Serial Diskusi: Penjelasan Sejarah (Historical Explanation) 3

Spread the love

Oleh Nanang Rendi Ahmad

BAB III: Kausalitas

Kali ini Kuntowijoyo dalam Penjelasan Sejarah (historical explanation) Bab 3 berbicara tentang ‘kausalitas’(sebab-akibat)—yang oleh komunitas Kalamkopi coba didiskusikan dengan berangkat dari rasa keingintahuan dan tentu dalam suasana serta niat belajar. Membahas dan berbicara mengenai kausalitas—yang dianggap penting dalam studi sejarah—tidak  akan cukup didapatkan hanya dari sebuah kuliah tatap muka dengan dosen. Maka dari itu, ruang-ruang alternatif diluar perkuliahan seyogyanya dibangun, tentunya oleh mahasiswa sendiri. Mengingat, minimnya suara mahasiswa dalam perkuliahan yang disebabkan oleh banyak faktor termasuk dari diri mahasiswanya sendiri. Dengan hadirnya ruang-ruang alternatif diluar perkuliahan itu, mahasiswa akan lebih bisa bersuara, berkespesi, berkeluh-kesah, bertanya, debat dan mendebat, berseru setuju dan tidak setuju, sehingga ada dialektika yang menghasilkan tesis-tesis baru—agar supaya api intelektual benar-benar ada dan membara dalam jiwa pendakunya. Pendek kata, praktik-praktik keintelektualan bisa benar-benar berjalan seperti semestinya.

Berbicara tentang kausalitas, buku karya Kuntowijoyo ini –penjelasan sejarah (historical explanation)—memberi pertanyaan mengenai apa sebenarnya perbedaan antara deskripsi dan deskripsi + kausalitas? Buku ini menjawabnya dengan memakai analogi sebuah novel untuk membedakan  antara urutan waktu (time-sequence) dan plot. Time-sequence dalam novel adalah deskripsi dalam sejarah, sedangakan plot adalah deskripsi+kausalitas. Deskripsi + kausalitas sejarah itu terdiri dari kondisi/keadaan (condition), urutan/rangkaian (sequence), dan akibat/konsekuensi (consequence).

Ada dua hal yang harus dianalisis oleh sejawaran dalam kausalitas, yaitu: kasus (peristiwa) dan perubahan. Dua hal itu berbeda dalam akibat (consequence) yang ditimbulkan. Akibat yang ditimbulkan dari kasus bersifat prosesual tanpa perubahan, sedangkan dalam perubahan akibat yang ditimbulkan terjadi perubahan kualitas, yaitu perubahan struktural dan perubahan sistem.

Studi Kasus

Di dalam studi kasus, dikenal dua kausalitas; monokausal dan multikausal. Artinya, kasus atau peristiwa yang oleh sejarawan ditemukan kompleks atau banyak penyebabnya disebut multikausal. Sedangkan kasus atau peristiwa yang oleh sejarawan ditemukan penyebabnya hanya satu, itulah yang disebut monokausal. Untuk yang disebut terakhir ini, membuat diskusi menjadi menarik karena muncul pertanyaan apakah mungkin suatu peristiwa atau kasus hanya disebabkan oleh hanya satu sebab saja?  Namun, itu bukan menjadi masalah. Untuk saat ini, peserta diskusi sepakat untuk sependapat dengan teori itu—monokausal—dengan catatan tetap mencari referensi dari manapun untuk mengupas teori monokausal itu, untuk kemudian didiskusikan kembali di lain kesempatan.

Dalam Penjelasan Sejarah (historical explanation) ini Kuntowijoyo membahas beberapa buku yang digunakannya sebagai contoh penerapan analisis monokausal di dalamnya. Buku yang pertama adalah Road To Exile: The Indonesian Nationalist Movement 1927-1934 karya John Ingleson. Buku ini berbicara tentang gerakan nasionalisme Indonesia sejak  1927 sampai  pengasingan tokoh-tokoh nasionalis 1934. Menurut Kuntowijoyo, tema kausalitas buku ini adalah “ketidakadilan menimbulkan perlawanan”. Maksudnya adalah bahwa ketidakadilan adalah sebagai sebab atau penyebab munculnya perlawanan (kausalitas—monokausal). Ketidakadilan yang dimaksud adalah sikap dan kejahatan kolonialisme Belanda di Indonesia yang membuat resah kaum pergerakan sehingga mereka melakukan perlawanan. Perlawanan ini yang membawa para tokoh-tokoh ke tempat-tempat pengasingan.

Buku yang kedua adalah karya Anton E. Lucas yang berjudul Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi Dalam Revolusi. Buku yang mendeskripsikan dan menjelaskan tentang terjadinya peristiwa tiga daerah yang terjadi di Karesidenan Pekalongan, yaitu di Kabupaten Tegal, Brebes, dan Pemalang pada Oktober-November 1945. Menurut Kuntowijoyo penyebab meletusnya peristiwa itu adalah adanya kekosongan otoritas. Revolusi sosial itu baru berhenti ketika TKR datang dan menegakkan otoritas.

