Roller Coaster

Spread the love

Cerpen Mugi Astuti

Penonton band ternama Tanah Air, yang vokalisnya pernah tersandung kasus video cabul, memenuhi trotoar menuju stasiun MTR. Mereka melangkah tergesa. Kulirik jam. Pukul 20:45. Masih banyak waktu bagiku untuk pulang ke rumah majikan. Kuisap pelan rokok di samping tempat sampah oranye berbentuk kapsul dengan asbak di atasnya.

Di Tanah Air, orang bebas merokok sambil berjalan dan di sembarang tempat. Di sini, biasanya para perokok berhenti di samping tempat sampah itu. Otomatis aku pun melakukan hal yang sama, meskipun itu mengurangi kenikmatan karena berkesan tergesa-gesa.

Aku bukan penggemar band besar itu. Liriknya susah kumengerti; seperti orang bergumam, meski lagunya cukup easy listening. Namun demi menghormati teman baik yang nyambi jadi peliput berita koran buruh migran, kuterima tiket pemberiannya.

Wis ta nontona. Lumayan karo isa mbayangke,” katanya seraya tawa tergelak.

“Lo, videonya kayak apa? Aku belum pernah lihat. Lagian aku gak ana kanca melbu, Cuk,” balasku.

Mengko melbu bareng aku. La apa arep takbagi link-e?

Astaghfirullah, Ukhti. Mana link-nya? Aja kesuwen.

“Haa-haa-haa-ha, ndhasmu!” katanya mengakhiri obrolan sambil menyerahkan tiket kepadaku.

***

“Sasti!”

Itu seperti suara Renata, seseorang yang pernah akrab bertahun-tahun lalu. Aku urung mengisap rokok dan menoleh ke samping. Di sana berdiri sosok gagah mirip pria. Renatakah? Namun begitu melihat penampilannya, aku ragu. Renata yang kukenal dulu model lokal. Rambutnya yang panjang, gaun-gaunnya yang indah, dan puluhan sepatunya selalu membuatku iri. Ia pernah hendak memberikan sepasang sepatu buatku, tetapi tidak jadi karena ukuran kaki kami berbeda.

Sosok di hadapanku ini, jika saja tak bersuara, orang pasti menyangka ia pria. Gaya rambut slicked back membuat mukanya terlihat tirus. Kaus hitam, celana jins selutut, dan sepatu kanvas semata kaki sepertinya mahal. Kaus kaki sewarna sepatu mengintip di sela-selanya. Menyelempang tas kecil berlogo merek ternama. Bukan rahasia lagi, para TB rata-rata penggila barang bermerek ternama. Sekilas pandang wajahnya mengingatkan aku pada drama-drama Korea.

“Heh, kamu Sasti kan?” Ia memandangku sambil bertanya.

“Renata?”

“Iya, aku Renata. Siapa lagi? Jangan bilang kau tak mengenaliku.”

“Jika kau tak memanggilku, aku mungkin tak mengenalimu. Kau berbeda sekali. Jangan bilang kau telah membuang gaun-gaun indahmu yang pernah membuatku iri.”

“Kau pulang pukul berapa? Masih ada waktu gak buat kita ngopi? Di ujung sana ada Starbucks. Kau merokok? Sejak kapan?”

Aku tak menjawab. Kulihat arloji di pergelangan tangan kiriku. “Masih ada satu jam lagi. Kalau itu gak cukup, aku bisa telepon siu ce-ku kalau aku terlambat.”

Kami berjalan beriringan menuju Starbucks. Kuakui, Renata terlihat memesona dengan dandanan begitu. Jika tak kenal sebelumnya, bisa jadi aku terpikat. Tubuhnya jangkung, di atas rata-rata perempuan umumnya. Tentu saja, ia kan dulu model. Yang berbeda, sekarang tubuhnya lebih berotot.

Kami berjalan dalam diam. Ia berjalan pelan sambil bersenandung kecil. Aku sibuk mengamatinya.

“Ada apa? Kenapa kau memandangiku seperti itu?”

Aku terlonjak kaget. Kukira ia tak memperhatikan aku yang berkali-ulang mencuri pandang dari ujung rambut ke ujung kaki hingga ke ujung rambut lagi.

“Tidak. Aku hanya merasa surprise, speechless atas penampilanmu. Ada apa?”

