Puisi Mugi Astuti

Spread the love

Kita Hanya Butuh Makan

Kami makan nasi

engkau makan gunung

apa beda kami dan engkau, tuan?
Kami minum air pemberian bumi

kau minum air mata kami

baiklah.

Kita sama, butuh minum

Tak usahlah khawatir tentang nasib kami

jika gunung telah habis tuan makan

karena gunung tak bisa ditanam
Beras bisa diimpor

manusia bisa diekspor
Cetak saja pekerja

petani itu kerjaan kaum sudra

Usah peduli hutan menjelma beton

dan arwah hewan penghuninya

yang akhirnya tinggal dalam raga manusia

hingga mereka saling memakan sesamanya

Kita hanya butuh makan
Kita hanya butuh minum
Bukan?

 

Aku Kamu

Jika aku menjadi aku

Elang tentu cumbui langit

Sayangnya aku adalah kamu

Bermasturbasi lewat kata-kata

Agar otak jangan impoten

 

Cinta sudah jadi hegemoni

Aku lemas kaki

Diajak puisi kawin lari

 

Jika aku inginkanku

Terkatung perawan tua

Menanti kekasihnya

 

Harusnya kuinjak mati

Keakuanku

Biar kucicipi nikmat sama-sama

Bila aku tlah jadi kamu

 

Antah Berantah, 10 Juli 2009: 01.00 am

 

Bendera Macet di Tengah Tiang

 

Pagi ini kukerek bendera, sialnya macet di tengah tiang.

Rengeng-rengeng kuberdendang lagu “Indonesia Raya”.

Sumbang.

Jika saja hari ini kurs dolar menginjak rupiah tentu saja aku tidak mumet bikin anggaran kebutuhan.

 

Lukisan pemuda berusia seabad lalu meringis

Entah menangis atau tertawa sinis

Mengawasi sumpah yang mereka buat dikencingi para pemuda generasi abad setelahnya.

 

Engkau melawan, kami juga melawan, kilah pemuda zaman sekarang, kau lawan perpecahan dengan sumpah pemuda, kami lawan kemunafikan dengan sumpah serapah.

 

Young Lex ft.Awkarin simbol perlawanan.

 

Tuhan diwedar mulut orang berahi kekuasaan

 

Ibu bumi dilacurkan kepada uang

 

Anak zaman tak berbapak beribu

menyusu pada teknologi

tak bisa membedakan mana hikmah mana sampah peradaban.

 

Bhineka Tunggal Ika tinggal slogan

tidak seragam, hajarr!!

 

“Indonesia Raya” bergaung

jauh di awang.

 

(Mimpi ini utopi, tidur malam adalah jawaban untuk mewujudkannya)

 

 

Mugi Astuti, mantan buruh migran di Hong Kong, menulis puisi dan cerpen, tinggal di Kota Semarang.

  • Ilustrasi: mojok.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.