Puisi Gunawan Budi Susanto

Spread the love

Begitu Lama Aku Menelisik

 

begitu lama aku menelisik jejakmu

menyeret beban yang mendera kalbu

dan kerinduan itu, kerinduan itu tak bertepi

berumah di angin, bersarang di cakrawala sunyi

 

kini kukejar bayanganmu di senjakala

dalam gelisah membuncah

dalam cemas yang mengertap

dan berharap segera tiba

di kelindapan malam yang tak terusik waktu

di kerimbunan kenang yang membunuh rindu

 

lagu itu, Ita, lagu itu mengalun jauh dan makin jauh

dalam diam, ombak mendebur

dalam angin yang berkesiur

kutitipkan kangenku yang ngungun.

 

Semarang, 30 Desember 2002

 

 

Pengin Kutulis Sajak buatmu

 

Ita, pengin kutulis seribu sajak buatmu

sajak yang kuuntai dari segala harapan

untuk membasuh luka, entah apa

yang nganga di dasar hatimu

jadi nanah membarah

menggerogoti batinmu

 

jalan masih panjang, Ita, masih panjang

dan hari-hari menjelang

bukan tanpa aral melintang

tetapi tak mungkinkah

kita bergandeng tangan?

atau, sekalian mengasah parang

dan menyatakan perang!

 

ayo, Ita, ayo

kita babat alang-alang di padang

kita petak ladang masa depan

sebelum matahari tenggelam

sebelum malam datang

saat kita bisa istirah

sembari berdendang

tentang cinta

tentang tuhan

 

dan di semarang, di semarang

kangenku senantiasa mendemam.

 

 

Seperti Itulah Cintaku

 

seperti air

cintaku terus mengalir

menuju muara

menuju samudra.

 

seperti angin

cintaku terus berembus

tak teraba

tapi terasa.

 

air terus mengalir

angin terus berembus

seperti itulah cintaku.

 

kepada siapa kangen air mencari samudra

kepada siapa kangen angin terus mendera

: kamulah itu sarang segala cinta.

 

 

Tentang Cinta dan Perkawinan

: Ita

 

 

seperti angin

embusannya terasa

tapi tak teraba

 

seperti air

terus mengalir

mencari dan menemu muara

 

seperti angin

terus berembus

seperti air

terus mengalir

begitulah cinta kita bukan?

 

dan perkawinan?

perkawinan bukan akhir perjalanan

yang kita impikan

bukan

 

perkawinan seperti bahtera

yang mesti kita kemudikan

mengatasi gelombang, menyibak ombak

membuang sauh di pelabuhan

memunggah dan membongkar muatan

lalu kembali mengembangkan layar

 

perkawinan adalah perjalanan panjang

teramat panjang

yang tak kalis dari pertengkaran

tak sepi dari kericuhan

tapi kita tak pernah kehilangan kesempatan

untuk terus berbagi kegembiraan bukan?

juga kesediaan membangun kisah baru

bersama, berdua, sebagaimana adanya

sebagaimana mestinya

 

seperti angin terus berembus

seperti air terus mengalir

begitulah cinta kita

 

dan perkawinan adalah pintu

yang selalu membuka bagi kita

agar bisa pulang dan menyadari

betapa hidup sungguh bermakna

 

seperti angin

seperti air

itulah cinta kita

terus berembus

terus mengalir

menuju muara.

 

Gebyog, 15 Agustus 2009

 

Gambar: previews.123rf.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.