Puri Dewa Agung Klungkung: Jejak Sejarah dan Dinamika Pergeseran Fungsi Tahun 1908-2016

Spread the love

Sekilas Sejarah Kerajaan Klungkung

Sudah sejak lama Pulau Bali terkenal dikalangan wisatawan nasional, maupun wisatawan mancanegara sebagai salah satu destinasi wisata yang mempesona. Keistimewaan Pulau Dewata tidak hanya terletak pada bentang alam nya yang indah, kearifan lokal nya yang ramah, dan karya seni nya yang khas. Keistimewaan lain dari Pulau Bali ialah masih terjaga nya corak kebudayaan warisan nenek moyang, serta nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Kultur masyarakat Bali yang teguh memegang adat istiadat nenek moyang, serta tekun mengamalkan nilai-nilai keagamaan, telah membawa masyarakat Bali pada kebiasaan untuk melestarikan nilai dan bentuk kebudayaan yang telah lama bersemayam di dalam kehidupan. Kebiasaan untuk melestarikan kebudayaan tersebut, telah membawa Bali sedemikian terkenal sebagai kawasan yang unik dan memiliki banyak tradisi yang masih terus dilestarikan.

Berkaca pada sejarahnya, keunikan dan keistimewaan kebudayaan Bali; berakar kuat dari periode klasik Indonesia. Periode tersebut, dekat kaitannya dengan perkembangan Agama Hindu-Budha di kalangan masyarakat, yang berhimpun dengan kearifan lokal yang telah ada pada masa sebelumnya. Perkembangan Agama Hindu di Bali, memiliki hubungan sejarah yang erat dengan Kerajaan Majapahit. Hal tersebut berkaitan dengan penguasaan wilayah Bali oleh Majapahit pada periode abad ke-16. Dalam perkembangan selanjutnya, pengaruh Kerajaan Majapahit semakin tampak mana kala Sri Kresna Kepakisan yang juga keturunan Brahmana dari Kadiri, ditunjuk untuk menjadi penguasa yang berkedudukan di Samprangan. Dari keturunan Sri Kresna Kepakisan, secara bergantian terlahir penguasa di Pulau Bali, yang pusat-pusat pemerintahanya berpindah-pindah; Dari periode Samprangan, ke periode Gelgel, hingga berakhir berkuasa secara politik di Kraton Smarapura, Kerajaan Klungkung.

Ketika Kraton Gelgel hancur dan I Dewa Agung Jambe memilih mendirikan kraton baru di daerah Klungkung, peta politik Kerajaan Bali mulai berubah. Semenjak peristiwa pemberontakan Kryan Agung Maruti di Gelgel, Pulau Bali mulai terpecah-pecah menjadi beberapa kerajaan kecil yang dipimpin oleh para arya dan ksatria dalem. Diantara kerajaan-kerajaan kecil yang terbentuk dan memiliki kekuatan yang cukup kuat ialah Kerajaan Karangasem, Buleleng, Sidamen, Badung, Tabanan, Taman Bali, Payangan, Singarsa, dan lain-lain yang tidak tunduk lagi pada kekuasaan Patih Maruti di Gelgel (Agus Aris Munandar 2004:141). Meski Bali mulai terkotak-kotak menjadi kerajaan-kerajaan kecil dan masing-masing kerajaan memiliki raja tersendiri, kedudukan I Dewa Agung Jambe sebagai pemimpin Kerajaan Klungkung dan Raja-raja Klungkung setelahnya, tetap berpengaruh kuat di Pulau Bali. Setiap raja Klungkung, yang bergelar Dewa Agung, dianggap sebagai Susuhunan dari Bali dan Lombok yang mengepalai Dewan Raja-raja. Dia amat dihormati oleh raja Bali dan Lombok, dan dianggap sebagai seorang pemimpin spiritual di Pulau Bali. (Dwitri Waluyo 2004:117)

Setelah berpindah di Klungkung, Dinasti Sri Kresna Kepakisan memiliki setidaknya 10 raja berikutnya yang berkuasa di Klungkung, hingga sebelum terjadinya Perang Puputan Klungkung melawan Belanda. Setiap Raja Klungkung bertanggungjawab terhadap keberadaan dan pemeliharan Pura Besakih sebagai pura tumpuan pemujaan untuk seluruh penduduk Bali, dan Kerajaan Klungkung secara simbolis dianggap sebagai pengemban kepercayaan kepada pemujaan (Tuhan, Dewa-dewa) yang berada (melinggih) di Pura Besakih. Hal ini merupakan legitimasi raja-raja Klungkung bahwa ia dipuja sebagai raja tertinggi di seluruh Bali.

