Sensus Pohon, Peta Hijau, dan Para Bajingan

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

 

Sungguh, saya berharap suatu saat bisa melakukan sensus pohon di kampung saya. Saya membayangkan, bersama entah siapa, bakal melihat, membuktikan, mencatat, setiap dan semua pohon milik setiap orang di kampung. Dalam daftar itu akan tertera keterangan: jenis pohon, jumlah pohon, besar batang pohon (yang dengan sebuah rumus bisa kita perkirakan usia pohon itu), dan lain-lain, dan seterusnya. Data itu bakal kami perbarui lima tahun sekali.

Namun itu hanya pernah terucap, tak pernah terwujud.

“Ya, lantaran kau cuma bisa omong, tak pernah bisa bertindak. Kau pintar memunculkan gagasan, tetapi tak pernah mampu melunaskan dalam perbuatan! Lagipula, apa pula yang hendak kaulakukan setelah menyensus pepohonan di kampungmu? Kauundang bakul kayu, kautawarkan dan kaujual?”

“Sialan! Apakah aku punya tampang kriminal macam itu, Prut?”

“Tampangmu mungkin bukan tampang kriminal, tetapi hati dan pikiranmu busuk sejorok dan sekeji kelakuan para pencoleng duit rakyat!”

Sialan! Menghadapi Kluprut, acap kali saya tak berkutik. Bukan lantaran tak bisa dan berani menyanggah atau mendebat, tetapi jika itu saya lakukan, hanya akan berujung pada debat kusir. Lalu, saling menyakiti, saling menghina, saling menista. Jadi, ya, saya lebih sering berdiam diri saja ketika Kluprut sudah njeplak, mencerocos, merepet, macam kucing berahi.

Padahal, kalau mau mendengarkan lebih dulu alasan di balik gagasan sensus pohon yang saya lontarkan, boleh jadi dia bakal jadi orang pertama yang melibatkan diri. Namun, ya begitulah, mending saya ceritakan saja gagasan saya pada sampean, ketimbang kepentok Kluprut dan kami ribut tanpa ujung pangkal.

***

Begini, sensus pohon itu akan kami susuli dengan sensus (dan pemetaan) sumber air, baik sendang, telaga, embung, waduk, maupun sungai. Nah, paduan dua hasil sensus itu kemudian kami petakan: menjadi peta hijau.

Mula-mula dari kampung kami, lalu jika  berkemungkinan mengajak kawan-kawan lain dari kampung lain, kelurahan lain, dan akhirnya semua dan setiap kelurahan di Kecamatan Gunungpati – yang berjumlah 16 kelurahan– maka lengkaplah peta hijau setingkat kecamatan.

Dari peta hijau itu, kita bisa melihat potensi dan kekayaan bersama yang kasatmata: berupa pepohonan dan sumber air. Jika setiap lima tahun sekali peta itu bisa kami perbarui berdasar data hasil sensus pohon dan sensus sumber air, kami akan selalu memperoleh gambaran nyata, lebih konkret, lebih terpercaya mengenai kemunduran dan penurunan serta (syukur-syukur) perkembangan dan kemajuan jumlah dan mutu pepohonan dan sumber air di kampung (sekecamatan) kami. Jika langkah itu bisa menjadi model, tentu elok bila kelak kita bisa mempunyai peta hijau setingkat Kota Semarang.

Apa manfaat yang (saya bayangkan) bisa kita peroleh dengan membuat peta hijau macam itu? Apa pula bahaya yang mungkin terjadi justru karena telah tersusun peta hijau macam itu?

Peta hijau, sekali lagi, yang menggambarkan potensi dan kekayaan sumber daya alam kasatmata di atas “permukaan” tanah berupa pepohonan dan sumber air, memiliki beberapa manfaat. Misalnya, kita menjadi tahu di atas seberapa luas tanah itu ada seberapa banyak pohon (dan pohon-pohon jenis apa saja serta sebesar, seproduktif, dan setua apa pohon) itu. Bertambah atau berkurangkah jumlah pohon secara periodik per lima tahunan? Kenapa berkurang? Jika bertambah, seberapa banyak pula pertambahan itu? Kenapa bisa bertambah? Tumbuh dengan sendirinya atau hasil penanaman? Penanaman secara serampangan, sembarangan, atau terencana, terpola, dan sistematis?

Bagaimana pula perbandingan laju penebangan dan penanaman pohon itu? Seimbangkah? Seberapa besar laju penebangan? Seberapa besar laju penanaman? Seberapa luas pula penyempitan ruang terbuka hijau karena berbagai penyebab, antara lain alih fungsi atau konversi lahan, misalnya dari lahan produktif menjadi lahan hunian dan lain-lain? Atau, jangan-jangan justru terjadi pertambahan ruang terbuka hijau? Jika itu terjadi, bukankah patut kita syukuri? Jika benar itu terjadi, apakah terjadi karena terencana dan terkelola pula secara benar dan tepat? Bagaimana pula perencaaan dan pengelolaan ruang terbuka hijau (dan pertambahan ruang terbuka hijau) yang benar dan tepat? Apa saja yang menjadi tolok ukur?

