Saya yang Selalu Benar

Spread the love

Oleh Achiar M Permana

Hari masih pagi, sungguh terasa amat pagi, ketika Mas Naya datang ke markas, gazebo kecil di pojok halaman rumah saya. Sejak pagi matahari seperti enggan mecungul, mendung gelap menggantung di langit. Benar kata othak-athik gathuk, Januari berarti hujan sehari-hari.

Kebetulan, hari ini tidak ada kerja bakti di kampung. Minggu lalu, tenaga kami telah terkuras habis untuk mengecor dak musala.

“Mas, sampean kenal Cak Kabul? Katanya, teman lama dengan sampean. Katanya, ‘Cuk, sampekke salamku karo Mas Tegik. Dheke kanca mblakrak ndhek Suroboyo.’ Apa iya, Mas?” kata anak muda gondrong, yang lekat dengan julukan “mahasiswa abadi” di kampusnya itu.

“Cak Kabul? Yang orangnya cilik methakil dan ireng tuntheng itu? Lo, ketemu Cak Kabul di mana?” sahut saya, mencoba membayangkan sekawan lama, yang lebih dari dua puluh tahun tidak bertemu.

“Iya, Mas. Kebetulan saya magang di kantornya. Terus, begitu tahu saya dari Semarang, dia tanya kenal sampean apa tidak,” kata Mas Naya, sembari menjemba rokok berkemasan ireng thunteng di depan saya.

Saya sudah hafal betul kebiasaannya. Tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, si bungsu dalam komunitas cangkrukan kami itu melolos sebatang rokok. Dan kemudian menyulut. Dan kemudian mengisap. Nikmat.

“Eh, Black-nya satu, ya Mas,” katanya, menyusulkan permintaan.

Saya mengangguk. “Eits, Cah Bagus, nembe ketok. Ke mana saja, Mas, kok lama tidak kelihatan,” tiba-tiba, tanpa kami sadari, Pakde Tanto sudah meletakkan pantat di pojok gazebo.

Pensiunan guru itu merupakan sesepuh di komunitas cangkrukan kami. Selain berusia paling tua, lebih dari 65 tahun, pengetahuan dan pengalamannya yang sangat banyak membuat kami warga cangkrukan sepakat menjadikannya sesepuh.

“Magang, Pakde, di Surabaya. Pengine biar cepat lulus,” kata Mas Naya.

“Cak Kabul barusan naik pangkat, Mas, manajer dia sekarang. Manajer QC,” kata Mas Naya lagi, kali ini kepada saya.

“Wah, hebat dong. Piye, ijek kementhus? Masih suka menyalahkan orang lain?” tanya saya.

“Lo, sampean kok tahu, Mas?”

Halah, saya dan Cak Kabul cees kenthel sejak lama. Bala gandheng jembut. Jadi ya sudah hafal njaba-njero,” sahut saya.

Istri saya datang membawa seteko kopi yang masih kemebul. Juga piring kecil berisi potongan gula aren. Juga kimpul rebus.

Mangga lo, Pakde, Mas Naya. Mumpung masih hangat,” katanya, kepada dua personel tetap Beroek Tjangkroek, nama tidak resmi komunitas kami, yang sudah hadir di markas.

“Terima kasih lo, Say,” goda saya, yang hanya bersambut enjepan.

***

“Minggu lalu, Mas, Cak Kabul baru kena SP 1. Surat peringatan pertama. Pekerjaan yang mestinya lewat pengawasannya lolos, eh, kebetulan sedikit meleset. Kurang presisi. Jadinya, ribuan produksi jadi lagunya Jenita Janet, di-reject. Ha-ha-ha…,” cerita Mas Naya.

Di kepala saya, gambar teman lama itu seperti film Dono-Kasino-Indro diputar ulang saat libur lebaran. Lengkap dengan penggalan-penggalan kecerobohannya pada masa lalu.

“Tahu tidak, apa yang dilakukan Cak Kabul? Dia marah besar pada QC, staf quality control, yang menjadi bawahannya,” kata Mas Naya.

“Sampean kok tahu, Mas? Nguping ta?” Pakde Tanto menyahut.

