Sajak Sampean Indah, Kiai…

Spread the love

Oleh GUNAWAN BUDI SUSANTO

 

Bongkar Cinta

Kutatap Jakarta dan kota-kota Indonesia
selaksa benteng penjajah
karena fondasi dan bangunan indahnya
tersusun dari keringat, airmata, nyawa rakyat jelata
: melalui upeti pajaknya!

Untuk apa hiasan kota-kota
bila dikaitkan dengan jutaan tanah dan air yang disia
: tak ada hubungannya?

Membayang dalam benakku
anak-anak tanpa pekerjaan itu
melabrak
mendobrak
: benteng kota!

Memandang aku
air bah menerjang kota-kota
karena tak ada ruang bagi mereka
Membayang padaku
air mani yang menjelma anak-anak bangsa
pada menganggur
: lalu melabrak benteng dengan ganas!

O, kawan!
Bongkar egoisme di antara kita
Bongkar kota dengan mengalihkan dananya
: ke desa-desa!

Bongkar!
Bongkar!
Bongkar!
Bongkar!
Bongkar!
Bongkar!
Bongkar!
Bongkar!
Bong
kar!
B
o
n
g
k
a
r
!

Bukan dengan mengobong dan mencakar!

Rumah Cinta, 11 Februari 2014, 14:07

 

Ya, sajak sampean ini indah, Kiai Budi. Namun, bagiku, tidak cukup tepat menggambarkan kenyataan. Lantaran, apa yang terjadi sesungguhnya jauh lebih menyerikan ketimbang apa yang sampean lukiskan.

Aku setuju ketika sampean menyatakan: … Jakarta dan kota-kota Indonesia/selaksa benteng penjajah/karena fondasi dan bangunan indahnya/tersusun dari keringat, airmata, nyawa rakyat jelata.

Kiai, memang benar: keringat, air mata, dan nyawa rakyat jelatalah yang menyusun fondasi dan keindahan kota-kota itu. Namun itu bukan mewujud sebagai upeti, dari pajak. Itu mah kecil! Yang lebih tepat, Kiai: keringat, air mata, dan nyawa jelata itu menjadi fondasi, menjadi bangunan, kota-kota di seantero negeri ini setelah negara, lewat ganti-berganti pemerintahan dari rezim ke rezim, merampok keseluruhan harkat dan martabat kemanusiaan kita: rakyat Indonesia. Penguasa telah mengeksploitasi segala dan semua-mua kekayaan, bahkan sampai ke titik paling kasatmata: tubuh mereka, secara tak beradab. penguasa mengeduk dan menjual murah kekayaan di berbagai penjuru negeri ke negara mana pun, sehingga penghuni desa berbondong ke kota, berbondong ke negeri seberang: menjual tubuh mereka sebagai kuli bangsa lain.

Karena itulah, Kiai, di mata para penguasa dan pengusaha sesungguhnya rakyat jelata tinggal angka-angka. Dengarlah ketika mereka, rakyat jelata itu, bicara.

 

Sajak Angka & Suara

 

aku bukan siapa-siapa, aku cuma apa-apa

aku cuma angka-angka cuma suara-suara

dan tangisku? itu cuma satu dari sekian banyak wacana

yang oleh hikmat kebijaksanaan para baginda

tak perlu kaucari asbabunnuzulnya

 

masih juga kau bertanya siapa aku?

akulah angka-angka digital di kalkulator

para teknokrat perencana pembangunan semesta

akulah huruf-huruf sekarat

di kertas penuh coretan di meja para birokrat

atau berpusingan dalam fantasi para penyair

sebelum ngruntel di keranjang sampah mereka

akulah konsep-konsep abstrak

di lidah basin para mahasiswa

di ruang diskusi dan seminar

atau buku-buku suci tulisan para cendekia

akulah alat produksi yang murah meriah

di saku dan mesin hitung para taipan

akulah mantra-mantra

di mulut manis para politikus

atau di hati para negarawan

aku hadir lewat kotak-kotak suara

kotak-kotak pandora

 

masih juga kau bertanya siapa aku?

