Sastra Bidal Petani Kendeng

Spread the love

: Meluluhkan Keangkuhan dan Keganasan Korporasi Semen

 

Oleh Peran Sabeth Hendianto

Ibu bumi wis maringi
Ibu bumi dilarani
Ibu bumi kang ngadili.

 

Tiga larik bidal itu, puisi yang lahir dari budaya petani, adalah aroma keringat kebijaksanaan nenek moyang kita, sastra asli Nusantara. Bukan hasil aroma keringat ketiak impor. Bidal tidak sebatas puisi, tetapi juga menjelma menjadi teladan yang mewakili pedalaman pikiran dan perasaan masyarakat dengan petatah-petitih dan kebajikan untuk menjalani hidup selaras dengan alam dan makhluk hidup yang tinggal di alam ini.

Ketika alam dirusak (dilarani), bidal akan mewujudkan diri dengan bentuk lain: melawan keangkuhan dan keganasan dengan keberadaban, cinta kasih, dan bukan dengan keakuan maupun pisuhan, caci-maki. Sebab, para petani Kendeng tahu, mereka bukanlah “binatang jalang dari kumpulan yang terbuang”. Mereka lahir dari wadah kandungan ibu bumi yang mulia, agung, ibu bumi yang menghidupi mereka, menghidupi seluruh umat manusia.

Melawan tidak harus dengan cacian atau makian. Berperang tidak melulu dengan pedang, bom, dan kekerasan. Masih ada ruang dialektika untuk duduk bersama dalam keberadaban. Manusia adalah makhluk beradab. Bila sebagai makhluk beradab tidak menjunjung tinggi keberadaban, ia akan tinggal menjadi “binatang jalang”.

Petani-petani Kendeng melawan dengan sastra penuh kebajikan itu, sastra bidal. Bukan dengan puisi yang mempertunjukkan keangkuhan, keakuan, keegoan, keganasan. Karena, mereka paham bila keangkuhan dan keganasan “binatang jalang” yang persimbolannya adalah korporasi semen dilawan juga dengan keangkuhan dan keganasan, mereka juga tidak ubahnya “binatang jalang”.

Tak Lahir dari Batu

Kemunculan sastra revolusioner yang diusung Chairil Anwar dengan slogan kevitalitasan dan keakuan individu telah menggeser atau malah menenggelamkan sastra bidal. Membuat banyak orang lupa, hidup tidak hanya tentang diri sendiri, tidak hanya tentang bagaimana melawan penghancuran dengan kehancuran. Manusia tidak lahir dari batu!

Manusia memang ditakdirkan untuk berkreativitas dan itu sah. Namun bila menciptakan hal baru dengan kreativitas itu tidak lebih baik daripada yang sudah ada, kenapa masih tetap mengusahakan untuk berubah? Bukankah itu kesia-siaan?

Pendirian pabrik semen di Kendeng adalah dagelan berongkos mahal!

Lihatlah, sebagimana sebuah pertunjukan dagelan televisi berongkos mahal itu, demi dianggap lucu dan benar-benar lucu, mereka akan (atau sudah?) menyewa penonton bayaran untuk tertawa, mengamini kelucuan mereka. Itu pun mereka masih merasa belum cukup. Mereka akan menyewa ahli, akademisi, bidang dagelan untuk menyempurnakan kebenaran dagelan itu agar masyarakat tahu: itu benar-benar lucu, sah secara keilmuan dagelan, ilmiah, dan akademis.

B***ngan semen!

Peran Sabeth Hendianto, alumnus Magister Susastra Universitas Diponegoro Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.