Sejarawan Hebat Itu Bernama Pram

Spread the love

Oleh Saiful Anwar

Belum ada yang bisa menandingi Pramoedya Ananta Toer dalam bidang sejarah  sampai hari ini. Bagi saya sejarawan terbaik Indonesia adalah Pram. Pram adalah orang yang tidak jemu-jemu menyerukan pentingnya kesadaran sejarah. Bagi yang pernah membaca karya-karya Pram mungkin akan sependapat dengan saya.

Bagi kebanyakan orang sosok Pram lekat dengan sastra. Seorang yang baru membaca karya-karya Pram pasti akan heran ketika mendengar kalimat  “Pramoedya Ananta Toer adalah sejarawan”. Hal yang sering ditanyakan kepada saya adalah “apakah bisa Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) dijadikan sumber sejarah?” Saya menjawab: tidak. “Apakah berarti Tetralogi Buru tidak penting untuk kajian sejarah?” saya menjawab: penting.

Sampai hari ini saya belum menemukan karya sastra atau sejarah yang memberi gambaran jelas dan gamblang mengenai kondisi bangsa Indonesia pada masa kolonial. Hanya Tetralogi Pulau Buru­-lah bukuyang mampu memberi gambaran itu. Di paragraf berikutnya saya akan memberi argumen mengapa buku ini penting untuk kajian sejarah sekali pun tidak diakui sebagai karya sejarah.

Saya mengenal Pramoedya Ananta Toer semenjak saya duduk di bangku perguruan tinggi. Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas saya tidak mengenal sosok Pram. Guru-guru sekolah saya tak pernah menyebut nama Pram satu kali pun. Saya ingat waktu kelas satu SMA guru Bahasa Indonesia memberi tugas membaca dan mengkaji karya sastra Indonesia klasik. Guru saya itu memberi beberapa pilihan, diantaranya: Rongeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Tenggelamnya Kapal van Der Wijk karya Hamka, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, dan Harimau-Harimau karya Mochtar Lubis. Tak ada nama Pramoedya Ananta Toer. Mengapa? Saya tak tahu. Siapa itu Pramoedya dan apa karya-karya yang dihasilkannya? Saya juga tidak tahu.

Perjumpaan saya dengan nama Pramoedya Ananta Toer terjadi pada tahun 2015, waktu itu saya berstatus mahasiswa sejarah semester tiga. Salah seorang dosen menyebut nama Pramoedya dalam kuliah Historiorafi Indonesia. “karya-karya Pram tidak bisa dijadikan sumber sejarah” begitu katanya. Selesai kuliah saya langsung mengulik siapa sih sosok Pramoedya itu? Mengapa ia sering dianak-tirikan oleh “orang-orang sejarah”?

Pencarian saya terhadap sosok Pramoedya membawa saya pada karya-karya Tetralogi Pulau Buru. Namun, begitu menemukan karya itu saya tidak langsung membacanya. Waktu itu doktrin dosen saya tadi masih bersarang di kepala. Saya masih “sok ilmiah” dan menolak sumber yang “tidak ilmiah”. Saya mulai intens membaca karya-karya Pram sejak tahun 2017. Buku pertama yang saya baca adalah Jalan Raya Pos, sebuah buku yang berkisah tentang sejarah pembangunan jalan raya pos (kita mengenalnya jalan pantura). Pram mengisahkan sejarah kota yang dilewati pembangunan jalan itu lengkap dengan kekejaman yang dialami penduduknya. Ia juga berkisah tentang pengalamannya sewaktu melewati jalan itu. Sangat menarik.

Buku Jalan Raya Pos mengubah pandangan saya tentang sosok Pramoedya. Sosok yang (kadang) tidak diakui dalam dunia kesejarahan itu memberi saya pengetahuan sejarah lebih banyak dibanding kampus tempat saya berkuliah. Ketika saya membaca Jalan Raya Pos saya seperti sedang dikuliahi oleh Pram. Cara dia menulis membuat sosoknya seakan-akan hadir langsung di hadapan saya.

