Reforma Agraria: Perjalanan Yang Belum Berakhir

Spread the love

Judul                : Reforma Agraria: Perjalanan Yang Belum Berakhir
Penulis            : Gunawan Wirardi
Penerbit          : Sajogyo Institute, Akatiga, Konsorium Pembaharuan Agraria (KPA)
Pengulas         : Bagas Yusuf Kausan         

 

Seperti yang telah kita ketahui bersama, ketika Orde Baru mulai menancapkan kekuasaannya, Discourse mengenai Reforma Agraria seolah hilang ditelan polemik kekuasaan yang didasari oleh stabilitas politik-keamanan dan pertumbuhan ekonomi padat modal. Entah dilingkungan akademik, kalangan intelektual, peneliti, mahasiswa, dan dilingkungan petani sendiri—isu mengenai Agraria, terlebih perihal landreform, sangat tabu untuk diangkat dan dibicarakan. Hal ini disebabkan oleh pergeseran politik agraria Orde Baru yang memunggungi semangat kedaulatan—yang pada masa sebelumnya, begitu kuat terkandung dalam substansi UUPA 1960 sebagai manifestasi kebijakan populis pro-rakyat. Selain itu, reforma agraria kerap diberi stigma sebagai produk Partai Komunis Indonesia—yang ketika itu dikambing-hitamkan dalam tragedi berdarah 1965—menjadikan isu reforma agraria sulit untuk membumi di seluruh lapisan masyarakat. Stempel PKI dalam kaitan reforma agraria, sedikit mereda manakala berlangsung konferensi mengenai “Reforma Agraria dan Pembangunan Pedesaan” yang diselenggarakan oleh FAO di Roma, pada tahun 1979. Ketika itu, segelintir praktisi dan peneliti yang menaruh minat terkait persoalan agraria dan pembangunan pedesaan—yang banyak berasal dari Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia (Sekarang menjadi Institute Pertanian Bogor)—berangkat menghadiri konferensi tersebut, dan turut berandil dalam perumusan The Peasant’s charter.  Sebagai hasil konferensi tersebut, pada tahun 1979 pemerintah membuat pernyataan yang isinya mengukuhkan kembali bahwa UUPA 1960 tetap sah sebagai panduan dasar dalam memecahkan persoalan-persoalan pertanahan, karena undang-undang tersebut telah merupakan keputusan nasional dan bukan produk PKI (Gunawan, 2000: hlm. 88).

Kemunculan kebijakan-kebijakan sektoral semacam; Undang-Undang Penanaman Modal Asing, Undang-Undang Pokok Kehutanan, Kontrak Karya Pertambangan, dan sebagainya, turut menjadi ciri khas utama politik agraria yang ditempuh Orde Baru—yang secara mendasar, justru berbanding terbalik dengan Undang-Undang Pokok Agraria 1960, yang pada masa itu masuk secara sukarela ke dalam peti. Atau dalam artian, meski UUPA 1960 tidak dihapus status hukum legal nya, namun nyatanya Undang-Undang tersebut tak pernah digunakan siung nya pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Bersamaan dengan itu, Orde Baru menjatuhkan pilihan perbaikan kondisi pangan dan pertanian, melalui mekanisme Revolusi Hijau—yang secara konteks lain, dapat dipandang pula sebagai anti-thesa dari kebijakan Reforma Agraria yang digaungkan pemerintahan sebelumnya. Dampak penerapan pola-pola kebijakan agraria Orde Baru tersebut, dapat kita jumpai dengan kenyataan maraknya konflik agraria, ketimpangan kepemilikan lahan, serta kerusakan lingkungan yang sedemikian parah pada masa itu—yang bahkan kian menajam di masa kini. Berkaca pada kenyataan demikian, maka buku Reforma Agraria: Perjalanan Yang Belum Berakhir ini masih sangat relevan untuk dibaca, diperbincangkan, dan didiskusikan hari ini. Mengapa demikian?

