Rambut Gondrong Di Semarang Awal Tahun 1970-an (Bagian 1)

Spread the love

Oleh Taufik Silvan Wijanarko

Sejarah awal pemerintahan Suharto dengan budaya politiknya, banyak menarik minat sejarawan dan pengamat politik Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya buku, artikel, jurnal, yang menuliskan seputar pemerintahan Suharto. Beberapa peristiwa terjadi pada masa itu. Akhir tahun 1960-an, Sukarno dilengserkan paksa dan Suharto naik ke tampuk kekuasaan dengan mengklaim dan menamakan dirinya sebagai “Orde Baru” (Wardaya, 2006:20). Partai Komunis Indonesia (PKI) dibubarkan dan dilarang. Ribuan bahkan jutaan orang dibunuh karena dianggap sebagai simpatisan PKI. Konfrontasi dengan Malaysia yang selama masa pemerintahan Sukarno masif terjadi, namun pada masa pemerintahan Suharto berakhir. Investasi modal asing mengalir deras dan masih banyak lagi peristiwa yang terjadi masa Orde Baru.

Dari beberapa peristiwa di atas, terdapat salah satu peristiwa pada masa Orde Baru yang cukup menarik dan menjadi kontroversial, yaitu pelarangan rambut gondrong. Bermula dari ungkapan Pangkopkamtib, Jenderal Sumitro, di TVRI yang mengatakan bahwa rambut gondrong membuat pemuda menjadi onverschillig alias acuh tak acuh (“Semula Kita Senang dengan Situasi Akhir-Akhir Ini”, dalam Kompas 2 Oktober 1973:1). Pernyataan tersebut menarik sekaligus menggelikan. Seorang pejabat tinggi, disiarkan dalam skala nasional, membahas persoalan rambut. Wacana tersebut seakan menjadi gong atau tanda bahwa kebijakan pelarangan rambut gondrong telah disahkan. Aparat negara mulai melakukan razia di jalan terhadap pemuda berambut gondrong. Bahkan, seperti terjadi di beberapa tempat, operasinya melibatkan anggota pasukan teritorial. Senjata yang mereka gunakan bukan lagi senjata laras panjang, seperti AK-47 atau M-16, melainkan gunting rambut (Yudhistira, 2010:vii). Begitu menggelikan jika dibayangkan. Tentara yang begitu garang menyusuri jalan-jalan mencari orang berambut gondrong dengan membawa gunting rambut. Aksi razia rambut gondrong masif terjadi hingga beberapa tahun.

Tidak hanya persoalan komunis yang ditakuti oleh pemerintahan Orde Baru. Persoalan rambut gondrong pun dirasa perlu penanganan yang serius bagi pemerintah. TVRI sebagai salah satu stasiun televisi milik pemerintah, secara langsung maupun tidak langsung, terlibat dalam aksi pelarangan rambut gondrong. Sebagai contoh, artis dan seniman berambut gondrong dilarang tampil di stasiun TVRI. Bahkan pemain sepakbola dilarang bermain jika kedapatan berambut gondrong (Agustina, 2014:33). Di Sumatera Utara, Gubernur Marah Halim sampai membentuk Badan Koordinasi Pelarangan Rambut Gondrong atau Bakoperagon (“Pemberantasan Rambut Gondrong Di Sumatera Utara” dalam Kompas 24 September 1973:3). Begitu menakutkannya rambut gondrong bagi pemerintah. Koran-koran dan majalah turut berperan dalam kampanye anti-rambut gondrong (Hill, 2011:1). Berita mengenai rambut gondrong selalu dikonotasikan negatif, seperti pemerkosaan, penjambretan, maling, pembunuhan dan lain-lain. Selain itu ilustrasi kartun yang ada di koran dan majalah juga menggambarkan demikian. Namun terdapat beberapa majalah dan koran yang memprotes kebijakan operasi rambut gondrong. Permasalahan yang terlihat sepele ternyata dianggap begitu serius bagi pemerintah. Selain itu, perdebatan mengenai rambut gondrong juga mewarnai koran-koran dan majalah.

