Sekolah Tanpa Pembungkaman

Spread the love

Oleh Kinanti Gurit Wening

 

Siswa di Indonesia umumnya diberi banyak sekali pelajaran di sekolah. Kurikulum yang dirancang cenderung memberatkan siswa; mengandaikan siswa sanggup menyerap semua pelajaran.

Saya ingin membagi beberapa pengalaman saya selama sekolah dulu. Guru saya sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama kebanyakan tidak memahami kondisi psikologis siswa. Mereka tidak mengetahui secara mendalam apakah keadaan hati siswa sedang baik, apakah mereka siap mendapat pelajaran, dan lain-lain. Tentu saja itu bukan kesalahan guru, melainkan kesalahan sistem pendidikan di negara kita yang tidak mengarahkan guru untuk bisa lebih mendekati anak didik, supaya ketika kegiatan belajar-mengajar, tidak ada beban.

Pendidikan di Indonesia tertinggal jauh dari negara lain. Bisa jadi penyebabnya adalah kurikulum. Ya, kurikulum di negara kita tampaknya terlalu memaksa dan kurang kreatif. Dalam sebuah artikel di kompasiana.com dikatakan, setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Umumnya gaya belajar dibagi menjadi tiga; visual, auditori, dan kinestetik. Indonesia umumnya memakai gaya belajar visual. Jika ada yang menggunakan gaya belajar auditori dan kinestetik, jumlahnya pun lebih sedikit.

Sementara itu, waktu belajar yang dimulai sangat awal dan diakhiri pada pengujung sore membuat banyak siswa merasa tertekan. Saya mengalami hal itu; berangkat pukul 06.00 dan pulang pukul 16.00. Setiap hari mempelajari lima atau enam mata pelajaran dan semua pelajaran harus kami lahap habis, tanpa memikirkan apakah semua materi kami tangkap tanpa kesulitan sedikit pun atau tidak.

Setiap pergantian bab, pasti ada ujian harian. Setelah itu akan ada ujian-ujian lain yang menanti. Rapor atau hasil akhir belajar siswa menjadi tolok ukur: sampai di manakah kecerdasan siswa? Rapor sering kali menjadi pemicu stres siswa. Jika peringkat atau nilai mereka bagus, aman. Namun jika sebaliknya, dalam pikiran mereka, “Jadi apa aku sesampai di rumah nanti?”

Pendidikan di Indonesia bertujuan membuat siswa menjadi pandai, cekatan, dan baik. Nyatanya, tidak semua siswa bisa tumbuh menjadi pribadi sesuai dengan tujuan itu. Banyak sekali kasus kekerasan, tawuran, dan masih banyak lagi yang berpelaku pelajar. Apakah penyebabnya adalah kekurangan perhatian atau pengawasan dari orang dewasa? Lantas, bagaimana cara pemerintah pusat, guru, dan orang tua mengatasi?

 

Sekolah Alternatif

Sekolah alternatif, seperti sekolah yang menjadi tempat saya belajar saat ini, masih dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Entah sistem yang menurut mereka tidak jelas atau mungkin akan membuat para orang tua bingung mencarikan sekolah lanjutan bagi sang anak, serta masih banyak lagi persoalan yang timbul kala mendengar kata “sekolah alternatif”.

Tomoe Gakuen, sekolah yang menjadi latar dari kisah Tetsuko Kuroyanagi dalam buku Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela, merupakan sekolah dengan cara mendidik murid yang berbeda dari sekolah kebanyakan. Buku yang berdasar kisah hidup sang penulis, Tetsuko Kuroyanagi, itu menceritakan pengalaman semasa sekolah, saat dia dikeluarkan dari sekolah lama, hingga dipindah ke Tomoe Gakuen.

Totto-Chan, nama panggilan semasa kecil Tetsuko, ialah anak yang punya rasa ingin tahu besar dan berjiwa polos. Justru rasa ingin tahunya itulah yang membuat sang guru kesal. Pernah ia duduk di jendela kelas, kemudian memanggil pemusik jalanan untuk bernyanyi di depan kelas ketika pelajaran sedang berlangsung. Hal itu tidak hanya dia lakukan sekali, tetapi berulang-ulang.