Ketika isu-isu agraria kian meledak dan membesar hari-hari ini, dan kerinduan akan kepemilikan lahan yang adil di tengah rezim pasar bebas semakin membuncah, juga keinginan untuk terus menggelorakan Reforma Agraria sebagai jalan penolong realita yang kian menjepit kehidupan petani—tepat disana, buku ini menemukan konteks urgensi nya. Sebenarnya, buku ini merupakan kumpulan dan hasil olahan dari tulisan-tulisan Gunawan Wirardi yang disampaikan baik dalam acara seminar, lokakarta, maupun diskusi-diskusi yang merentang sejak sekitar tahun 1984 sampai dengan tahun 2000. Gunawan Wirardi sendiri, seperti yang telah banyak kita ketahui, merupakan salah satu intelektual, akademisi, praktisi, dan peneliti yang selalu konsen dan aktif berbicara mengenai Reforma Agraria—bahkan sejak era dimana membicarakan Reforma Agraria tak lazim dilakukan. Melalui buku ini, setidaknya, Gunawan Wirardi sedang membuktikan bahwa ia tak salah ketika terus ngeyel untuk membicarakan Reforma Agraria. Sekilas, buku ini cukup lengkap menjelaskan terkait Reforma Agraria—baik dalam hal peninjauan ulang sejarah Reforma Agraria itu sendiri, ataupun tawaran bentuk Reforma Agraria macam apa yang bisa dilakukan, lengkap dengan prasyarat-prasyarat yang terlebih dahulu perlu untuk dipenuhi.

Menilik bagian daftar isi buku ini, akan terpampang enam (6) buah bab yang memiliki substansi berbeda, namun saling kait-mengait antar setiap bab nya. Pada bab pertama, Gunawan Wirardi mengajak kita untuk menengok masa lalu, terutama terkait perjalanan sejarah reforma agraria—yang dimulai dari era Yunani Kuno, hingga masa-masa pasca Perang Dunia II sampai dengan munculnya Piagam Petani pada tahun 1979. Pada bagian ini, kita akan disajikan dengan beberapa pengalaman negara-negara di dunia yang pernah mencoba untuk memperbaiki struktur pertanahan di negara-negara tersebut, lengkap dengan karakteristik nya yang beragam. Pada bab kedua, kita akan diajak untuk mengarungi perdebatan-perdebatan—yang terutama kali, terkait dengan masalah Agrarian Transformation dan Agrarian Transition baik dari kalangan marxis, kapitalis, maupun populis. Secara pribadi, bab ini menyumbang sumbangsih besar dalam pembendaharaan pengetahuan, terutama mengenai esensi Reforma Agraria—yang pada awalnya, disambut pesimis dari sisi pengimplementasiannya di kehidupan saat ini, serta urgensi penerapannya. Selain itu, bab ini cukup jernih pula memberi basis epistemologi yang berada dibaliknya. Disamping hal-hal yang telah disebutkan diatas, bab ini membuka pula tabir dan hakikat reforma agraria dalam arti yang sebenar-benarnya—yang ternyata, sangat jauh dan berbeda dari wacana reforma agraria, yang kerap dimasukan dalam program-program pemerintah. Sementara pada bab selanjutnya, Gunawan Wirardi menjelaskan pula tonggak-tonggak sejarah reforma agraria—dari perspektif pengalaman Indonesia. Disini, dengan penjelasan yang padat dan lugas, Gunawan Wirardi bercerita tentang corak keagrariaan sejak era kolonialisme Belanda beserta perkembangan dan varian nya, hingga sampai dengan corak keagrariaan era Orde Baru.