“Kau dari mana tadi? Nonton band kuno itu ya? Kau suka?” Renata balik bertanya, tanpa menjawab pertanyaanku.

“Tidak juga. Hanya menghormati temen yang kasih tiket aja kok. Emang tadi kamu juga nonton?”

Males aku nonton gituan. Tadi habis makan aja sih. Mau pulang malah ketemu kamu di situ,” jawabnya, acuh tak acuh.

“Vokalisnya cakep ya. Eh, emang bener dia pernah bikin video mesum sama pacarnya? Setahuku cuman foto aja,” tanyaku.

Ia memandangku tak mengerti. Aku meringis salah tingkah. Kami masuk ke Starbucks.

“Kamu mau minum apa? Aku yang traktir. Jangan menolak,” katanya sambil menarik kursi untukku.

“Terserah, tapi kalau ada cake cokelat aku mau,” kataku.

Renata duduk di depanku, meletakkan cake cokelat dan cappucino ke hadapanku.

“Serius, tadi kamu nanya begitu? Ke mana aja kamu? Kasus itu kan sudah hampir sepuluh tahun lalu. Bahkan ditayangkan di semua infotainment selama berhari-hari. Ngapain juga kita bahas hari ini. Kau tidak sedang keluar dari gua kan?”

Aku terbahak. Ada rasa asing yang perih menusuk hati.

“Setelah lulus SMU kau ke mana? Apa yang terjadi setelah kau kawin sama pacarmu dulu itu? Si Priyo? Siapa nama lengkapnya?” sambung Renata.

Ponselku berkedip. “Sepertinya aku harus pamit, Re. Siu ce tidak mengizinkan aku pulang terlambat,” kataku setelah melihat pesan masuk.

“Baiklah. Kita berjumpa lagi minggu depan. Di mana kamu tinggal?” jawab Renata.

Kusebutkan sebuah tempat di kawasan Causeway Bay.

“Daerah itu tak jauh dari sini. Kita bisa berjalan kaki ke sana. Biar kuantar kamu pulang,” kata Renata.

***

Hari-hari berlangsung seperti biasa. Rutinitas harian nyaris tak pernah berganti dari waktu ke waktu. Seperti mesin. Hari kuawali dengan bunyi alarm yang hampir bersamaan dengan omelan Ama. Ada saja yang membuatnya tak puas. Belum lagi semenit alarm kumatikan, pintu kamar sudah dia gedor. Ia berteriak-teriak menyuruhku bangun. Berbagai makian dalam bahasa Kanton menghambur dari mulutnya. Pelan aku bangkit dari pembaringan, kulipat selimut sebelum kubuka pintu. Di depan pintu Ama sudah berkacak pinggang dengan muka marah. Namun sebelum makian kembali berhamburan dari mulutnya, kulihat Siu ce sudah di pintu dapur, berjalan ke arah Ama. Dia memegang tangan Ama dan berkata sesuatu sebelum akhirnya meminta maaf padaku atas perilaku ibunya.

Sudah hampir dua tahun aku tinggal di flat lantai 19 berukuran 600-an square feet yang hanya dihuni seorang perawan tua berumur kisaran 50 tahun dan ibunya ini. Kontrak juga akan berakhir tak sampai tiga bulan lagi. Namun perilaku nenek itu tetap sama dari hari ke hari. Kata makian, seperti pemalas, tak becus kerja, dan semacamnya, sudah menjadi santapan harian. Untung, tak semua makian dalam bahasa Kanton aku paham, sehingga aku tak makin sakit hati.

Jika ada pilihan, aku tak ingin berada di sini. Jika bukan karena Priyo, kekasih masa SMU yang kunikahi dua bulan setelah pengumuman kelulusan, tidak menggadaikan sertifikat tanah milik pakdenya yang lumpuh akibat stroke, tentu aku tak harus berada di sini.

Semenjak kami menikah, ia begitu posesif. Bahkan untuk sekadar pergi ke pasar pun aku harus dia antar. Pekerjaan sebagai tukang servis komputer membuat dia hampir setiap hari berada di rumah.

