Se7en: Dunia bukanlah tempat yang baik, tapi layak diperjuangkan

Spread the love

Lima tembakan di sebuah pembangkit listrik pagi itu, menjadi kemenangan John Doe (Kevin Spacey), si pelaku pembunuhan. Dia berhasil menuntaskan misinya, melakukan tujuh pembunuhan secara kejam. Sementara David Mills (Brad Pitt), sang detektif yang selama ini menangani kasus pembunuhan John, hanya bisa menatap kekosongan di bangku belakang mobil kepolisian.

Adegan itu menjadi plot akhir yang epic sekaligus mendebarkan dari film Se7en. Akhir film yang tidak disangka-sangka, meleset dari dugaan para penontonnya. Tertata rapi dan tak akan pernah ada yang bisa menebaknya. Saya berani bertaruh. Penutup film yang disebut-sebut paling mengejutkan sepanjang sejarah itu, menjadikan se7en layak dinobatkan sebagai salah satu film detektif terbaik  era 90-an.

Seven atau Se7en merupakan film pembunuhan berantai yang melibatkan seorang pembunuh psikopat yang mendakwa diri seolah-olah nabi kontemporer. Terinspirasi tujuh dosa kematian yang ia baca dari buku abad pertengahan itu, John menganggap pembunuhan yang ia lakukan adalah misi suci untuk menuntun manusia kembali ke jalan lurus. Kecerdikan dan misteri yang ia tinggalkan tak mampu dipecahkan oleh dua detektif kenamaan kepolisian New York City. Kecerdasan IQ-nya membuat para detektif itu selalu tertinggal selangkah. Semua clue dan tanda yang ditinggalkan, menari-nari sekaligus menginjak-injak pihak kepolisian.

Berkat film yang tayang perdana tahun 1995 itu, Andrew Kevin Walker, sang penulis naskah,  mulai dikenal banyak orang. Padahal pada di masa-masa itu, Andrew sedang berada dalam masa yang penuh  keputusasaan. Karena belum bisa menghasilkan naskah bernas yang membuat produsen film meliriknya. Dan setahun setelah rilis, tahun 1996, Seven menyabet satu nominasi penghargaan oscar kategori editing film terbaik.

Sejatinya, film yang disutradarai oleh David Fincher ini mempunyai formula yang sama dengan film detektif klasik lainnya. Yakni dua detektif dengan dua kepribadian yang saling berbeda satu sama lain dipasangkan sebagai partner. Detektif pertama, William Somerset (Morgan Freeman) digambarkan sebagai detektif senior. Dia akan pensiun dalam sepekan. Layaknya detektif senior, Somerset lebih dikenal dengan perawakan kalem, teliti, dan lebih intelektual. Itu terlihat dari kecenderungannya yang memilih melakukan riset panjang di perpustakaan untuk mengungkap pelaku pembunuhan.

Sementara tandemnya, detektif David Mills (Brad Pitt), berkarakter rookie. Detektif junior dengan semangat muda yang masih membara. Dia ngebet minta pindah tugas ke New York City. Dan memang jadi kandidat paling diunggulkan sebagai pengganti Somerset.

Terorisme dan Psikopat

John, sebagai tokoh antagonis menggunakan dasar seven deadly sins sebagai motif pembunuhan. Dia membunuh orang berdasarkan dosa yang sering dilakukan manusia. Yakni kerakusan, keserakahan, kemalasan, kemurkaan, kesombongan, nafsu, dan iri hati. Semua pembunuhan ia lakukan dengan kejam. John seolah-olah ingin berkhutbah kepada warga New York City dalam setiap pembunuhan. Dia selalu meninggalkan catatan tentang dosa orang yang ia bunuh. Misalnya dalam pembunuhan pertama yang ia lakukan pada seorang gemuk. John membunuhnya dengan cara memaksa orang gemuk itu terus memakan sphagetti hingga mati meledak. Somerset menemukan kata gluttony (kerakusan) di belakang lemari  es yang terletak di kamar tempat kejadian perkara (TKP). Dari situlah motif awal pembunuhan mulai terang.

Hampir setiap aksi pembunuhan yang John lakukan,  sesuai dengan dosa yang dilakukan sasarannya. Misalnya, selain membunuh orang gemuk dengan terus memaksanya makan hingga meledak, dia juga membunuh perempuan cantik yang sombong dengan cara memotong hidungnya. Atau dosa nafsu, membunuh seorang pelacur dengan memaksa seorang pria menyetubuhi si pelacur dengan pisau yang ditancapkan layaknya penis. Walaupun sadis, John merasa itu sah-sah saja. Menurutnya, itu sebagai hukuman atas apa yang mereka lakukan. Dan dia merasa seolah-olah sedang mengerjakan tugas Tuhan: menghakimi manusia. 

