Secuil Cerita tentang Penjajahan Barat di Asia Tenggara

Spread the love

Terjemahan Ardhiatama Purnama Aji

Barangkali, kita acap bertanya-tanya perihal perbedaan antara bangsa-bangsa Barat melakukan penjajahan di Asia Tenggara serta alasan Thailand dapat menghindari penjajahan mereka. Berikut ini, merupakan uraian yang diterjemahkan dari dua artikel berbahasa Inggris dan sekiranya bisa menjawab pertanyaan tersebut. Mari simak!

Karakteristik Penjajahan Bangsa Barat di Asia Tenggara

Ada 6 bangsa Barat yang pernah melakukan penjajahan di Asia Tenggara, yakni: Portugal, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Keenam bangsa Barat itu memiliki watak yang khas dalam menjajah bangsa Asia Tenggara. Berikut eksplanasinya:

a.    Portugal, yang memiliki dampak paling sedikit di Asia Tenggara. Mereka merebut Malaka pada 1511, dan mempertahankannya hingga tahun 1641, ketika Belanda menggantikan Portugal di sana. Selain itu, Portugal juga menjajah sebuah pulau kecil di sebelah tenggara Bali, Pulau Timor.

b.    Spanyol, menguasai Filipina sejak menaklukan Cebu pada 1565 dan Manila pada 1571. Mereka memerintah di Filipina hingga kekalahan mereka di Perang Spanyol-Amerika pada 1898.

c.    Belanda, yang masa penjajahannya dibagi dua periode: Pertama, pada tahun 1605-1799, VOC menjajah Nusantara dengan perhatian utama mereka memperoleh keuntungan sebanyak mungkin melalui monopoli perdagangan. Kedua, pada tahun 1825, pemerintah Belanda mengambil kontrol ‘aset-aset’ VOC setelah Perang Napoleon, dan mulai menancapkan kekuasaan di Kepulauan Indonesia, hingga berhasil sepenuhnya pada 1930an.

d.   Inggris, menjajah di dua wilayah kawasan Asia Tenggara: Burma dan Malaya. Pertama, Inggris menaklukan Burma setelah Perang Anglo-Burma pada  1824-1826, 1852, dan 1885-1886. Tak seperti koloni lain yang menegakkan identitas etniknya, Burma merupakan provinsi dari Inggris-India. Oleh karena itu, bangsa Burma mempunyai dua perangkat pemerintahan, Inggris di puncak dan India di tengah. Pada tahun 1935, Inggris setuju untuk memisahkan Burma dari India dan melaksanakan pemisahan itu pada 1937. Kedua¸ Penang diperoleh Inggris pada 1786, Singapura ditemukan Raffles pada 1819, dan Malaka diperoleh Inggris pada 1824. Ketiganya diperintah Inggris sebagai The Straits Settlements (pemukiman selat) pada 1874-1914.

e.    Perancis, menjangkau Vietnam pada 1858 dan menguasai Saigon pada 1859. Daerah selatan—yang dikenal sebagai Cochin China—menjadi base Perancis dalam menyelesaikan penaklukan terhadap keseluruhan Indocina (Lima teritori yang dikuasai Perancis: Cochin China, Annam, Tongking, Laos, dan Kamboja) pada 1907.

f.     Amerika Serikat, menjajah Filipina sejak 1889 hingga 1946 (Pada tahun 1935, sejatinya Filipina telah memperoleh hak otonomi). Dari keenam pemerintahan kolonial di atas, terdapat dua macam karakteristik pemerintahan:

  1. Pemerintahan Kolonial Liberal (Inggris dan Amerika Serikat)Inggris dan AS memiliki track record yang baik dalam penegakan hukum, kebebasan sipil, partisipasi politik, pendidikan yang inklusif, dan peluang ekonomi. Inggris dan AS bersedia memberi izin koloninya untuk merdeka dan mempersiapkan masa depan mereka (koloni) sendiri sebelum Perang Dunia II.·
  2. Pemerintahan Kolonial Represif (Spanyol, Belanda dan Perancis)Pada umumnya, pemerintahan kolonial Spanyol, Belanda dan Perancis menempatkan bangsa Eropa di posisi superior secara legal. Mereka (Spanyol, Belanda, dan Perancis) juga membatasi kebebasan sipil dan aktivitas politik. Akses untuk mendapatkan pendidikan hanya diperuntukkan bagi kelompok sosial tertentu. Penyensoran lazim terjadi. Rakyatnya tak diikutsertakan dalam aktivitas ekonomi modern. Di sana, tindakan korupsi besar kerap ditemukan pula pada pemerintahan kolonial Spanyol dan Perancis.