Aku menyetujui usulnya untuk mencari pinjaman bank dengan jaminan sertifikat Pakde. Dengan uang pinjaman itu ia bermaksud menyewa sebuah kios supaya kami — aku, Priyo, dan Biyan, anak hasil perkawinan kami — tak perlu lagi berdesakan dengan barang-barang yang harus direparasi. Aku berharap jika kelak ia punya kios untuk usaha, aku bisa sedikit bebas.

Jujur saja, sifat posesifnya membuatku tidak nyaman. Priyo bahkan membatasi interaksiku dengan tetangga. Aku juga terpaksa men-deactivate semua akun media sosialku untuk menghindari keributan di antara kami. Jika bukan demi Biyan, aku sudah tak bisa bertahan hidup bersamanya.

Bulan-bulan awal semua berjalan lancar. Semenjak Priyo mempunyai kios, aku sedikit bisa bernapas. Meski aku harus menemani setelah mengantar Biyan ke sekolah, paling tidak aku bisa sedikit berinteraksi dengan orang lain.

Servis komputernya makin ramai dan kami bisa pindah ke kontrakan yang mempunyai dua kamar. Jadi Biyan bisa berlatih tidur sendirian. Tidak seperti kontrakan lama yang hanya mempunyai satu kamar tidur dan ruang tamu yang sekaligus menjadi bengkel kerja Priyo. Dan yang terpenting, cicilan bank bisa terbayar tepat waktu setiap bulan.

Aku tidak tahu sejak kapan Priyo gila judi. Yang kutahu kemudian orang-orang bertampang sangar berdatangan bergantian, siang-malam mencarinya. Priyo mulai jarang pulang. Seandainya pulang pun hanya dalam waktu singkat. Kios mulai tidak terurus. Banyak pelanggan komplain dan mengambil barang yang belum selesai diservis. Yang lebih parah, cicilan bank macet.

Putus asa dan bingung, akhirnya aku membawa Biyan pulang ke rumah orang tua di Sukorejo, Kendal.

Satu pagi, saat membantu Simbok memanen jambu batu di pekarangan belakang, aku melihat Narti, teman mainku waktu kecil, melintas. Ia terlihat sangat cantik. Kulitnya bersih, rambutnya panjang hitam berkilat. Aku membayangkan berapa banyak uang yang ia habiskan untuk ke salon. Perubahan paling mencolok adalah cara berpakaian dia yang mirip artis Ibu Kota.

“Narti, Nar!” Aku memanggil.

Ia menoleh dan berlari kecil ke arahku. Ia tersenyum lebar. Tangannya menyalamiku. “Apa kabarmu? Lama gak jumpa semenjak kau melanjutkan sekolah ke Semarang,” katanya.

“Kerja di mana kamu sekarang? Kau cantik sekali,” kataku.

“Aku di Hong Kong beberapa tahun ini. Minggu depan aku sudah harus berangkat lagi. Masa cutiku habis,” jawabnya.

Kami mengobrol cukup lama sebelum akhirnya aku mengutarakan niat ikut dia. Narti berjanji mencarikan juragan lewat agennya supaya aku bisa calling visa dan tak perlu berada di penampungan cukup lama.

***

Hari masih pagi saat aku dan Renata tiba di area barbeque Pantai Stanley. Di sana sudah menunggu teman-teman Renata. Beberapa di antara mereka merupakan pasangan. Bukan laki-laki dan perempuan seperti biasa, melainkan sesama buruh migran yang berdandan seperti laki-laki dan perempuan. Satu di antara pasangan itu mengambil tempat di pojok, seolah-olah tak memedulikan sekitar. Mereka berpelukan mesra dan sesekali berciuman.

Renata mengajakku menghampiri dan memperkenalkan aku pada mereka. Tiba-tiba seorang temannya berteriak sambil tertawa, “Woii, Cuk! Iku selingkuhanmu a? Apa awakmu wis ora diopeni karo mbokmu?”

Mbokmu adalah sebutan umum oleh para buruh migran bagi perempuan majikan. Renata buru-buru meletakkan telunjuk ke bibir dengan mata melebar.

“Kenalkan, temanku SMU. Jenenge Sasti,” katanya.

Aku mengulurkan tangan, menjabat tangan teman Renata. Ada sedikit perasaan risi saat berada bersama teman-teman Renata. Namun aku memutuskan bersikap biasa, sekalipun di hadapanku saat ini dunia yang baru bagiku. Akalku mencoba menekan perasaan bahwa ini semua tak benar, tak seharusnya dilakukan.

