REALITA DAN YANG DIBAYANGKAN

Spread the love

Salam, perkenalkan namaku Sulistyo. Aku adalah sarjana muda dari salah satu universitas negeri yang ada di kota Semarang. Nilai akademik ku yang tidak begitu buruk mengakibatkan mendapat gelar cum laude. Bagiku, itu adalah sebuah beban. Mengapa? Karena setelah orang tuaku mengetahui bahwa aku lulus dengan predikat itu, seluruh keluarga, saudara dan tetangga ku pun akhirnya mengetahuinya. Mereka mengira bahwa aku adalah anak yang pintar, aktif dalam dunia akademik, dan menjadi anak yang membanggakan bagi keluarga. Memang terkadang realita tak sesuai dengan apa yang dibayangkan. Aku merasa tidak seperti yang dibayangkan oleh mereka. Cukup dengan mengumpulkan tugas yang diberikan dosen tepat waktu, absen tidak pernah melebihi batas yang telah ditentukan dan mengikuti seluruh ujian membuat nilaiku tak pernah jelek. Itulah yang kutahu di sistem perkuliahanku. Sangat mudah bukan untuk mendapat nilai bagus?

Terkadang aku kecewa, ternyata dunia perkuliahan tak seperti yang aku bayangkan. Sekali lagi, realita tak sesuai dengan apa yang dibayangkan. Dulu aku mengira bahwa kuliah akan memberikan banyak pengetahuan yang lebih mendalam, memberiku koneksi untuk pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikanku. Tapi yang terjadi tak seperti yang kubayangkan. Disisi lain, aku bersyukur karena kuliah, aku bertemu dengan banyak kawan yang membantu untuk mendalami pengetahuanku. Hingga akhirnya aku berpikir bahwa kuliah hanya semata untuk memperluas pertemanan atau mungkin membangun jaringan pertemanan secara mandiri lebih tepatnya dan karena kuliah juga aku memiliki teman dekat perempuan hahaha.

Sewaktu kuliah beberapa kawan kelasku ingin membentuk sebuah ruang yang rencananya akan diisi dengan kegiatan diskusi dan output-nya berupa tulisan. Materi yang didiskusikan tidak jauh dari latar belakang pendidikan kami. Mendengar hal itu, aku ingin sekali masuk dan menjadi bagian dari ruang itu. Karena aku merasa sangat bodoh saat di kelas. Awalnya, aku mengira bahwa dengan mendengar materi yang disampaikan dosen itu sudah cukup buatku. Namun seperti yang aku bilang di atas bahwa realita tak sesuai dengan apa yang dibayangkan. Aku sama sekali tak memahami apa yang disampaikan oleh dosen. Beberapa dosen lebih banyak memberi materi bercanda ketimbang materi perkuliahan. Alhasil, yang aku ingat adalah candaannya. Entah, mungkin itu metode dalam mengajar agar tidak membosankan atau karena memang otakku ini yang sedikit bermasalah.

Ada salah satu kejadian menarik dan lucu. Pada saat semester dua, setelah selesai jam perkuliahan, aku melihat beberapa kawanku membicarakan dan sesekali memaki Soeharto. Aku yang tak tahu apa-apa hanya diam, senyum melihat mimik wajah mereka ketika memaki tanpa mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Karena aku penasaran, kucari buku di perpustakaan dan mulai membaca buku tentang Soeharto yang berjudul Soeharto Sehat? pada keesokan harinya. Dari membaca buku itu, aku mulai paham mengapa mereka memaki Soeharto. Barangkali, kalian juga mengetahuinya bahwa Soehartolah orang yang membuka keran investasi bagi perusahaan asing secara masif. Ia juga orang yang secara tidak langsung membunuh jutaan rakyat dan berprestasi dalam melanggar hak asasi manusia lain. Dan akhirnya, aku pun ikut memakinya, wkwk. Seiring waktu berjalan, ruang belajar yang direncanakan beberapa kawanku itu terbentuk dan aku masuk menjadi bagian dari wadah tersebut.

Ruang tersebut diberi nama Kalamkopi. Di bayangan beberapa orang, nama Kalamkopi adalah kedai yang menjual kopi. Tak sedikit yang menanyakan lokasi tempat kami dan bertanya: jual kopi apa saja? Tak jarang pula, kami menjelaskan mengenai apa itu Kalamkopi dengan segala kegiatannya. Barangkali, ada yang belum tahu tentang Kalamkopi, langsung saja buka di situs kalamkopi.id.

