RAPAT

Spread the love

Seorang laki-laki paruh baya bersarung dan berkaus singlet sedang duduk di teras rumah. Dialah Sugiman, ketua RT 3. Orang-orang memanggilnya Pak Erte. Ia sudah lama menjabat. Lama sekali. Saking lamanya sampai-sampai sebagian besar orang tidak tahu nama asli laki-laki tua itu. 

Pernah suatu kali seorang tukang pos mencari alamat rumah Sugiman. Ketika sampai, tukang pos mendapati rumah sepi. Ia mengucap salam berkali-kali namun tidak ada jawaban. Tukang pos mulai ragu, benarkah itu alamat yang ia tuju? Kebingungan mulai menyerangnya. Di sisi lain ia juga dikejar waktu. Akhirnya tukang pos memutuskan pergi dan kembali mencari alamat Sugiman. Ia bertanya kepada setiap orang di jalan. Aneh, tidak ada yang tahu.

Putus asa mulai menggerayangi hati dan pikiran tukang pos. Seorang pedagang cilok sedang mendorong gerobak ketika mendapati tukang pos sedang beristirahat di tepi jalan. “Sedang apa, Mas?” tanya si tukang cilok. “Sedang mencari alamat rumah bapak Sugiman,” tukang pos menjawab sambil menyeka keringat yang membasahi kening. “Oh, alamat Pak Erte” ,ujar Si pedagang cilok. Ia lalu menjelaskan letak dan ciri-ciri alamat Sugiman alias Pak Erte. Ternyata benar, ciri-ciri rumah yang tukang cilok itu jelaskan sama persis dengan rumah yang sudah tukang pos datangi beberapa jam lalu. “Kakeane!” umpat tukang pos penuh kekesalan.   

Sugiman alias Pak Erte sangat bangga menjabat sebagai ketua RT. Ia merasa Tuhan-lah yang memberi amanat itu. Saking bangganya ia dengan mandat itu, sampai-sampai ia menjuluki diri “Khalifatullah Sayidin Panatagama Ing Tlatah Tiga”, julukan yang terinspirasi dari gelar Sultan Agung, Raja Mataram Islam. Tidak sampai di situ, Pak Erte juga mewajibkan setiap undangan dari warga RT 3 yang ditujukan kepadanya musti tertulis gelar tersebut. Maka tertulislah: Pak Erte Khalifatullah Sayidin Panatagama Ing Tlatah Tiga.

Dalam menjalankan tugas, Pak Erte tidak sendiri. ia dibantu Paijo, seorang pemuda bertubuh kurus, berkulit gelap, dan berambut ikal yang ia angkat sebagai staf khusus. Paijo tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Dahulu ia hanyalah kuli panggul di pasar. Pak Erte sangat memercayai pemuda itu. Batman punya Robin, Pak Erte punya Paijo. Begitulah. Maka boleh dibilang Paijo adalah tangan kanan Khalifatullah Sayidin Pranatagama Ing Tlatah Tiga alias Pak Erte alias Sugiman. 

Tugas Paijo sederhana: melakukan apapun yang diperintahkan Pak Erte. Apapun. Misal membagi undangan rapat, membersihkan rumah, memandikan burung, dan lain sebagainya. 

***

Suatu hari Paijo sedang memandikan burung Murai kesayangan Pak Erte ketika seorang laki-laki bersarung dan berbaju koko datang menghampirinya.

“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.”

“Waalaimu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh. Maaf,  Pak, ada keperluan apa ya?” tanya Paijo.

“Perkenalkan, saya Tono, warga baru RT 3. Saya menghuni rumah almarhum bapak saya, rumah nomor 27.”

 Paijo bingung dan tiba-tiba hening menyelimuti halaman rumah.

“Sebentar, Pak, saya lapor Pak Erte terlebih dahulu. Bapak tunggu di sini sebentar.” Paijo masuk ke rumah, meninggalkan Tono yang tak sempat dipersilakan duduk.

Beberapa menit kemudian Paijo keluar sambil membawa secarik kertas.

“Begini, Pak Tono. Pak Erte sedang sibuk, jadi hari ini beliau tidak bisa menyambut kedatangan Bapak. Saya akan membacakan surat dari Pak Erte yang ditujukan untuk Bapak.”

Kemudian Paijo membuka secarik kertas itu dan mulai bersuara, mirip kicau burung Murai yang baru ia mandikan. “Selamat datang, Pak Tono. Semoga Bapak nyaman tinggal di sini. Saya harap Bapak menjaga ketertiban dan tidak melakukan sesuatu yang mengundang curiga. RT 3 adalah RT yang religius, menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945. Sekian, terima kasih.”