Mboten, Pakde. Saya kebetulan ada di ruangan itu, ketika Cak Kabul memanggil staf QC. Kemudian le ngonek-ngonekke entek amek kurang golek. Wis ta, isi bonbin sakpituruke, eh, sakpiturute keluar semua. Sebelumnya, lebih dari satu jam Cak Kabul dikumbah bos karena keteledoran yang berbuntut reject itu. Pas keluar dari ruangan bos, Mas, wajah Cak Kabul gak ana rupane. Kaya kumbahan nglumpruk,” kata Mas Naya.

“Begini katanya, ‘Saya kira, saya bekerja dengan orang-orang yang cermat. Ternyata saya salah, selama ini saya terlalu percaya pada QC. Terlalu berprasangka baik.’ Begitu, Mas.”

Sik ta, Mas. Jan-jane, siapa yang salah? QC-ne sing ngawur, apa Cak Kabul yang tidak cermat?” tanya Pakde Tanto.

“Kalau menurut saya ya, Pakde, dua-duanya memiliki andil dalam kekeliruan itu. QC-nya memang keliru membaca data. La Cak Kabul teledor. Dia tidak membaca secara cermat atas laporan QC, terus waton srat-sret, membubuhkan tanda tangan. Pas tanda tangan saja dia sambi WA-nan kok. Sepertinya karo sir-sirane, sekretaris di divisi lain, Mas. Padahal, kalau tidak ada tanda tangan Cak Kabul, tidak mungkin produksi bisa jalan,” kata Mas Naya.

“La kok menyalahkan anak buah? Wong nyatanya dia yang teledor gitu kok,” Pakde Tanto, yang biasanya cool menanggapi banyak hal, kali ini agak emosi.

Duka niku, Pakde. Mas Tegik yang lebih paham. Kan bala gandheng jembut,” kata Mas Naya, dengan penekanan kuat pada kata “gandheng jembut”.

Belum lagi saya menyahut, Mas Marto — juga personel tetap Beroek Tjangkroek — datang. Saya sudah kenal Mas Marto sejak lama. Adik kandung Mas Marto, Narto, yang tidak ada kabar beritanya sejak rumahnya di Perumahan Balaroa ambles terkena likuefaksi saat gempa hebat mengguncang Palu, Sulawesi Tengah, akhir September 2018, adalah teman SMA saya.

Yang berbeda dari biasanya, kali ini Mas Marto tak sendiri. Dia bersama Mbah Mangun, bapaknya, yang sejak sebulan lalu tinggal di rumahnya. Konon, Mbah Mangun dhalang wurung. Pernah belajar mendalang, juga sebenarnya bisa mendalang, tetapi tidak pernah payu. Konon lagi, kalau nembang atau sulukan kerap mblero. Hi-hi-hi.

Kok sajak ngganyik, Mas, ngomongke negara ya?” katanya.

“Ini lo, Mas Marto, Mas Naya cerita baru saja ketemu Cak Kabul, bala klayapanku dulu. Kenal juga dengan Narto. Itu lo, yang dulu pernah saya ajak mampir ke rumah sampean yang di kulon kali,” kata saya. “Mas Naya ternyata magang di tempat Cak Kabul. Eh, kok ngepasi, ketika Mas Naya magang, Cak Kabul kena SP.”

“Yang menarik, Mas, Cak Kabul manajer QC. Dia teledor, tidak memeriksa hasil pekerjaan anak buahnya, terus waton srat-sret, membubuhkan tanda tangan. Ketika ternyata hasil pekerjaan itu bermasalah, dia malah menyalahkan anak buahnya,” Mas Naya menimpali.

“Kok persis gubernur idola sampean ya, De,” sahut Mas Marto cepat.

Wajah Pakde Tanto memerah. “Halah, sampean bisa saja.”

***

Cerita Mas Naya tentang Cak Kabul mengingatkan saya pada pelatihan kepemimpinan semasa di kampus dulu. “Dari sisi karakter, pemimpin bisa dibedakan menjadi dua, problem solver dan problem reporter,” kata Mas Taufik, senior yang menjadi mentor pelatihan, saat itu.

Pemimpin berkarakter problem solver, kata Mas Taufik, memiliki ciri antara lain mampu mengelola berbagai kesulitan dan masalah dalam tim secara efektif, mampu mengerahkan anggota tim secara strategis untuk mengatasi berbagai hambatan tanpa terjebak dalam kekesalan tak beralasan, fokus pada upaya mencari solusi dan bukan sibuk menyalahkan orang lain.

