhembus tak tertahan

mengabarkan mimpi buruk dan kenyataan

jalan-jalan kehidupan menggoreskan perjalanan

panjang dan kelam…

bayangmu yang tak pernah diam

tak juga mampu aku tangkap

mungkinkah tak akan kutemukan masjid itu?

sementara rinduku pada rumah begitu tebal mengental

aku ingin pulang pada ketiadaan pada keabadian

tempat segala bermula, di mana segala bermuara

 

dalam riuh manusia dan gegap gempita dunia

mungkin di sanalah masjidku berada…

 

Maret 1993

 

 

Indonesia Pagi

 

selamat pagi…

pagi di sini masih saja tak memberikan apa-apa

inilah paginya kebanyakan rakyat Indonesia

setiap pagi terbangun dari mimpi panjang

mimpi-mimpi yang bertabur harapan buram

setiap kali pula dibangunkan oleh kenyataan:

masihkah esok menjanjikan harapan?

lalu hari ini

akankah kita lalui dalam udara yang sama?

udara yang hampa…

 

mari bangun dari mimpi-mimpi

kita retaskan batas-batas

yang tercipta dan diciptakan

lalu kita siapkan ruangan yang cukup lapang

untuk bisa sedikit bernapas panjang dan segar

untuk melontarkan beban-beban

yang menghimpit ruang kesadaran

mari bersama-sama berteriak, “Tidak!”

 

Juli 1993

 

 

Ibu…

 

inilah aku

yang kebingungan menyaksikan saudara-saudaraku

berebutan mengisap puting payudaramu

sampai ke tulang sumsum

sembari berteriak-teriak

“demi kemakmuran bersama

demi keadilan bersama…”

dan kau terengah-engah berurai air mata

 

14 Agustus 1993

 

 

Demokratisasi

 

adalah jika kita mampu kembali

menjadi anak-anak lagi

bermain bersama dengan perasaan

tanpa beban

tertawa-tawa, sesekali bertengkar

lalu kembali tertawa bersama

tanpa dendam…

 

September 1993

 

 

Nikah

 

kupinang cinta dengan gairah semesta

demi hidup yang cuma sekali

kuceraikan benci bergincu darah

ia terus merajuk

minta rujuk

 

2019

 

Arwani, jurnalis, penyunting buku, tinggal di Semarang

 

  • Foto diambil dari akun Facebook Arwani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.