Tono mematung. Bingung dan heran. Niatnya bersilaturahmi ke Pak Erte, sebab itu pesan almarhum bapaknya dulu sebelum meninggal. Namun isi surat itu membuyarkan niat baiknya.

“Terima kasih, Mas. Tolong sampaikan ucapan terima kasih ke Pak Erte,” ucap Tono dengan nada agak kecewa. 

 “Baik, akan saya sampaikan. Terima kasih.”

Tono kemudian undur diri. Sementara Paijo masih berdiri di depan rumah Pak Erte seperti seorang Queens Guard yang setia menjaga gerbang istana Kerajaan Inggris.

Tono menghilang bagai ditelan bumi. Beberapa saat kemudian Pak Erte keluar. Rupanya ia baru selesai mandi. Rambutnya masih basah. Beberapa kancing bajunya juga belum terkait. 

“Di mana warga baru itu, Jo?” 

“Baru saja pergi, Pak.”

“Siapa nama dia?”

“Tono, Pak. Anak almarhum Mbah Darjan.”

“Oh. Sudah kau sampaikan sambutanku?”

“Sudah, Pak.”

“Bagus,” ucap Pak Erte sambil memosisikan kedua tangannya ke belakang badan.

*** 

Menjelang 17 Agustus pemerintah desa mengadakan lomba kebersihan dan kecantikan lingkungan. Peserta lomba adalah semua RT se-desa. Pak Erte sebagai mandataris warga RT 3 menyambut positif kegiatan tersebut. Untuk menindaklanjuti pengumuman itu ia segera mengadakan rapat. 

 “Jo, segera buat undangan rapat. Kita harus mempersiapkan diri,” titah Pak Erte sambil memberi Paijo sejumlah uang.

Dengan penuh kepatuhan bak seorang prajurit, Paijo segera melaksanakan perintah itu. Ia segera datangi tempat fotokopi yang lokasinya cukup jauh dari rumah Pak Erte. Lima belas menit kemudian undangan sudah jadi dan siap dibagikan. Paijo sangat gesit, belum sampai satu jam semua undangan sudah tersampaikan.

Rapat selalu digelar di rumah Pak Erte. “Presiden punya istana negara, gubernur punya kantor gubernur, bupati punya kantor bupati, camat, lurah semua punya kantor. Tapi RT, punya apa? Tidak ada! Untuk itulah, dengan kebesaran hati yang tak terkira, aku jadikan rumahku sebagai rumah dinas RT,” ucap Pak Erte kepada Paijo ketika suatu kali pemuda itu bertanya mengapa rapat selalu diadakan di tempat yang sama.

Malam datang. Cahaya matahari diganti dengan cahaya bulan yang sinarnya merangkak memasuki jendela-jendela rumah warga. Pukul 18.30 warga mulai datang ke rumah Pak Erte. 

Rencana rapat akan dimulai pukul 19:00. Namun hingga pukul 19:34 masih banyak warga yang belum datang. Gelisah dan marah segera menyandera pikiran Pak Erte.

“Beginilah budaya bangsa kita, tidak menghargai waktu!” ujar Pak Erte dengan penuh kekesalan. Entah ditujukan kepada siapa. Semua yang sudah hadir mendengar ucapan itu. Namun mereka tak berani berucap, apalagi membantah.

Pukul 20:13 semua yang diundang sudah datang. Rapat dilaksanakan secara sederhana. Para hadirin duduk melingkar di ruang tamu. Tanpa makanan, tanpa minuman. Sudah menjadi rahasia umum Pak Erte tidak pernah menyuguh jajanan atau makanan saat rapat. Tidak ada yang tahu apa alasan di balik semua itu.

Pak Erte memulai.

“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.”

“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh,” jawab hadirin serentak. Seperti paduan suara.

“Bapak-bapak yang saya hormati, Alhamdulillah segala puji bagi Allah, hari ini kita bisa berkumpul di kantor RT 3 ini dalam keadaan sehat tanpa halangan apapun. Ya, walau banyak yang datang terlambat.” Warga yang datang terlambat tersindir. Pak Erte memang sering menyindir warga di forum rapat.

“Hadirin sekalian, tujuan saya mengumpulkan hadirin di sini adalah menyampaikan amanat dari desa sekaligus mengajak bermusyawarah. Desa mengadakan lomba kebersihan dan kecantikan RT. Hadiahnya lumayan, lima belas juta rupiah.” Hadirin mulai berbisik-bisik. Pak Erte makin antusias.