aku sang demos yang kehilangan kratos

aku dikurung tembok legalitas

aku dikepung lembaga represivitas

aku dijerat rantai formalitas

mampuslah aku, firdaus telah hilang dari sanubariku

ideologi yang diberhalakan pecah menzarah dalam sumsumku

darahku membarah jiwaku membarah

aku sakit teramat sakit

 

dan kau masih bertanya siapa aku!

aku cuma angka-angka cuma suara-suara

tangisku cuma satu dari sekian banyak wacana

yang oleh hikmat kebijaksanaan para baginda

tak perlu kaucari asbabunnuzulnya

 

(memayu hayuning bawana

sura dira jayanging rat

sruh brastha lebur dening pangastuti)

 

Genuksari, April 1990

 

Sampean mempertanyakan tak ada hubungan timbal-balik bukan antara keindahan dan kemegahan kota dan segala kekayaan di bumi pertiwi ini yang telah dieksploitasi secara gila-gilaan sembari menggusur dan mengusir para penghuninya? Ah, itu pertanyaan retoris. Sampean kayak tak tahu saja – dan aku lebih yakin sebenarnya sampean pura-pura tak tahu – bahwa kota menjadi indah, kota menjadi megah, kota menjadi licin terang benderang justru dengan memiskinkan desa-desa. Dan, karena itulah, sampean menuntut – dan aku setuju – kembalikan kekayaan desa: dari gunung, hutan, sawah, ladang, sungai, telaga, dan pedalaman laut untuk sebesar-besar dan senyata-nyata memakmursejahterakan rakyat jelata di desa-desa, di gunung-gunung, di tepian samudra.

Namun ajakan sampean untuk membongkar tak terlalu jelas juga, Kiai. Dengan cara bagaimana kita mesti mengembalikan segala kekayaan berupa kota-kota untuk memakmursejahterakan desa, jika upaya membongkar itu tak boleh kita lakukan dengan membakar dan mencakar? Ya, ya, aku setuju: jalan kekerasan tak bisa dilawan dengan kekerasan pula. Meski, acap kali aku meragukan tesis itu. Jangan-jangan, itu cuma dalih untuk membungkus kelemahan dan ketakutan kita?

Dulu, ketika para petani Cimacan, Jawa Barat, diusir dari tanah moyang mereka, ketika petani Kedungombo, Jawa Tengah, diusir dari ladang dan huma, bahkan sembari menenggelamkan kubur para moyang, aku geram dan mengajak siapa pun melawan. Aku menyeru-nyeru….

 

 

 

Sepenggal Lirik Lagu Pop

 

Hidup mati kami dari tanah ini

biarkan kami tetap bertani

: Petani Cimacan

 

ayo campakkan garu dan cangkul

ambil sabit dan parang

berbarislah!

ayo tinggalkan desa dan kita serbu kota-kota

mengaumlah

menderaplah

ayo kita serbu kota-kota!

 

interlude:

lalu berderaplah kaki mereka menyerbu kota-kota, merebut hidup, membangun peradaban dan manakala matahari tergelincir ke lumpur sawah, ladang, dan huma yang kehilangan benih dan lecek terinjak-injak keputusasaan sekian ribu musim, sekonyong-konyong mereka bangkit dan beranjak dari tanah para moyang, mata mereka merah dan beringas. di kota mereka menjadi serigala, serigala. sejak itu….

ayo jangan ragu-ragu

kita mesti saling jegal dan tikam bergantian

mari tikam perut kita, biar hilang perih kita punya pedih

mari tikam kita punya luka, biar sekalian nganga

mari tikam kita

 

Genuksari, Agustus 1993

 

Lantaran apa, Kiai? Ya, lantaran terlalu nyeri menyaksikan betapa mereka telah kehilangan apa saja, seperti dialami para petani di Kedungombo. Mereka bilang, sebagaimana dalam sajakku ini….