Selesai membaca Jalan Raya Pos saya langsung mendalami Tetralogi Pulau Buru. Bumi Manusia saya baca pada Oktober 2017, sequel­-nya saya baca setelahnya. Tetralogi Pulau Buru memberi kesan yang sangat mendalam untuk saya. Bahkan boleh dikatakan buku itu telah mengubah pandangan hidup saya. Saya jadi paham apa itu kolonialisme dan nasionalisme. Melalui sosok Minke Pram membawa saya pada petualangan batin nasionalisme Indonesia. Melalui sosok Nyai Ontosoroh Pram menunjukkan kepada saya kekejaman kolonialisme. Melalui Ang San Mei Pram membuka mata saya tentang peran orang-orang Tionghoa dalam sejarah Indonesia. Tetralogi Pulau Buru mengubah banyak hal dalam hidup saya.

Perkenalan saya dengan sastrawan Gunawan Budi Susanto (akrab disapa Kang Putu) pada awal 2017 semakin memperkaya pengetahuan saya tentang sosok Pram. Dahulu setiap hari Rabu Kang Putu mengdakan kelas membaca Pram di Kedai Kopi miliknya (kedai itu mulai beroperasi Mei 2018). Sebagai orang yang mulai terpangruh pemikiran-pemikiran Pram saya pun bergabung ke kelas itu. Di kelas itu para peserta secara bergantian membaca paragraf demi paragraf yang ada di buku Pram. Setelah selesai membaca dua atau tiga bab kami berdiskusi, membahas apa pun yang bisa dipetik dari bab yang sudah dibaca tadi. Setiap peserta mengemukakan penilaiannya di hadapan peserta lain. Sungguh, itu adalah sesuatu yang sangat mengasyikkan. Bagaimana tidak, wong setiap selesai kelas saya mendapat pengetahuan dan perspektif baru.

Sayang, kini kelas membaca Pram ssedang vakum (mandeg). Saya sebenarnya kecewa dan berharap kelas membaca Pram diadakan lagi.

Pengalaman saya dengan karya-karya Pram membuat saya termotivasi untuk semakin dalam mengkaji pemikiran penulis satu ini. Satu pertanyaan yang masih terngiang di kepala saya adalah “layakkah Pramoedya didapuk sebagai seorang sejarawan?” Awal 2018 (kalau tidak salah) saya terlibat perbincangan dengan seorang kawan sekaligus rekan belajar saya, namanya Bagas Yusuf Kausan. Darinya saya memperoleh informasi bahwa Pram pernah mengajar sebagai dosen sejarah di Universitas Res Publika Jakarta. Sewaktu mengajar itu Pram menulis sebuah diktat kuliah berjudul Sejarah Modern Indonesia. Sejurus kemudian saya   langsung bertanya pada Bagas apakah ia punya buku itu, dengan lugas dia menjawab: punya. Saya pun meminta buku itu dan tanpa pikir panjang langsung membacanya.

Di titik itulah, saat saya membaca Sejarah Modern Indonesia, saya sadar (dan yakin) dengan ke-sejarawan-an Pramoedya Ananta Toer. Bagi saya buku itu adalah versi “ilmiah” dari Tetralogi Pulau Buru. Banyak hal-hal dalam Tetralogi Pulau Buru yang juga dibahas di Sejarah Modern Indonesia misalnya tentang teori asosiasi Snouck Hurgronje, sejarah sekolah Tiong Hoa Hwe Kwaan (THHK), dan lain sebagainya. Pram pasti sudah meneliti hal-hal itu sebelumnya, pikir saya.

Di kemudian hari saya mengatahui bahwa ternyata sebelum peristiwa G30S Pram adalah sejarawan yang rajin meneliti. Ia secara intens mengumpulkan arsip-arsip jaman kolonial. Banyak karya yang lahir dari kerja-kerjanya itu. Hoakiau di Indonesia, Panggil Aku Kartini Saja, Sang Pemula, adalah beberapa diantaranya. Semuanya adalah buku sejarah yang penting.

Masih banyak buku dan catatan-catatan kesejarahan yang Pram hasilkan, namun peristiwa G30S membunuh dan menghilangkan itu semua.