“Pemimpin jenis ini menguasai keterampilan problem solving dalam menghadapi berbagai kesulitan. Dan yang terpenting, selalu berpikir positif dalam menghadapi masalah,” kata Mas Taufik, yang saat itu hanya bisa membuat saya ternganga.

Sebaliknya, pemimpin dengan karakter problem reporter memiliki ciri cenderung menuding pihak lain sebagai sumber masalah, melempar tanggung jawab penyelesaian masalah kepada pihak lain, hanya melaporkan terjadinya masalah kepada atasan, tanpa menawarkan solusi apa pun. “Dia justru berharap, bosnyalah yang akan menyelesaikan masalah itu. Ciri khasnya, dia selalu mencari kambing hitam setiap kali muncul masalah, tanpa berupaya menyelesaikan. Pemimpin macam ini juga mudah galau, gampang mengeluh, ketika datang masalah,” katanya.

Seorang kawan kuliah saya manajer human resource development (HRD) di sebuah kafe yang cukup terkenal. Suatu saat, dia menjamu saya di kafenya yang cozy. Kepada saya, yang tukang ngopi kelas kampung, dia menghidangkan wine coffee. Tentu saja tanpa gula.

“Ini kopi liberika, atau mungkin sampean lebih mengenalnya sebagai kopi nangka. Setelah diolah melalui proses fermentasi menjadi wine coffee, ada sensasi rasa wine di dalamnya. Coba sesap. Pasti beda dari kopi kothok yang biasa sampean minum di Kedai Kopi Kang Putu. Ha-ha-ha,” katanya.

Bukan hanya kopi rasa anggur yang menarik hati saya dalam pertemuan itu. Ngobrol ngalor-ngidul, termasuk ngrasani para pemimpin, membuat saya mendapatkan banyak pengetahuan baru. Terlebih dalam soal leadership.

“Ada banyak pemimpin di sekitar kita, yang kadar kepemimpinannya buruk. Tidak berkualitas,” katanya.

“Atau, sebenarnya berkualitas, naming rendah. Ha-ha-ha,” sahut saya.

“Begini gampangnya, sebagai wartawan pernah tidak sampean mewawancarai narasumber, ketika hasil wawancara itu termuat esok paginya, dia komplain, ‘Pernyataan saya dipelintir. Saya tidak pernah bicara seperti itu. Itu wartawan yang salah kutip’? Padahal, media se-Indonesia Raya mengutip serupa dengan yang sampean tulis.

“Jika pernah, itu salah satu tanda orang yang tidak memiliki kualitas kepemimpinan. Hampir bisa dipastikan, orang macam begitu kalau menjadi pemimpin akan menciptakan kekisruhan saja. Kategorinya, pemimpin yang nggapleki.

“Di tempat kerjanya, pemimpin yang dalam dirinya mengeram kebiasaan menimpakan kesalahan pada orang lain, akan menciptakan lingkungan kerja yang tidak nyaman. Anak buah akan selalu waswas. Gek-gek salah, gek-gek keliru. Pemimpin seperti ini akan merasa diri memiliki sifat nabi, maksum, kalis dari kesalahan. Ini pemimpin yang mau menang sendiri,” katanya.

“Kalau yang begini aturan yang berlaku hanya dua. Pasal satu, bos selalu benar. Pasal dua, jika bos salah, lihat pasal satu,” sahut saya.

“Persis!”

“Jika terjadi kekeliruan, salah prosedur, atau semacamnya, pemimpin model begini pasti segera mencari kambing hitam. Memainkan blaming game, selalu menyalahkan orang lain. Sulit kita berharap dia mau berefleksi, menengok ke dalam dirinya. Apakah konsepnya tidak jelas, instruksinya kabur, atau justru cara komunikasinya buruk.

“Bahkan, kawan saya, yang membuka les privat leadership, menyebut pemimpin yang demikian sebagai pemimpin yang menderita god syndrome. Orang yang kerap bersikap seolah-olah Tuhan yang Mahasempurna dan tidak pernah salah.”

Waduh!

***

“Kalau menurut sampean, pemimpin macam begitu itu pripun, Mbah Mangun?” tanya Pakde Tanto, membuyarkan lamunan saya. “Kalau di wayang apa ada tokoh macam begitu?” tanya Pakde Tanto lagi.