Guru yang kesal itu pun memanggil mama Totto-Chan, lalu menyarankan memindahkan sang anak ke sekolah luar biasa, karena guru menyangka Totto-Chan punya masalah pada dirinya. Sang mama memindahkan dia ke sebuah sekolah bernama Tomoe Gakuen. Sekolah itu menarik atensi Totto-Chan kecil, dan membuat dia selalu bersemangat bangun pagi dan berangkat awal ke sekolah.

Tomoe Gakuen unik. Kepala Sekolah, Mr. Kobayashi, menjadikan gerbong kereta sebagai ruang kelas dan membebaskan semua murid belajar sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Semisal, si A tertarik belajar fisika, biarlah ia belajar fisika. Jika si B tertarik pada keterampilan, ia akan fokus pada pelajaran itu. Kepala Sekolah juga meminta anak-anak membawa bekal “dari laut dan pegunungan”, dan menyuruh mereka membuka pakaian saat berenang agar bisa mensyukuri segala bentuk tubuh yang Tuhan berikan pada mereka.

Seperti di sekolah umumnya, Kepala Sekolah mengadakan lomba olahraga. Cuma, yang membedakan, semua perlombaan itu yang bisa diikuti Takahashi, salah seorang murid yang cacat tubuh. Dan, pada semua jenis perlombaan, ia menjadi pemenang. Mr. Kobayashi merancang semua itu agar Takahashi menanamkan mental juara pada dirinya, juga agar semua murid tidak punya rasa ingin saling meremehkan.

Pada tahun 1945, Tomoe hangus terbakar karena bom yang dijatuhkan oleh pesawat pengebom B29. Perlu waktu lama dan biaya tidak sedikit bagi sang kepala sekolah untuk membangun ulang Tomoe Gakuen. Totto-Chan yang sudah beranjak dewasa tak bisa berbuat apa pun, selain berjanji pada diri sendiri untuk selalu mengingat kenangan indah kala bersekolah di Tomoe Gakuen.

Buku Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela merupakan buku bacaan wajib bagi siapa pun yang berkecimpung di dunia pendidikan. Buku itu mengajarkan pada para pendidik untuk membebaskan siswa, tidak mengekang mereka. Membiarkan mereka memilih melakukan apa pun yang mereka mau, yang mereka suka, atas dasar ketidakterpaksaan.

Saya membaca buku itu berdasar saran pembimbing belajar pada awal-awal kegiatan belajar di sekolah menengah atas ini. Kesan awal saat membaca buku itu, saya merasa berada pada posisi Totto-Chan. Bersekolah di tempat yang tak terlalu mementingkan nilai, tetapi etika dalam bersikap menjadi poin utama.

Banyak hal bisa kita teladani dari buku ini. Bagaimana cara orang dewasa, khususnya pengajar di dunia pendidikan, bisa memahami apa yang anak didik inginkan. Sekolah alternatif, seperti sekolah yang menjadi tempat saya belajar saat ini atau mungkin Tomoe Gakuen, sekali lagi, masih dipandang sebelah mata oleh banyak orang di Indonesia. Namun, menurut pendapat saya, bersekolah di sekolah nonformal justru lebih mengasyikkan. Kenapa? Karena kita bisa bebas berpendapat, memilih apa yang ingin kita pelajari tanpa merasa terbebani sama sekali. Apalagi waktu belajar tidak ngebut, yang membuat otak tidak begitu penuh untuk dapat menerima semua pelajaran.

 

Belajar dengan Bahagia

Di sekolah saya, murid tidak dibungkam. Tidak dibatasi untuk berpendapat dan benar-benar dimotivasi oleh pembimbing belajar. Kami tidak memanggil pengajar dengan sebutan guru, melainkan pembimbing belajar. Mengapa? Pada konsepnya, pengajar bukan hanya memberikan pelajaran pada anak didik dalam konteks akademik, melainkan juga nonakademik. Maka lebih pantaslah disebut seseorang yang membimbing ketimbang mengajar.

