Serial Diskusi: Penjelasan Sejarah (Historical Explanation) 2

Spread the love

Oleh Tri Bagus Suryahadi

BAB II: Periodisasi

Klasifikasi atas waktu yang dilakukan sejarawan guna menjadi peristiwa-peristiwa sejarah yang mudah dipahami (intelligible), adalah alasan mengapa sejarawan mem-periodisasi-kan peristiwa-peristiwa sejarah yang terus-menerus bergerak di dalam waktu. Periodisasi sendiri –murni –hasil konseptualisasi sejarawan, yang lahir dari pemikiran-pemikiran teoretis. Meski begitu, tetap ada kaidah-kaidah yang mewadahi sejarawan dalam pembagian tiap-tiap babakan sejarah.

Ada perbadaan didalam aspek sejarah sendiri, yakni dalam luasan wilayah, rentang waktu, dan variasi. Di Indonesia sendiri, pembabakan yang umum adalah mulai dari Prasejarah, Hindu-Budha, hingga Modern. Aspek-aspek ini memiliki karakteristiknya masing-masing di tiap-tiap periode sejarah. Dalam varian-varian keagamaan yang pernah berkembang di Indonesia juga menunjukkan banyaknya perbedaan. Islam saja yang pada awal periode bersifat ortodoktif, berkembang luas dengan ragam yang banyak, mulai islam liberal, fundamentalis, neo-ortodoksi, hingga islam radikal.

Kuntowijoyo mencoba menganalisis dan membandingkan soal bagaimana sejarawan-sejarawan yang mengkaji sejarah Indonesia, membuat pembabakan dalam tulisannya. Diantara karya-karya yang dijabarkan adalah: buku “babon” Sejarah Nasional Indonesia jilid I hingga IV, A History of Modern Indonesia karya M.C. Ricklefs, buku Sartono Kartodirjo berjudul Pengantar Sejarah Indonesia, Denys Lombard berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya, Sejarah Umat Islam yang dikeluarkan MUI, dan Menjadi Indonesia karangan Parakitri T. Simbolon.

Indonesia-centrism” adalah kata yang pas untuk merepresentesikan bagaimana kandungan buku SNI. Ada ciri “ke-khas-an” yang membedakan bagaimana sejarah Indonesia berbeda dengan sejarah bangsa lain. Secara periodisasi sendiri, buku enam jilid ini bersifat konvensional. Meski begitu pendekatan yang ada pada SNI lebih kepada mensintesakan sejarah dengan ilmu sosial. Lebih dari itu, Kuntowijoyo memandang periodisasi buku ini sebagai penjelasan sejarah prosesual dan struktural.

Kedua adalah buku M.C. Rickefs, A History of  Modern Indonesia yang mengambil masa abad ke-13 hingga masa sekarang. Di buku ini, secara tersirat terdapat pembagian sejarah Pra-Modern dengan Modern, atau Hindu-Budha dengan Islam-Kolonial. Periodisasinya sendiri juga menggunakan garis-garis konvensional, namun perbedaan paling menonjol dibanding SNI adalah aspek diakronis yang lebih ditekankan. SNI mementingkan eksplanasi sedang buku ini mementingkan diskripsi.

Di buku kedua dan ketiga yakni Pengantar Sejarah Indonesia, Sartono dan Nusa Jawa: Silang Budaya, Lombard. Keduanya mendapat pengaruh dari madzab Annales dengan periodisasi Braudel (structure, conjucture, event) yang juga malahirkan konsep “total history”. Di buku Pengantar Sejarah Indonesia, penulis memiliki tujuan untuk menggabungkan aspek diakronis dan dikronis. Periodisasinya menunjukkan secara eksplisit bahwa konsep Braudel ada dalam periodisasi buku ini. “Emporium hingga Imperium” yang merupakan sub-judul buku ini menunjukkan konsep Braudel tentang waktu geografis, structure. Disamping conjucture dan events disebut sebagai struktur (sistem) dan proses. Selanjutnya adalah buku Nusa Jawa: Silang Budaya tulisan Denys Lombard. Dalam “kata pengantar” buku tersebut ada tiga catatan mengenai-nya yakni: pertama, periodisasi Braudelian dari Madzab Annales; kedua, keinginan untuk menulis sejarah global; ketiga, dimaksudkan sebagai sejarah mentalitas. Satu hal yang unik dari buku ini yakni adanya pembalikan urutan dalam penulisan periodisasinya yang mana dimulai dari waktu yang paling dekat. Dalam dunia film ini biasa disebut flashback.

            Dua buku selanjutnya adalah penulisan sejarah yang penjelasannya berdasarkan accepted history.  Pertama, Sejarah Umat Islam yang diterbitkan MUI. Penulisan buku ini sangat dipengaruhi pemahaman sejarah dimasa itu, yakni Orde Baru. Secara periodisasi, ada pembagian-pembagian yang cukup panjang. Yang tujuan akhir penulisannya adalah agar umat Islam  berintegrasi ke dalam bangsa. Kritik Kuntowijoyo pada buku ini yakni “buku hanya ingin mengatakan bahwa Pancasila adalah keharusan sejarah, sunatullah bagi umat Islam Indonesia”. Berikutnya adalah karya Parikitri T. Simbolon dengan judul Menuju Indonesia yang intinya secara luas (periodisasinya) menggambarkan sejarah Indonesia, tujuan politisnya yakni terciptanya “integrasi nasional”.

Periodisasi yang banyak aneka ragamnya itu adalah hasil buah pikir para sejarawan yang mana tentu memiliki beragam perbedaan diantara mereka. Periodisasi tidak mutlak memiliki periode yang panjang, karena pembabakan jangka pendek pun dapat diterapkan dalam tulisan-tulisan sejarah. Hal ini pun juga berlaku pada ruang lingkup kajiannya. Kuntowijoyo sendiri juga menulis periodisasi yang kajiannya hanya sebatas sejarah kesadaran keagamaan umat, yang mana dimulai dari mitos, berlanjut menjadi ideologi, hingga berakhir sebagai ilmu. Karena sejatinya periodisasi hanyalah satu bentuk penjelasan sejarah.

Gambar: Ervan Nur Septian Ardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.