Sentilan Halus Gunung Kendeng

Spread the love

Oleh Danang Puji Atmojo

Pegunungan Kendeng Utara (selanjutnya Pegunungan Kendeng) merupakan pegunungan kapur yang membentang dari Jawa Tengah sampai Jawa Timur. Sepanjang sisi utara Pegunungan Kendeng meliputi daerah Pati selatan, Grobogan utara, Rembang, Blora, Tuban, Bojonegoro utara, serta Lamongan barat. Desa Prawoto, yang termasuk di dalam ruang lingkup Kecamatan Sukolilo, merupakan desa di sisi selatan Kabupaten Pati. Dengan kata lain, Desa Prawoto juga menjadi daerah yang berada di kawasan Pegunungan Kendeng.

Pegunungan Kendeng memiliki beberapa mata air, yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Termasuk masyarakat Desa Prawoto, yang juga menggantungkan kehidupan dari Pegunungan Kendeng, dari mengelola lahan pertanian, air untuk pengairan persawahan, hingga kebutuhan sehari-hari.

Memasuki musim hujan seperti sekarang, biasanya sering terjadi banjir bandang ringan yang membawa lumpur tipis. Tercatat pernah terjadi banjir bandang lumayan berat pada akhir 2015, dengan aliran air yang turun dari dataran tinggi dan membawa lumpur setebal 45 sentimeter. Imbas banjir itu adalah ketertutupan akses jalan dan sejumlah mata air bersih.[i] Sinung Sugeng, staf Seksi Pembinaan dan Penyuluhan Balai Energi Sumber daya Mineral (ESDM) Wilayah Kendeng Muria, kepada koranmuria.com menyatakan hutan gundul di wilayah Pegunungan Kendeng menjadi penyebab utama banjir bandang yang melanda Desa Prawoto. Intensitas hujan tinggi yang mengguyur dataran tinggi dan ketiadaan hutan lindung yang mengikat air atau menjadi tumpuan resapan air membuat tanah di pegunungan terbawa arus air yang mengalir dan menyebabkan banjir bandang disertai lumpur. Dia mengemukakan konservasi hutan semestinya tidak ditunda-tunda lagi dan harus segera dilakukan. Masalahnya, pegunungan yang telanjur tandus akan kehilangan humus sehingga susah dikonservasi.[ii]

Setelah terjadi aksi penjarahan hutan jati sejak 1998 sampai sekitar 2000, kondisi hutan jati di Pegunungan Kendeng memburuk.[iii] Pembalakan liar juga menjadi salah satu sebab hutan di Pegunungan Kendeng gundul.[iv] Ironisnya, sampai sekarang usaha konservasi belum sepenuhnya digalakkan. Semestinya pengoptimalan melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) serta kerja sama dengan penduduk dapat menggalakkan upaya itu. Itu bukan pekerjaan rumah (PR) yang main-main. Itu PR bersama, jika kita tidak ingin banjir terulang.

Berangkat dari pokok permasalahan itu, juga dampak berupa kerawanan tanah longsor, Pelaksana Tugas Kepala BPBD Pati Hadi Sentosa juga menyampaikan kepada jawapos.com, ada beberapa wilayah yang rawan longsor, seperti Desa Wegil, Sukolilo, Prawoto, Kedungwinong, Pakem, dan Kuwawur.[v] Prawoto juga tergolong dalam kategori desa rawan longsor. Sutarno, Rofandi Hartanto, dan Rahayu (2017), yang meneliti di Prawoto, menyimpulkan tingkat erosi di lahan 2,0677 ton per hectare per tahun, karena lokasi penelitian hanya memiliki solum tanah kurang dari 30 sentimeter. Erosi itu tergololong cukup berat dan memerlukan usaha-usaha pertanian yang mendukung konservasi.[vi]

a

Sumber air yang mengering

b

Aliran sungai dari mata air

Kondisi pegunungan seperti itu juga mengakibatkan debit air beberapa mata air bersih menurun, bahkan ada yang nyaris mati ketika musim kemarau. Di sebagian tempat, penduduk kesulitan mendapat aliran air karena debit air menurun. Pangkal dari permasahan itu juga kondisi pegunungan yang gundul, sehingga air tidak tertampung dan tidak terserap dan langsung menuju ke dataran rendah.

Sentilan halus dari Pegunungan Kendeng bukan lelucon. Semoga menjadi peringatan, yang tergolong “masih halus”, untuk kita semua agar tersadar. Terkhusus untuk yang hidup dari pegunungan itu. Tidak ada alasan lagi untuk mengabaikan, bahkan mengelak, dari sentilan halus Pegunungan Kendeng. Karena sejatinya manusia hidup dari alam, maka manusia juga harus bersaudara dengan alam. Pegunungan Kendeng adalah bagian dari alam.

Catatan Akhir

[i]https://www.tribunnews.com/regional/2015/12/10/banjir-bandang-desa-di-sukolilo-pati-ini-terisolir-jalan-terputus

[ii]https://www.koranmuria.com/2015/12/10/24633/digunduli-gunung-kendeng-langsung-murka.html

[iii]Purnaweni, H. (2014). Kebijakan Pengelolaan Lingkungan di Kawasan Kendeng Utara Provinsi Jawa Tengah. Jurnal ilmu lingkungan12(1), 53-65.

[iv]https://www.medcom.id/nasional/daerah/GKdRm0db-12-901-hektare-lahan-di-pegunungan-kendeng-rusak

[v]https://radarkudus.jawapos.com/read/2019/12/15/170334/bpbd-petakan-belasan-desa-di-kabupaten-pati-rawan-longsor-mana-saja

[vi]Sutarno, S., Hartanto, R., & Rahayu, R. (2017). NILAI INDEKS ERODIBILITAS DAN TINGKAT EROSI TANAH DENGAN TANAMAN JAGUNG DI KAWASAN HUTAN JATI DI DESA PRAWOTO, SUKOLILO, PATI. In Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian UNS (Vol. 1, No. 1, pp. 413-419).

  • Foto Pegunungan Kendeng di Prawoto; sumber dokumentasi penulis.
  • Danang Puji Atmojo, berasal dari Pati, mahasiswa Universitas Negeri Semarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.