Seberkas Rindu Senja

Spread the love

Cerpen Amah Fatimah

Desiran angin dingin berembus, rintik hujan pun perlahan turun. Santi berteduh di halte kota dekat Perpustakaan Daerah. Enam tahun lalu, kali terakhir Santi berteduh di halte itu. Kini, meski sudah bertahun-tahun ia tinggalkan kota ini, tetap saja dia memilih ditemani rintik gerimis saat berteduh di halte itu.

Halte itu tempat bagi dia melepas penat, tempat melamun, tempat berlama-lama mengulur waktu. Dulu, dinding merah yang kini pudar menjadi tempat punggungnya bersandar. Dia tak ingin pulang lebih awal. Dia ingin pulang saat hari sudah gelap.

Tiba-tiba ingatan Santi terhanyut dalam peristiwa enam tahun lalu. Kenangan yang membuat ia berubah tak berdaya.

Ndhuk, yen bali aja kesoren ya?” Satu kalimat masuk dalam ponsel Santi. Bergegas ia membalas, “Nggih, Pak.”

Pesan singkat itu jarang masuk ponselnya. Sejak saat itu…, ah terlalu pahit dikenang. Santi melepas napas lelah. Ia kini rindu sosok yang sangat ia sayangi.

Siang hari waktu itu, seorang wanita mengetuk pintu rumah mereka. Saat itu Santi baru saja pulang sekolah. Dia sedang duduk berdua dengan sang ibu. Bergegas Santi berdiri. Namun ia ingat tak memakai jilbab. Karena itulah sang ibu yang membukakan pintu. Santi hanya mengintip dari balik kelambu.*

Pintu pun terbuka. Seorang wanita berumur sekitar 40 tahun tampak dari balik pintu. Sepertinya ia agak kesal karena sudah lama bersalam dan mengetuk pintu, tetapi tak kunjung bersambut. Dari balik kelambu Santi mengintip, ingin tahu siapa yang datang.

Ibu menyuruh tamu tak dikenal itu masuk. Ibu menyambut dengan sikap lembut dan mempersilakan duduk. Namun si tamu tak menjawab. Santi pun keluar dan duduk di samping sang ibu.

Tamu perempuan itu duduk dan langsung menanyakan keberadaan Pak Edi, bapak Santi. “Benarkah ini rumah Pak Edi?” tanya ia ketus.

“Iya, betul. Mohon maaf, Ibu siapa dan dari mana?” jawab Ibu gugup, khawatir terjadi sesuatu pada sang suami.

Santi memandangi tamu yang bergelagat kurang mengenakkan itu. Tamu itu menjawab gugup pula, “Mm… saya teman Pak Edi. Sudah sebulan Pak Edi punya utang pada saya. Dia janji mau membayar hari ini, tetapi tidak ada kabar. Karena itulah saya ke sini!” jawabnya.

Santi dan sang ibu kaget bukan main karena selama ini sang bapak dan suami tak pernah bercerita. “Mohon maaf, Bu, bila suami saya salah. Kalau boleh tahu, berapa utang suami saya? Dengan alasan apa dia utang kepada Ibu?” ujar Ibu tetap menjaga diri agar tak terlihat gugup.

“Tujuh juta. Pak Edi ambil barang. Katanya mau menjualnya, tetapi tidak menyetor,” jawab sang tamu.

“Nanti kalau suami saya pulang, saya tanyakan. Ibu siapa? Nanti saya sampaikan bahwa Ibu ke sini.”

Tamu perempuan itu tak menjawab. Sejenak kemudian sambil melirik dia berkata, “Saya pamit!”

Santi dan sang ibu bengong. Mereka tak menyangka sang tamu begitu marah. Namun Ibu mengiyakan tamunya pulang.

Begitu tamu pulang, mereka menutup pintu. Mereka sama-sama berpikir, benarkah Bapak berbuat begitu di belakang mereka selama ini? Tak bercerita sedikit pun tentang utang.

Santi bertanya pelan, “Bu, Bapak sudah lama tidak jualan ya?”

Ibunya yang sedang menahan marah, akhirnya mengingat-ingat. “Iya ya, Ndhuk. Bapakmu nggak pernah cerita pada Ibu kalau ada masalah. Nanti kalau Bapak pulang, Ibu tanyakan.”

Ucapan Ibu membuat Santi merasa ngeri.

***

Hari-hari berlalu. Bapak mengaku tak pernah punya utang pada siapa pun. Lama-kelamaan mereka pun percaya, meski rasa ganjil terbersit dalam hati.