Lalu, soal sumber air. Lewat sensus dan ketersusunan peta hijau, kita menjadi tahu di kawasan mana di Gunungpati banyak sumber air, berupa apa sumber air itu, dan bagaimana pengelolaan dan pemanfaat sumber air itu? Kawasan mana pula yang paling sedikit mempunyai sumber air, berupa apa saja sumber air itu, dan bagaimana pula perawatan dan pengelolaan sumber air itu? Apa pemanfaatan sumber air itu hanya oleh, dari, dan untuk warga di kawasan itu? Apakah pemanfaatan itu juga bagi penduduk di kawasan lain? Bagaimana pengoperasionalan pemanfaatan itu? Oleh siapa? Oleh pemerintah kelurahan, komunitas, warga setingkat rukun tetangga, rukun warga, perseorangan atau perusahaan? Dengan kata lain, apakah terjadi privatisasi dan atau swastanisasi air?

Manfaat lain, setelah mengetahui secara nyaris presisi kawasan mana saja yang kaya sumber air dan tidak, kita bisa melakukan upaya konservasi air. Langkah yang bisa kita tempuh, misalnya, memanfaatkan bagi publik potensi air permukaan – agar setidaknya tidak tergesa-gesa dan secara serampangan mengeksploitasi air tanah dalam, yang berpengaruh terhadap pengurangan cadangan air tanah dalam, pengamblesan tanah, dan membuat debit sumur konvesional atau sumur gali menurun. Langkah berikutnya, membuat lubang resapan biopori, sumur resapan, dan menanam pohon di berbagai kawasan (terutama tanah-tanah kritis, macam tepian sungai dan sendang, lereng perbukitan, dan sempadan jalan).

Berdasar hasil pembacaan terhadap peta hijau, kita bakal mampu membenahi, merombak, menyusun sistem aliran atau drainase kawasan atau lingkungan yang amat-sangat memperhitungkan kelestarian lingkungan. Itu, misalnya, didasari pemahaman mengenai luasan lahan, perkiraan volume dan debit air (hujan atau air yang mengalir), kontur tanah, dan lain sebagainya, sehingga pengelolaan dan perawatan sarana itu pun menjadi lebih mudah, efektif, dan efisien.

Masih ada manfaat lain yang bisa kita petik lewat penyusunan peta hijau itu. Namun, sungguh, angan-angan itu lagi-lagi mentok sebagai angan-angan, sebagai impian, sebagai hanya bahan omongan. Kenapa?

***

“Ya, kenapa? Kenapa kau piawai omong soal sensus pohon dan sensus sumber air, lalu rencana menyusun peta hijau, tetapi tak kunjung melakukan? Boleh jadi benar julukan kawan-kawan: kau memang Ki Jarkoni. Iki isa ujar gak isa nglakoni, bisa berujar, tak pernah bisa menjalani,” sergah Kluprut.

“Membahayakan, Prut, jika peta hijau benar-benar tersusun.”

“Bahaya macam apa? Jangan berteka-teki. Atau, jangan-jangan itu cuma dalih agar kau tak perlu repot-repot berbuat nyata?”

“Prut, percayalah, aku selalu berusaha jadi warga kampung yang baik, yang mengorientasikan setiap perbuatanku di kampung ini sebisa-bisa bermanfaat bagi kehidupan bersama.”

Halah, prêt!  Sok heroik, sok sopan, sok baik, sok dermawan, sok pintar, itulah kamu! Sok-sokan! Ayo, katakan, apa bahaya yang muncul jika peta hijau tersusun!”

            “Peta hijau itu akan menjadi dokumen amat-sangat berharga, yang berbahaya jika terakses oleh para bajingan. Wong tanpa peta hijau saja, sekarang alih fungsi lahan, penebangan pohon, penyempitan sungai, dan macam-macam berlangsung secara masif di kawasan Gunungpati. Apalagi jika mereka, para bajingan itu, memegang peta hijau. Hancur, hancurlah kawasan ini,” timpal saja, geram. “Jangan lupa, Prut, kehancuran Gunungpati adalah pangkal kehancuran Kota Semarang!”

            “Sebentar, sebentar…. Aku bisa memahami dan menerima argumentasimu. Namun, jangan asal sebut mereka sebagai bajingan. Siapa yang kausebut bajingan? Siapa mereka?”

            “Halah! Kau pura-pura nggak tahu atau berlagak pilon!”

            “Lo, jangan asal njeplak. Katakan, kalau kau tak mau kubilang tukang fitnah, tukang hasut!”

            “Halah! Prek!” ujar saya sambil beranjak, meninggalkan Kluprut.

Kali ini, ya kali ini, saya tak ingin meladeni dia. Kali ini, saya tak ingin dia lebih dulu bicara, lalu pergi begitu, meninggalkan saya ketika saya menuntut jawaban.

Enak saja! Memang cuma dia yang bisa bicara tanpa pernah bisa berbuat nyata. Saya pun bisa!

Patemon, 5 Februari 2020: 15.35

 

 

  • Ilustrasi: dokumentasi pengukuran pohon pada Festival Pohon 2010.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.