Serial Diskusi : Peran Intelektual (BAB 1)

Spread the love

JUDUL           : PERAN INTELEKTUAL
PENULIS      : EDWARD W. SAID
PENERBIT   : YAYASAN PUSTAKA OBOR INDONESIA

Bab 1  : Peran Intelektual

Pada awal pembahasan, Edward Said coba mengambil contoh beberapa pemikir terdahulu yang coba mengangkat tema besar tentang “Intelektual”. Hal itu membawa pembaca, mengenal secara ringkas seorang Antonio Gramsci. Melalui buku nya yang fenomenal Prison Notebooks, Antonio Gramsci yang juga seorang Marxis kebangsaan Italia, mengatakan jika semua manusia merupakan Intelektual. Namun menurut Gramsci, meski semua manusia merupakan intelektual, tidak semua manusia memiliki fungsi intelektual dalam masyarakat.

Kemudian, mereka yang termasuk kedalam kategori Gramsci sebagai manusia yang memiliki fungsi intelektual dalam masyarakat, dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama ialah intelektual tradisional. Mereka ialah para guru, ulama, dan administrator yang melakukan hal yang sama secara terus menerus. Dalam hal ini, apa yang dilakukan para intelektual tradisional merupakan manifestasi dari apa yang Said katakan, bahwa tujuan mendasar intelektual adalah kebebasan dan pengetahuan manusia. Para intelektual tradisional memainkan peran nya disini. Mereka menyebarkan pengetahuan secara turun temurun dari masa ke masa secara terus menerus.

Sedangkan kategorisasi Gramsci yang kedua ialah para intelektual organik. Mereka merupakan manusia-manusia yang memiliki peran intelektual dalam masyarakat, dan senantiasa berupaya mengubah pikiran dan memperluas pasar. Dalam artian, mereka tak hanya sekedar melakoni pekerjaan serupa dari tahun ke tahun seperti yang dilakukan para intelektual tradisional. Namun, para intelektual organik harus selalu aktif bergerak dan berbuat. Bahkan, para intelektual organik merupakan manusia yang memainkan peran nya lebih jauh lagi. Ia tidak hanya sekedar menyebarkan pengetahuan, namun turut memperjuangkan kebebasan.

Setelah memperkenalkan Antonio Gramsci, Edward Said memperkenalkan Julien Benda yang turut memperkenalkan definisi Intelektualnya. Bagi Benda, Intelektual ialah segelintir manusia sangat berbakat dan yang diberkahi moral filsuf raja. Kemudian, dengan sangat tegas Benda berpendapat jika Intelektual sejati, adalah mereka yang kegiatannya pada dasarnya bukan untuk mencapai tujuan praktis, tetapi mereka yang menemukan kepuasan dalam mempraktekan seni atau ilmu pengetahuan. Julien Benda memberi contoh seorang intelektual sejati seperti Yesus, Socrates, Spinoza, Volteire, dan Ernest Renan. Lalu dengan sangat menantang Julien Benda berpendapat, jika para intelektual sejati beresiko dibakar ditiang, dikeluarkan dari komunitas, dan disalibkan. Pendapat Benda tersebut merupakan gambaran kenyataan yang kerap diterima para Intelektual sejati. Karena pada dasarnya, para intelektual hampir selalu menjadi garda depan sebagai oposisi terhadap status quo. Hal ini lah yang kerap menjadi tantangan para intelektual, apakah tetap menjadi oposisi, ataukah bergerak menjadi seseorang yang akomodatif terhadap penguasa. Hal ini terkait dengan prinsip yang seharusnya dipegang oleh para intelektual, yaitu prinsip kebenaran dan keadilan.

Meskipun Said berpendapat jika analisis yang ditawarkan Gramsci lebih dekat kepada realitas, jika dibandingkan konsep yang ditawarkan Julien Benda. Namun penjelasan dan maksud yang ingin dibangun oleh Benda, sangatlah cemerlang. Sosok figur intelektual yang dimaksud Benda adalah seseorang yang bisa berbicara tentang kebenaran kepada penguasa, yang tanpa tedeng aling-aling, fasih, sangat berani, dan seorang individu pemberang. Bagi Benda, tak ada kekuasaan yang terlalu besar untuk dikritik. Dan mengkritik merupakan tugas para intelektual.

