Serial Diskusi Buku: Pengantar Ilmu Sejarah (BAB I)

Spread the love

Bab I : Apakah Sejarah itu?

Kita tentu mengenal kata sejarah. Dari mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah sejarah merupakan mata pelajaran yang selalu hadir. Tapi apakah yang dimaksud sejarah itu? Semua orang menganggap bahwa semua yang telah terjadi adalah sejarah. Apakah demikian? menurut Kuntowijoyo dalam buku Pengantar Ilmu Sejarah bahwa sejarah itu ada dua macam yakni sejarah yang tidak diketahui manusia atau yang disebut dengan sejarah objektif dan sejarah yang diketahui manusia atau yang disebut sejarah subjektif.

Pemberian materi pembelajaran sejarah di tiap jenjang pendidikan pun memiliki perbedaan. Di SD materi sejarah diberikan dengan menggunakan pendekatan etis, siswa dididik untuk mencintai perjuangan pahlawan serta tanah air bangsanya. Di SLTP sejarah diberikan kepada siswa dengan pendekatan humanis yakni dengan memberikan pengajaran bahwa mereka hidup dalam masyarakat sehingga diharapkan ketika mereka lulus dari jenjang SLTP mereka dapat hidup dalam masyarakat. Sedangkan di SLTA sejarah diajarkan dengan pendekatan kritis, siswa diajak untuk berpikir mengapa suatu peristiwa terjadi dan kemana arah peristiwa tersebut. Lain halnya dengan pekuliahan sejarah di tingkat perguruan tinggi, di tingkat ini mahasiswa sejarah dituntut untuk mengerti latar belakang masyarakat yang dibicarakan, mengerti perubahan yang terjadi, dan bisa mengatasi perubahan yang mungkin terjadi di masyarakat di masa yang akan datang.

Lalu dimanakah posisi kita sebagai mahasiswa sejarah? kita adalah pengawal sejarah termasuk juga pegawai museum, guru sejarah, dan pecinta sejarah menurut hemat saya adalah pengawal sejarah. Tugas pengawal sejarah tidaklah mudah apalagi jika melihat dewasa ini perkembangan globalisasi yang semakin menjadi-jadi memberikan suatu pengetahuan yang kadang anasionalis dan ahistoris. Anasionalis artinnya pengetahuan tersebut jauh dari sifat-sifat nasionalisme, sedangkan ahistoris berarti pengetahuan itu memberikan pola pikir yang tidak urut dari mulai masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan melihat kenyataan itu kita seharusnya sadar bahwa posisi kita sangatlah penting. Kita juga merupakan pencatat sejarah. Ya, orang yang dibutuhkan untuk mencatat kejadian-kejadian penting. Untuk mengungkap sebuah peristiwa sejarah dan kemudian dituliskan dalam sebuah catatan kita memerlukan sumber sejarah. Dalam buku ini hanya dijelaskan salah satu sumber sejarah yakni pelaku sejarah atau saksi sejarah. Ya, memang sumber ini dianggap paling valid dalam sebuah penelitian sejarah, tetapi selain itu juga perlu sumber lain seperti dokumen. Dengan sumber-sumber tersebut kita dapat mengolah dan menjadikannya tulisan sejarah. Ketika kita sudah menghasilkan sebuah tulisan sejarah maka kita layak disebut penulis sejarah atau peneliti sejarah.

Sejarah juga memiliki pengertian secara negatif. Setidaknya ada beberapa anggapan yang salah mengenai sejarah menurut Kuntowijoyo yakni, sejarah adalah mitos, sejarah adalah filsafat, sejarah adalah ilmu alam, dan sejarah adalah sastra. Mari kita jelaskan satu-satu.

  1. Sejarah bukanlah mitos

Apa yang membedakan sejarah dengan mitos? Sejarah adalah kejadian di masa lalu yang jelas dalam artian waktu dan tempatnya diketahui. Sedangkan mitos adalah suatu kejadian yang diceritakan secara turun temurun tanpa adanya bukti dan tidak jelas waktu dan tempatnya.

  1. Sejarah bukanlah filsafat

Sejarah akan jatuh statusnya sebagai sesuatu yang ilmiah apabila disamakan dengan filsafat. Sejarah membahas sesuatu yang konkret. Walaupun seperti itu, filsafat juga mempengaruhi penulisan sejarah dan pemikiran sejarah sehingga menurut hemat saya filsafat bukanlah filsafat tetapi filsafat adalah suatu pemikiran yang digunakan untuk menganalisis suatu peritiwa sejarah.

  1. Sejarah bukanlah ilmu alam

Sangat tidak relevan ketika sejarah disebut sebagai ilmu alam karena pada faktanya sejarah selalu berhubungan dengan manusia dan perkembangannya.

  1. Sejarah bukanlah sastra

Penulisan sejarah berbeda dengan penulisan sastra. Seorang sastrawan itu bebas menulis, bebas berpikir, dan tidak dibatasi oleh objektivitas dan subjetivitas apapun. Mereka berhak menulis apapun yang mereka sukai. Apakah penulisan sejarah juga demikian? Tidak. Sejarawan harus menulis berdasarkan fakta dan sumber sehingga tulisannya tersebut dapat di pertanggungjawabkan keilmiahannya. Sejarawan juga harus berusaha objektif.

Sejarah adalah ilmu tentang manusia, segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia, pekembangan manusia di masa lalu adalah sejarah. Kuntowijoyo mengatakan bahwa sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Mengambil dari pemikiran sejawaran Amerika, dalam bukunya Kuntowijoyo menganalogikan sejawaran itu seperti orang naik kereta menghadap kebelakang, kita dapat melihat ke belakang, ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, satu-satunya yang tidak dapat kita lihat adalah ke depan. Kuntowijoyo juga menganalogikan sejarawan seperti orang yang bermain batang korek api. Kita dapat membetuk apapun yang kita sukai dengan batang korek api tersebut tetapi kita tidak dapat merubah bentuk batang korek apinya. Diibaratkan batang korek api adalah fakta-fakta yang kita dapatkan, kita dapat menulis apapun dengan fakta-fakta tersebut tetapi kita tidak dapat merubah fakta tersebut. Sejarawan dapat menulis apapun, asal memenuhi syarat, maka dapat disebut sebagai sejarah.

-Saiful Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.