Gaya Hidup Anak Muda Sebelum Tahun 1970

Satu pengertian, pemuda ditentukan oleh masyarakat tradisional sebagai tahap tersendiri dalam busur kehidupan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Tetapi dalam pengertian yang lain, maka arti pemuda melebihi busur kehidupan itu, dan dengan corak kebudayaannya yang otonom, ia membedakan dirinya dari masyarakat tradisional melalui penentangan yang sistematis (Anderson, 1988:2). Secara historis, pemuda Indonesia memiliki peran dalam perubahan sosial. Peran yang dimiliki pemuda dalam setiap kurun waktu berbeda, sesuai dengan semangat zaman. Dalam setiap kurun waktu, akan lahir suatu kelompok baru yang memiliki sikap hidup sendiri yang bisa jadi sesuai atau malah bertentangan dengan tatasosial yang sedang berlaku. Sikap hidup itu merupakan wujud adanya suatu bentuk kesadaran akan peran serta identitasnya dalam sejarah (Abdullah, 1994:5). Posisi sosial dan proses sejarah membuat mereka memiliki cara berpikir dan bertindak yang khas. Kesadaran akan peran serta identitas dalam proses sejarah yang turut membentuk bingkai penglihatan mereka terhadap lingkungan di sekitarnya.

Pada tahun 1960 di Amerika dan Eropa berkembang suatu budaya yang berasal dari kalangan anak muda yang dikenal dengan youth counter-culture. Salah satu kelompok yang melakukan budaya tanding (counter-culture) adalah hippies. Hippies pada dasarnya merupakan sebuah gagasan mengenai suatu cara pandang tentang kehidupan yang berbeda dengan budaya dominan yang berlaku saat itu. Penganut hippies tidak memiliki kartu keanggotaan dan tidak dibatasi umur maupun batas negara (Yudhistira, 2010: 39). Budaya hippies dimulai di Amerika Serikat pada tahun 1960-an, ketika perang antara Amerika Serikat dengan Vietnam yang panjang dan banyak memakan korban.

Menurut para hippies, masyarakat dan pemerintah saat itu sudah melupakan alam tempat mereka tinggal, dibutakan oleh ambisi untuk berperang, berkuasa, dan menguasai manusia lain. Maka dari itu, para penganut hippies mencoba untuk melakukan gerakan budaya tanding. Mereka menyebarkan pemikiran yang menolak peperangan, mendukung perdamaian, dan menjunjung tinggi kebebasan setiap manusia. Dengan slogan “make love, not war” mereka turun ke jalan-jalan menentang Perang Vietnam. Penganut hippies menyebut diri mereka sebagai generasi bunga (flower generation). Bunga menjadi simbol bagi kaum hippies. Bagi mereka, bunga itu indah yang merupakan bagian dari alam. Selain itu, bunga melambangkan kedamaian dan tidak akan membuat orang lain terluka (Yasa, 1997:69-70). Kaum hippies identik dengan rambut gondrong, memakai pakaian longgar aneka warna (psikedelik), mengenakan manik-manik. Mereka menganggap bahwa penampilan tersebut sebagai simbol kedekatannya dengan alam.

Selain dari gaya hidup yang bohemian, mereka juga melakukan kritik melalui musik. Musik yang dimaksud adalah jenis musik rock n’ roll. Jenis musik tersebut merupakan representasi dari gejala sosial adanya industrialisasi. Industrialisasi melahirkan generasi muda yang menghabiskan waktu dengan uang, seperti: membeli pakaian di pusat perbelanjaan dan makan di restoran cepat saji (fast food). Akibat dari gejala sosial tersebut timbul pemberontakan anak muda yang disalurkan melalui musik (Widiatiaga, 2018:18). Di Amerika Serikat sendiri, musik tersebut mendapat sorotan keras dari para “pengawal budaya” karena dianggap mengancam nilai-nilai budaya dominan.

Pada tahun 1960-an, Indonesia sedang giat-giatnya membangun suatu identitas nasional. Saat itu adalah masa Indonesia sedang membangun suatu tatanan pemerintah. Wajar, bila pada masa ini oleh para pengamat digolongkan sebagai masa-masa untuk melihat ke dalam (inward looking) (Booth dan McCawley, 1982:15). Jargon yang selalu dibawa oleh Sukarno adalah berdiri di kaki sendiri (Berdikari) dalam hal ekonomi maupun budaya. Namun, pada masa ini, budaya Barat mampu masuk di Indonesia. Derasnya arus budaya Barat masuk di Indonesia melalui beberapa media antara lain: radio, piringan hitam, dan majalah.