Bapak memang jarang pulang sejak tiga bulan lalu. Padahal, tak biasanya ia menginap berhari-hari. Entah menginap di mana. Biasanya Bapak tak bisa tidur di rumah orang, meski di rumah saudara. Ke mana pun Bapak pergi selalu ditemani Ibu.

Siang itu, sinar matahari terasa panas sekali. Seorang tetangga tiba-tiba berlari menghampiri Ibu. Ia mengatakan baru saja Bapak bergandeng tangan dengan seorang wanita, pergi dari kampung. Wanita itu ternyata tamu tak dikenal beberapa waktu lalu.

Usut punya usut, melalui berbagai pengintaian, Ibu tahu wanita itu ternyata istri kedua Bapak. Selama ini Santi hanya tahu sang bapak bekerja di luar kota. Jadi wanita itu mencari rumah Bapak dengan berpura-pura menagih utang karena Bapak sudah satu minggu tak datang ke rumahnya. Wanita itu pun nekat mencari rumah Bapak.

Sejak saat itu pula sering wajah Ibu tampak sendu, kurang bergairah. Ibu sering marah-marah dan terkadang menangis. Ibu pun bekerja dua kali lipat lebih keras untuk menafkahi anak-anak.

***

Ingatan lama tak selalu indah. “Inilah kenyataan pahit yang harus kurasakan,” batin Santi  yang hanyut dalam ingatan.  Itulah selembar kenangan yang dia lamunkan sekarang. Selembar kenangan yang membuat ia mengenal bagaimana hidup di jalanan, mengamen, merokok.

Tanpa terasa, hari sudah petang. Azan magrib berkumandang. Rintik hujan yang mengguyur halte kota sudah mereda. Ia pun bergegas pulang, meninggalkan halte dengan sejuta kenangan pahit.

Seperti beberapa tahun lalu, kini pun Santi memilih jalan kaki menuju rumah. Ia lebih suka menikmati udara segar di jalan sambil merenung. Tiba di rumah, Santi masuk ke dalam kamar. Dalam senyap Santi duduk terpaku, tak tergoyah. Ia duduk di ambang jendela kaca, menyandarkan punggung dan kepala ke kusen jendela. Mukanya kusut. Desiran angin dingin dari balik jendela tak ia hiraukan. Santi tetap tersandera angan.

Dia menumpangkan tangan ke kaki kanan, sedangkan kaki kiri ia luruskan. Dia menggenggam ponsel dengan lemas. Dia terlihat cemas. Sesekali ia melihat ponsel dengan tatapan waswas. Namun dia tak tampak geram. Ia pasrah.

Santi rindu Bapak yang dulu sangat perhatian kepadanya. Namun ketika dia pulang ke kota kelahiran kali ini, Bapak tak berada di rumah.

Memang kini berbagai masalah dalam hidup tak lagi terasa berat seperti dulu. Namun terkadang ia tak kuasa menahan kenangan yang menggoda saat melewati tempat-tempat penuh kenangan saat sekolah menengah kejuruan dulu.

Santi keluar kamar, mendekap sang ibu sambil menangis. Ibu yang kini mungkin sudah melupakan kejadian dulu, bingung melihat Santi tiba-tiba memeluk.

“Kenapa, Cah Ayu?”

Santi menjawab dengan isak tangis.

“Oh iya, Ndhuk, kamu dapat salam dari Bapak. Besok, dua hari lagi, dia pulang. Namun kamu besok pagi sudah harus berangkat ya?”

Santi menyeka air mata. “Bapak?”

“Iya, Ndhuk. Alhamdulillah, Bapak sudah berubah. Sekitar sebulan lalu bapakmu pulang dan minta maaf. Bapak berjanji menjadi bapak yang baik buat keluarga.”

“Ibu percaya?”

“Semua Ibu serahkan pada Allah, Ndhuk. Kalau bapakmu sudah janji, tetapi di belakang masih tidak benar, biar saja. Itu urusan Bapak dan Allah. Lagian waktu pulang disaksikan pakde-pakdemu di sini,” tutur Ibu dengan lembut.

“Sekarang Bapak di mana?”

“Bapakmu bekerja. Pulang empat hari sekali.”

Tangis Santi perlahan terhenti. Ia mendekap sang ibu makin erat. Dalam hati dia berkata, “Memaafkan memang penyembuh paling sempurna. Selama ini aku hanya mengingat kesalahan Bapak. Padahal, Ibu pasti lebih sakit. Namun toh Ibu mudah memaafkan.”

 

Catatan
Ndhuk, yen bali aja kesoren ya: Nak, jangan pulang terlalu sore ya.
Nggih, Pak: Ya, pak.
Kelambu: dialek Wonosobo untuk menyebut gorden.

 

Amah Fatimah, alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.

 

Sumber Gambar: www.tasmeemme.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.