Rilis Website Kalamkopi: Pembaruan (Lagi)

Spread the love

Kalamkopi.id memang belum memiliki kejelasan akan bermuara ke mana. Soal ini terekam dalam rilis peluncuran website (16/11). Dan bagi kami itu bukan perkara. Apalagi dosa. Justru dari situ kemungkinan perubahan dapat selalu tercipta. Seperti pada pertemuan offline (26/11) kemarin. Maka benar saja. Tidak lama merilis website baru, Kalamkopi.id kembali melakukan pembaruan.

Kalamkopi memiliki keterkaitan khusus dengan kedai kopi. Karena itu, bunyi rilis peluncuran (16/11) memang tepat. Kalamkopi “… lahir dari duduk-duduk-senja sembari ngopi di kedai kopi…”. Bahkan perubahan dan keputusan penting juga banyak muncul di kedai kopi. Walau banyak juga keputusan yang lahir di kontrakan, angkringan, atau di warung penyetan. Dan tentu saja, tidak semua agenda ngopi melahirkan keputusan atau perubahan. Paling banyak justru hanya sekadar ajang rasan-rasan, reunian, dan (ehem!) pacaran.

Lagi-lagi, pertemuan offline (26/11) kemarin juga berlangsung di kedai kopi. Pertemuan itu dihadiri sekitar 10 orang pegiat. Beberapa pegiat merasa bahwa kedai kopi memiliki arti penting bagi Kalamkopi. Tak ayal, kami pun memiliki bayangan bahwa website tak ubahnya adalah warung kopi. Ada orang menerima pesanan, meracik kopi, mengantarkan pesanan, dan seterusnya. Dari situ, muncul pula satu pertanyaan yang tak terpecahkan. Jika website adalah warung kopi, maka siapa yang menjadi petani? 

imajinasi itulah yang menjadi basis pembaruan website kali ini. Sehingga muncul 3 topik utama pembahasan. Pertama, perubahan nama rubrik website. Kedua, struktur dan alur kerja. Dan Ketiga, strategi. Semua topik coba dirangkai menggunakan logika warung kopi.

Nama Rubrik

Pada pertemuan Sabtu (28/11) lalu, kami sepakat untuk mengganti nama-nama rubrik. Harus kami akui: kami labil. Bayangkan, belum genap dua pekan Kalamkopi.id kami rilis, eh sudah sok mengganti nama rubrik lagi. Tak hanya itu, tampilan website juga kami ubah. Sok, bukan?

Tapi begitulah kami: tiap bertemu nyaris selalu membicarakan pembaruan. Cie..pembaruan. Kami juga selalu bahas hal-hal yang kami rasa perlu dibahas. Entah hasilnya akan lebih baik atau justru lebih jauh dari harapan pembaca. Tetapi yang jelas, apapun hasilnya nanti, itulah cermin musyawarah kami. Harap maklum. 

Seperti pembaca ketahui, semula Kalamkopi.id punya enam rubrik. Keenam rubrik itu ialah Ulasan, Sudut Pandang, Renyah, Pendidikan, dan Lensa. Tak perlu kami jelaskan lagi soal rubrik-rubrik tersebut. Monggo, mangga, pembaca dapat membacanya di rilis kami berjudul “Website Kalamkopi: Yang Baru Tumbuh, Yang Lama Berganti”. 

Kini, rubrik itu kami ganti nama. Bahkan tak hanya kami ganti nama, tetapi juga ada dua rubrik yang kami hilangkan, yakni Pendidikan dan Lensa. Tak perlu kami utarakan mengapa dua rubrik itu kami hilangkan. Ini urusan internal dan rahasia negara! Hehe.

Ya, kini jumlah rubrik kami hanya empat. Masing-masing kami namai Kothok, Tubruk, Saset, dan Kopdar. “Lho, kok kek menu di warung kopi saja?” Ya, iya lah. Persis di situ karepan kami: mengambil nama-nama itu untuk menyesuaikan nama website. Kami umpamakan Kalamkopi.id adalah warung kopi. Dan, empat rubrik itu adalah produk kami, sekaligus menu yang kami tawarkan kepada pembaca.

Rubrik Kothok merupakan pengganti rubrik Ulasan. Rubrik ini berkonten ulasan buku, film, persepakbolaan, dan sebagainya. Seperti kopi kothok, konten rubrik ini ditulis dengan ‘merebus’ hasil pembacaan dan pemikiran penulis sebelum kami sajikan.

Kedua, Tubruk. Rubrik ini pengganti rubrik Sudut Pandang. Berkonten tentang pandangan penulis terhadap isu-isu aktual. Seperti kopi tubruk, konten rubrik ini kami sajikan dari tubrukan pandangan penulis dengan isu-isu terkini. 