Alasan Thailand Terbebas dari Penjajahan

Pada pertengahan abad ke-19, Siam (nama lama Thailand) memiliki sistem politik yang cukup mapan dan unik, sistem itu disebut sistem Mandala. Filosofi yang mendasari sistem tersebut, sangatlah berbeda dengan gagasan Eropa mengenai negara-bangsa. Sistem Mandala menaruh perhatian utama kepada pengaruh-terhadap-lingkungan-sekitarnya, di mana penguasa yang lemah harus membayar upeti kepada penguasa yang lebih kuat. Posisi puncak piramida hierarkis itu adalah raja Siam. Siam mampu menghindari kolonisasi bangsa Eropa disebabkan oleh kombinasi dari banyak faktor, sebagai berikut ini:  Pertama, secara geografis, Siam terletak di area yang ideal sebagai pembatas, antara wilayah koloni Inggris di Semenanjung Malaya dan wilayah koloni Perancis di Indocina. Kedua, raja Siam—khususnya Chulalongkorn—menyadari bahwa perintah untuk menghindari kolonisasi, mereka harus mentransformasikan sistem politik menuju suatu versi yang lebih ‘Eropa’.

Hal ini menjadi pembangunan-bangsa masif yang menuntun kepada modernisasi Thailand era sekarang. Aspek penting dari proyek ini adalah pembuatan-peta. Bangsa Siam menyadari bahwa bangsa Eropa menaruh banyak penekanan pada pengetahuan, terutama pengetahuan topografis. Inggris dan Perancis menggunakan peta untuk menegaskan teritori yang mereka perintah, serta perbatasan-perbatasan yang belum jelas, mereka menggunakannya sebagai peluang untuk mengklaim wilayah lain. Poin menarik dalam pembahasan ini adalah konsentrasi kekuasaan.

Sebelumnya—pada era sistem Mandala, kekuasaan memiliki pola yang sangat menyebar. Para penguasa lokal menggunakan pengaruh mereka sebesar apa yang mereka bisa, tapi area-area yang besar tetap di luar jangkauan penguasa tertentu. Secara de facto¸ sang raja menguasai seluruh wilayah, tapi de jure-nya, banyak area merupakan tempat-tempat yang secara politis terlupakan. Chulalngkorn mengenali masalah itu, lalu membentuk angkatan darat profesional yang pertama di sejarah Siam. Selagi mereka tak pernah mampu bertempur melawan militer Eropa, angkatan darat memberikan sang raja kekuatan guna mengontrol para penguasa lokal dan wilayah yang tanpa pengawasan. Alhasil, para penguasa lokal kehilangan dan dilucuti kekuasaannya, di mana kekuasaan beralih dan tersentralisasi ke Bangkok. Konsentrasi kekuasaan tersebut menjelma sebagai salah sebentuk keuntungan dalam perlawanan terhadap kolonisasi bangsa Barat.  Selain itu, program-program untuk mengembangkan nasionalisme dilakukan dengan cukup mapan. Historiografi digunakan pula untuk kelanggengan bangsa Thai dan bahasa Thai diperkenalkan sebagai satu-satunya bahasa resmi. Manuver yang diperhitungkan dengan cermat ini, mengubah Siam menjadi negara yang terlegitimasi di mata para pesaing Eropanya.

Sumber-sumber yang diterjemahkan:

Elles, H. (2019) ‘How did Siam (Thailand) avoid European Colonization?’. New Historian (8 Januari), di laman https://www.newhistorian.com/2019/01/08/how-did-siam-thailand-avoid-european-colonization/ (diakses pada 24 Juni 2019)

Wilson, Dr. Constance. ‘Colonialism and Nationalism in Southeast Asia’. SEAsite, di laman http://www.seasite.niu.edu/crossroads/wilson/colonialism.htm (diakses pada 26 Juni 2019)

Gambar: wikimedia.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.