Memasuki abad ke 20, ditengah hingar dunia yang semakin kompleks, muncul berbagai macam profesi baru. Profesi yang bermacam tersebut, seakan membenarkan Analisis Gramsci tentang peran khusus tertentu yang diemban intelektual ditengah masyarakat. Konsekuensi hal tersebut ialah bahwa sekarang, setiap orang yang bekerja di segala bidang baik yang berkaitan dengan pengetahuan produksi, atau distribusi pengetahuan  adalah para intelektual, menurut Gramsci. Bahkan seorang sosiolog Amerika Serikat Alvin Gouldner berpendapat jika para intelektual telah menciptakan kelas baru. Hal itu memunculkan wacana baru tentang Intelektual spesifik. Yang mana, mereka ialah seseorang yang bekerja dalam sebuah bidang keilmuan tapi mampu menerapkan keahlianya dengan bahasa yang mayoritas hanya dipahami oleh lingkup spesialis nya saja. Atau dalam artian, abad ke 20 dengan segala macam moderenitas nya telah menciptakan ruang bagi Intelektual spesifik, yang telah menggantikan posisi Intelektual universal yang tidak terpaku pada satu bidang saja.

Berdasarkan realitas abad ke 20 tersebut, Edward Said menegaskan bahwa intelektual merupakan individu dengan peran publik tertentu dalam masyarakat yang tidak dapat direduksi begitu saja menjadi profesional nir wajah, dan tidak hanya anggota kelas yang kompeten dalam bidang nya saja. Intelektual adalah individu yang dikaruniai bakat untuk merepresentasikan, mengekspresikan, dan mengartikulasikan pesan, pandangan, sikap, filosofi, dan pendapatnya kepada publik. Intelektual haruslah menjadi seseorang yang tak mudah dikooptasi pemerintah dan korporasi. Itulah penegasan Said terhadap wajah Intelektual abad ke 20 yang bermacam-macam bidang. Kemudian Said memberikan alasan penting nya hal tersebut adalah untuk mewakili semua orang dan isu yang secara rutin dilupakan dan disembunyikan. Peran tersebut harus didasari dengan prinsip: semua manusia berhak mengharapkan standar perilaku yang layak sehubungan dengan kebebasan dan keadilan dari penguasa-penguasa dunia atau negara. Dan pada akhirnya, segala macam bentuk kekerasan yang disengaja maupun tidak, yang memiliki tujuan atau pun tidak, yang terbentur dengan standar-standar tersebut, perlu ditentang dan diuji secara berani oleh kaum intelektual.

Melimpah nya berbagai macam kajian mengenai Intelektual, turut menjadi sorotan Edward Said. Baginya, melimpah nya berbagai macam definisi intelektual, tidak dibarengi dengan bahasan yang cukup tentang citra tanda tangan, intervensi dan penampilan aktual, pernik-pernik yang turut membangun sosok nyata setiap intelektual. Keterbatasan kajian tentang Intelektual yang memunculkan representasi nyata sosok kaum Intelektual, terkesan menjadi pendorong bagi Said untuk menjembatani hal tersebut. Pada bagian akhir bab pertama, Said coba memberi contoh nyata hal tersebut dengan mengikutsertakan beberapa novel guna memperlihatkan gambaran intelektual melalui media novel.

Ada tiga buah novel yang diperlihatkan oleh Edward Said. Yang pertama ialah Father and Sons oleh Turganev, Sentimental Education oleh Flaubert, dan A Potrait of the artis as aYoung Man oleh Joyce.  Ketiga novel tersebut menggambarkan representasi dari realitas sosial sangat dipengaruhi bahkan sangat berubah karena kemunculan mendadak seorang aktor baru, Intelektual muda modern. Pembahasan yang menarik terletak dalam novel karya Flaubert, dimana ia memperlihatkan kegusaran sehubungan ketidakmampuan mereka mempertahankan kedudukan sebagai intelektual. Dalam novel, nasib Moreau dan Deslauriers digambarkan sebagai hasil dari kurangnya hasrat yang terfokus dari mereka dan juga sebagai biaya yang dikenakan masyarakat modern, dengan gangguan nya yang tak berkesudahan, pusaran kenangannya, dan di atas segalanya, kebangkitan jurnalisme, iklan, perayaan yang instan, dan sebaran sirkulasi yang konstan di mana semua ide dapat dipasarkan, semua nilai dapat dipindah-silangkan, semua profesi direduksi menjadi pengejaran uang yang gampangan, dan sukses yang cepat diraih. Meski Moreau tak habis-habisnya mencoba menggapai hasrat cinta dan pencapaian intelektual, tetapi ia senantiasa urung melakukannya.