Contohnya, saya tidak hanya diajari teori sosial, bahasa Inggris, agama, musik, dan sebagainya. Saya juga diajari bagaimana berpikir lurus, bertindak lurus, dan estetis. Belajar tidak hanya dari buku. Bisa dari orang lain, membaca situasi terkini, atau bahkan belajar dari alam.

Waktu belajar pun fleksibel, tidak seperti di tempat saya bersekolah dahulu. Kini, saya menikmati kegiatan belajar dengan bahagia, tidak terpaksa. Pembimbing belajar tidak pernah menghukum secara verbal, tidak ada pula yang pernah memarahi atau memperingatkan secara terang-terangan di depan semua orang. Para pembimbing belajar akan memanggil kami satu per satu, kemudian memberitahukan apa yang salah dan bagaimana penyelesaiannya. Hukuman yang kami dapat bila bersalah atau melanggar bersifat membangun, bukan menghancurkan mental atau jiwa anak. Ini mirip konsep ahimsa yang Mahatma Gandhi ajarkan; bahwa semua bisa diselesaikan tanpa kekerasan. Saya juga teringat kata-kata Gandhi, “Hukumlah kesalahan itu, bukan orang yang melakukan.”

Kami tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi bisa juga di hutan atau di mana pun, asal nyaman dan bisa menerima pelajaran dengan baik. Saya suka menulis dan membaca. Dahulu, saat di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, tidak ada dukungan dari sekolah. Bahkan membawa dan membaca buku selain buku pelajaran pun tidak diperbolehkan. Terkadang buku itu malah disita. Namun di sini saya mendapat dukungan penuh. Saya memiliki target dalam hal menulis dan membaca, kemudian semua itu berada di bawah pengawasan pembimbing belajar.

Banyak hal dari Tomoe Gakuen bisa kita contoh atau terapkan, salah satu yang terpenting: menjadikan pendidikan di Indonesia sebagai sarana belajar yang menyenangkan bagi semua pelajar, tanpa niat memberatkan.

Pendidikan di Indonesia masih jauh di belakang, tertinggal dari negara-negara seperti Finlandia, Tiongkok, dan Amerika. Mengapa? Sebenarnya banyak faktor. Contohnya, anggaran pendidikan tinggi dan lebih mengutamakan waktu belajar ketimbang menyerap atau tidak pelajaran itu. Di negara kita, kebanyakan yang bisa mendapat pendidikan di sekolah bergengsi dengan pengajar yang disebut kompeten hanyalah dari kalangan menengah atas atau yang memiliki uang untuk membayar keperluan sekolah. Bagaimana dengan masyarakat kelas bawah? Mereka hanya bisa mendapatkan pendidikan di sekolah biasa, yang kadang pula masih mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari pengajar.

Perihal waktu belajar, semua anak di Indonesia belajar sejak pagi hingga petang. Lebih dari sepuluh pelajaran harus bisa mereka serap dengan cepat jika tidak ingin tertinggal materi. Oleh karena itulah, saya berharap pendidikan di Indonesia pada masa datang memberikan ruang komunikasi pada guru dan murid. Sekolah-sekolah seharusnya juga bisa menyusun peraturan dan sistem belajar bersama murid, sehingga murid bahagia saat belajar dan sekolah tidak terbebani sama sekali.

Pendidikan haruslah merata. Tidak hanya orang kaya yang bisa merasakan kenikmatan belajar. Namun semua anak dari setiap kalangan pun harus bisa. Fasilitas pendidikan bisa ditambah, sehingga setiap anak bisa merasa nyaman dan tidak kesulitan mengakses pendidikan. Setiap siswa harus diberi pendidikan etika, logika, serta bagaimana cara berpikir kritis dan penerapannya di dunia nyata. Saya berharap, pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi dan menghasilkan anak bangsa yang berkualitas dan mampu bersaing dengan pelajar seluruh dunia. N

Rujukan: https://www.kompasiana.com/wulandari2200/5dafe85f097f362e7c537e75/siswa-yang-memiliki-pilihan-gaya-belajar-yang-berbeda?page=all

Kinanti Gurit Wening, siswa setingkat kelas I sekolah menengah atas di Pesantren Ekologis Misykat Al-Anwar Bogor, Jawa Barat

 

Ilustrasi foto Andhi Liansyah/Enter Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.