Kedaulatan Kerajaan Klungkung secara politik, berakhir pada masa pemerintahan rajanya yang ketujuh, Raja Dewa Agung Isti Kanya tahun 1849, ketika Klungkung dikalahkan Belanda dalam Perang Kusamba. Sejak itu wilayah Klungkung berada di bawah pengaruh Belanda. Raja Klungkung kedelapan hingga kesepuluh, walaupun masih disebut sebagai Dewa Agung, namun kekuasaannya di bidang politik sangat dibatasi. Namun ia tetap mengurusi masalah-masalah agama, adat-istiadat serta tradisi (Rai Putra 1986:152, Agus Aris Munandar 2004:153). Puncak kehancuran Kerajaan Klungkung terjadi pada tanggal 28 April 1908, ketika terjadi Perang Puputan Klungkung melawan pihak Belanda. Dalam perang suci tersebut, Raja Klungkung beserta para pengikutnya meninggal, akibat dari serangan senapan dan meriam Tentara Belanda.

Selain memakan banyak korban jiwa, Perang Puputan Klungkung mengakibatkan pula kehancuran yang cukup parah di lingkungan Puri Dewa Agung Klungkung. Lontaran meriam dan senapan tentara Belanda, telah mengakibatkan Puri Dewa Agung Klungkung porak-poranda. Hal ini mengakibatkan hilangnya sebagian besar bangunan yang terdapat di Puri Dewa Agung Klungkung, dan menyisakan sedikit saja sisa-sisa bangunan yang tidak turut hancur. Bangunan yang tidak ikut hancur tersebut, kini masih dapat kita jumpai dalam rupa bangunan Bale Kertagosa, Bale Kambang, Gapura Pamedal, dan Kori Agung Klungkung.

Peninggalan Bangunan

Menurut Candra Sengkala yang terpahat di Pamedal Agung (Pintu Utama) Puri KerthaGosa sudah ada pada tahun Caka CakraYuyu Paksi-paksi, yang masing-masing bernilai  1.6,2,2. Jadi tahun 1622 atau abad 17 Mahesi ketika I Dewa Agung Jambe sedang memerintah Klungkung ( Made Warsika, 1986). Akan tetapi mengenai siapa yang mempunyai ide atau siapa yang mendirikan belum diketahui secara pasti.  Kerthagosa mengandung makna sebagai tempat pembahasan segala sesuatu yang bertalian dengan situasi keamanan, kemakmuran serta keadilan wilayah Bali ( Made Warsika, 1986). Hal ini sejalan dengan fungsi awal dari Kertha Gosa sendiri, yaitu sebagai tempat berkumpulnya para Raja-Raja bawahan diseluruh Bali, pertemuan ini sering disebut dengan Purnamaning Kapat yang diadakan setahun sekali. Dalam pertemuan seperti ini susuhan tertinggi memberikan pengarahan serta keputusan-keputusan berdasarkan pertimbangan keadaan dan kebutuhan.

Taman Gili adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dengan Puri Semarapura Klungkung. Terletak disebelah kiri Taman Kertha Gosa. Tengah-tengah dari taman inilah terdapat pulau yang ditengah nya terdapat bangunan yang sering disebut dengan Bale Kambang. Disebut Bale Kambang karena bangunan itu seolah-olah mengambang diatas air. Bangunan ini didirikan Tahun 1710 pada masa Raja Dewa Agung Jambe, raja Klungkung pertama. Bale Kambang merupakan salah satu bangunan kerajaan yang tidak dihancurkan oleh Belanda.

Bila dicermati apa yang ada di langit-langit Bale Kertha Gosa maupun Bale Kambang sama-sama terdapat lukisan menarik. Lukisan-lukisan inilah yang disebut sebagai lukisan Kamasan. Lukisan Kamasan merupakan satu jenis lukisan khas Bali. Dinamakan lukisan Kamasan disebabkan lukisan tersebut berasal dari desa yang bernama Kamasan. Desa Kamasan tersebut terletak di Kabupaten Klungkung, di sebelah tenggara Pulau Bali. Kamasan sendiri dimungkinkan berasal dari kata ka-emas-an, satu komunitas pengarjin benda-benda dari emas atau logam berharga yang telah muncul pada masa perundagian, ciri khas dari lukisan kamasan adalah lukisan dengan tema wayang. Cerita yang dilukis gaya Kamasan banyak yang mengandung unsur seni dan makna filosofis yang diambil dari Ramayana dan Mahabharata. Bila ditinjau Lukisan Kamasan dari sejarahnya telah berusia tua. Hal ini dilihat dari style lukisan dan juga garis besar dari cerita yang digambarkan, yiatu berasal dari kisah-kisah dalam ajaran Hindu dan kebudayaan masyarakat sekitar.

Selain Taman Kertagosa, bangunan lain yang masih tersisa pula adalah Gapura Kori Agung pertama yang membatasi area Taman Kertagosa dengan bagian puri selanjutnya di sebelah dalam yang sekarang tak tersisa lagi. Selain itu terdapat Bangunan lain yang menjadi bagian dari Puri Klungkung adalah gapura utama kerajaan yang ada di sebelah timur Puri Klungkung. Bangunan ini sekarang dinamakan dengan Pamedal Agung. Bangunan ini merupakan bangunan yang masih tersisa dari Puri Klungkung. Sekarang fungsi Pamedal Ageng beralih menjadi bangunan suci bagi umat Hindu di Bali. Pada peninggalan sejarah ini terkandung pula nilai seni arsitektur tradisional Bali. Gapura inilah yang pernah berfungsi sebagi penopang mekanisme kekuasaan pemegang tahta (Dewa Agung) di Klungkung selama lebih dari 200 tahun (1686-1908).  Bila melihat kondisi sekarang baik Gapura Agung Kori maupun Pamedal Agung, kondisi fisik yang masih bagus dan megah menunjukan betapa besarnya kerajaan klungkung saat itu.