Dengan adanya ruang itu, aku merasa mendapat banyak hal yang tak aku dapatkan di bangku perkuliahan. Hal yang aku dapat dari ruang itu adalah 1) belajar bicara di depan banyak orang. Kegiatan diskusi pertama kali Kalamkopi diselenggarakan di kontrakan kawan perempuan sekelasku. Buku yang kami diskusikan waktu itu adalah buku Peran Intelektual karya Edward Said. Buku itu adalah buku terjemahan. Metode diskusi kami adalah dengan membedah per bab. Satu orang satu bab. Dan orang yang telah mendapat bab-nya masing-masing mempresentasikan hasil bacaan pada diskusi mingguan tersebut. Aku mendapat bab empat. Tibalah pada hari untuk aku mempresentasikan hasil bacaanku. Aku yang tak memiliki pengalaman bicara di depan orang banyak membuatku seperti burung yang basah kuyup. Bicaraku gagap, keringat dingin mulai keluar dan menetes, serta telapak tangan dingin. Melihat aku yang mulai nggak keruan, kawanku meminta untuk berhenti dan mendiskusikannya bersama-sama. Pada saat itu, aku malu karena tak dapat menyelesaikan presentasi hasil bacaanku. Dan yang lebih membuatku malu adalah aku gagap di hadapan temanku sendiri, tak ada dosen. Payahlah aku di situ.

Selain belajar bicara di depan orang banyak, 2) aku juga belajar menulis. Aku mencoba menulis tentang filosofi jawa Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Dari tulisan itu aku mendapat banyak masukan, mulai dari antara paragraf satu ke paragraf berikutnya yang tidak nyambung, arah tulisannya mau ke mana, sampai penggunaan kata di-disambung atau di-dipisah. Sampai detik ini, aku pun masih belajar.

Kemudian, 3) aku juga belajar membaca. Ada kejadian menarik soal belajar membaca ini. Dulu tiap kami pulang kuliah, sasaran untuk istirahat atau main adalah di tempat kos kawanku. Seperti biasa, kami kumpul di sana, bercanda, main gitar, menonton tv atau numpang tidur. Tapi suatu hari, ketika kami main ke sana, kawanku yang punya kos malah asik membaca buku. Hal itu yang membuatku aneh. Niat mau main dan bercanda, eh, yang punya kos malah asik sendiri. Karena suasananya nggak pas dan dengan terpaksa, aku mencoba baca buku seperti yang ia lakukan. Buku yang dibaca saat itu adalah buku Sejarah Manchester United, ha-ha-ha-ha. Karena aku penggemar United, aku memutuskan membaca buku itu. Dua halaman aku membaca buku itu, aku mulai ngantuk dan tertidur. Keesokannya, aku mencoba untuk melanjutkan buku bacaan itu, dapat tiga-empat halaman ngantuk menyerangku lagi. Ya, begitulah awal perkenalanku dengan buku. Masih banyak kekonyolan pengalaman belajarku di ruang itu yang jadi panjang jika aku ceritakan lewat tulisan ini.

Regenerasi dalam Kalamkopi terjadi, kami sadar bahwa kami tak selamanya akan berada di Semarang. Ada waktu yang akan membuat kami berpisah untuk bertualang di hidup masing-masing. Namun, bukan berarti kami abai dan lepas begitu saja walaupun angkatan kami sudah tak berada di Semarang. Kami terus berupaya untuk mengisi tulisan-tulisan di website, terus menjadikan wadah tersebut sebagai ruang aktualisasi diri. Untuk memperpanjang umur, Kalamkopi berupaya regenerasi. Syarat untuk menjadi bagian dari Kalamkopi ini nggak muluk-muluk seperti syarat melamar kerja di perusahaan. Memiliki keinginan dan semangat untuk belajar merupakan syarat utamanya.