Mbah Mangun memperbaiki letak duduknya. Dia menjemba rokok klobot tingwe, lintingan Mas Marto, anak sulungnya. Kemudian, dia mengambil pipa dari kayu kemuning di saku kanan surjannya, kemudian memasang rokok tingwe itu ke ujung pipa, dan lalu menyulut.

Nggih wonten, Mas. Dalam wayang banyak cerita yang bisa kita petik sebagai pelajaran. Wayang kan berasal dari kata ‘wewayangan’, berarti bayangan kehidupan manusia,” kata Mbah Mangun, setelah menikmati sedotan pertama rokok klobotnya.

Bau kemenyan menguar. Rupanya Mas Marto membubuhkan serbuk kemenyan ke dalam lintingan rokok bapaknya.

“Ada satu tokoh, bukan tokoh utama sebetulnya, dalam kisah Mahabharata. Namanya Lesmana. Pernah dengar?” tanya Mbah Mangun.

“Adik Prabu Ramawijaya, Mbah?” sahut Mas Naya cepat.

“Bukan, kalau itu Raden Laksmana. Dari kisah Ramayana. Lesmana yang saya maksud Lesmana Mandrakumara, anak Prabu Duryudana raja Astinapura,” ujar Mbah Mangun.

“O…,” Mas Naya melongo.

Bunder….” Mas Marto buru-buru menimpali.

“Raden Lesmana jenis orang yang suka menyalahkan orang lain. Tidak mau mawas diri, tidak mau melihat kesalahan dirinya. Suatu ketika, Lesmana bertapa di hutan untuk mendapatkan Wahyu Cakraningrat. Wahyu itu kerap dianggap sebagai syarat untuk mendapatkan kekuasaan dan takhta. Lesmana merasa perlu mendapatkan wahyu itu, sebelum menggantikan ayahnya sebagai raja Astina,” cerita Mbah Mangun.

“Sepertinya saya pernah baca kisah Lesmana di buku sampean, Mas? Dusta Yudistira. Nggih ta?” tanya Mas Naya.

Saya hanya mengangguk tipis. Saya lebih ingin mendengar cerita tentang Lesmana dari mulut Mbah Mangun. Seorang dalang. Siapa tahu, bisa untuk bahan tulisan berikutnya. Ha-ha-ha.

“Nah, sebagai anak raja, Lesmana yakin bakal memperoleh wahyu itu. Sebagai anak raja, dia masuk trahing kusuma rembesing madu. Benar juga, wahyu itu telah hadir di hadapan Lesmana, bahkan merasuk ke dalam tubuhnya.

“Apa yang terjadi setelah wahyu merasuk ke tubuh Lesmana? Mlepuke metu, kementhuse kawetu. Merasa tujuannya tercapai, Lesmana pun menghentikan tapa. Dia kemudian keluar dari hutan, mengabarkan kepada semua orang bahwa wahyu telah bersemayam dalam tubuhnya.

“Bukan cuma itu, Lesmana kemudian menggelar pesta besar-besaran di istana, tentu saja menggunakan anggaran negara, untuk merayakan kesuksesannya mendapatkan wahyu. Dalam pesta itu, dia dan para pengikutnya mabuk-mabukan.

“Ini bagian yang tidak disadari Lesmana. Ulahnya itu justru membuat Wahyu Cakraningrat oncat, keluar dari tubuhnya. Wahyu itu berpindah sebentar ke tubuh Raden Samba, putra Sri Kresna, sebelum kemudian menetap di tubuh Raden Abimanyu, putra Arjuna.

“Apa yang dilakukan Lesmana? Bukan mawas diri atas kesalahannya, dia justru menudingkan tangan kepada orang lain. Dia menyalahkan Abimanyu, sebagai penyebab Wahyu Cakraningrat keluar dari tubuhnya,” tutur Mbah Mangun.

“Persis Cak Kabul, Mas. Plek,” kata Mas Naya, kepada saya.

Saya cuma mesem. Sekali lagi, wajah teman lama yang menjadi manajer itu membayang di pelupuk mata saya.

Tenan lo, De, persis gubernur idola sampean itu,” Mas Marto menggoda Pakde Tanto lagi.

Halah, sampean itu….” N

 

Semarang, 5 Januari 2019

 

N Achiar M Permana, jurnalis, penulis buku Dusta Yudistira: Awas, Hoax Bertakhta di Media Kita! (2019)

 

 

* Ilustrasi dari kbknews.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.