Walaupun John melakukan pembunuhan itu berdasarkan kegelisahannya terhadap manusia yang kian jauh dari Tuhan, apa yang ia lakukan itu tak lebih sebagai aksi terorisme belaka. Karena sejatinya, Tuhan mempunyai cara misterius untuk mengingatkan manusia. Tuhan tidak perlu wakil. Bahkan sealim-alimnya manusia dan merasa paling suci, tak pantas untuk menjadi wali Tuhan. Jika pun ada, orang itu bisa dipastikan sesat dan agak sedikit gila. Memang, tidak dipungkiri, jiwa-jiwa psikopat berdalih dekat dengan Tuhan seperti itu muncul di dunia yang semakin hari semakin jahat seperti sekarang ini. 

Wajah Metropolitan

Sepanjang film, sang sutradara berhasil menggambarkan kontradiksi metropolitan–pusat perputaran uang–dengan sangat gamblang. Mulai dari suasana kota yang muram, penuh sesak orang-orang perantau mencari uang. Kota yang sering hujan. Ruang yang penuh dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang langit, berhimpitan dengan kos-kosan pengap, gelap, dan tak layak huni. Hampir setiap malam sirine mobil polisi berbunyi. Entah itu karena kasus pembunuhan, pemerkosaan, ataupun perampokan. 

Kontradiksi kapitalisme itulah yang kemudian melahirkan terorisme–dalam film ini digambarkan oleh John, psikopat yang membunuh dengan dalih agama. Beban hidup yang John alami, dengan ketidakadilan yang merajalela, membuatnya memutuskan untuk melakukan misi pembunuhan berantai kepada tujuh orang. Ini persis dengan apa yang El Fisgon–komikus asal Meksiko–katakan dalam buku karyanya berjudul Pengantar Kapitalisme bahwa “terorisme adalah anak haram kapitalisme.”

Menariknya, dalam film ini, kontradiksi kapitalisme itu kadang menjengkelkan, kadang ditertawakan, dan seringkali mengkhawatirkan. Misalnya scene saat Tracy Mills bangun di suatu pagi, saat ia sedang rebahan di kasur dan sedikit jengkel, kepindahan mereka ke New York ternyata tidak menjauhkan suami istri itu lepas dari gemuruh suara kendaraan yang lalu lalang.  

Lalu scene kocak saat Somerset diundang untuk makan malam di rumah Mills. Tengah enak-enak ngobrol setelah makan, tiba-tiba rumah Mills bergetar. Sambil sedikit mengumpat, Mills menceritakan dulu pemilik apartemen menunjukkan tempat itu berulang kali. Pun detektif Mills berpikir karena itu mungkin untuk meyakinkannya. Dan kebetulan Tracy menyukai apartemen itu. Tapi dia mulai bertanya, mengapa setiap kali dia dan istrinya survei ke apartemen, hanya sekitar lima menit. Pertanyaan itu terjawab saat malam pertama menempati. Apartemen itu bergetar akibat kereta api yang lewat beberapa menit sekali. Ketawa pecah saat Somerset berucap,’’Tenang, santai, dan rumah bergetar, ya?’’ 

Dari situ terlihat bagaimana film Seven berhasil mengemas kontradiksi menjadi bahan tertawaan sekaligus menggelisahkan. Misalnya malam-malam saat Tracy menelpon Somerset untuk mengobrol pada suatu pagi. Pagi itu Tracy menceritakan kehamilannya pada Somerset. Dia tidak berani bercerita pada suaminya, karena tidak ingin membebani, apalagi saat itu sedang menangani kasus besar. ‘’Aku keliling kota dan melihat sekolah, tetapi kondisi di sini mengerikan, aku benci kota ini,’’ kata Tracy.

Lalu Somerset menceritakan tentang perkawinannya. 

‘’Aku pernah menjalin hubungan sekali, itu seperti pernikahan. Kita akan punya anak. Ini sudah lama sekali. Aku ingat, bangun pagi dan bersiap untuk bekerja. Seperti hari-hari biasa kecuali itu adalah hari pertama setelah aku tahu kalau akan punya anak. Dan merasa ketakutan untuk pertama kalinya. Aku ingat, saat itu aku berpikir, bisakah aku membawa anak ke dalam dunia yang seperti ini. Bisakah seseorang tumbuh dengan lingkungan seperti ini? Lalu kukatakan padanya aku tidak ingin memilikinya. Dan selama beberapa minggu aku mengecewakannya,’’ kenang Somerset.

Kemudian Somerset memberi saran, jika dia tidak ingin merawat bayinya di kota yang menyebalkan itu, jangan pernah menceritakan kehamilannya pada Mills. Namun jika ingin merawat bayinya, Somerset menyarankan untuk bermanja-manja dengan bayinya semampu dan sebisa mungkin. Dan tepat pada konflik batin itu, akhir film seven menjadi menarik. 

Di babak pengujung, sebelum kredit film muncul, sambil mengutip Ernest Hemingway, Somerset berkata:

Dunia adalah tempat yang baik dan layak diperjuangkan. Aku setuju dengan bagian yang kedua.

Persis, dari perkataan Somerset itulah, setidaknya kita menyadari, dunia bukanlah tempat yang baik-baik saja, tetapi layak untuk menjadi tempat yang diperjuangkan. (nanang)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.