“Sebagai bentuk partisipasi, RT 3 akan mengikuti lomba tersebut dengan penuh persiapan. Tujuan kita adalah memeriahkan. Hadiah kita pikir belakangan. Nah, selain untuk memeriahkan lomba, saya Khalifatullah Sayidin Panatagama Ing Tlatah Tiga juga berencana menjadikan lomba ini sebagai batu pijakan untuk menjadikan RT 3 sebagai daerah wisata unggul.” Bisik-bisik hadirin semakin kencang seperti suara lalat yang mengerubungi makanan.

 “Setelah merenung dan berpikir saya memutuskan: Satu, memerintahkan semua warga RT 3 untuk membersihkan rumah dan lingkungan secara serentak pada besok mulai pukul tujuh pagi sampai selesai. Dua, memerintahkan semua warga RT 3 untuk mengecat rumah dengan warna hijau. Mengapa hijau?” Pak Erte mengajukan pertanyaan ke hadirin. Tak Ada yang menjawab. Ia kemudian menjelaskan makna dan filosofi warna hijau yang tidak dimengerti oleh sebagian besar orang-orang yang hadir rapat.

“Nah, selambat-lambatnya pukul lima sore semua rumah di RT 3 sudah harus bersih dan bercat hijau. Begitu ya bapak-bapak. Ada pertanyaan?” Mata Pak Erte menyisir, memandang tajam-tajam setiap mata orang yang ada di ruangan itu.

Pertanyaan tidak muncul, yang ada hanya keheningan. “Baiklah, jika demikian maka….”

“Izin bertanya, Pak.” Tiba-tiba Tono memotong ucapan Pak Erte yang hendak menutup rapat. “Mengapa kami harus mengecat rumah? Warna hijau pula. Apakah membersihkan lingkungan saja belum cukup?” Perasaan takut segera menjangkiti orang-orang yang hadir. Seorang pria paruh baya dengan gigi yang hampir nihil menggigil. Seorang pemuda berbadan tegap bermandikan keringat. Yang lain menampakkan rasa takut dengan cara masing-masing.  Mereka takut Pak Erte marah. Suasana tegang. Harap-harap cemas hadirin menunggu jawaban Pak Erte atas pertanyaan yang diajukan Tono.

“Ah, terima kasih, Pak Tono,” jawab Pak Erte dengan senyum yang dipaksakan. “Perintah mengecat rumah saya keluarkan bukan tanpa alasan. Ada beberapa manfaat yang kita peroleh apabila seluruh rumah di RT 3 berwarna sama. Pertama, kemungkinan menang lomba lebih besar. Kedua, menunjukkan persatuan dan kesatuan. Bukankah itu merupakan perwujudan sila ketiga Pancasila?” 

Merasa belum puas, Tono kembali menyodorkan pertanyaan.

“Apakah mengecat rumah adalah wujud persatuan dan kesatuan, Pak?”

Kekhawatiran hadirin mulai memuncak. Sikap dan pertanyaan Tono sangat memojokkan Pak Erte! 

“Aku sudah menjabat ketua RT selama belasan tahun. Kau meragukan wawasanku? Hei!” Suara tinggi dan keras itu keluar dari mulut Pak Erte. Menyebar ke setiap sudut ruang rapat.

“Tapi, Pak….”

“Cukup! Warga baru seharusnya menurut saja!” Pak Erte ngos-ngosan. Nafasnya tersengal-sengal. Ia marah, kaget, dan tak menyangka ada orang di dunia ini yang berani menentangnya. Pak Erte diam sejenak untuk mengatur nafas. 

“Bagaimana hadirin? Apakah semua sepakat?” ucap Pak Erte setelah kembali mendapatkan ketenangan. Hadirin diam, tidak ada yang berani menjawab. “Baiklah, maka dengan demikian rapat ini disepakati. Sekian, terima Kasih. Wassalamualaikum warrahmatullah wabarakattuh.” Pak Erte menutup rapat, Satu per satu hadirin pulang.

Sepi menyelimuti rumah Pak Erte. Kini hanya ada Pak Erte dan Paijo yang berdiri di teras rumah ditemani keheningan malam.

“Jo, tugasmu besok adalah memastikan rumah Tono sudah bercat hijau pada pukul lima sore,” ucap Pak Erte.

“Siap, Pak!”

“Kau tadi lihat, kan? Tono memberontak.”

Paijo mengangguk, walau sebenarnya ia bingung: mengapa bertanya di rapat RT dianggap memberontak?

Semarang, 21 September 2020


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.