Serial Diskusi: Penjelasan Sejarah (Historical Explanation) 6

Spread the love

Oleh Hakimatunisa

BAB VI: Generalisasi Sejarah

Generalisasi sejarah merupakan suatu hal yang berkaitan dengan perbandingan namun disini yang menjadi perbandingan lebih dari satu obyek berbeda dengan paralelisme, dimana paralelisme hanya membandingkan dua unit sejarah saja. Kemudian sebelum kita lebih lanjut membahas generalisasi sejarah, kita akan membahas kata generalisasi terlebih dahulu dimana kata generalisasi dalam praktik penulisan sejarah mempunyai empat makna dan dua diantaranya terdapat dalam buku Allan J. Lichtman dan Valerie French, Historians and the Living Past: The Theory and Pratice of Historical Study, yaitu silogisme dan “covering laws”. Silogisme itu sendiri merupakan generalisasi empiris sebagai contoh: Rizki adalah mahasiswa sejarah; semua mahasiswa sejarah pandai berdebat; jadi Rizki pandai berdebat. Ditulisan ini saya mengambil contoh dari pemikiran saya namun tidak memungkiri bahwa contoh yang saya buat sama halnya dengan yang ada dalam buku ini. Kemudian untuk covering laws ini merupakan hukum yang serba mencakup dimana covering laws ini berasal dari hukum ilmu alam.

Adapun dua makna lainnya yakni inferensi statistik dan generalisasi sejarah. Inferensi statistik ialah generalisasi yang diambil dengan metode statistik, seperti halnya distribusi, korelasi, regresi, content analysis, dan time series. Kemudian generalisasi sejarah merupakan generalisasi yang dibuat dengan membandingkan unit-unit sejarah seperti yang saya paparkan dalam paragraf pertama. Dan dalam bab ini kita akan membicarakan tentang perbandingan sejarah dan generalisasinya. Adapun buku pegangan mengenai metode sejarah seperti halnya Louis Gottschalk, Understanding History: A Primer of Historical Method sudah menganjurkan sejarawan untuk mengadakan generalisasi sejarah.

Kemudian generalisasi sejarah itu sendiri dapat kita temukan dalam beberapa buku diantaranya ialah Roland Mousnier, Peasant Uprising in the Seventeeth-Century France, Russia, and China; Sartono Kartodirdjo, Protest Movements in Rural Java: A Study of Agrarian Unrest in the Nineteenth and Early Twentieth Centuries, dan lain sebagainya. Disini saya hanya akan mengambil contohnya melalui bukunya Sartono Kartodirdjo yaitu Pemberontakan Petani Banten tahun 1988 karena buku ini sudah familiar dikalangan masyarakat terutama mahasiswa.

Dalam buku Sartono Kartodirdjo yang berjudul Pemberontakan Petani Banten tahun 1988 dibicarakan tipologi gerakan-gerakan protes para petani. Tipe-tipe itu ialah anti penghisapaan, gerakan mesianistis, gerakan revivalisme dan sektarian, dan gerakan lokal Sarekat Islam. Kita akan membicarakan setiap gerakan namun dengan meninggalkan peristiwa dan angka tahun, nama pimpinan gerakan, dan lokasi gerakan, dan reaksi dari Belanda.

Anti penghisapan, gerakan ini terjadi di tanah particuliere landrijen, yaitu wilayah yang dibeli oleh swasta dari Belanda. Tanah-tanah partikelir itu terjadi sebagai hasil penjualan oleh Belanda sejak zaman VOC sampai perempat pertama abad ke 19. Adapun contoh gerakan anti penghisapan dari abad ke 19 ialah gejolak di Tjiomas.

Gerakan mesianisme, merupakan gerakan yang dipimpin oleh seorang tokoh keagamaan yang bertindak sebagai seorang messiah serta diyakini oleh para pengikutnya sebagai demikian. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur biasanya pemimpin menyebut diri sebagai ratu adil, sedangkan di Jawa Barat sebagai ratu sunda.

Revivalisme dan gerakan sektarian. Gerakan ini merupakan suatu perlawanan kepada kekuatan yang mapan dan menindas. Meskipun demikian, keduanya memiliki perbedaan dan persamaan. Persamaannya ialah baik gerakan keagamaan maupun gerakan protes yang lain, rekruitmen pemimpin kedua gerakan tersebut berasal dari kalangan bawah dan ideologi gerakan millenarian mereka lebih ditujukan untuk hal-hal keduniaan daripada keselamatan jiwa di hari kemudian. Perbedaan keduanya terletak pada kepemimpinan. Tidak ada pemimpin yang menjadi messiah dalam gerakan keagamaan, sedangkan adanya seorang messiah itu penting bagi gerakan millenarian. Oleh karena itu, tidak seperti gerakan millenarian, gerakan keagamaan tidak pernah memuncak menjadi pemberontakan.

Gerakan Sarekat Islam lokal, pada awal abad ke 20, Jawa sedang mengalami perubahan: perluasan perkebunan, urbanisasi, pertumbuhan birokrasi kolonial, perkembangan sistem komunikasi. Dan ini mengakibatkan lunturnya nilai-nilai tradisional. Pada situasi semacam itu, wajarlah kalau muncul gerakan revivalisme. Gerakan-gerakan semacam itu disebut gerakan Serikat Islam lokal.

Itulah pemaparan tentang generalisasi sejarah, kemudian dalam diskusi kali ini terdapat suatu pembahasan bahwa gneralisasi sejarah ini merupakan penarikan kesimpulan dari yang khusus menuju ke umum. Namun generalisasi ini tidaklah bersifat mutlak bisa dengan mudahnya dapat terpatahkan jika terdapat pembuktian yang lebih lanjut. Kemudian penting atau tidaknya generalisasi sejarah ini tergantung si penulis tetapi pada dasarnya generalisasi ini secara sadar atau tidak sering dipakai dalam penulisan dan tujuannya untuk mempermudah pembaca dalam memahami tulisan tersebut. itulah sekilas tentang generalisasi sejarah apabila terdapat kekeliruan mohon dibenarkan. Pada dasarnya manusia itu tidak luput dari kesalahan. Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.