Saya Pernah Ngekos, Kamar Mandi Dalam Tapi Kamar Tidur Luar

Spread the love

Kata “ngekos” identik dengan mahasiswa atau pekerja di tanah rantau. Saya punya pengalaman menarik tentang ini. Begini ceritanya. Sejak lahir hingga SMA saya tidak pernah hidup jauh dari keluarga. Hidup tak pernah jauh dari rumah. Ya, saya selalu tinggal di lingkungan keluarga besar, di sana, di Desa Bandar, Kabupaten Batang. Hidup dekat dengan keluarga memang terkesan nyaman, tapi tidak selalu menyenangkan. Sehingga suatu saat saya punya pikiran untuk hidup jauh dari keluarga. Merantau jauh dan pulang sebulan sekali. Aneh memang, tidak banyak orang di lingkungan saya yang memiliki keinginan seperti itu.

Di keluarga Jawa -seperti keluarga saya- hidup dan bekerja di sekitar rumah adalah pilihan utama. Jika tak memungkinkan barulah merantau. Tapi saya juga bingung. Kata orang, merantau bukan budaya Jawa, tapi di mana-mana -hampir di setiap sudut Indonesia- terdapat orang Jawa. Di Sumatra, Kalimantan, Bali, Sulawesi, bahkan hingga Papua anda akan dengan mudah menemui orang Jawa. Fenomena ini pernah Nanang -teman saya- pantunkan.  

“Di sana gunung di sini gunung

Di tengah-tengahnya pulau Jawa

Saya bingung, kita semua bingung

Di mana-mana ada orang Jawa”

Itulah pantun yang sering ia ucapkan ketika membaca, mendengar, atau melihat informasi keberadaan orang Jawa di luar Jawa. Nanang ini memang gapleki orangnya, suka mengeluarkan celotehan aneh.

Baiklah, kembali ke laptop ngekos. Ya, saat memutuskan kuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes), mau tak mau saya harus ngekos. Nggak mungkin dong saya laju Batang-Semarang, kecuali saya punya pintu dora the explorer.

Mencari dekos di sekitar Unnes bukan perkara sulit. Di sana ada berbagai jenis kos-kosan. Mulai dari tahunan hingga harian. Baik itu kos religius semi-basecamp pengaderan one day one juz, hingga kos yang nggak religius, alias kos bebas alias bisa menerima pasien kapan saja. Pilihannya  lengkap, bisa kos murah meriah ukuran 3 x 3 meter dengan fasilitas kasur, meja dan lemari saja, hingga kos mewah plus AC dan kamar mandi dalam. Semua tersedia. Lengkap pokoknya.  

Kos pertama saya berada di Gang Cempakasari. Lokasinya di belakang lapangan bola Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Saya ngekos di situ setelah ditawari oleh seorang laki-laki baya. “Ngekos sini aja, Mas. Dekat kampus” katanya. Termakan oleh tawaran itu saya pun ngekos di situ. Kosnya sepi tapi –maaf- semrawut. Sampah di sana-sini dan pompa air sering macet. Kasur tempat saya tidur juga ngenes, kapuknya mawul-mawul, setiap bangun tidur wajah dan badan saya dipenuhi kapuk, sesekali ada juga yang nyempil di mulut. Saat cuaca panas, kamar seperti oven dan saat hujan turun, air menetes, merambat, dan membasahi dinding kamar. Saya merasa tertipu oleh bapak SPG indekos tadi. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi dubur, eh bubur. Biaya sewa sudah saya bayar satu tahun penuh. Mau tak mau saya harus menempati kos ini selama dua semester.

Menempati kamar indekos itu saya hanya bisa berdoa. “Ya Tuhan, jika memang ini cobaan dari-Mu, kuatkanlah hamba.” Saya yakin, jika saya termasuk golongan orang teraniaya maka doa saya pasti dikabulkan. Dan benar, doa saya dikabulkan! Pada suatu pagi di bulan keenam seorang utusan ibu kos menyampaikan pesan bahwa indekos sudah dijual dan saya harus pindah. Sisa biaya indekos enam bulan yang sudah saya bayar pun dikembalikan. Alhamdulillah. Akhirnya saya bisa pergi dari indekos itu.

Saya pun pindah kosan, tapi masih di Gang Cempakasari. Lokasinya tidak jauh dari kos pertama tadi. Di indekos yang kedua itu hidup saya lebih nyaman. Di sana lebih lebih bersih, airnya lancar, dan tidak bocor ketika hujan. Rekomendasi lah pokoknya.

Ada yang menarik di indekos kedua saya itu. Kamar mandi indekos itu ada di dalam rumah pemilik indekos, sedangkan kamar indekosnya ada di luar. Penghuni indekos yang hendak mandi atau sekadar pipis enak harus masuk ke rumah pemilik indekos. Maka bisa dibilang indekos saya yang kedua ini adalah “kos kamar mandi dalam tapi kamar tidur luar”. Bisa dibayangkan kan ya? Jadi kalau malam-malam saya kebelet poop, mau tak mau saya harus masuk ke dalam rumah. Entah kegiatan apa yang sedang dilakukan pemilik kos dan suaminya, jika saya sudah kebelet ya saya harus masuk rumah, lalu ke kamar mandi. 

Dulu, saya pikir mencari kos adalah perkara gampang, tapi ternyata tidak semudah itu, Ferguson. Mencari kos tidak semudah membalikkan telapak kaki. Ada faktor yang harus saya perhatikan saat saya memilih kos, antara lain; kondisi bangunan, akses air, dan yang paling penting kapuk kasurnya tidak mawut-mawut.  

Begitulah. Semoga bermanfaat.

#TolakOmnibusLaw

#SahkanRUUPKS

NB: Tulisan ini tidak bermaksud menjelekkan atau membagus-baguskan pihak tertentu. Nama indekos dan lokasi rinci sengaja tidak dituliskan untuk menjaga keamanan dan ketertiban.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.