Siaran radio yang sering menyiarkan lagu-lagu Barat adalah Radio Angkatan Udara milik AURI. Siaran radio luar negeri yang menyiarkan lagu-lagu Barat adalah ABC Australia, Hilversum Belanda dan Voice of America (VOA) (Sakrie, 2015:18). Sedangkan Radio Republik Indonesia (RRI) lebih banyak menyiarkan musik Indonesia. Majalah juga turut menyumbang gencarnya arus budaya Barat di Indonesia seperti majalah Varia, Selecta, Musika dan di penghujung tahun 60-an yaitu Aktuil. Majalah memiliki peran dalam menyebarkan profil musisi, gaya hidup musisi, gaya berpakaian, serta aksi panggung (Sasongko dan Katjasungkana, 1991:49). Dampak dari saluran musik melalui radio dan majalah menyebabkan musisi-musisi Indonesia mengadopsi gaya hidup budaya Barat.

Pengadopsian tersebut meliputi: jenis musik, pakaian dan model rambut. Mewabahnya budaya Barat yang memberi pengaruh terhadap gaya hidup anak muda membuat Sukarno geram. Pemerintah mengeluarkan kebijakan anti neo-kolonialisme dan imperialisme (Sakrie, 2015:19). Kebijakan tersebut dikeluarkan dalam rangka menyelesaikan revolusi Indonesia untuk mencapai sosialisme Indonesia. Musik Barat dianggap sebagai imperialisme budaya yang mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara serta tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Sampai pada masa menjelang Gerakan 30 September (G30S), panggung hiburan populer didominasi pertunjukkan yang diorganisir oleh pemerintah maupun organisasi rakyat. Lagu-lagu yang lazim dimainkan adalah lagu nasional, lagu daerah, maupun lagu propaganda politik. Segera setelah peristiwa G30S, keadaan mulai berubah. Angkatan Darat melalui Badan Koordinator Seni (BKS) Kostrad mengadakan serangkaian pertunjukkan musik rock. Penyanyi terkenal saat itu seperti Lilis Suryani, Ony Suryono, dan lainnya menjadi pendukung BKS Kostrad. Tentu, Angkatan Darat sendiri memiliki maksud dan tujuan dalam mengadakan pertunjukkan tersebut.

Pertama, keluar untuk menunjukkan kekuatan (show of force) terhadap kekuatan politik lawan mereka. Kedua, untuk menarik hati rakyat serta menunjukkan kesan bahwa Indonesia tidak anti kebudayaan Barat (Sasongko dan Katjasungkana, 1991:51). Maksud dan tujuan tersebut dapat dikatakan berhasil karena banyak anak muda yang merasa bahwa pada masa Orde Lama, mereka tidak merasakan kebebasan (Sakrie, 2002: 38). Pada akhir 1960-an sampai dengan awal 1970-an, sebagai masa-masa penuh dengan kebebasan berekspresi (Jones, 2015:146). Dominannya jenis musik rock, menimbulkan pengaruh terhadap kelompok musik yang baru berdiri. Misalnya, kelompok musik Dara Puspita, kelompok dari Surabaya yang mulanya bernama Irama Puspita. Mereka memulai dengan lagu-lagu yang tengah populer saat itu, yang didominasi oleh lagu-lagu The Beatles. Selain dari jenis musik, gaya hidup juga mempengaruhi kelompok-kelompok musik Indonesia. Kota Semarang dekade 1970-an merupakan masa hingar-bingarnya musik rock di Jawa Tengah. Memasuki dekade 1970-an, musik di Semarang dilanda tren musik rock ala Deep Purple, Led Zeppelin, dan lain sebagainya. Kelompok musik tersebut juga memiliki ciri khas berambut gondrong dan termasuk jenis musik yang keras. Hal ini sedikit berbeda dengan jenis musik rock yang dibawakan oleh The Beatles.

Terdapat tiga nama kelompok musik dari Semarang yang cukup disegani keberadaannya, yaitu Mama Clan’s, Dragon, dan Fanny’s. Namun dari ketiga kelompok tersebut, Mama Clan’s yang kepopulerannya jauh lebih tinggi dari kedua kelompok lainnya. Mama Clan’s tidak hanya berkiprah di kota asalnya, tetapi juga mampu menaklukkan penonton di Kota Bandung yang dikenal sebagai gudangnya grup-grup musik rock awal 1970-an (Yovi, 2015:59). Tidak sebatas itu, Mama Clan’s bahkan juga mampu menawan hati publik Jakarta dengan manggung di Taman Ria Monas pada tanggal 20 Oktober 1973. Munculnya kelompok musik rock di Semarang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi gaya hidup anak muda Semarang. Gaya hidup hippies menjadi tren anak muda pada saat itu. Namun mereka hanya sebatas meniru penampilannya saja tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalamnya. (Sakrie, 2002:38)

Editor: Bagas Yusuf Kausan

Gambar Ilustrasi: Berdikari Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.