Ketiga, Saset. Rubrik ini pengganti rubrik Renyah. Isinya yakni cerpen, puisi, catatan perjalanan, tentang kuliner, dan sebagainya. Seperti kopi saset, konten rubrik ini berisi ragam tulisan yang beraneka rasa.

Terakhir, yakni Kopdar. Ini merupakan rubrik baru. Rubrik ini memuat notulensi atau catatan diskusi-diskusi yang Komunitas Kalamkopi gelar. Biar ala-ala pertemuan kopi darat gitchu…

Begitulah, pembaca. Kami memang labil. Suka gonta-ganti. Suka kurang mantap mengambil keputusan. Tapi, inilah hasil pertemuan kami beberapa waktu lalu. Semoga pembaca memaklumi, ya. Dan, silakan nongkrong dan pantengin terus website sok-sokan ini. Silakan seruput kopi-kopi kami. Jika kurang enak, tinggalkan pesan dalam kolom komentar. 

Struktur dan Alur Kerja

Selain mengubah nama rubrik, kami pun merombak kepengurusan. Kami cukup bosan dengan struktur dan penamaan pengurus seperti media pada umumnya. Alhasil, lagi-lagi, kami membayangkan website adalah warung kopi. Logika warung kopi pula yang kami gunakan untuk penamaan dan pembagian tugas. Berikut ini sedikit ilustrasi struktur dan alur kerja website Kalamkopi.id.

Pada dasarnya, penyumbang ‘nilai’ terbesar pada sebuah warung kopi adalah pekerja. Biasanya mereka terdiri dari kasir, barista, pramusaji, dan lain sebagainya. Kami memang menggunakan logika demikian. Namun bedanya, kami tidak punya pemilik warung. Kami hanya memiliki “Koordinator Barista”. Tugasnya adalah memastikan seluruh ekosistem “Kalamkopi” berjalan lancar. Koordinator tersebut bertanggungjawab kepada pasukannya. Dan posisi ini akan dibuat bergiliran. Sehingga dapat meminimalisir penggunaan wewenang berlebihan. Tugas ini diemban kawan berinisial NRA.

Kemudian ada “Barista”. Profesi ini diisi banyak orang. Paling tidak, semua orang yang masuk ke dalam satu WAG bernama “Arisan Akhir Zaman”. Tugasnya ialah bergiliran menyunting tulisan, menggodok inovasi, dan meracik strategi pengembangan. Tentu saja agar pembaca selalu merasa puas dengan apa yang disajikan. Selanjutnya ada “Kasir”. Penanggungjawab tugas ini dua orang yakni ASB dan APA. Cakupan kerjanya ialah mencatat pesanan, menampung tulisan, dan memastikan tulisan telah tayang. Lalu ada “Pramusaji”. Kali ini dipegang oleh WPU, IY, dan APA. Tugasnya ialah mengantarkan tulisan ke pembaca di beragam platform seperti Twitter, Facebook, dan Instagram. Nah, jangan lupa follow ya.

Strategi

Pertemuan kemarin juga menghasilkan satu poin tentang strategi. Meski masih sangat nggrambyang dan belum begitu maksimal dibicarakan. Namun muncul satu benang merah. Sebagai warung kopi, tentu saja ia senang jika memiliki banyak pelanggan. Apalagi hingga pelanggan tetap. Lebih maknyus lagi jika si pelanggan mau terlibat mengurus dan menjadi pemilik warung kopi tersebut. Alhasil, muncul strategi “Teras Kalamkopi” (Lihat nomor 5 pada gambar). 

Ide dasar “Teras Kalamkopi” ialah mengajak orang-orang yang baru menulis di Kalamkopi.id (lihat nomor 6) untuk menjadi penulis tetap. Dalam arti, bersedia membuat jadwal menulis rutin. Bisa satu minggu sekali, bisa satu bulan sekali. Bebas. Dan, tentu saja, ini untuk para penulis muda. Setelah banyak yang bersedia, maka mereka akan dibuatkan grup WA. Isinya tidak lebih dari 10 orang. Lalu bagaimana jika ada lebih dari 10 orang? Tentu akan ada “Teras Kalamkopi #2”, “Teras Kalamkopi #3” dan seterusnya. 

Keuntungan para penghuni “Teras Kalamkopi” ialah dapat terlibat dalam rapat rutinan. Satu agenda rapat tersebut ialah membahas penyuntingan dan evaluasi tulisan yang sudah tayang. Sehingga semua orang bisa sama-sama belajar. Dalam konteks warung kopi, maka si pelanggan tidak hanya datang membeli kopi. Tapi juga turut ikut membicarakan bagaimana membuat kopi enak atau berapa keuntungan warung kopi minggu ini. Dan, lebih bagus lagi, jika mau sekalian jadi barista.

Ayo jadi barista!


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.