 

Kedungombo

: sebuah sajak tak rampung-rampung

 

di sini telah kautenggelamkan

semua milik kami

 

sawah dan tegalan yang menghidupi kami

rumah-rumah tempat berlindung anak istri

bahkan kuburan para kerabat dan moyang kami

penghubung masa lalu dan masa kini

semua lenyap kautelan

lantas perlahan-lahan jadi fosil berlumut

di perut wadukmu

 

wadukmu bukanlah wadukku

di sini semua sudah kaukandaskan

sedangkan masa depan kami kadung kaugadaikan

atas nama pembangunan

 

Semarang, 6 Juni 1991

 

Kiai, sampean tahu bukan apa yang terjadi di Pegunungan Kendeng Utara? Toh sampean pun tahu saat mereka menggugat pemerintah, yang begitu gampang memboyakkan keputusan hukum dari lembaga peradilan tertinggi di negeri ini – yang memenangkan gugatan rakyat, menolak pemberian izin tambang untuk pendirian pabrik semen di kawasan serapan air itu. Ketika mereka, para perempuan perkasa di Kendeng Utara, berkemah di tengah hutan di Gunung Bokong, kau datang berkali-ulang, menemui dan menghibur mereka, berdoa bersama mereka.

Ketika mereka berjalan dari Rembang ke Semarang, untuk menagih keadilan kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, yang pernah berucap bahwa jika rakyat menang di pengadilan, tak bakal ada pabrik semen – tetapi kemudian terbukti tetap mengeluarkan izin baru bahkan dengan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang setali tiga uang dengan dokumen amdal versi awal – sampean pun membersamai mereka. Sampean pun melantunkan bidal petani mereka, terus-menerus, berulang-ulang: Ibu Bumi wis maringi/Ibu Bumi dilarani/Ibu Bumi kang ngadili.

Penguasa, Kiai, sebagaimana sampean tahu, telah begitu membuta-tuli. Dan, para petani Kendeng Utara terus dan tetap melawan bukan? Melawan tanpa kekerasan, melawan berdasar filosofi: air mengalir, menuju ke samudra raya.

 

Kami Tak Melawan Sendirian
: Tegaldawa, Gunem, Rembang

ketika persoalan mengadang di depan mata
: alat berat merusak gunung

membongkar mata air
mengeruk, menggilas tanah

menumbangkan pepopohan berseliweran
sampean meminta kami membaca buku

menekuri teori perubahan sosial

ketika polisi menangkapi para ibu
menahan beberapa kawan demonstran
seraya mengawal para pendoa peletakan batu
pembangunan pabrik semen yang ditolak warga
sampean bilang bersabarlah
: tunggu presiden baru yang bakal menyelesaikan

ketika tanah bongkar-bangkir, bukit bebatuan berledakan
air tak lagi mengalir ke sawah, ladang, dan huma
mematikan hasrat hidup para petani dan pekebun
sampean masih meminta kami berlagak sopan
meminta para pejabat negara berbaik hati
mengasah nurani kemanusiaan mereka

apalagi yang tersisa bagi kami
ketika kekuasaan telah menilap
kekerasan menjadi perangkap
penguasa dan pengusaha kawin-mawin
beranak-pinak, melahirkan kelaliman

kami di sini tak sendirian
mengadang barisan berseragam uang
yang bakal menenggelamkan masa depan
ke dalam lumpur kerusakan dan kehinaan

kami di sini
di rembang, di pati, di blora, di urutsewu
di mana saja hasrat hidup kami hendak dimatikan
kami menggalang barisan
kami tak berdiri sendirian
dan kami terus melawan!