Dari novel-novel tersebut, Said mencoba memperlihatkan kepada pembaca intelektual yang beraksi, ditimpa oleh berbagai kesukaran dan cobaan, baik mempertahankan maupun mengkhianati panggilannya bukan sebagai tugas tetap yang cukup dipelajari sekali dan untuk semuanya dari manual ‘bagaiamana melakukannya’. Tetapi sebagai pengalaman konkret yang konstan akan terancam oleh kehidupan modern itu sendiri. Said menambahkan, jika peran intelektual tak hanya mengenai artikulasi mereka ke masyarakat, baik soal penyebab atau ide, tidaklah dimaksudkan terutama untuk membentengi ego atau merayakan status. Juga bukan untuk melayani birokrat berkuasa penuh dan majikan dermawan. Peran intelektual merupakan aktivitas itu sendiri,yang mana sangat tergantung pada jenis kesadaran. Yakni skeptis, terlibat, dan terus menerus.

Pada pembahasan akhir bab pertema, Edward Said memperkenalkan sosiolog Amerika C. Wright Mills. Ia merupakan seorang intelektual independen yang memiliki kemampuan hebat untuk mengkomunikasikan ide nya dalam prosa yang terus terang dan memaksa. C. Wright mills dipandang oleh Said sebagai sosok yang paling tepat menjawab pertanyaan apa yang diperankan intelektual saat ini? Poin utama yang ingin disampaikan C. Wright Mills adalah pertentangan antara kelompok massa dengan individu. Wright berpendapat jika ada semacam pertentangan alami anatara kekuasaan organisasi besar, dari pemerintahan sampai perusahaan dengan kelompok yang lebih lemah yang tidak hanya merupakan individu tetapi keseluruhan umat manusia. Kekuasaan yang besar, cenderung berupaya menciptakan golongan minoritas. Atas dasar itu, Wright menegaskan bahwa para intelektual harus menempatkan diri sejajar dengan kelompok yang lemah dan tak terwakili.

Pada akhir bab pertama ini, Edward Said menutup dengan sebuah argumentasi yang sangat menarik. Pada dasarnya, intelektual menurut Said, bukan pencipta konsensus dan kedamaian tetapi mereka yang seluruh kehadirannya ditandai oleh sikapnya yang kritis dan memiliki cita rasa untuk tidak dapat menerima formula yang sederhana, atau pandangan klise, atau sesuatu yang berjalan tanpa gejolak dan akomodatif pada kekuasaan dengan tidak melakukan atau mengatakan sesuatu yang kurang berkenan bagi penguasa. Serta mereka tidak cukup hanya bersikap pasif, tetapi secara aktif mengemukakan pandangan nya di muka umum.

Pandangan Said tersebut, tidak hanya berkaitan dengan suara mengkritik kebijaksanaan pemerintah, tetapi lebih dari itu, pekerjaan intelektual menurut Said adalah mempertahankan negara dengan kewaspadaan: selalu sadar akan tugasnya untuk tidak membiarkan kebenaran diselewengkan atau menerima satu ide yang dapat menguasai seluruh kehidupan. Tugas intelektual yang sangat berat tersebut, senantiasa menempatkan para intelektual dalam kesendirian dan pengasingan. Bahkan, tugas seorang kaum intelektual seakan tak pernah berakhir, tak pernah selesai, dan selalu kurang sempurna. Karena prinsip yang dipegang oleh kaum intelektual adalah prinsip kebenaran dan keadilan.

-Bagas Yusuf Kausan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.