Rock ‘n Roll is Dead? Setengah Matang Saja

Spread the love

Oleh Dana Asajiwanda

Belakangan ini, banyak yang mengatakan bahwa era rock ‘n roll telah tenggelam, hancur, dan menemui ajalnya. Sebagai generasi twenty-first century digital boy (ala Bad Religion) ha-ha, saya sedikitnya setuju mengenai ungkapan itu. Pada era sekarang, menemukan figur atau kultur yang mendekati akar-akar rock ‘n roll sangat sulit. Bahkan, dari figur yang mengaku bahwa dirinya sangat mengagungkan semangat ini sekalipun.

Dalam beberapa cabang “gila”, rock ‘n roll masih bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Pasti, di antara kita pernah melakukan hal gila yang tanpa disadari merupakan bagian dari kultur ini. Bagi saya, tidak ada yang akan siap dengan sepenuh jiwa dan raga menanggung resiko dalam mengimplementasikan secara utuh kultur ini. Sebab, kultur ini sejatinya sangat destruktif dan kurang cocok apabila diterapkan dalam lingkungan masyarakat yang menjunjung tinggi moral etika.

Rock ‘n roll seperti yang sudah ditulis dan diinformasikan oleh beberapa media adalah hal yang identik dengan perilaku atau budaya amoral. Hangover setiap malam, free sexs, mati bersebelahan dengan suntikan heroin, atau mati tersedak valium adalah sebagian kecil dari kegilaan ini. Itulah sebagian sebab yang meyakinkan diri saya untuk tidak memercayai adanya figur tersebut secara utuh di lingkungan ini. Lalu, saya hendak bertanya, apakah pembaca benar-benar yakin apabila suatu saat menasbihkan diri dan mengaku bahwa diri anda adalah individu yang pure sebagai figur rock ‘n roll di lingkungan ini? Saya rasa tidak.

Memang tidak mudah menjalani gaya hidup rock ‘n roll sampai mati. Sebagai contoh, figur yang dijuluki King of Rock ‘n Roll saja terlihat “tobat” menjelang akhir hayat, apalagi pengikutnya. Sebagai ibarat, “sang raja” saja tidak mampu memegang teguh gaya hidup ini sampai akhir hayatnya apalagi hanya “rakyat jelata”?

Tulisan ini tidak bermaksud mengajak pembaca untuk masuk ke dalam dunia “hitam” rock ‘n roll. Menurut saya, solusi agar tetap ingin terlihat “keren” seperti kultur rock ‘n roll adalah tidak perlu masuk terlalu dalam, lebih baik setengah matang saja. Setengah matang yang saya maksud adalah pembaca dapat meniru kultur ini dalam segi dandanan, berpakaian, dan selera musik. Intinya, adaptif saja ala-ala neo-punk.

Stay safe, healthy, and rock ‘n roll

 

Dana Asajiwanda, Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang 2018

 

-Ilustrasi: proyectopuente.com.mx

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.