16 Juni 2014

 

Penguasa bukan cuma menuli, Kiai. Mereka bahkan telah kehilangan telinga. Ya, mereka telah kehilangan telinga, Kiai, kehilangan telinga. Maka, jangan heran, mereka tak lagi berkemampuan mendengarkan apa saja dari siapa pun. Ketika telah kehilangan telinga, mereka pun tak merasa perlu lagi menunaikan kewajiban: melayani rakyat.

 

engkau telah kehilangan telinga

 

engkau kini telah kehilangan telinga dan memilih bertekun mengolah dendam dan kebencian setiap hari di sembarang tempat. sementara sawah, ladang, dan huma kaubiarkan mengering dan membera. lalu hutan, gunung, dan samudra kaubikin tuba, menggulung semua-mua menjadi sampah menjadi entah. engkau menceracau setiap saat dan tak pernah bersedia berbagi tempat pada siapa pun yang berbeda. kaukirim sumpah-serapah ke sembarang alamat, tanpa pernah mau tahu apakah tetangga samping rumahmu masih mampu membilang usia lantaran tungku mereka telah kehilangan api, yang membakar jutaan hektare hutan di kalimantan dan sumatera. dan, karena itulah, kau tak pernah lagi merasa kehilangan suara jengkerik di sesela rumputan yang garing dan kicau tekukur yang tak menemu reranting pepohonan. engkau sungguh perwira saat setiap kali menjelang senja mengamangkan laras senapan ke setiap dahi petani dan buruh, lalu ketika malam tiba di layar televisi riang gembira kautiup gelembung sabun bersama kanak-kanak yang riuh – setiap di antara mereka berharap bisa pulang membawa sepeda. bagimu, penderitaan sesama cuma metafora. maka bagimu jerit perih mereka pun serupa dentam musik pada pengujung pesta.

 

sialan, kamu memang sialan!

 

kaligawe, 3 september 2017: 21.52

 

Ketika kita menyeru mereka berkali-ulang tentang tugas utama mereka: menjadi pelayan rakyat, yang mesti menyejahterakan anak negeri ini, mereka tetap membuta-tuli bukan? Karena itulah, Kiai, acap kali aku pun mendremimilkan doa dan pengharapan: agar pabrik semen yang kadung berdiri itu runtuh dan para petani tak terus-menerus dihantui kekhawatiran bakal kehilangan air – air yang menjadi darah bagi rahim kehidupan: tanah bagi petani adalah ibu yang mengandung dan melahirhadirkan kehidupan bagi kita, bagi keberlangsungan dari generasi ke generasi. Tanah adalah Ibu Bumi, yang telah memberi. Jika Ibu Bumi disakiti, Ibu Bumi pula kelak yang bakal mengadili kita bukan?

Oleh karena itulah, Kiai, jangan salahkan aku jika – sekali lagi – setiap saat mendremimilkan doa dan pengharapan ini. Doa dan pengharapan yang semoga terkabulkan oleh Sang Mahacinta.

 

Doa di Gigir Bukit

: sedulur kendeng utara

 

di gigir bukit
waktu melungit
menjelang subuh
segala apa luruh
buliran jagung itu meruah
nyaris menyentuh atap rumah
setiap butir menyesap doa dan pengharapan
melesat ke haribaan sang Pencipta Kehidupan

setiap malam, beratus-ratus malam
kudengar dengung serupa mantra

buliran jagung melenyap
dengung doa melesap

runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku

aku terus terjaga
seraya mengeja
alif ba ta

ya, Gusti
kabulkan doa mereka.

 

 

10 November 2015

 

Jadi, Kiai, pertanyaanku kini: sekali lagi, dengan cara apa dan bagaimana kita mesti “membongkar” kebobrokan itu dan kemudian mengalirkan kekayaan dari desa yang kadung direbut untuk kita kembalikan kepada pemilik sah: rakyat jelata!

 

Gebyog, 12 Februari 2014, 05:21-30 Desember 2018, 03:03

 

Gambar: www.nahimunkar.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.