Terkait dengan pertanyaan di awal tentang seberapa pentingnya Tetralogi Pulau Buru bagi kajian sejarah Indonesia saya punya argumen begini. Sebelum G30S meletus Pram adalah sastrawan dan peneliti sejarah. Ia adalah pentolan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), sebuah kelompok budaya yang berafiliasi ke PKI. Pasca peristiwa G30S ia ditangkap karena dituduh bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Perpustakaan pribadinya-yang ia bangun selama puluhan tahun-“disikat” tentara. Hasil penelitiannya raib tak tersisa. Pada tahun 1967 Pram dan orang-orang yang dituduh komunis lainnya dibuang ke Pulau Buru. Di pulau bagian timur Indonesia itu Pram menjalani kerja paksa selama 13 tahun.     

Kondisi para tapol di Pulau Buru membuat Pram iba. Di pulau itu Pram melihat banyak kawan-kawannya sesama tapol meninggal karena beberapa sebab seperti diserang penyakit, kelaparan, dibunuh penduduk asli Pulau Buru, diserang hewan buas, hingga ditembak tentara. Mereka depresi. Kondisi itu membuat Pram prihatin. Ia pun bernisiatif menyemangati para tapol itu dengan cara yang ia bisa: mendongeng.

Pram mulai mendongengkan kisah Nyai Ontosoroh di hadapan para tapol Pulau Buru pada tahun 1979. Kisah Nyai Ontosoroh menarik minat para tapol dan mampu membangkitkan semangat hidup mereka. Dalam mendongeng Pram tidak hanya mendasarkan diri pada fiksi tetapi juga data sejarah.

Pada tahun 1975 Pram mulai menulis dengan mesin ketik pemberian Soemitro. Hasil kerjanya itu adalah tujuh buku fiksi sejarah yakni Arok Dedes, Arus Balik, Mata Pusaran, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, serta satu naskah drama sejarah berjudul Mangir. Semua karya itu ditulis berdasarkan sumber sejarah yang Pram teliti dan ingat.

Tetraloi Pulau Buru sekali pun tidak dikemas secara “ilmiah” tetap menjadi buku penting untuk kajian sejarah Indonesia. Dalam pelajaran sejarah kolonialisme Belanda hanya dimaknai sebagai institusi yang menjajah. Kajian mengenai budaya yang ditinggalkan oleh kolonialisme itu masih jarang. Tetralogi Pulau Buru merupakan literatur penting untuk mengkaji budaya kolonial yang ada di Indonesia. Seorang yang fokus pada kajian post-kolonialisme (kajian mengenai dampak kolonialisme di bidang budaya) harus membaca dan mengkaji Tetralogi Pulau Buru. Bahkan bagi saya Tetralogi Pulau Buru adalah karya post-kolonial paling penting.   

Nah berdasarkan penjelasan di atas menurut saya tidak patut dan elok jika menganggap karya-karya Pram tidak berguna bagi kajian sejarah Indonesia. Ingat, bahkan di tempat pembuangan pun, setelah hasil penelitiannya dihilangkan, Pram tetap menulis bedasarkan sumber sejarah yang pernah ia kumpulkan. Perdebatan menganai ilmiah atau tidaknya karya-karya Pram bagi saya adalah perdebatan tidak penting yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak tahu sejarah hidup seorang Pramoedya Ananta Toer.      

Jika pun akhirnya novel-novel Pulau Buru Pram tidak diakui sebagai karya ilmiah sejarah masih ada karya-karya lain yang masuk kategori itu. Sejarah Modern Indonesia, Panggil Aku Kartini Saja, Hoakiau di Indonesia, dan Sang Pemula adalah beberapa buku yang bisa (dan seharusnya bisa) dimasukkan dalam ketegori ilmiah. Sampai di sini seharusnya sudah tidak ada perdebatan lagi tentang status ke-sejarawan-an Pram. Pram adalah sejarawan, no debat.

Sampai hari ini saya masih intens mengkaji tulisan-tulisan Pram. Bagi saya setiap tulisan Pram itu hidup dan menyala. Pengalaman-pengalaman batin saya dengan karya-karya Pram sedikit banyak telah membentuk identitas saya sebagai sejarawan. Bahkan saya tidak keberatan jika ada yang menyebut saya Pramis.   

                                                                                           Gunungpati, 6 Juni 2020

                                                                                                               SA


-Ilustrasi: akcdn.detik.net.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.