Buku yang ketiga adalah Perkembangan Militer Dalam Politik di Indonesia 1945-1966 karya Yahya A. Muhaimin. Dalam Bab 5 buku tersebut yang bertajuk “Krisis Nasional 1965-1966, dan Benih Dominasi Politik oleh Militer” menurut Kuntowijoyo mengandung tema “krisis politik mengundang militerisme”. Jadi kausalitas dalam Bab tersebut adalah krisis politik sebagai sebabnya, sedangkan militerisme sebagai akibatnya.

Selain memberikan beberapa contoh buku yang menggunakan analisis monokausal, Kuntowijoyo juga memberikancontoh buku yang menggunakan analisis multikausal, yaitu buku Pemberontakan Petani Banten 1888 karya Sartono Kartodirdjo. Menurut Kuntowijoyo, meskipun pemberontakan itu sangat kecil dan keberlangsungannya pendek, tetapi dilatarbelakangi oleh masalah-masalah besar, kompleks, dan berlangsung lama dalam masyarakat. Buku ini melakukan analisis kausalitas sejarah yang multikausal dalam banyak aspek; aspek ekonomi, sosial, politik, dan budaya.

Dari segi sosial-politik, pemberontakan itu disebabkan oleh makin renggangnya jarak sosial antara petani, elit pedesaan, dan elit agama, dengan pejabat-pejabat baru bentukan Belanda. Kecuali yang disebut terakhir, mereka bersatu dan ditambah kaum aristrokasi tradisional yang disingkirkan dari kekuasaan, membuat semacam aliansi untuk kemudian membangkang dengan pemerintahan kolonial Belanda.

Dari segi sosial-ekonomi, pemberontakan itu disebabkan karena masuknya ekonomi uang dan tenaga kerja upahan ke tengah-tengah masyarakat Banten yang agraris. Ketidakpuasan masyarakat muncul karena dihapuskannya tanah-tanah kerajaan dan pelayanan tenaga kerja untuk pejabat-pejabat kerajaan. Hal ini jelas memicu konflik yang bermuara pada pemberontakan.

Dari segi sosio-kultural, pemberontakan itu disebabkan karena bangkitnya kembali agama yang oleh  otoritas kolonial dianggap sebagai kekuatan politik. Pemerintah kolonial mencurigai adanya kosnpirasi antara elite agama dan petani. Pemerintah kolonial khawatir bahwa para haji membawa arus militan dari ortodoksi agama dan terkontaminasi oleh cita-cita politik Pan-Islam. Begitulah analisis kausalitas yang multikausal dalam buku Pemberontakan Petani Banten 1888.

Studi Perubahan

Jika dalam studi kasus kita telah mengenal monokausal dan multikausal, di dalam studi perubahan kita kan berkenalan dengan struktur dan sistem. Dalam studi perubahan, sejarawan  harus menentukan unit analisisnya: studi struktur (satu bagian) atau studi sistem (menyeluruh). Dalam studi struktur maupun studi sistem, kausalitas dapat merupakan proses yang cepat ataupun proses yang lama dan berkelanjutan. Proses yang cepat misalnya adalah revolusi-revolusi. Proses yang lama misalnya adalah liberalisasi, demokratisasi, industrialisasi, kapitalisasi, dan diseminasi ide (misalnya, nasionalisme, sosialisme). Kuntowijoyo mengajak kita untuk menyepakati bahwa suatu sitem yang utuh terdiri dari struktur-struktur, dan suatu struktur terdiri atas unsur-unsur (institusi, lembaga).

Untuk studi perubahan yang unit analisisnya struktur, disini Kuntowijoyo memberi contoh buku, yaitu Agricultural Involution: The Process of Ecological Change in Indonesia karya Clifford Geertz. Buku ini mencoba mencari sebab-sebab dari perubahan ekologis dan involusi agrikultural di Indonesia. Kausalitas keduanya adalah ada pada dua macam kebijakan kolonial; Tanam Paksa dan Perusahaan Pertanian Swasta. Ekologi Indonesia berubah ketika kolonialisme Belanda menancap di Indonesia. VOC memang tidak mengubah ekologi, karena hanya berdagang. Tetapi, perubahan kebijakan terjadi ketika Belanda berhasil menguasai Indonesia secara teritorial. Awal abad ke-19 Belanda menggunakan kebijakan Sistem tanam paksa dan kemudian digantikan oleh Perusahaan Pertanian Swasta pada akhir abad ke-19. Dengan hal ini, kopi, gula, dan tembakau ditanam sehingga ekologi dan involusi agrikurtural di Indonesia berubah. Perubahan ekologi ditandai dengan munculnya jaringan pengairan, benih, dan teknologi pertanian lain yang menggeser sistem pertanian tradisional.

Untuk studi perubahan yang unit analisisnya sistem, Kuntowijoyo memberi contoh buku karya W. F. Wertheim yang berjudulu Indonesian Society in Transition: A Study of Social Change. Buku ini menggunakan pendekatan sosiologis. Buku yang terdiri dari dua belas bab ini dalam setiap babnya selalu dimulai dengan “tradisi” dan diakhiri dengan “modernitas”. Wertheim menempatkan modernisasi sebagai kausalitas perubahan. Perubahannya dapat dilihat dari bab-babnya, misalnya: I ( petani tradisional ke masyarakat pedesaan secara umum); IX (tenaga kerja paksaan ke tenaga kerja upahan); X (keragaman budaya menuju ke integrasi budaya).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.