Akhirnya, setelah lulus kuliah, aku kembali pulang dan dihadapkan pada beban untuk segera mendapat kerja. Kerja yang dimaksud adalah kerja kantoran. Beban itu datang dari kedua orang tuaku, aku sempat berpikir bahwa orang tua itu adalah penuntut. Sejak dari dini, kita dituntut untuk bisa baca tulis, dituntut untuk masuk di sekolah unggulan, dituntut untuk mengerjakan tugas, belajar, dan kerja di kantoran. Ya, tuntutan seperti itu nampaknya sudah menjadi budaya. Entah dimulai sejak kapan. Namun, aku pun yakin kalau orang tuaku juga memiliki beban jika anaknya tidak segera mendapat kerja. Anehnya beban orang tuaku datang dari orang lain, misalnya saudara dan atau tetangga. Beban ini akhirnya menjadi beban berantai. Kalau kata kawanku yang umurnya jauh di atasku, itulah yang dinamakan kehidupan dan ucapkan: selamat datang.

Untuk memutus beban berantai itu, jalan yang terpikir di otakku adalah mencari pekerjaan. Aku coba melamar di berbagai perusahaan dan mencoba peruntungan dengan mendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Tapi untuk mendapatkan kerja tak semudah membalikkan telapak tangan. Dari sekian puluh perusahaan yang aku lamar, maksimal aku hanya dapat mencapai pada titik tahap tes psikologi. Apalagi soal CPNS, ah sudahlah tak usah dibahas lebih jauh.

Sependek yang aku tahu, perusahaan yang memungkinkanku untuk masuk ialah bank, media cetak, dan pialang, wkwk. Banyak perusahaan yang menginginkan lulusan dari jurusan ekonomi, hukum, psikologi, teknik, dan ilmu komunikasi. Jika pun ada kualifikasi yang “semua jurusan” di bawahnya terdapat embel-embel “berpengalaman minimal tiga sampai lima tahun”, ada juga yang mensyaratkan untuk berpenampilan menarik, jancuk. Ternyata, dunia setelah lulus kuliah itu keras, Lur. Dulu, sempat berpikir bahwa sekolah itu membosankan, tapi sekarang jika harus memilih, aku akan lebih memilih sekolah daripada mencari kerja ha-ha-ha. Ingin rasanya, lanjut sekolah tapi orangtua menuntutku untuk mendapat kerja terlebih dulu. Menurut mereka, setelah mendapat kerja mau sekolah lagi silahkan.

Sulitnya mendapat kerja diperparah dengan adanya virus Covid-19. Aku membaca berita bahwa tiap hari kasus positif covid semakin meroket. Selain itu, banyak perusahaan yang merumahkan karyawannya atau bahkan terjadi PHK massal. Gimana mau dapat kerja, orang yang sudah kerja aja dipecat, pikirku. Aku lihat juga di telegram grup loker Jateng, ada sesuatu yang unik. Makin hari makin banyak orang yang join di grup tersebut. Itu berarti banyak juga kawan menganggur sepertiku. Ada yang bercerita bahwa ia telah menganggur selama dua tahun, ada juga yang kesal karena merasa sia-sia empat tahun kuliah tapi nggak menjamin dapat kerja dan cerita-cerita pribadi lainnya. Membaca curhatan itu aku juga merasa demikian. Aku merasa senasib sepenanggungan haha.

Aku pernah membayangkan seandainya ada perusahaan yang merekrut karyawannya seperti regenerasi Kalamkopi. Pasti akan menjadi perusahaan yang diminati banyak lulusan baru. Syarat utamanya adalah mau belajar, semangat yang diusung belajar bersama, tidak harus memiliki pengalaman tiga sampai lima tahun, berpenampilan menarik bukanlah hal utama, dan dibuka untuk semua jurusan, wkwk. Khusus untuk yang satu ini, semoga yang dibayangkan sesuai dengan realitanya kelak, Aminnn

Kembali ke realita, sempat putus asa untuk melamar kerja, aku coba buat berjualan. Mulai dari berjualan wedang rempah, minuman boba, susu segar, dan sekarang mencoba peruntungan dengan berjualan kaos melalui media sosial. Alhasil, aku harus mulai belajar dari nol soal media sosial, desain, dan marketing. Agar masa menganggur ku ini tidak sia-sia, ada hal yang bisa aku kerjakan dan belajar. Sehingga, kedepan mungkin aku akan punya nilai dalam diriku yang bisa menjadi daya tawar. Ya begitulah kira-kira kisahku, barangkali ada yang ingin membalas dan atau berbagi cerita hidup, aku tunggu balasanmu. (ajik)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.