Hari belum begitu sore. Angin berembus kencang. Musim gugur menjelang. Udara sudah tak sepanas seperti bulan-bulan sebelumnya.

“Seharusnya tadi kubawa jaket lebih tebal,” pikirku sambil merapatkan switer dan melipat tangan.

“Kau pasti kedinginan,” ujar Renata sambil melepas jaket kulit hitam yang dia pakai dan menyampirkan ke pundakku. Aroma Gucci Guilty Black sekilas tercium. Demi kulihat ia hanya memakai kaus tanpa lengan, segera kukembalikan jaket itu.

“Kau saja yang pakai.”

“Aku sudah bertahun-tahun di sini. Sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini. Pakai saja,” katanya. Kali ini ia memakaikan jaket itu padaku.

Kami berdiri dalam diam menghadap laut, bersandar ke pagar besi. Hanya ada suara debur ombak memecah tebing batu di bawah kami, sementara teman-teman Renata bersenda-gurau ramai sekali. Beberapa botol wine terbuka di hadapan mereka. Bungkus penganan yang luput dimasukkan kantong sampah beterbangan tertiup angin.

“Penampilanmu berbeda sekali sekarang,” kataku memecah kebisuan.

“Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Menjadi seseorang yang benar-benar kuinginkan. Bukan menjadi boneka Barbie mamaku,” kata Renata.

“Jadi….” Kalimatku tergantung di awang-awang. Aku urung meneruskan.

“Kau ingat lemari kaca berisi boneka Barbie dan boneka-boneka bergaun indah dulu yang kaukira milikku kan? Sekalipun aku satu-satunya perempuan di antara kelima saudaraku, bukan berarti aku harus bermain dengan mereka. Boneka-boneka itu milik mamaku. Aku bahkan jijik dan ingin membakar, sehingga tak perlu melihat setiap hari. Gara-gara boneka sialan itu, Mama menginginkan aku ada. Mama menginginkan anak perempuan hanya agar supaya bisa mendandani seperti ia mendandani Barbie. Supaya ia bisa bermain dengan real doll. Supaya ia bisa mendandaniku dan membawaku ke mana pun tanpa dibilang orang sinting. Bertahun-tahun aku berdoa dan berharap aku laki-laki seperti kakak-kakakku, sehingga tak perlu mengalami itu. Namun Tuhan tak pernah menjawab doaku. Aku tetap menjadi boneka mamaku, hingga aku muak dan pergi dari rumah.”

“Tidak seperti itu cara kerja Tuhan. Takdir dan kodratmu sebagai perempuan tak bisa kauubah. Kau tak punya kuasa,” jawabku.

“Lalu kau akan mengkhotbahi aku seperti para pemuka agama yang takut pada azab yang ditimpakan pada Sodom dan Gomora? Padahal, jika kau mau membaca dan menalar lebih jauh, Sodom dan Gomora tidak dimusnahkan karena hubungan sejenis yang saling mencintai,” jawab Renata pelan. Matanya menerawang.

“Kau sudah tak pergi ke gereja lagi?” tanyaku.

“Untuk apa? Agar mereka bisa menghakimi pilihan hidupku? Agar mereka menuntunku ke jalan yang benar? Definisi jalan benar itu seperti apa?”

Aku tak menjawab karena memang tak tahu jawabannya.

“Bagaimana denganmu? Apa yang terjadi denganmu dan Priyo?” tanya Renata.

Aku bercerita tentang Priyo, tentang Biyan, tentang apa yang akhirnya membawaku ke sini. Tak terasa aku terisak pelan. Renata menghela napas panjang sebelum akhirnya memelukku lembut, mengusap rambutku, dan menenggelamkan wajahku ke pundaknya, seperti dulu sering ia lakukan saat aku curhat setelah bertengkar dengan Priyo.

“Aku sudah berulang kali berkata padamu dulu, janin di dalam perutmu itu bukan alasan untuk terus bersama Priyo. Jika kau telanjur ngeseks dengan Priyo, itu tak bisa jadi alasan bagimu untuk menikahi dia, untuk terus bersama dia. Apakah ia juga sering menamparmu seperti dulu?”