Buku ini semakin menarik, ketika kita telah sampai pada bab yang ke empat (4) terkait dengan posisi Reforma Agraria dalam wacana pembangunan, dan kontekstualisasinya di era globalisasi. Sudah umum diketahui, bahwa negeri ini sedang senang berjalan ke arah industrialisasi. Namun apa implikasi dari industrialisasi tanpa Reforma Agraria yang dipilih Indonesia—dihadapan kapitalisme global, yang tentunya, membutuhkan pula lahan dan ruang untuk terus mengakumulasi kapitalnya? Tepat disini, Gunawan Wirardi telah menyodorkan relevansi Reforma Agraria, terutama kali, mengingat makin maraknya perampasan, penyerobotan, dan penggusuran lahan-lahan pertanian produktif dan lahan-lahan masyarakat kecil, yang kerap dilakukan oleh korporasi-korporasi multinasional dan transnasional dengan  bantuan negara nya sendiri. Sejatinya, pada bab ini lah jantung dari kelebihan buku ini—yang mana, kita sebagai pembaca, dibawa untuk merefleksikan dan membenturkannya dengan kenyataan kehidupan kita saat ini. Namun, alih-alih terus dibawa untuk meratapi dan memilukan kondisi keagrariaan yang kian hancur, Gunawan Wirardi pada bagian-bagian akhir bab ini, menyodorkan pula tawaran-tawaran, model, dan langkah-langkah untuk menyelesaikan persoalan ini—tanpa melupakan inti keyakinannya nya bahwa; Reforma Agraria seharusnya menjadi pra-kondisi industrialisasi dan bahwa Reforma Agraria merupakan jalan untuk mengurai benang kusut yang sudah terlanjur terjadi. Sebagai pelengkap, Gunawan Wirardi mengajak kita untuk berpikir kreatif, inovatif dan cerdik dalam menilai, merumuskan, dan menentukan Reforma Agraria macam apa yang layak dijadikan sandaran pelaksanaannya bagi Indonesia—yang tentunya, tak bisa dengan serta-merta mengekor, membeo dan menjiplak secara serampangan model-model negara lain. Sementara pada bab ke lima (5), kita akan menjumpai penjabaran-penjabaran mengenai beberapa contoh persoalan dan dilema yang sering terjadi—baik di kalangan petani, peneliti agraria, elemen masyarakat pendukung Reforma Agraria, LSM, serta pihak-pihak terkait dalam upaya-upaya mewujudkan mimpi bersama tentang Reforma Agraria. Bahkan, dilema-dilema yang ditunjukan, tidak hanya berkonteks saat ini—namun ditarik pula beberapa dilema yang terjadi di masa lampau. Bab enam (6) yang juga merupakan bab terakhir buku ini, kita akan disuguhkan sebuah penutup dan ajakan untuk mamandang Reforma Agraria secara lebih luas—terutama untuk menyeret dan memperbesar dimensi Reforma Agraria sebagai gerakan sosial. Dalam bab penutup ini, pada akhirnya Gunawan Wirardi menegaskan pula terkait konsep Agrarian Reform by Leverage yang ia pilih, tawarkan dan yakini. Konsep ini yang dirasa memungkinkan dan cocok untuk terus dibangun dan diupayakan dalam Reforma Agraria. Secara permukaan, konsep ini menitikberatkan pada pengupayaan Reforma Agaria yang didorong dari bawah, oleh masyarakat itu sendiri. Atau, sebuah konsep Reforma Agraria yang tidak diinisiasi oleh pemerintah dan tidak sekedar didasari oleh derma seorang pemimpin negara. Secara pribadi, konsep ini memang yang paling memungkinkan saat ini. Terlebih, mengingat watak pemerintah kita yang agaknya, mustahil memiliki keberpihakan pada kebijakan terhadap Reforma Agraria yang sejati—ditengah keasyikannya hubungan intimnya dengan korporasi.

Sebagai penutup, perlu ditegaskan bahwa ulasan buku ini masih jauh dari inti keseluruhan buku Gunawan Wirardi tersebut. Maka dari itu, akan lebih menyeluruh dan mendalam pemahaman kita jika membaca sendiri buku Reforma Agraria: Perjalanan Yang Belum Berakhir ini—terutama bagi mereka yang ingin mendalami masalah agraria. Karena sekecil pemahaman pribadi, buku ini cukup baik sebagai pengantar penguatan basis pengetahuan kita terkait masalah agraria—yang hari-hari ini, kian pelik dan nyata di hadapan mata. Karena masalah agraria menyangkut hajat orang banyak, maka tidak etis jika pengetahuan mengenai agraria hanya dimiliki oleh segelintir manusia saja. Tepat disana, ulasan buku ini berdiri. Maka, anggap saja ulasan ini sebagai salah satu bentuk memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan terkait agraria—terutama dalam upaya pembumian wacana agraria, bagi seluruh lapisan masyarakat.

 Gambar: Rumah Pohon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.