Perubahan Fungsi Bangunan Peninggalan Kerajaan Klungkung

Dari bangunan-bangunan yang masih tersisa dari Kerajaan Klungkung baik itu Bale Kerta Gosa, Bale Kambang, Gapura Pamedal, dan Gerbang Agung Kori mulai dari berdirinya sampai saat ini mengalami dinamika perubahan fungsi. Bale Kertha Gosa yang dimana fungsi semula ketika zaman kerajaan berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para Raja-Raja bawahan diseluruh Bali, pertemuan ini sering disebut dengan Purnamaning Kapat yang dilakukan setahun sekali. Namun setelah keraton jatuh akibat perang Puputan melawan Belanda pada tanggal 28 April 1908, maka fungsi atau kegunaan Bale ini menjadi lain. Sejak saat itulah hingga berakhirnya pemerintahan Belanda, Bale Kertha Gosa menjadi Bale Peradilan Adat, dimana setiap orang yang berperkara apapun bentuknya yang menyangkut pertikaian berkenaan dengan adat dan agama, disidangkan dan diputuskan disini ( Made Warsika, 1986).

Akan tetapi setelah Belanda tidak berkuasa di Nusantara khususnya pada Kerajaan Klungkung, dan digantikan oleh Jepang, fungsi dari Bale Kertha Gosa kurang diketahui. Akan tetapi secara pasti diketahui bahwa pada tahun 1968 barulah Bale Kertha Gosa dan bangunan peninggalan-peninggalan yang lain dibuka menjadi tempat Wisata.

Ketika pada masa pemerintahan Dewa Agung Jambe, Bale Kambang digunakan untuk tempat Upacara Papar Gigi bagi keluarga raja. Pada masa pemerintahan raja ke dua dan seterusnya, Bale Kambang menjadi tempat peristirahatan raja. Setelah Belanda menduduki kerajaan Klungkung fungsi dari bale Kambang tidaklah berubah, hanya saja hanya sedikit berkurang dari aspek pelaksanaan.

Sedangkan Gapura Pamedal pada awalnya berfungsi sebagai penopang mekanisme kekuasaan pemegang tahta (Dewa Agung) di Klungkung selama lebih dari 200 tahun (1686-1908). Akan tetapi setelah Istana Smarapura yang berada dibelakangnya telah hancur oleh Belanda, gerbang ini tidak lagi sebagai Gerbang utama dari Kerajaan Klungkung. Kemudian sekarang selain menjadi tempat wisata Gerbang Agung Pamedal ini menjadi Sekarang menjadi bangunan suci bagi umat Hindu di Bali.

Gapura Kori Agung adalah bangunan yang membatasi area Taman Kertha Gosa dengan bagian puri selanjutnya di sebelah dalam yang sekarang tak tersisa lagi. Secara tidak langsung fungsi awal dari Gapura Kori Agung ini hanyalah pembatas antara Taman Kertha Gosa dengan bagian putri. Akan tetapi setelah terjadinya perang Puputan dengan Belanda, yang telah menghancurkan sebagian besar Istana, membuat Gapura Kori Agung beralih fungsi sebagai Gerbang utama bagi Istana baru bagi keluarga dan keturunan Raja Klungkung yang masih hidup, yang dibangun setelah perang Puputan.

Upaya Pelestarian

Dalam upaya pelestarian sisa-sisa bangunan peninggalan kerajaan Klungkung kesadaran masyarakat merupakan hal terpenting dan paling mendasar untuk tetap menjaga warisan leluhur ini. Selain itu peran pemerintah dalam ikut serta dalam upaya pelestarian juga terlihat dari berbagai kebijakan yang selama ini dilakukan.

Kesadaran masyarakat dibangun dengan memberikan pemahaman dan edukasi tentang bagaimana menghargai warisan leluhur sebagai bentuk apresiasi dan bentuk perwujudan bangga akan kejayaan masa lalu Kerajaan Klungkung serta menjadi semangat atas perjuangan heroik para pendahulu mereka. Sedangkan pemerintah telah melakukan berbagai pemugaran terhadap bangunan yang ada. Selain itu, pemerintah juga membangun Monumen Puputan serta Museum Semarajaya di area wisata bersebelahan dengan Taman Kertha Gosa, yang semula digunakan sebagai sekolah MULO pada masa kependudukan Belanda.

Bagas Yusuf Kausan – Eko Santoso – Asep Syaeful Bachri

Versi Lengkap klik link dibawah

PURI AGUNG KLUNGKUNG : JEJAK SEJARAH DAN DINAMIKA PERGESERAN FUNGSI TAHUN 1908-2016

https://www.scribd.com/embeds/315578429/content?start_page=1&view_mode=scroll&show_recommendations=true

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.