Aku tak menjawab. Pelukan Renata mengendur. Kurasakan tangannya menghapus air mataku dengan tisu yang dia ambil dari kantong celana. Sebelum aku menyadari lebih jauh, kurasakan hangat bibirnya menyentuh bibirku. Lalu ia berbisik, “Aku mencintaimu, Sasti. Sejak dulu. Andai dulu aku punya keberanian ini. Aku benci melihatmu bersama Priyo. Aku berharap suatu saat kau mau bersamaku, tapi aku tak punya keberanian. Sekarang, maukah kau bersamaku?”

Bibirnya kembali menyentuh bibirku. Hampir aku terlarut dan membalas ciuman. Namun segera kudorong tubuhnya menjauh.

“Ini tak benar, Re. Aku tak bisa. Maukah kauantar aku pulang sekarang? Aku janji kita akan tetap bersama sebagai sahabat baik, bukan sebagai sepasang kekasih.”

Renata memelukku dan mencium keningku sekilas, sebelum berjalan ke arah teman-temannya untuk perpamitan.

***

Ponselku berkedip. Ada panggilan suara WA dari nomor tak kukenal. Nomor Indonesia. “Halo!” kataku mengawali pembicaraan.

“Sasti, aku ingin bicara,” suara di seberang sana. Suara yang kubenci sekaligus kurindukan. Suara Priyo.

Akhirnya setelah hampir dua tahun menghilang, ia kembali menghubungiku. Ia berkata telah menyusulku ke Sukorejo dan hanya menemukan Biyan bersama Bapak dan Simbok. Ia menyuruhku pulang ke Indonesia untuk memulai hidup bersama lagi. Ketika kutanyakan apa jaminan yang bisa ia berikan jika kami bersama lagi, ia bilang tak mampu menjanjikan apa-apa.

“Maaf, Mas Pri, aku tak bisa. Cicilan rumah Pakde Jo masih dua tahun lagi. Aku tak bisa membiarkan orang yang sudah memercayakan sertifikat rumahnya untuk kita jadikan jaminan menjadi gelandangan gara-gara rumahnya disita bank. Lagian Biyan butuh banyak biaya untuk sekolah. Aku tak bisa pulang sekarang,” jawabku.

“Kalau begitu, aku akan segera mengirim surat cerai padamu dan Biyan kubawa. Jangan berharap kau bisa melihat dia lagi.”

Setelah itu, Priyo menutup panggilan suara.

Aku kalut dan bingung. Air mata turun tanpa bisa kubendung. Tiba-tiba pintu kamar terbuka keras. Ama masuk sambil melemparkan cucian yang belum sepenuhnya kering tepat ke mukaku. Salah satu hanger membentur dahiku.

Dia bilang hujan turun dan aku malas mengangkat cucian, sehingga ia harus bangun untuk mengangkat. Makian kasar menghambur dari mulutnya sebelum ia kembali ke kamarnya.

Aku terdiam lama. Kurasakan angin dingin musim gugur menerobos jendela kamar yang sedikit terbuka. Aku bangkit, berjalan menuju jendela. Kubuka penuh daun jendela. Angin dingin makin terasa menyentuh wajah dan tubuhku. Tiba-tiba aku membayangkan wahana roller coaster Ocean Park yang pernah kunaiki saat berkunjung ke sana.

Sabtu, 28 September 2019: 10.56

 

Catatan:

Roller coaster: wahana permainan berupa kereta yang melaju di rel khusus, biasanya di atas tanah yang berketinggian berbeda-beda.

Easy listening: enak didengar.

Nyambi: bekerja sambilan.

Wis ta nontona. Lumayan karo isa mbayangke: Sudahlah, tontonlah. Lumayan, bisa sambil membayangkan.

Gak ana kanca melbu: tak ada kawan nonton.

Mengko melbu bareng aku. La apa arep takbagi link-e?: Nanti masuk bersamaku. Mau kubagi jaringannya?

Aja kesuwen: Jangan berlama-lama.

Ndhasmu: (harfiah) kepalamu.

Slicked back: bagian rambut panjang disisir rapi kelimis ke belakang.

TB: sebutan untuk para wanita yang menyukai sesama jenis.

Siu ce: sebutan bagi wanita yang belum menikah dalam bahasa Kanton.

Surprise: kaget, terkejut.

Speechless: tak bisa bicara.

Deactivate: menonaktifkan.

 

Gambar: www.tripsavvy.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.